Hari berlangsung sangat cepat. Petang sudah datang. Elsie tidak bisa melupakan apa yang sudah terjadi saat makan bersama Jett. Sebenarnya tidak hanya itu, dia tidak bisa melupakan setiap momen yang telah dilalui bersama pria itu.
Hanya dalam beberapa hari saja, rasa cintanya kepada Jett tumbuh berkembang. Rasanya kuncup-kuncup bunga dalam d**a kini bermekaran. Sekuat apapun ditahan, tidak mungkin bisa dilawan.
Benih-benih cinta ini semakin ditolak malah semakin membara. Dia tidak bisa mengendalikan hal ini kembali. Dia menginginkan Jett, tapi akal sehatnya tidak mengijinkannya.
Semalaman dia terjaga karena hal tersebut, memikirkan hal yang jelas tidak ingin dia pikirkan. Namun, apa daya, dia terus-terusan mengingatnya, meskipun tidak ingin. Segala macam praktek agar cepat tidur dia lakukan, dari mulai menghitung domba, membayangkan suasana yang menyenangkan sampai tehnik pernapasan. Pada akhirnya tetap saja gagal. Tidak ada yang berhasil membuatnya tertidur
Dia berusaha mengosongkan pikiran, tapi lagi-lagi pikirannya malah terpusat kepada pria asing itu. Dia sampai kebingungan, dan menduga kalau Jett melakukan sesuatu padanya sehingga tergila-gila sampai seperti ini.
Dia merasa kalau banyak pria tampan di kota, tapi kenapa da'i malah tidak bisa berhenti memikirkan Jett. Ini petaka dan neraka. Tidak ingin, tapi malah menginginkannya.
“Tidak, aku tidak mau jatuh cinta sampai kapanpun!i dia menegaskan pada diri sendiri bahwa dia tidak mau sebuah cinta.
Cinta hanya akan menyesatkan, seperti kisah cinta orangtuanya yang berakhir begitu saja, tanpa adanya cinta.
Dia tidak mau merasakan cinta pada seseorang karena takut menggantungkan hidup demi cinta orang tersebut. Jett adalah orang asing yang baru saja ditemui. Mana mungkin langsung jatuh cinta padanya, itu yang dia pikirkan.
Alhasil hingga tengah malam, dia masih terjaga di atas ranjang, memandangi langit-langit di ruangan yang remang ini. Hanya lampu meja yang masih menyala.
Dia ingin menyudahi ini dan pulang ke kota, tetapi dia masih belum memiliki tujuan. Kalaupun dia menginap di rumah teman, tentu saja tidak akan nyaman. Dia harus bertahan dan menunggu kabar dari sang paman.
Awal mula kehidupannya masih baru dimulai, dia tidak mau segalanya hancur hanya karena Jett, sang pria asing yang kebetulan menawan hatinya saat ini.
Selepas meyakinkan diri seperti itu, dia pun kembali berusaha untuk tidur. Kali ini dia serius untuk menghitung domba. Setelah belasan hitungan berlalu, akhirnya dia tidak bisa terlelap juga.
Karena sudah sangat bosan, dia terpaksa menelpon temannya kembali. Julia.
Beruntung saat itu Julia masih belum tidur. di balik sambungan telepon, dia bertanya, "halo, Elsie, ada apa? tumben sekali kau menelpon saat sudah malam begini?"
"Maaf mengganggumu."
"Tidak mengganggu sama sekali, orang-orang sedang pergi keluar, jadi aku sendirian di rumah dan menonton film. ada apa? kau bertanya tentang acara reuninya?"
"Tentu saja tidak, kau baru saja memberitahu, aku juga paham kalau belum ada keputusan."
"Iya benar, kau sabar dahulu. ada apa memangnya? ingin meminta tips cinta?"
Elsie tertawa mendengarnya, dan ini membuat Julia juga tertawa serta paham kalau memang itu yang diinginkan.
"Saat dulu kita masih satu sekolahan, aku hampir tidak pernah melihatmu tertarik pada lawan jenis, Elsie. sungguh ini adalah hal yang tidak biasa. aku ingin mendengarnya, cepat ceritakan seperti apa dia?" Julia mendadak bertingkah seperti orang yang ingin tahu segalanya. padahal, sebelumnya dia tidak pernah ingin ikut campur urusan cinta teman-temannya.
"Aku menemukan seorang laki-laki disini." Elsie mulai bercerita. "Dia menarik perhatianku."
"Wah, ini yang pasti terjadi pada orang lain, sangat klise, jatuh cinta pada warga lokal." Julia tertawa mendengar itu. "Aku yakin pemuda di sana sangat tampan ya sampai-sampai kau tertarik."
"Semuanya menarik, tapi memang hanya dia yang membuat dadaku berdebar. jadi, aku benar-benar ingin tahu pendapatmu, apakah menurutmu pemuda yang ..."
"Apa dia menggodamu?"
"Well, ..."
"Oh, dia pasti orang baik dan juga tertarik padamu. oke, lanjutkan saja, jangan menolaknya."
"Tapi, aku belum mengenalnya terlalu lama."
"Kau tahu aku dan suamiku 'kan? kami mengenal hanya dalam hitungan minggu sebelum akhirnya berkencan, lalu menikah sebelum setahun, semuanya serba cepat, dan sampai sekarang pun cinta kami masih membara."
"Kau sungguh beruntung memiliki suami yang baik sepertinya."
"Banyak pria baik, kau jangan putus asa dahulu. dengar, aku agak paham kenapa kau menghindari banyak pria dan urusan cinta. aku hanya tidak mau mengatakannya padamu tentang itu, tapi cobalah mempercayai kalau tidak semua pria itu sangat buruk, banyak juga yang bertanggung jawab dan baik. jika dia mencintaimu, dia takkan menyakiti hatimu. itu yang namanya pria sejati."
"Menurutmu begitu?"
"Tentu saja. mencari pria baik memang agak sudah. kebanyakan pria juga manipulatif, biasanya playboy yang seperti ini. tetapi, percayalah, kau harus memperhatikan dirinya, memahaminya, intinya harus tahu bagaimana karakternya. setelah kau yakin, barulah kau bisa mendapatkan kebahagiaan cinta."
"Terima kasih untuk sarannya, aku akan memperhatikan Jett lebih lama lagi. aku ingin mempercayai cinta ..."
"Oh jadi namanya Jett, cukup keren, aku yakin dia populer sekali."
Elsie tertawa. "Memang benar, aku juga yakin sekali kalau dia populer, sudah kelihatan."
"Astaga, kau makin membuatku penasaran, sebaiknya kau membawanya saat kita akan reuni nanti."
"Aku harap aku bisa."
"Kau harus bisa."
"Baiklah, Julia, aku minta maaf karena mengganggumu dengan obrolan yang tidak berguna seperti ini. aku tidak bisa tidur karena memikirkan ini, tapi kau membuatku agak lebih baik."
"Tentu saja tidak masalah, jangan mengatakan tidak berguna. urusan cinta itu penting sekali tahu, kau bisa menelponku lagi jika ingin mengetahui sesuatu. aku akan siap mendengarkan."
"Itu pasti."
Sambungan telepon pun diputus oleh Elsie. kini, dia sudah mulai agak mengantuk, sehingga tak butuh waktu lama sampai akhirnya dia berakhir terlelap dalam tidur.
Di dalam tidurnya, dia masih memimpikan Jett. Dalam keadaan apapun, memang pria itu sudah berhasil menguasai hati dan pikirannya. hanya saja, tingkat keras kepala Elsie masih sangat besar sehingga dia masih memikirkan hal lain yang lebih penting yaitu pedoman hidupnya.
Cinta itu mematikan, begitulah yang dia yakini hingga sekarang. Tentu saja cinta itu mematikan, setelah semua yang dia lalui sejak kecil, dan segala jenis tingkah laku pasangan yang selalu dia lihat dia sekitarnya. dia tidak akan ragu lagi kalau perselingkuhan ataupun tindakan menyedihkan itu akan terjadi selama menjalin hubungan dengan orang lain.
Rasa takut menjalin hubungan inilah yang membuat hatinya seperti sedang terantai.
Sementara itu, di ruang tengah, Jett bisa mendengar semua perkataan Elsie dengan lawan bicaranya. dia hanya bisa tersenyum malu. wajahnya sampai memerah karena hal tersebut.
***