Selepas berbelanja, Elsie dan Jett pulang ke rumah Nyonya Leda. Mereka membawa banyak kantong belanjaan, kebanyakan adalah daging babi, dan beberapa bumbu yang biasa digunakan oleh Elsie untuk memasak. Dia sedikit kecewa karena ada beberapa bumbu yang tidak ada di kota kecil ini.
Meskipun begitu, dia bisa mengakalinya. Malam siang kali ini, dia yang akan memasak. Itu adalah pertaruhannya bersama Jett. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya sangat ahli dalam membuat daging panggang, terutama sapi dan babi. Dia lebih suka memasak sapi, tapi berhubung Jett mengatakan babi, maka dia menurut.
Iya, dalam sekejap, Elsie seperti terhipnotis oleh pria itu. Dia mengikuti segala yang diinginkannya seolah-olah itu adalah titah raja. Dia ingin selalu memanjakan Jett tanpa sebab. dia sedikit curiga kalau ini kemungkinan adalah karena cinta. Cinta membuat segalanya menjadi sangat menjengkelkan, namun juga membahagiakan. Dia sangat bahagia, tapi sedikit gelisah pula.
Dia takut Jett adalah tipikal pria yang tidak setia dan sama saja seperti ayahnya. Dia tidak percaya cinta karena orangtuanya yang memang tidak pernah menunjukkan apa itu cinta.
Cinta hanya akan menyengsarakan, apalagi jika hanya terjadi di satu pihak saja. Dia teringat akan ibunya yang pernah menyayangi ayahnya, tapi ayahnya tak pernah membalas itu, sehingga hanya kebencian ikatan di antara mereka. Tidak ada cinta ataupun kasih sayang. Dia adalah bukti buah hati yang tercipta karena komitmen saja.
Sepanjang jalan menuju rumah, Elsie murung karena mengingat semua itu. Dia meneguhkan dirinya agar tidak terjebak dengan cinta. Sebagaimana pun pesona Jett, tapi tidak akan mungkin bisa membuatnya jatuh hati. Dia tidak mau mencintai siapapun, dia tak mau menyerahkan hatinya pada siapapun. Semua orang mengerikan. Semua pria pada dasarnya sama saja.
Jett menyadari Elsie yang terus murung, dia tidak berani bertanya hingga mereka masuk ke dalam rumah. Saat wanita ini bersedih, dia ikut bersedih. Dia semakin yakin kalau ini memang klaim asli. Dia menyadari semuanya ... Wanita yang ada di depannya ini adalah orang yang dia cari selama ini, belahan jiwanya yang sudah dinanti.
Begitu sampai dapur, Elsie menaruh belanjaannya di atas meja, begitu pula dengan Jett. Wanita itu menghindari pandangan dengan Jett karena masih murung mengingat hal barusan.
Dia mengira jika semakin sedikit melihat Jett maka perasaannya bisa dijaga. Padahal, hal tersebut tidak mungkin. Jett berada dekat dengannya, bahkan kini serasa menyatu dengan jiwanya.
Jatuh cinta memang seperti ini, merepotkan.
“Kau tidak apa-apa? Sejak pulang, kau menjadi sangat diam. Apakah ada masalah? Kau tidak senang dengan toko kelontong disini? Ya, memang agak sedikit barangnya ... Ini memang kota kecil.” Jett berusaha membuka obrolan.
Akan tetapi Elsie menyudahi obrolan itu dengan mengatakan, “tidak apa-apa, aku hanya lelah. Kau pergi saja, aku akan memasak, aku tidak perlu bantuan. Aku lebih suka melakukan ini sendirian.”
“Kalau butuh bantuan, kau ...”
“Tidak.”
“Oke.” Jett sadar betul karena sudah ditolak dan diusir dari dapur. Dia tidak mau berdebat, jadi langsung saja meninggalkan tempat itu. Ada perasaan sedih karena dia harus meninggalkan Elsie yang sedang murung. Dia ingin sekali mengetahui apa yang sebenarnya dipikirkan oleh wanita itu.
Elsie mulai memasak.
sepanjang jemarinya memasak, dia masih memikirkan semua yang terjadi. dia merasa sangat bersalah karena mendadak bersikap dingin kepada Jett. padahal dia tidak ingin seperti itu.
