BAB 15

1156 Kata
Seusai sarapan roti panggang buatan dari Jett, Elsie kembali ke ruang tengah. Dia duduk di sofa panjang, tepat di sebelah Jett. Disitu dia ikut menyaksikan pemberitaan yang lain Berita hari ini didominasi oleh pemberitaan tentang hilangnya gadis muda dan ditemukannya mayat gadis muda lain. Semua peristiwa ini terjadi cukup cepat dan membuat warga menjadi gempar. Untuk ukuran kota kecil seperti ini, pemberitaan ini jelas akan menyebar cepat. Para kritikus mulai mempertanyakan kinerja pihak kepolisian yang telah bekerjasama dengan sherif. Tetapi, mereka tak juga menemukan pelaku dari peristiwa menggemparkan ini. Banyak orang yang mulai melakukan aksi protes di kantor Sherif. Deputi merasa kewalahan harus menghadapi semua orang. Elsie ikut sedih. Namun, dia merasa aman karena ada Jett yang terus berada di rumah ini. “Tadinya kukira dengan berkunjung ke kota ini, aku bisa menikmati hariku dengan tenang. Tadinya juga kukira kalau masalahnya tidak akan seberat ini. Ternyata sampai sekarang pun pelaku belum tertangkap. Ini mengkhawatirkan.” Jett merasa tidak takut sama sekali. “Kau tidak perlu memikirkan ini. Aku tahu ini cukup serius, tapi aku yakin kalau pelakunya banyak karena itulah kinerja polisi menjadi lamban.” “Apa dahulu pernah terjadi semacam ini? Kau tinggal disini sejak lama 'kan?” “Iya, aku besar di kota ini. Dahulu tidak ada hal semacam ini, ini adalah peristiwa penculikan dan pembunuhan berantai untuk yang pertama kali.” Elsie takut. “Rasanya seperti kutukan.” “Maksudmu?” “Sebelumnya, entah berapa tahun silam, pernah ada kejadian pembunuhan seperti ini juga dengan ciri-ciri yang sama jantung hilang ... Tapi berada di kota kecil lain. Tetapi, karena kasusnya hanya satu orang dan itu juga termasuk kota kecil, korban pun tak memiliki sanak saudara, alhasil kasusnya masih tertahan sampai sekarang.” “Oh iya? ” “Iya, karena kejadian ini, aku jadi ingat kalau dahulu pernah ada yang hampir mirip seperti ini. Bagaimana menurutmu? Apa mungkin pelakunya sama? Dahulu dia berada di kota itu, lalu sekarang berpindah tempat di kota ini.” “Itu mungkin saja.” “Sampai sekarang aku sebenarnya masih heran dan penasaran. Untuk apa menghilangkan jantung? Apa mungkin ini adalah sekte aliran sesat. Menurutku jika peristiwanya ganjil begini pasti ada bau-bau busuk seperti sekte.” “Eh ...” Jett seperti tidak setuju. “Sepertinya bukan begitu. Tapi, sudahlah, kita jangan berspekulasi. Sebaiknya turuti saja himbauan untuk tetap di rumah, dan laporkan jika ada yang berbahaya.” “Aku jadi khawatir dengan Nyonya Leda. Dia terus berada di luar rumah. Bisa jadi dia bertemu dengan orang mencurigakan, bukan? Aku tahu, semoga saja tidak kejadian, tapi tetap saja kita harus waspada.” “Untuk nenekku, sudah kubilang berulang kali, dia akan baik-baik saja. Lagipula, keputusannya untuk membantu pihak kepolisian itu sudah benar.” Elsie mengangguk. “Kira-lira kapan dia pulang?” “Kemungkinan nanti malam. Kenapa?” “Tidak apa-apa, aku hanya mencemaskannya saja. Kurasa kita harus membuat makanan untuknya nanti.” “Ya, tidak masalah. Aku akan memasak. Untuk sekarang. Aku ingin melakukan sesuatu.” “Apa?” “Kau mau membantuku merapikan kamarku?” “Hah?” “Kamarku seperti tempat sampah, aku sungguh tidak tahan, dan ada ... Binatang kecil yang terjebak di lemari, tolong jangan meledekku, tapi aku takut dengan binatang kecil seperti ... Kecoa.” Elsie menahan tawa. Jett menjadi kesal melihatnya. . . . di kamar Jett, seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, ternyata kamar ini seperti timbunan sampah, ranjang berantakan, selimut tak terurus. Jett memang tidak memiliki waktu untuk menatanya karena sibuk membeli bahan makanan, dan memasak sejak Nyonya Leda pergi. dia juga yang membersihkan rumah, intinya dia tidak mau membuat tamunya yang bekerja. Elsie sudah paham kalau pekerjaan Jett di rumah sangat banyak. dia juga agak menyesal karena tidak membantunya membersihkan rumah sebelumnya. jadi, kali ini dia bertekad untuk membantunya membersihkan kamar. "Aku tidak tahu kalau pria sebesar dirimu takut pada kecoa," katanya. sebenarnya dia juga takut, tapi mana mungkin dia mengatakannya. dia hanya ingin menggoda Jett karena hal tersebut. Jett kemudian mengingatkan, "aku tahu kau juga pasti akan takut dengan Kecoa. aku tidak peduli perkataanmu. cepat bantu aku saja, oke." "Oke, oke." Elsie mulai merapikan ranjang Jett. "Aku akan menata selimutmu dahulu. Tidak ada celana dalam 'kan disini? atau majalah dewasa?" "Kau pikir aku remaja?" "Maaf, haha." Elsie tertawa terbahak-bahak mendengar reaksi kesal dari Jett. Jett mulai mendekati meja, lalu membereskan beberapa barang yang sebelumnya sengaja ditaruh di sana. "Elsie, kau tidak kesepian, bukan? maksudku, berada disini hanya denganku Saja. kau juga sebisa mungkin tidak banyak keluar dari sini." Jett membuka obrolan. Elsie menggeleng. "Tidak sama sekali, aku senang berada disini. aku sungguh senang, kau kenapa malah bertanya begitu?" "Tidak apa-apa." Elsie selesai merapikan selimut dan bantal, sehingga dia beralih menuju ke lemari yang katanya banyak binatang kecil. dia penasaran apa memang benar di rumah yang bersih ini ada kecoa, dia tidak yakin hal itu. "Ngomong-ngomong, apa biasanya nenekmu sendirian disini? aku tahu denganmu, tapi apa saat tidak ada dirimu, dia sendirian? sungguh sendirian?" tanya Elsie kemudian. Jett merapikan kursi agar tetap di tempatnya. "Tentu saja. aku sudah bilang padamu kan? nenekku memang malah lebih suka sendirian. dia selalu seperti ini sejak dahulu, sejak kakekku meninggal dunia sepuluh tahun silam." "Seperti apa kakekmu? aku nyaris tidak pernah melihat potret seseorang di rumah ini." Elsie sudah membuka pintu lemari, dan memperhatikan pakaiak Jett yang didominasi pakaian kasual seperti kaos dan celana pendek. sejauh ini, tidak ada ancaman seperti yang dikatakan oleh Jett. Tetapi penataan gantungan bajunya memang agak berantakan sehingga Elsie merapikannya. Jett menceritakan, "kakekku orang yang baik, dia menyenangkan, nenek tidak memajang fotonya di rumah karena seluruhnya ada di kamarnya sendiri. dia sepertinya ingin melihat kakek untuk dirinya sendiri." "Kedengarannya nenekmu sangat mencintainya." "Itu sudah pasti, mereka pasangan sejati." "Aku harap memiliki hubungan yang seperti itu ..." Elsie berhenti merapikan baju, dan tertegun karena teringat akan hubungan orang tuanya yang hancur. Jett berbalik badan, lalu mendekati Elsie. dia memandangi punggung wanita itu, punggung ramping yang sangat ingin ia dekap. "Kau pasti akan mendapatkan pasangan yang baik, Elsie." "Aku berharap juga begitu ... dan ..." Mata Elsie melotot ketika melihat ada makhluk hitam kecil bergerak di bawah lemari. "Astaga! kecoa!" Dia menjerit, lalu terloncat ke belakang sehingga menabrak d**a Jett. Tanpa dia sadari, dia berbalik, dan langsung memeluk d**a kaku itu dengan erat sembari bergidik tidak karuhan. "Iya, dan kau bilang tidak takut kecoa." Jett tertawa melihat tingkah Elsie yang berlebihan tidak karuhan. "Astaga, kau pasti kotor sekali sampai ada kecoa masuk! kita harus mencuri semua pakaianmu!" Elsie melepaskan pelukannya dan menatap serius Jett. Jett mengatakan, "wajar saja ada kecoa, aku juga agak jarang kemari akhir-akhir ini. maaf, iya, iya, lebih baik kita cuci saja semuanya." Elsie menoleh ke bawah lemari lagi. "Apa yang harus kita lakukan dengan makhluk itu? kau punya semprotan serangga?" "Iya, aku yakin nenekku punya. tapi, aku tidak berani mendekat, dia lincah, gesit dan bau sekali." "Dasar tidak berguna, biar aku saja yang menyemprotkannya. aku akan mencarinya sekarang, kau ambil semua pakaianmu, dan cuci sekarang!" "Iya, Nyonya." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN