Ide gila Salsha

2113 Kata
"Lo dari mana aja sih lama amat tau! Sampe tadi dicariin Pak Rehan tuh," cecar Salsha ketika melihat Ranti tiba di meja kerjanya. "Gue ya abis nganterin pesanan Tante Inggit. Dan menyebalkannya lagi si Brian malah curiga yang enggak-enggak dikira gue mau mau manfaatin kedekatan gue dengan Tante Inggit sampai-sampai gue tadi harus berdebat dulu masalah itu kue. Parah banget kan? Padahal jelas-jelas struknya juga aku taro di dalam kreseknya juga biar dia percaya. Eh ini malah nyolot aja ga mau dengerin penjelasan aku. Ditambah lagi ini perut laper banget sumpah," jelas Ranti sambil mulutnya penuh dengan kue brownies panggang cokelat. "Santai-santai. Mendingan lo abisin dulu deh itu kue biar lo tenang. Udah gue tungguin lu sampai perut lo bener-bener udah kenyang," timpal Salsha sambil kedua tangannya diangkat di bawah dagunya dengan sikunya yang diletakan di atas meja kerjanya Ranti untuk menahannya.  Ia  tidak henti-hentinya memperhatikan tingkah Ranti yang kelaparan itu. "Euuu Alhamdulillah kenyang juga," suara Ranti yang tidak memperdulikan imagenya sebagai seorang perempuan feminim. "Lu ya sendawa ga inget tempat kalau kedengaran sama gebetan lu kan malunya ampe ubun-ubun Ran ampun deh ah!" Salsha mengomentari sambil menutup wajahnya dengan jari jemarinya.  "Bodo amat. Untungnya gue ga punya gebetan."  "Yaudah gue balik ke meja gue dulu dah. Nanti beres kerja gue ke sini lagi takut kena omel si bos kalau kelamaan ngobrol haha bye Ran"  Aktivitas mereka pun berlanjut bergelut dengan laptop dan kertas sesuai dengan tugas dan pekerjaannya masing-masing. Tak terasa jam kerja pun sudah tiba. Tapi mereka berdua masih berada di dalam kantor tersebut. "Gue lagi bingung bin kesel banget Sha hari ini," keluh Ranti pada Salsha. "Bingung kenapa?"  "Nyokap kecelakaan dan harus ada uang cepat untuk biaya operasi karena lukanya dikepalanya parah," kata Ranti akhirnya mau terbuka terhadap sahabatnya itu. Salsha memang tempatnya berbagi bukan hanya berbagi kebahagiaan saja tapi keluh kesah juga sering. Malahan kalau Ranti murung dan tidak mau cerita yang ada dia malah makin marah padanya. "Kayaknya aku terima aja deh permohonan itu," lanjut Ranti. "Apa lo jadi mau terima perjodohan itu?"  Sambil membelalak kesal, Ranti mencubit pelan lengan berotot yang kini pindah duduk tepat di samping kanannya. "Suara lo tuh ya. Nggak sekalian aja lo ngomong pake toa, jadi sekantor pada tahu!" omel Ranti kesal sembari melongok sekitarku, memastikan suara bass Salsha tidak menarik perhatian beberapa orang yang masih berada di kantor. Reflek, Salsha meringis kesakitan sebelum menepis cepat tangannya. “Gila lo ya, main fisik melulu,” protes Salsha."Lagian lo lihat sendiri kantor sudah nyaris kosong. Elo sama gue aja yang demen lembur kayak gini." "Nyaris kosong itu beda sama kosong, Salsha. Percaya sama gue, satu mulut itu lebih dari cukup buat bocorin berita itu ke seluruh kantor." "Percaya juga sama gue, lo nggak seterkenal itu. Lo juga nggak sepenting itu. Walaupun mereka tahu, mereka paling juga nggak peduli." Sekali lagi, Ranti mendaratkan tangannya ke lengan Salsha. Tapi kali ini Salsha lebih cepat darinya.  Sebelum Ranti berhasil mendaratkan cubitan kedua, rekan kerja sekaligus satu-satunya sahabat Ranti  di kantor itu memundurkan kursinya dan dengan cepat memukul punggung tangannya. “Gentleman banget lo, Sha,” sindir Ranti kesal. Salsha terkekeh sebelum kembali memajukan kursinya di samping Ranti, "nggak perlu jadi gentleman buat cewek yang demen main fisik kayak lo,” kilah Salsha puas. "Dan omong-omong, gue lebih tertarik denger kelanjutan cerita lo tadi. Intinya, Nyokap lu lagi sakit dan lu lagi butuh dana cepat. Terus apa hubungannya dengan perjodohan itu?"  