BAB 28

1216 Kata
Elsie menerima kunci rumah pemberian Alfa dengan d**a berdebar-debar. “Ini ....” “Itu rumah baru untukmu. Kau mungkin belum pernah kesana. Tapi, tempatnya ada di tepi sungai yang biasanya digunakan anak muda kita berenang, dekat dengan rumahnya Jett, kau bisa menempati itu. Aku tidak akan tega melihatmu tinggal di tengah hutan yang tuan rumahnya saja jarang di rumah.” Nyonya Leda tersindir, jadi dia batuk-batuk. Dia beralasan, “Aku juga banyak pekerjaan.” “Tidak baik meninggalkan wanita manis di tengah hutan begitu. Dengan tinggal di dekat rumah Jett, aku harap kau juga akan mempelajari tentang Jett dan keluarganya juga, Elsie. Kalian harus saling memahami agar bisa lebih mencintai dan bertahan sampai maut memisahkan.” Jett dan Elsie sama-sama kaget mendengar hal tersebut. Mereka saling tidak percaya dan bingung sendiri, mengapa mendadak diberikan hadiah rumah? Beberapa pria tampak tertawa melihat reaksi mereka. Mereka juga mulai menggoda karena tak biasanya Jett kehilangan tingkat kerennya begini karena kaget. Mereka juga tidak percaya kalau Jett akhirnya menemukan pasangan karena dikenal sebagai orang yang sangat acuh pada wanita. “Rasanya seperti menikah.” Jett menggumam pelan. Dia senang Elsie mendapatkan hadiah rumah yang dekat dengan rumahnya yang lain itu. walaupun dia yakin akan satu rumah dengan Elsie meskipun mereka punya ribuan rumah. Iya, hasrat dalam dirinya dan Elsie sudah tak bisa dibendung. Mereka ingin sekali terus bersama dalam masalah apapun. Mereka ingin saling mengenal lebih jauh, lalu memahami agar cinta mereka makin memuncak, seperti yang telah dikatakan oleh Alfa barusan. “kau mau 'kan?” Alfa bertanya, “tapi jangan kaget kalau rumahnya kecil.” Elsie masih memandangi kunci rumah itu. Untuk pertama kalinya, dia mendapatkan hadiah dari seseorang. Baru kali ini dia merasa seperti ada orang yang peduli dengannya. Pertama, dia mendapatkan cinta dan kasih sayang dari Jett, lalu kini, Sang Alfa memberikan sebuah untuk untuk bernaung. Dia sungguh seperti sedang berenang di lautan permen kapas yang lembut dan segalanya terasa membahagiakan. Ini bukanlah mimpi. Ini juga bukan negeri dongeng, dia tidak menjadi Cinderella, dia hanya beruntung telah bertemu dengan seorang pangeran serigala yang baik dan penyayang. “Terima kasih, Alfa, aku tidak akan mengeluh apapun, rumahnya pasti indah karena kau yang memberikannya.” Elsie tersenyum pada Alfa, berusaha membagi rasa bahagianya dengan pria itu. “Ini adalah hadiah yang indah, aku senang sekali.” . . . Elsie diantarkan Jett menuju ke tempat yang ditujukan oleh Alfa untuk mereka memulai hidup baru. Dalam hal ini, Elsie dan Jett memutuskan untuk saling mengenal terlebih dahulu, baru memutuskan untuk melaju ke jenjang yang lebih serius. Iya, Bagaimana pun baik Elsie dan Jett juga belum terlalu terbuka. Masih ada banyak yang belum diberitahukan Elsie. Jett apalagi, dia memiliki segudang rahasia keluarga yang ingin dia bagi dengan pasangan barunya ini. Sekarang Jett tahu kalau alasan Elsie tak bisa mencintai orang atau berat memberikan hatinya adalah karena orangtuanya yang buruk dalam memberikan kasih sayang. Namun, semua itu sudah terlewati karena mereka telah mengakui kalau saling jatuh cinta. Cinta membuat mereka saling terbuka sekarang. Keduanya saling tersenyum saat melihat rupa dari bangunan yang dihadiahkan oleh Alfa untuk Elsie. Rumah ini sendiri memang kecil, cocok dihuni oleh pasangan baru atau hanya seorang saja. Meskipun begitu, arsitekturnya cukup modern dan menggunakan bahan yang berkualitas sehingga kelihatan mewah. Sebenarnya rumah-rumah tetangga juga memiliki arsitektur yang hampir mirip. Bahkan, tanaman yang di tanam di depan pun hampir adalah jenis yang sama, seperti pohon Ek di halaman depan, lalu di sekitarnya ada pot-pot kecil yang dipenuhi bunga seperti mawar ataupun yang lainnya. Intinya rumah-rumah disini cukup nyaman dan memang dibuat untuk membangun sebuah