Dia menghela napas panjang, setelah itu mengangguk paham. "Aku tidak boleh seperti ini."
Fokusnya untuk memasak kembali bangkit, kali ini dia harus membuat semua orang terkesan dengan masakannya. Jadi, tujuannya memasak bukan semata-mata ingin menunjukkan pada Jett kalau dirinya bukan hanya orang kota yang tidak bisa melakukan apapun.
Saat mengingat dirinya adalah gadis kota, dia kembali larut dalam kenangan. Di kota, dia tidak memiliki banyak teman, tapi hidup sosialnya juga tidak terlalu buruk.
Seperti wanita muda pada umumnya, dia cukup sering bersenang-senang seperti ke kafe terbaru, ke mall ataupun sekedar melakukan jalan-jalan biasa ke taman atau pusat kota.
Tidak hanya itu, dia jadi ingat saat harus membantu temannya memasak dahulu. Iya, dia harus membantu temannya menyiapkan makanan karena ada seorang laki-laki yang sedang diundang untuk makan malam bersama. jadi, dia seperti juru masak untuk mereka berdua.
Dia sangat ingat betul kejadian itu, dia harus terus berada di dapur karena temannya panik. temannya itu terus mondar mandir karena grogi.
"Tenangkan dirimu, Gina." Elsie tersenyum saat mengiris wortel sekaligus memperhatikan temannya yang tidak tahu harus berbuat apa.
"Bagaimana aku bisa tenang? Aku mengundang Carter ke rumahku dan dia menjawab iya."
"Ini kan masih kurang dua jam lagi dari jam makan malam, kau tenanglah, biar aku yang mengurus makanannya, kau siapkan saja meja makan dan hias ruangannya dengan baik."
"Aku sungguh merasa bersalah karena ini, aku ingin membantumu, aku ..."
"Sudahlah, aku tidak masalah, aku bisa memasak daging panggang sendiri. aku buatkan juga dessert untuk kalian nanti. pokoknya kita bagi tugas. kau ingin semuanya lancar, bukan? maka lakukan seperti yang kukatakan, kau hias tempat yang akan menjadi tempat kalian makan, dan biarkan aku yang mengurus dapur."
"Kau yakin tidak masalah aku tinggal?"
"Daripada kau mondar mandir saja, memang lebih baik kau melakukan sesuatu. tenangkan diri dan kita buat semuanya berjalan dengan lancar."
"Baiklah." Teman Elsie berambut pirang ini tersenyum pada Elsie dengan senyuman yang dipenuhi rasa terima kasih dan lega. "Kau memang teman terbaik."
"Tapi ingat, sejam lagi, kau sudah harus mulai membersihkan diri, dan siapkan pakaian yang akan kau pakai."
"Iya, itu sudah pasti. aku akan segera bersihkan tempat makannya sekarang."
"Iya, pergilah, kita harus berhasil."
"Tentu, Carter akan menjadi milikku selamanya." Gina berlari dengan suara tawa yang menggelegar hingga di antara dinding. tampaknya, wanita ini memang sangat menantikan hal tersebut agar terjadi sesuai dengan rencana.
Elsie ikut tertawa melihat tingkah bahagia Sang teman. dia benar - benar ikut bahagia melihat Gina yang bersemangat. dia senang melihat pasangan yang memang sudah jatuh cinta, padahal dirinya sendiri tidak percaya adanya cinta.
setelah tawanya hilang, kini tinggallah sesuatu yang mengiris hati. hatinya kembali gundah karena teringat akan betapa mirisnya dirinya. dia tidak bisa membuka hati pada siapapun karena trauma akan segala bentuk cinta.
Cinta adalah hal yang misterius, mengingat tentang perlakuan sang ayah pada ibunya, dan tingkah laku sang ibu. sejak kecil, dia harus menerima semua ini. bahkan, setelah dewasa pun, dia lebih sering melihat kehancuran bentuk cinta, semua pasangan selalu berselingkuh, tidak ada cinta sejati.
Maka dari itu, dia berharap Gina mendapatkan cinta sejati dari Carter, sekalipun dia ragu.
Perasaannya saat itu seakan menyambung dengan masa sekarang. Dia kembali mempertanyakan hatinya yang bimbang karena kehadiran Jett.
***