Ranti mendengus keras."Ya gue takut terjadi yang enggak-enggak dengan nyokap gue. Amit-amit ya tapi gue takut beliau pergi duluan sebelum gue nikah Sha. Nah tapi gue bingung juga apa gue sanggup yaa hahaha?"  Mendadak Salsha menyeringai lebar. Kalau itu memang kenyataan, Ran. Selama setahun kenal lo, lo nggak pernah punya pacar kan? Boro-boro pacar, calon pacar aja nggak punya. Gue sudah ganti pacar tiga kali, lo masih aja jomblo." "Jadi playgirl itu bukan sesuatu yang pantes buat dibanggain, Sha." "Really? Tapi menurut gue, itu jauh lebih berkelas daripada lo. Paling nggak gue bukan gadis lapuk nggak laku yang butuh dijodohin kayak lo." "Kampret!" Salsha tertawa puas sementara tangannya mulai bergerak mematikan PC di hadapannya. Sambil mengumpat tanpa suara, Ratih mulai merenungi perkataan Salsha. Tidak, menurut Ratih perkataannya ngaco. Ratih memang jomblo, tapi ia  tahu ia bukan gadis lapuk  tak laku seperti yang dituduhkan Salsha. Ranti melirik pantulan dirinya dilayar gelap PC di hadapannya. "Tanpa bermaksud sombong, sebenarnya dengan wajah oval yang dibingkai dengan potongan rambut bob lurus sebahu ini, aku bisa mendapatkan banyak perhatian dari lawan jenisku. Tapi aku tidak tertarik untuk melakukannya. Aku masih sangat menikmati kesendirianku. Lagipula, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sehingga aku yakin kalaupun aku punya suami nanti, aku tidak bisa banyak meluangkan waktu untuknya tapi bagaimana dengan orangtuaku apalagi Ayah hmmm aaaaaah sial," batin Ranti bergejolak. "Melihat betapa santainya kalian sekarang, saya optimis Laporan Laba Rugi kuartal yang saya minta kemarin sudah bisa siap di meja saya besok pagi." Suara bariton yang mendadak menggema di ruangannya kontan menarik perhatian Ranti dan Salsha. Nyaris bersamaan, mereka menoleh ke sumber suara. Dalam hitungan detik, tatapannya Ranti bersiborok dengan tatapan pemilik suara yang tengah bersandar di kusen pintu ruangan dan menatapnya tak suka. "Apa, Pak?" refleks Ranti kaget. "Laporan Laba Rugi Kuartal. Kamu bilang Salsha sedang memperbaiki sistemnya sehingga kamu butuh beberapa hari lagi untuk menyelesaikannya. Tapi karena kalian berdua tampaknya sudah tidak punya pekerjaan, saya asumsikan laporan tersebut sudah selesai." Masih belum pulih sepenuhnya dari keterkejutannya, Ranti hanya mampu menatap bodoh pada atasannya. Nama panjangnya Rehan Perwira, tapi semua anak kantor lebih terbiasa memanggilnya dengan nama Rehan. Dia atasan Ranti sekaligus pemilik perusahaan tempat Ranti bekerja. Jujur saja, bosnya satu itu termasuk tipe pria yang akan dilirik minimal dua kali oleh lawan jenisnya. Perawakannya yang tinggi ditambah dengan wajahnya yang tampan jelas membuat auranya sulit untuk ditolak. Penampilannya yang elegan plus latar belakang tak bercela, baik pendidikan maupun keluarganya, semakin menambah tinggi poinnya dimata semua yang melihat atau mengenalnya. Terus terang, Ranti pun tak luput dari pesonanya. Ranti masih ingat ia sempat mengaguminya saat ia baru bergabung di perusahaan kurang lebih setahun yang lalu. Sikapnya yang tegas namun cukup ramah untuk ukuran bos, membuatnya semakin terpesona padanya. Ia bahkan mendapati dirinya hampir selalu melirik ke arahnya saat pria 32 tahun itu berjalan melewati depan ruangannya. Singkatnya, entah bagaimana ia seperti tersihir oleh pesonanya. Tapi sihir itu perlahan memudar. Sekarang, bahkan sisa-sisa sihirnya lenyap tanpa bekas dihatinya. Setelah setengah tahun lebih bekerja bersama Rehan, sifat asli pria itu mulai terlihat jelas. Di mata Ranti dia mulai menjadi tiran. Selain seenaknya meminta ini itu dengan jangka waktu yang tidak masuk akal, Rehan pun seolah selalu mencari kesalahan dari setiap pekerjaannya. Jika tidak ada kesalahan material yang ditemukannya dalam pekerjaanku, kesalahan kecil seperti typo bahkan format laporan pun bisa dipermasalahkannya sepanjang hari. Singkatnya, pria itu seolah ingin membuktikan bahwa Ranti tidak becus dalam bekerja. Apa Ranti  membencinya? Tentu saja. Bahkan pesonanya yang dulu sempat membuatnya bertekuk lutut tidak bisa lagi membantu Ranti menahan kesal setiap kali berhadapan dengan tiran satu itu. "Saya harap laporan itu sudah ada di meja saya sebelum saya datang besok." Suara Rehan kembali menarik Ranti dari lamunannya. Sebelum ia sempat memprotes permintaannya, tanpa aba-aba Rehan sudah melangkah melewati ruangannya. Ranti hanya mampu melotot sebelum mendengus jengkel. Seperti biasa, sekalipun dongkol dan tak terima, Ranti tidak punya pilihan lain selain mengerjakan apa yang diperintahkan bos satu itu. Dengan kasar, Ranti  kembali menyalakan PCnya. “Gue nggak mau tahu ya, Sha, pokoknya lo harus nemenin gue lembur malam ini. Gimana-gimana gue lembur gara-gara bantuin lo.” "Enak aja. Ogah. Lo lembur bukan gara-gara bantuin gue ya, tapi memang sudah tugas lo buat ngecek hasil laporan program yang sudah gue sembuhin. Lagian benernya kerjaan gue kan sudah kelar dari satu jam yang lalu. Lo aja yang ngajakin gue ngobrol sampai jam segini." Tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor, Ranti mulai mengubah intonasi bicaraku. "Satu jam, Sha. Please temenin gue satu jam aja. Kalau memang setelah itu gue belum kelar, gue ikhlasin lo pulang," kata Ranti. "Lo lihat sendiri kan kantor sudah sepi banget. Gue cewek sendiri lho di kantor. Kalau ada apa-apa sama gue gimana?" Salsha mencibir. “Kentara lo nggak pernah ngaca. Modelan kayak lo, yang ada orang lain yang kenapa-kenapa kalau cari masalah sama lo." Ranti menahan umpatan yang akan kusemburkan ke Salsha. Kali ini, ia harus berhasil membujuknya untuk menemani malam ini. Untungnya, sekalipun sambil merengut, Salsha mengulurkan tangannya dan perlahan mengambil beberapa lembar kertas yang mulai tertumpuk di mesin printernya. Sambil tersenyum samar, Ranti mulai memfokuskan pikirannya sehingga ia bisa menyelesaikan tugas tambahan sialan ini secepatnya. "Dasar Rehan sialan!" Ranti melempar gusar pensilnya ke tumpukan kertas di mejanya.  "Kalau tahu bos sialan itu keluar kota selama dua hari, untuk apa ia memaksa lembur hingga tengah malam kemarin dan datang bahkan sebelum cleaning service mulai bekerja hari ini?" "Lo serius, Sha? Si Rehan beneran keluar kota hari ini?" "Iyalah, gue serius. Kata si Intan, subuh tadi dia berangkat." "Dasar b******k! Padahal dia sendiri yang nyuruh gue kumpulin kerjaan gue hari ini!" "Bukannya kerjaan lo memang belum selesai, Ran? Harusnya lo bersyukur kan?" "Dia itu psiko tahu," sergah Ranti tidak mengacuhkan perkataan Salsha barusan. "Dia tahu dia mau keluar kota, tapi sengaja nyuruh gue nyelesain kerjaan yang sangat bisa ditunda. Apa coba maunya dia!" "Ya sudahlah, siapa tahu perginya mendadak juga." "Ini bukan kali pertama ya. Lo inget nggak waktu dia nyuruh gue nyiapin laporan audit yang segitu banyaknya, tapi pas sudah selesai malah nggak disentuh sama sekali selama berhari-hari? Sumpah, gue nggak tahu gue ini salah apa ke dia, yang jelas dia kayaknya sengaja nyiksa gue banget. Perasaan sama lo dan yang lain, dia nggak sampe segitunya. Rese." "Namanya juga bos, Ran, suka-suka dialah. Kalau lo nggak tahan, lo bikin perusahaan sendiri aja. Atau kalau mau yang lebih gampang, gimana kalau lo resign aja?" Ranti langsung memberi tatapan penuh dendam ke arah Salsha. "Sialan lo, Salsha Gue serius nih." Salsha terkekeh puas sebelum kembali menanggapi keluh kesah Ranti. "Gue juga serius. Kalau memang lo nggak tahan ya resign aja, beres kan?"  Sekali lagi Ranti memberikan tatapan penuh dendam pada Salsha. Sekalipun saran Salsha barusan cukup masuk akal, Ranti dan dia sama-sama tahu itu cukup sulit direalisasikan. Sejak pertama kali bekerja di sini, Ranti sadar bahwa gaji yang kuterima jumlahnya jauh lebih tinggi daripada gaji rata-rata di luaran sana. Bukan itu saja, sebagai seorang chief accounting – yah, walaupun pada kenyataannya jabatan itu tidak sekeren namanya mengingat ia hanya membawahi satu fresh graduate – ia mempunyai ruangan sendiri yang membuatku cukup leluasa dan nyaman untuk melakukan apapun. Jadi, yah, satu bos menyebalkan belum cukup layak untuk membuatnya melepaskan pekerjaan ini. Situasi yang serupa juga dialami Salsha  Dia adalah satu-satunya IT di kantor ini. Sama seperti Ranti, sekalipun jabatannya terdengar berkelas, pada prakteknya dia lebih sering memperbaiki kerusakan pada PC daripada program kantorku. Tapi dengan gaji dan fasilitas yang kami dapat dari kantor yang mempunyai 20an pegawai ini, Ranti rasa dirinya dan juga Salsha tidak boleh terlalu banyak protes. "Gue masih bingung dari kemarin gue masih belum nemuin solusi biar bisa dapetin itu duit,” kata Ranti jengkel. Wajah Salsabila berubah serius mendengar kegusaran Ranti. “Ternyata nyokap lo beneran serius lagi butuh banget duit itu ya? Kalau gue ada udah gue bantu Ran tapi ini 50 juta duit dari Mane gue," jawab Salsha iba tapi tidak bisa berbuat apa-apa. "Untungnya pihak rumah sakit masih ngasih toleransi. Ayahku udah dioperasi dan berjalan lancar keluargaku diberi waktu lagi sampai hari ini. Tapi kalau tidak pihak rumah sakit mengambil tindakan lagi hmm," ucap Ranti murung. "Lu ga coba pinjem ke Rehan gitu?"  "Ogah gue malu Sha. Lu tau kan gue pernah nolak dia" "Lagian ya lu mah aneh giliran ada yang suka lu nya ogah. Dan sekarang gue semakin yakin dia bersikap kaya gitu ke lu karena kecewa juga salah satunya"  "Ya orang dia ga serius gitu dan gue tau dia juga suka nangkring di tempat kerja juga bahkan ceweknya sering genta-genti lagi." "Di club itu?"  "Hooh"  "Ah gimana kalau ini aja Ran lu godain aja Om-om di sana mereka pasti pada berduit semua."  "Maksud lu? Gue kudu jual diri gitu?" Ide macam apa ini Salsha gue masih waras kali ah!"  Salsha berdecak tak sabar. "Ya sudahlah, ini urusan elo, gue nggak mau ikutan pusing. Lagian itu kan saran mau dipakai silahkan ga juga ga masalah. Udah ah Gue balik ke tempat gue deh, gue kudu pulang on time hari ini, gue mau ada acara sama nyokap ketemu sama temen lamanya"  Tanpa menunggu jawaban dari Ranti, Salsha berdiri dan berjalan keluar dari ruangan Ranti. Dengan pandangan iri, Ratih menatap punggung Salsha hingga sosok itu menghilang dari hadapannya. 'Ah, sial, aku yang bener aja Sha? Gue kudu jual diri? Percuma dong gue jaga kehormatan gue selama 28 tahun ini'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN