BAB 27

1030 Kata
Tak berselang begitu lama, Alfa kemudian berkata lagi, “aku senang sekali padamu, Elsie. Kau membuat Jett menjadi orang yang lebih baik. Sebelum ini, dia selalu kelihatan cemberut dan membosankan. Dia seperti kaktus di tengah gurun pasir, kering, dan malah sakit kalau kita berusaha untuk menyentuhnya.” Orang-orang kembali menahan tawa. Kali ini, Jett yang menahan malu. “Selamat untukmu, Jett.” Jett mengingatkan, “Alfa, aku bukannya ingin menikah, oke? Jangan berlebihan.” “Tapi, aku tidak berlebihan, aku suka setiap kali anggota kelompok ini akhirnya menemukan pasangan mereka. Hidup akan terasa lebih mudah dan membahagiakan kalau sudah menemukan pasangan hidup. Coba tanya itu pada orang yang lebih tua darimu, kau juga bisa tanya pada Nenekmu. Iya 'kan nenek?” Nyonya Leda yang sedari tadi diam sampai tak disadari duduk di antara mereka masih tersenyum mengamati Elsie dan cucunya. “Benar. Jett akhirnya menjadi seorang pria.” “Kalau bukan pria, lalu aku ini apa sebelumnya?” Elsie tertawa mendengar ucapan Jett, begitu pula dengan orang yang ada di dalam situ. Hampir pecah kaca jendela karena kegaduhan tersebut. “Oh iya, Elsie, aku akan memberikanmu hadiah.” Alfa merogoh kantong kemeja yang dia kenakan, kemudian, dia mengeluarkan sebuah kunci rumah, dan diberikan kepada Elsie. “Ini untukmu.” “Ini ...” Elsie menerimanya dengan d**a berdebar-debar. “Itu rumah baru untukmu. Kau mungkin belum pernah kesana. Tapi, tempatnya ada di tepi sungai yang biasanya digunakan anak muda kita berenang, dekat dengan rumahnya Jett, kau bisa menempati itu. Aku tidak akan tega melihatmu tinggal di tengah hutan yang tuan rumahnya saja jarang di rumah.” Nyonya Leda merasa tersindir, jadi dia batuk-batuk. Dia beralasan, “Aku juga banyak pekerjaan.”, “Tidak baik meninggalkan wanita manis di tengah hutan begitu. Dengan tinggal di dekat rumah Jett, aku harap kau juga akan mempelajari tentang Jett dan keluarganya juga, Elsie. Kalian harus saling memahami agar bisa lebih mencintai dan bertahan sampai maut memisahkan.” Jett dan Elsie kaget mendengar hal tersebut. Mereka saling tidak percaya dan bingung sendiri, mengapa mendadak diberikan hadiah rumah? Beberapa pria tampak tertawa melihat reaksi mereka. Mereka juga mulai menggoda karena tak biasanya Jett kehilangan tingkat kerennya begini karena kaget. Mereka juga tidak percaya kalau Jett akhirnya menemukan pasangan karena dikenal sebagai orang yang sangat acuh pada wanita. “Rasanya seperti menikah.” Jett menggumam pelan. Dia senang Elsie mendapatkan hadiah rumah yang dekat dengan rumahnya yang lain itu. walaupun dia yakin akan satu rumah dengan Elsie meskipun mereka punya ribuan rumah. Iya, hasrat dalam dirinya dan Elsie sudah tak bisa dibendung. Mereka ingin sekali terus bersama dalam masalah apapun. Mereka ingin saling mengenal lebih jauh, lalu memahami agar cinta mereka makin memuncak, seperti yang telah dikatakan oleh Alfa barusan. “kau mau 'kan?” Alfa bertanya, “tapi jangan kaget kalau rumahnya kecil.” Elsie masih memandangi kunci rumah itu. Untuk pertama kalinya, dia mendapatkan hadiah dari seseorang. Baru kali ini dia merasa seperti ada orang yang peduli dengannya. Pertama, dia mendapatkan cinta dan kasih sayang dari Jett, lalu kini, Sang Alfa memberikan sebuah untuk untuk bernaung. Dia benar-benar seperti sedang berenang di lautan permen kapas yang lembut dan segalanya terasa membahagiakan. Ini bukanlah mimpi. Ini juga bukan negeri dongeng, dia tidak menjadi Cinderella, dia hanya beruntung telah bertemu dengan seorang pangeran serigala yang baik dan penyayang. “Terima kasih, Alfa, aku tidak akan mengeluh apapun, rumahnya pasti indah karena kau yang memberikannya.” Elsie tersenyum pada Alfa, berusaha membagi rasa bahagianya dengan pria itu. “Ini adalah hadiah yang indah, aku senang sekali.” “Kelihatannya Jett sedang beruntung karena berjodoh dengan wanita seperti ini.” Alfa tersenyum melihat kerendahan hati Elsie. Dia mengangguk, lalu kembali bicara, “karena kita sudah selesai membahas masalah penculikan, pembunuhan, rencana Gregori dan orang-orang di luar sana, tentang Nephilim, dan tentang jodoh Jett yang bergabung dengan kita, maka rapat kita ini akan Selesai. Kalian bisa menanyakan sesuatu jika ingin? Mumpung kita masih punya sedikit waktu.” “Bagaimana dengan seorang dari kota yang berniat untuk membeli sebagian lahan peternakan milikku? Apa aku harus menjualnya saja dan fokus bekerja untuk bisnis kita, Alfa?” tanya seorang pria muda yang duduk di sebelah Nyonya Leda. Dari caranya yang sangat sopan dalam bertanya, dia kelihatan sekali kalau baru menjadi anggota kelompok. Alfa menjelaskan, “sebenarnya itu terserah padamu, Nak, tapi akan lebih baik kalau kau hiraukan saja orang kota yang mencari tanah itu. Kebanyakan orang kota selalu memutar-mutar jual beli tanah peternakan kalau dirasa bisa melambungkan harganya. Jadi, jangan pedulikan, tolak saja. Kau bisa menyewa beberapa pemuda lokal untuk bekerja di peternakan itu sehingga tidak terbengkalai yang memunculkan minat para pencari tanah untuk menawarnya.” “Kurasa itu memang yang terbaik. Aku ingin bekerja di perusahaan kita.” “Aku suka semangatmu. Kau bisa melakukan saran ku kalau begitu. Ada pertanyaan lain? Mengenai penculikan atau pembunuhan yang terjadi belakangan ini? Tidak?” Pria lain yang duduk tak jauh dari Nyonya Leda kemudian berbicara, “ Oh iya, Alfa, sebenarnya tetanggaku, manusia biasa, dia kehilangan beberapa hewan ternak secara misterius. Tadinya kukira itu hanya ulah binatang liar, tapi entah mengapa makin kesini aku merasa ada manusia serigala liar yang sebenarnya bukan dari kelompok Gregori juga sedang memanfaatkan kegaduhan di kota dengan memangsa binatang ternak.” “Benarkah? Aku tidak mendapat laporan tentang itu.” Sherif Tom keheranan sendiri. Dia memang terlalu sibuk mengurus kasus pembunuhan sehingga lupa akan masalah lain. Mungkin wakilnya yang sudah mendapatkan laporan tersebut. Pria tadi menjawab, “tidak dilaporkan oleh tetanggaku, tapi aku yakin itu bukan binatang liar, jadi daripada menyesal belakangan, aku ingin melaporkan ini, siapa tahu ada manusia serigala liar lain yang juga mengintai di kota ini.” “Baiklah, kalau begitu memang akan kuselidiki setelah ini.” “iya.” “oke.” Alfa merasa sudah selesai. “kurasa semua masalah sudah kita bicarakan, jadi takkan ada masalah lagi untuk sementara. Kita akan pertemuan lagi Minggu depan membahas hasil dari rencana kita yang tadi kita bicarakan.” Semua setuju. Elsie dan Jett berdiri, mereka berjalan keluar bersamaan. Keduanya sudah bersiap untuk menikmati rumah baru mereka dan bersenang-senang di sekitar sungai yang dijadikan tempat berenang itu selama kota masih sepi karena pada warga yang belum kembali. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN