Lantai atas merupakan gudang seperti yang dikatakan oleh South. Di sana kebanyakan hanya berisi barnag-barang peninggalan yang terlihat memang sudah sangat tua. Bahkan, ada sebuah lukisan setinggi orang dewasa yang sedang diletakkan dengan cara berdiri dan bersandar di tembok dan sedang ditutupi oleh kain putih besar.
Entah secara sadar atau tidak, pikiran Elsie seperti sudah ingin menuju tempat itu. Dia langsung mendekatinya kala South sibuk menggeledah beberapa kardus yang tertumpuk di sudut ruangan.
“South, ini apa?” Elsie menarik kain putih itu sehingga memperlihatkan gambar yang sangat familiar. Itu adalah lukisan pasangan, pria dan wanita dengan gaya berpakaian yang masih menganut era victoria, dan mereka berdua kelihatannya sangat mirip denagn Elsie dan Jett. Hanya saja, rambut mereka sama-sama pirang dan bermata biru. Tetapi, sekilas, garis wajah mereak berdua memang menunjukkan sosok Elsie dan Jett.
South menoleh. Dia agak kaget melihat ada lukisan besar yang kanvasnya sudah menguning itu. Dia sadar kalau wajah mereka berdua agak mirip dengan Elsie dan Jett, tetapi dia tidak mau berpikir buruk. Toh, itu hanya lukisan. Tetapi, keningnya mengerut, rasanya ada yang aneh dengan tempat ini. Sekalipun ini miliknya, bukan berarti dia mengetahui segalanya.
“Aku tidak tahu ada lukisan sebesar ini.” South mengatakannya.
Elsie heran. “Kau tidka tahu? Kukira ini leluhurmu, kau bilang ini rumah mendiang orangtuamu?”
“Aku tidak tinggal disini, Sayang, jadi aku tidak tahu siapa saja yang pernah tinggal disinid an menyimpan barang-barang. Aku tidak mengenal mereka. Sejujurnya aku juga hanya melihat orangtuaku lewat potret, dan itu bukan mereka … lagipula lihatlah pakaian mereka dan lukisan itu sepertinya sudah snagat tua sekali, mungkin saja sudah berusia ratusan tahun, tapi aku salut karena itu masih bagus.”
“Begitu.”
South mendekatinya. Lalu mencoba menyentuh pinggiran dari lukisan tersebut, tetapi tangannya langsung seperti terkena sengatan aneh. Dia yakin kalau itu adalah sihir. Dia langsung menoleh ke sekitarnya, tidak ada tanda-tanada orang tapi entah mengapa rasanya barusan dia seperti emrasakan energi kutukan.
“Ada apa?” Elsie penasaran, dia ikut menoleh ke berbagai arah, mengira kalau ada orang jahat yang masuk ke dalam rumah mereka.
South menggeleng. “Tidak.”
“Ada apa? Katakan padaku ada apa? Kenapa dengan lukisannya? Apa tanganmu terluka? Apakah ada aura sihir disini?” Elsie mengamati sekitar. Dia agak takut meskipun sleuruh jendela tempat ini sudah terbuka.
“Tidak apa-apa, aku hanya merasa ada yang di sekitar kita, maksudku …” South kembali merasakan keganjilan di sekitarnya. Dia segera bergegas untuk emlihat ke seliling, bahkan dia menengok ke balik kardus-kardus yang tertumpuk tinggi. “Ada sesuatu disini, saat aku hendak emnyentuh lukisannya seperti ada yang keluar ,.. maksudku, aku sulit sekali menjelaskan ini, tapi tpercayalah aku seperti tidak sengaja mengeluarkan sesuatu dari lukisan itu.”
Elsie mendekatinya, tak mau jauh-jauh. “Astaga, kau membuatku ketakutan sekarang, tolong katakan kalau rumah ini tidak berhantu.”
“Yang benar saja kau ini, tapi …” South langsung menoleh ke ambang pintu yang merupakan gudang ini dan dari situlah terlihat ada sosok hantu tembus pandang yang memang sebenarnya penghuni dari lukisan. Hantu itu adalah sosok wanita bergaun panjang, tapi wajahnya sama sekali tidka menyeramkan, bahkan kebingungan. Dia melayang dan memandangi sekitar, bahkan sampai menembus tembok beberapa kali.
Saking takutnya, Elsie tidak jauh berteriak dan malah menyembuyikan wajahnya di dalam dekapan South. “Han .. .hantu … ada hantu, tolong katakan aku hanya berhalusinasi. Ini tidak mungkin …”
“Jangan takut sayang, sepertinya dia memang arwah penyihir yang menghuni lukisan itu.” South memperhatikan wajah wanita muda yang sudah menjadi hantu tersebut. Dia lantas berkata pada hantu itu, “hei, hentikan … kenapa kau terus berkeliaran, siapa kau ini?”
“South, kenapa kau bicara dengan hantu? Elsie melihat south yang kelihatannya meman tidak takut sama sekali. “Bagaimana kalau dia membunuh kita.”
“Sayang, lihatlah dia, dia hanyalah arwah tembus pandang, baagimana mungkin juga menyakiti kita. Kau jangan khawatir, akua kan selalu melindungimu.”
Hantu wanita itu mendekat sedikit dengan cara melayang, lalu menjelaskan, “aku tidak tahu mengapa aku berada disini. Seharusnya aku tidur dan entah mengapa … aku disini?”
“Hah?” South ikut bingung.
“Oh, astaga, aku sudah mati.” Hantu itu lalu menyadari kalau dirinya sudah mati, dan melihat ke arah lukisan besar yang menampakkan pasangan yang membuatnya bernostalgia. “Oh! Itu mereka.”
“Ada apa ini?” South merasa kalau hantu itu ingin melaukan gurauan, tapi ini sama sekali tidak lucu. Dia baru mengetahui kalau ada hantu yang kelihatan bodoh begitu. “Kau sama sekali tidka menakutkan, tapi menggelikan, Nona hantu.”
“Jangan panggil aku Nona Hantu, namaku adalah Adelaide Dorman, semau memanggilku Addy, aku penjaga dari lukisan itu, maksudku aku memang menghuninya sebagai tempat untuk menyemayamkan jiwaku ini.”
“Ah.” South sama sekali tidak paham, sebenarnya dia juga tidak peduli. “Aku tiak peduli, tapi akus ungguh tidak paham ada apa dengan rumah ini, dan siapa orang yang ada di lukisan itu.”
“Kau siapa?”
“Aku South, pemilik baru dari rumah ini.”
“Pemilik? Kau? Oh, kurasa memang sudah lama sekali sejak aku tertidur dalam lukisan itu.”
“Sekarang jelaskan sebenarnya ada apa ini?”
“Aku akan menjelaskannya pada kalian. Oh ,sebentar …” Hantu Addy salah fokus melihat ke arah Elsie, “siapa namamu, Nona?”
“Elsie.”
“Elsie, wah, kau terlihat cukup mirip dengan wanita yang ada di lukisan itu.”
“Iya, aku juga brpikir demikian, tapi aku sungguh tidak ada hubungannya dengan wanita itu.”
“Tentu saja tidak ada, mereka juga mati sebelum memilii keturunan, jadi mustahil kalau kau ada ikatan darah juga.”
“Mati?”
“Iya, setelah lukisan itu dilukis, mereka akhirnya mati, satu-satunya alasan mengapa lukisannya cukup layak sekalipun sudah berlalu ratusan tahun adalah karena aku menghuninya, aku melakukan sihir padanya. Aku tidak mau benda itu rusak.”
South sudah menduga hal itu. “Sudah kuduga, aku sudah menduga ada yang aneh dengan lukisan ini. Dan, maukah kau bercerita tentang apa maksudnya ini? Aku masih tidak mendapatkan alasan kenapa orang-orang ini mati dan kau malah hidup di lukisannya, ada apa? Dan kenapa mereka ada di rumah ini? Apa ini rumah mereka terdahulu? Kurasa itu tidak mungkin.”
“Itu sungguh, oke, aku akan menceritakan satu hal, memang benar apa katamu ini adalah rumah mereka di ratusan tahun silam. Mereka adalah pasangan yang cukup berakhir tragis, alasan aku berada di lukisannya juga demi melakukan sumpahku untuk membalas siapapun yang telah melakukan ini pada mereka. Sampai pelakunya ditemukan, aku ingin satu-satunya lukisan tentang mereka ini abadi, sehingga pelaku bisa ingat kalau mereka tetap abadi sekalipun telah dia bunuh.”
Elsie tidak bisa menemukan titik masuk akalnya. “Ini sudah ratusan tahun, kau pun sudah mati, mana mungkin ada orang yang …”
“Tidak, dia adalah penyihir sepertiku, dan sepertimu, Tuan South, pokoknya dia melakukan sihir terlarang yang membuat dia menjadi awet muda dan nyaris abadi, tapi bukan berarti tak bisa mati, dia hanya tidak bisa menua sehingga tidak akan mati sampai ada penyebab lain kematiannya.”
“Begitu ya …”
“Nama dari pasangan yang ada di lukisan itu adalah Tuan John dan Mary Blooms. Mereka adalah orang yang sudah memberikanku tempat tinggal saat aku hendak dibakar oleh orang di masa lalu, kalian mugkin sudah mengetahui kalau di jaman dahulu ada banyak sekali praktek pembakaran untuk wanita yang dianggap penyihir. Aku hendak dibakar, tapi mereka menyelamatkanku dan menyembunyikanku sehingga aku memiliki kehidupan baru … sampai tragedi pun datang …”
***