keluarga. Beberapa tetangga tampak tersenyum pada Elsie dan Jett ketika mereka akan memasuki rumah. Berhubung ini masih pagi, orang yang masih tinggal disini juga masih bekerja. Beberapa orang yang masih tinggal di kota rata-rata adalah para orang tua. Mereka sengaja menjaga agar kota tetap berpenghuni, sementara mengirim anak remaja sampai dewasa muda mereka keluar kota. “Rumah ini sangat bagus.” Elsie memuji tempat ini yang nyaman dan sangat modern. Dia tidak menyangka kalau ada di daerah Texas rumah model seperti ini. Jett mengangguk. “Iya, aku sudah lama tahu tentang rumah ini. Sepertinya ini dahulu adalah rumah orang yang meninggal secara misterius ... Lalu direnovasi oleh Alfa.” “Hei ...” Elsie meliriknya kesal. “Jangan coba-coba untuk menakutiku, ya.” “Maaf, aku tidak ada niatan untuk menakutimu, aku hanya ingin membagi apa yang kuketahui.” Jett tertawa sembari naik ke undakan teras, lalu mendekati salah satu kursi yang ada di samping pagar kayu yang memang membatasi teras dengan halaman depan. Hampir setiap rumah memiliki ciri khas seperti ini. Dia meletakkan ransel berisi barang-barang Elsie di atas kursi tersebut. “Jett, apakah aku benar-benar boleh tinggal disini? Rasanya seperti ... Aku diberikan rumah, ini kan jelas tidak murah.” Elsie masih tidak percaya saat menaiki undakan rumah. “Apa mungkin ini maksudnya sewaan? Aku harus membayar sewa ...” “Hei.” Jett menghentikan ucapannya. “Ini adalah hadiah, untuk apa kau membayar untuk tinggal di rumah sendiri? Lagipula, asal kau tahu saja ya, Alfa dan kelompokku disini itu adalah pemilik bisnis kontruksi terbesar di Wimberley dan sekitarnya, hampir seluruh lahan di kota ini adalah milik pribadi, dan Alfa memang cenderung suka berbagi. Dia memang baik, ya asalkan tak ada yang memanfaatkan kebaikannya menurutku itu akan baik-baik saja.” “Aku juga tahu kalau dia baik, tapi kurasa ini terlalu baik. Padahal aku tidak berjasa apapun.” “Bicara apa kau ini? Kau diculik oleh kelompok luar itu waktu itu, itulah yang membuat kami bisa melacakmu dan mereka. Aku bisa mencium aromamu, dan Alfa bisa memprediksi tempat musuh. Semua ini berkat kau yang menjadi tawanan.” “Iya, rasanya aku seperti umpan.” Elsie sebal mendengar perkataan gurau dari kekasih barunya ini. Tetapi, kecemberutannya hanya berlangsung sesaat. Dia langsung tersenyum, dan kemudian berkata, “oh iya ...” “Apa?” “Ini masih pagi, kau mau mengantarku ke sungai yang dikatakan dijadikan tempat berenang? Aku ingin sekali melihatnya.” Jett menuding ke seberang jalan dimana terdapat pepohonan yang jarang, tapi cukup teduh. “Disana tempatnya, kita hanya perlu berjalan beberapa ratus meter, maka akan sampai. Biasanya aku dan teman-temanku juga kesana.” “Oh iya, kau jelas tinggal di dekat sini juga, aku juga ingin pergi ke rumahmu, Jett, maksudku ... Rumah yang biasa kau tempati selain rumah nenekmu.” “Iya ada di dekat sini, nanti akan kuajak kesana. Tapi, aku kita berenang dahulu. Kau bisa berenang kan?” “Tentu saja.” Setelah koper dan ransel diletakkan di atas kursi teras, mereka hanya mengambil barang berharga. Elsie hanya mengambil tas selempang kecil yang berisi dompet dan ponsel. Hanya itu yang berharga. Setelah itu dia bergegas mengikuti Jett yang berjalan menuju ke sumber sungai yang dimaksud. Berenang adalah hal yang biasa dilakukan oleh Elsie ketika sedang sendirian di rumahnya di kota sana. Berenang bisa menenangkan pikirannya, terlebih ketika sedang malam hari, dan airnya diubah menjadi lebih hangat, itu adalah kenikmatan dunia yang pernah dia rasakan. Tetapi sekalipun itu menyenangkan, nyatanya ada yang kurang. Itu adalah seorang pasangan. Meskipun dahulu dia menolak mengakui itu, tetapi dia tidak bisa menyangkal kalau sedang kesepian. Sekarang semuanya tidak akan sama lagi. Dia sudah melupakan segalanya, kota besar dan yang lain, dan memilih untuk tinggal bersama Jett di kota kecil di Texas ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN