Addy adalah hantu yang ternyata menghuni sebuah lukisan yang sudah lama berada di tempat yang tidak disangka - sangka. Dia telah berada di lantai atas dari rumah milik South ini selama ratusan tahun demi menjaga keutuhan dari lukisan yang merupakan milik orang yang dia hormati selama hidup.
Dia mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kala itu. Sejauh yang dia tahu, dia sendiri juga tidak mengetahui dengan jelas tentang kematian mereka. Jadi, dia menceritakan semuanya sejak dirinya hendak dibakar oleh para warga.
Iya, ketika itu dirinya sedang berlari dari kejaran warga yang murka terhadap dirinya. Dia sudah hilang arah, tidak memiliki tempat untuk pergi dan hendak berhenti berlari.
Dia sendiri hanyalah penyihir yang ahli dalam hal ramuan saja, sama sekali tidak memiliki sihir untuk pertahanan diri, jadi mustahil melawan semua orang yang sudah berbondong- bondong ingin membunuhnya, lalu membakar jasadnya. Semua itu sangat mengerikan.
Setiap langkahnya menuju hutan dipenuhi harapan agar dirinya terbebas dari semua ini. Dia sudah lelah berlari dan berlari, tapi obor-obor api itu terus saja mengejarnya seakan tak ada yang ingin melewatkan kesempatan seperti ini.
Lama kelamaan, sudah pasti kakinya sangat lelah dan dia terjatuh di antara akar pohon yang menyeruak keluar. Dia seperti sudah pasrah akan keadaan, menyerahkan dirinya pada para warga yang sudah hampir menemukannya.
Suara lantang teriakan demi teriakan pada Tuhan terus bergaung untuk membuatnya ketakutan. Addy memang sangat ketakutan, lelah dan begitu rapuh. Bagaimana pun, dia memang hanyalah seorang wanita muda biasa. Sekalipun penyihir, dia juga tidak pernah mempelajari sihir pertahanan diri apapun, dia benar-benar tidak bisa melawan siapapun.
Tapi, ketika dia sudah hendak meratapi nasibnya, merelakan hidupnya untuk dibakar hidup-hidup, tiba-tiba seorang pria datang. Pria muda itu bertelanjang d**a, hanya mengenakan celana jeans panjang. Dadanya sangat bidang, perut rata, dan pundak berotot. Benar-benar tipikal pria yang sangat menakjubkan, terutama kulitnya yang sepertinya yang agak kecoklatan seperti sudah seharian berada di tengah hutan belantara ini.
Dia segera mendatangi Addy. Dia berkata lirih, “kau tidak apa-apa? Sebaiknya kita pergi.”
“Siapa kau?” Addy panik, takut kalau pria ini manusia seperti yang lain. Tetapi, dia bisa mencium ada aroma istimewa di tubuh pria ini, sekalipun dia tidak bisa menebaknya saat itu. Terlalu panik dan bingung, semua perasaan negatif ini membuat kinerja otaknya menurun.
“Itu tidak penting, aku akan mengenalkan diriku nanti, sekarang, kau ikut aku dahulu, sepertinya mereka akan menemukanmu disini.” Pria itu mulai menyentuh kaki dan tangan Addy. “Maaf kalau aku tidak sopan, tapi aku akan menggendongmu, kakimu sepertinya sudah lecet.”
Addy yang baru pertama kali mendapatkan perlakuan baik menjadi sangat terharu. Dia hanya diam memaku, membiarkan saja tubuhnya digendong. Dia juga tidak merasakan situasi yang buruk. Intinya Pria yang ada di depannya ini sama sekali tidak menunjukkan tindakan yang tidak terpuji.
Tubuhnya juga sedang lelah, dan kelopak matanya sudah sulit untuk terbuka. Dia telah keracunan oleh duri di salah satu semak belukar yang tanpa sengaja dia lewati. Dia tidak membawa penawar racun apapun, benar-benar tidak berdaya dalam gendongan pria itu.
Dan pria itu telah membawanya pergi menjauh dari tempat itu, keluar dari hutan sehingga menjauh dari para manusia yang haus akan kematian penyihir. Pria misterius ini memiliki kecepatan berlari yang tidak manusiawi. Bisa dibilang kalau itu adalah kemampuan super yang mustahil dimiliki oleh manusia biasa.
Dalam sekejap saja, dia yang sedang menggendong Addy itu sudah keluar dari hutan tanpa masalah dan tanpa jejak. Di saat semua warga masih berkeliaran di hutan mencari Addy, dia sudah berjalan di jalanan kota kecil ini yang sedang sunyi. Iya, semua orang sedang sibuk mencari Addy, hampir tidak ada yang ada di kota, bahkan anak-anak pun diajak untuk berbuat k**i oleh orang tua mereka. Sejak anak-anak, semua orang di desa ini memang sudah ditanamkan kebencian pada penyihir sejak dini.
Pria itu masih berjalan dan sesekali berlari melintasi beberapa bukit yang ada tak jauh dari pemukiman itu, dan sampailah di pemukiman penduduk lain, dia menuju ke rumah yang paling jauh dari rumah-rumah warga lain. Iya, rumah itu memang sangat familiar, yaitu rumah dari South saat ini. Kondisinya terlihat masih sangat baru, cat tembok juga masih baik.
Bangunan ini baru saja dibangun saat itu, sudah jelas kalau semuanya terlihat masih sangat bagus, belum lagi perabotan di dalamnya juga kelihatan masih baru.
Dia masuk ke dalam rumah, bersyukur karena tidak ada orang yang melihat aksinya ini. Berkat penciuman. Hidungnya yang sangat tajam, dia bisa menghindari masalah dengan orang lokal.
Saat dia masuk, dia disambut oleh seorang wanita berambut pirang cantik yang memakai gaun kasual berbahan sutra warna mirip kulitnya.
“Astaga, apa yang terjadi?” tanya wanita itu penasaran. Dia mendekati pria itu yang merebahkan tubuh Addy di atas sofa ruang tamu mereka. “Siapa ini, John? Apa yang kau lakukan padanya? Lihatlah dia, sepertinya dia sangat ... Astaga, kakinya ... Aku akan mengambil beberapa obat dan air.”
“Iya, ambil obat racun juag, dia keracunan semak beracun di hutan.”
Belum sempat dijawab, wanita itu bergegas pergi ke dalam untuk mengambil kotak obat beserta air bersih. Dia
Pria bernama John itu hanya memandangi Addy dengan ekspresi kasihan serta khawatir. Begitu sang wanita datang dengan membawakan semuanya, dia yang pertama kali mengobati Addy dengan meneteskan obat keracunan semak beracun ke dalam mulut Addy.
“Aku menemukannya di hutan. kelihatannya dia seorang penyihir,” kata John selesai melakukannya, lalu menutup botol obatnya lagi dan menaruhnya di kotak obat. “Dia tadi dikejar-kejar warga yang ingin membakarnya hidup-hidup.”
“kasihan sekali.” wanita itu kemudian membasuh luka dan kotoran yang ada di kaki Addy dengan lembut. Dia tidak menyangka kalau wanita lemah ini adalah penyihir. “Dia sepertinya tidak memiliki sihir sama sekali ... Maksudku seperti orang normal.”
“Aku tidak tahu, tapi dia jelas ditargetkan warga karena itu. Sebaiknya kita menjaganya dahulu sampai situasi kondusif. Aku tahu aku cukup gegabah karena membawa pulang orang asing, apalagi orang yang dicurigai penyihir, tapi saat melihatnya, aku kasihan. Kau tidak masalah, bukan Sayang?”
“Tidak masalah. Malahan kalau kau membiarkannya mati di hutan, pasti rasa penyesalannya akan membekas selamanya. Lagipula, aku yakin wanita ini tidak ada niatan menyakiti siapapun, sekalipun dia mungkin penyihir.”
“Kau benar. Aku juga berpikir demikian, makanya aku membawanya kemari. Setelah dia sadar, kurasa kita bisa menanyakan segalanya.”
“Iya, kau juga sebaiknya cepat mandi dan berganti pakaian. Malam bulan purnama sudah berakhir, tolong jangan membuatku juga mengurusmu, Tuan John Blooms.”
John tersenyum pada wanita itu, lalu mengecup keningnya dengan penuh cinta. “Baiklah, Istriku, Sayang, aku mencintaimu, Mary.”
“Aku juga mencintaimu, John.”
“Aku akan pergi mandi.”
“Iya.”
***