BAB 14

1012 Kata
Esok harinya, suara televisi di ruang tengah membangunkan Elsie. Dia sebenarnya masih ingin tidur, tapi karena suara itu makin keras, jadi dia pun memaksakan diri untuk turun dan melihat apa yang terjadi. Dia merasa kalau ini bukanlah ulah dari Nyonya Leda. Tidak mungkin wanita itu pagi-pagi seperti ini menyalakan televisi dengan suara sekeras itu. Dia yakin kalau ini adalah ulah dari Jett. Dugaannya pun terbukti kala dia sudah sampai di ruang tengah dan mendapati kalau pria itu sudah t*******g d**a di sofa sembari menonton berita pagi. Awal-awal melihat Jett t*******g membuat degup jantung Elsie tak karuhan. Sekarang pun nyatanya masih sama saja. Dia tidak bisa mengendalikan dirinya karena pria ini terus saja menggodanya. Jett sebenarnya tidak berniat menggoda. Dia suka bertelanjang d**a ketika musim panas datang, seperti saat ini. Dia tidak suka dengan hawa panas, dan tidak kuat sekalipun pendingin ruangan menyala. Intinya dia seperti orang yang berada di sauna sepanjang hari. “Kau t*******g lagi.” Elsie berkomentar. “Halo tamu manis, kau sudah bangun? Bagaimana mimpinya? Indah?” Jett menyeringai, seolah tahu apa yang sudah dimimpikan oleh Elsie. Elsie berusaha menepis dugaan itu dan menjawab, “aku tidak tahu apa maksudmu. Sekarang jawab saja, kenapa kau t*******g sambil menonton televisi yang sekeras itu? Ini masih pagi, masih jam enam, kau pasti sudah gila.” “Ini musim panas, Nona, jam enam itu sudah panas sekali." “Apa kau ini kelainan? Ini masih dingin. lagipula pendingin ruangannya juga bekerja. Ada apa sebenarnya denganmu ini?” “Intinya aku tidak kuat dengan udara panas. Titik. Sudahlah, aku sudah membuatkan roti panggang untukmu di dapur, kau makan saja selagi hangat." "Oh, kau membuatkan roti untukku?" Elsie tidak tahu kenapa lelaki ini mendadak baik padanya. "Niatku menyalakan televisi keras-keras juga demi dirimu, agar kau bangun dan sarapan selagi hangat. Kalau aku yang mendatangi kamarmu, kau pasti akan mengataiku pengintip.” "Jangan tersinggung, Tuan, tapi apa yang sudah kau lakukan waktu pertama kali kau kemari memang adalah mengintipku, dan kau mengakuinya sendiri." "Aku hanya memeriksa mu." "Oh, apa sekarang Kosa kata mengintip berubah menjadi memeriksa. bagus sekali ya kedengarannya?" "Apa kita akan berdebat masalah bahasa sekarang? aku sudah membuatkan roti untukmu sarapan, dan balasannya kau malah mengajakku berdebat." "Iya iya." Elsie malas berdebat. Dia menguap beberapa kali sembari menengok ke berbagai arah. Dia mencari keberadaan dari Nyonya Leda. Namun, tidak ada dimanapun. Wanita itu entah sekarang ada dimana. “Ngomong-ngomong, Dimana nenekmu?” Jett menggeleng. “Entahlah, dia pergi lagi tadi pagi-pagi buta. Dia ada urusan dengan sherrif, katanya. Tapi, aku tidak tahu dia dimana.” “Sherrif? Memangnya ada apa lagi? apakah ada masalah yang serius. sudah kuduga, aku memang sangat khawatir padanya. mungkin kita harus menjemputnya.” Jett mengarang cerita, “sebenarnya nenekku melihat pelaku kejahatan yang meneror kota akhir-akhir ini, dia hanya dimintai keterangan, seharusnya, tapi seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak tahu mereka ada dimana.” “Seram sekali. Kenapa dia tidak memberitahuku? sekarang kita harus segera menemuinya, ini masalah serius, Jett." “Tidak perlu. dia bersama Sherif. dia sangat aman sekarang." "Kau terus saja berkata demikian. apakah kau tidak khawatir dengan nenekmu sendiri?" "Aku tidak khawatir karena dia bersama orang yang bisa melindunginya. dengar, jangan menatapku seolah-olah aku ini kejam tidak peduli dengan nenek sendiri oke, lagipula tujuanku adalah menjagamu agar tetap aman di rumah ini." "Tetap saja. ..." "Kau tamu, Elsie, kau disini hanya untuk singgah, dan aku disini untuk menjagamu. Itu saja. Kau juga jangan terlalu banyak tahu. Biarlah urusan kota kecil ini menjadi urusan Sherrif. Kita hanya perlu berjaga-jaga, pembunuhan ... Bisa terjadi dimanapun, dan baru saja diberitakan ... Yang terbaru.” “Pembunuhan terbaru? astaga, Apa ada korban lagi?” “Iya, lihat itu ...” Elsie melihat ke layar televisi dan menyaksikan liputan berita pagi yang menayangkan tentang pembunuhan yang terjadi di kota kecil yang mereka tinggali ini. Pemberitaannya cukup cepat karena pihak kepolisian pusat sudah turun langsung membantu Sherrif dalam menuntaskan kasus. Tetapi, pembawa acara itu bilang kalau pelaku masih misterius. Inilah yang membuat warga semakin ketakutan, sebagian besar juga sudah mengungsi ke kota lain. Orang-orang percaya bahwa sang pelaku memang masih berkeliaran di kota. Elsie ngeri melihat tayangan yang menunjukkan hutan Cemara dan beberapa pihak kepolisian dibantu ahli forensik menangani mayat yang mereka temukan. “Mengerikan sekali.” Dia meneguk ludah. Antara takut, tapi juga kasihan pada siapapun korban dan pihak keluarga yang kehilangan. "Ya Tuhan, sampai kapan ini akan terjadi?" "Situasinya memang belum membaik, karena itulah nenekku pasti akan dilindungi mati-matian oleh pihak berwajib. kalau kita ikut campur, itu akan membuat kita juga akan diincar, beban pengamanan akan semakin banyak. jadi, kau akan tetap bersamaku disini, sementara nenek akan bersama Sherif." "Aku berharap nenekmu baik-baik saja. Aku jadi semakin takut kalau pergi keluar kalau sudah begini." "Memang begini kondisinya. pembunuh itu jelas sangat licin dalam menjalankan aksinya, dan incarannya adalah wanita muda, makanya aku tidak bisa membiarkanmu kemanapun." "Aku sangat penasaran dengan pembunuhan yang sudah terjadi. Kenapa pelaku sepertinya buas sekali? rasanya memang bukan manusia biasa dalam arti yang sesungguhnya." "Well..." Lagi-lagi Jett sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tapi masih berpikir keras. "Aku tidak tahu apapun." "Menurutmu apakah kondisi kota akan aman setelah ini?" "Karena kejadian ini, kota kecil ini makin kekurangan warga saja. banyak yang sudah mengungsi. tempat ini hanya dipenuhi orang tua saja." "Itu malah akan membuat tempat ini seperti kota mati." "Kau benar. lagipula, sudah jelas kalau tujuan pembunuh adalah mengincar wanita muda, pastinya para wanita muda juga akan pergi dari sini." "Aku sangat khawatir sekarang." Elsie meneguk ludah. Dia adalah seorang wanita muda yang sehat yang bisa saja menjadi incaran pembunuh. tatapan matanya sudah menunjukkan kalau dia sangat takut dengan apa yang terjadi selanjutnya. "Sudah ada pembunuhan lagi ...." Jett menenangkan dengan berkata, “Jangan takut, aku akan selalu melindungimu, Elsie." Elsie tertegun mendengarnya. Dia memandangi Jett dengan pandangan dalam seolah dia merasa kalau ucapan barusan memang diucapkan dari hati. karena itulah, dia sempat tak bisa berkata-kata karena terharu. untuk pertama kalinya, ada orang lain yang mengatakan hal yang indah seperti itu. karena tidak tahan dipandangi, Jett memalingkan wajah, lalu berkata, "Sudahlah, kau sarapan saja dahulu." Elsie tersenyum. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN