Makanya jangan curiga terus!

1366 Kata
"Apa lagi?" tanya Ranti kesal sambil menahan langkahnya. "Makasih banyak udah mau nganterin kue ini. Iya gue tau gue salah. Gue udah curiga ke lu yang enggak-enggak. Dan ternyata kue itu emang Mama gue yang beli," jelas Brian. "Hmmm dari tadi ke. Dasar ya udah bikin orang naik pitam aja. Mana saya belum makan lagi dan bodohnya saya bela-belain buat nganterin pesan kamu dulu. Eh nyampe sini malah dimaki-maki, dicurigai kan menyebalkan. Makanya jadi orang tuh jangan curiga terus!" dengus Ratih kesal karena jam makan siangnya sudah terganggu oleh Brian akibat tadi saling olok-olokan masalah kue brownies panggang cokelat. "Ya maaf lagian lu ga meyakinkan sih orangnya!"  "Susah ya kalau otaknya penuh dengan hal-hal negatif yang ada curigaaaaa mulu bawaannya." "Ya bagus itu artinya gue jadi selalu waspada terhadap siapapun. Mengerti?" "Serah dah. Udah kan? Saya mau balik lagi ke kantor."   "Hei tunggu. Sebagai permintaan maaf, karena tadi udah curiga sama lu dan lu udah bela-belain anterin ini brownies. Gue antar lu balik lagi ke kantor ya," tawar Brian dengan canggung. "Ga usah. Saya bisa pulang sendiri ko!"  Ratih tak menghiraukan tawaran Brian dia terus berjalan hingga tiba di luar kantornya Brian.  Ranti melihat telepon genggamnya, "Yaaa… dicancel" gumamnya masih terdengar oleh Brian yang terus membuntutinya. Dia berada disampingnya Ratih. "Kamu lagi nunggu ojeg online? " tanya Brian kembali menoleh kepada Ratih. "Iya tapi di cancel... Saya harus pesen lagi! Kamu ngapain ngebuntutin terus saya? Minggir saya mau pulang.., " pamit Ranti lalu membalikan tubuhnya dan mulai melangkah meninggalkan pria tampan tapi arogan itu. "Hey... Tunggu dulu Nona! Biar saya antar pulang, sebagai ungkapan rasa terimakasih" usul Brian. Ranti menghentikan langkahnya, "terimakasih, saya bisa pulang sendiri!" jawab Ranti, membungkukan sedikit tubuhnya. "Tidak... Tidak… saya antar pulang saja" Brian memaksa dan mulai melangkah mendekati Ranti. "Dibilangin ya udah ga usah saya biasa pulang sendiri ko!"  "Kalau kamu kenapa-kenapa di jalan nanti saya juga yang bakalan kena semprot Mama, kamu ngerti kan"  "Hmmmm"  "Pak tolong ambilkan mobil saya ke depan kantor saya sudah berdiri di depan kantor," perintah Brian pada supir pribadinya. Tak lama mobil pribadinya Brian telah tiba dihadapan mereka. "Ayo masuk ke mobil!! " titah Brian dengan suara baritonnya seraya berlalu masuk ke dalam mobil. Pertahanan pria itu goyah setelah ia ingat dengan Mamanya apalagi tadi pagi dia baru saja mendengar berita tentang kejadian pelecehan yang dialami oleh penumpang ojeg. Tanpa berkata apapun Brian masuk kedalam mobil termasuk Ranti, suara yang tegas dengan penekanan di akhir kalimatnya, tidak ada yang bisa membantah perintah Brian. Brian sudah berada di dalam mobilnya dan di sana sudah ada supir pribadinya yang sudah siap akan mengemudi mobilnya, supir tersebut bernama Pak Yono. Ranti seperti anak bebek yang digiring induknya untuk masuk kedalam mobil tanpa bantahan. Sementara itu Ranti dan Brian berada di satu meja dan tanpa sadar mereka duduk bersebelahan.  Ranti tidak berani melihat ke arah Brian sedikit pun, ia hanya melihat kekanan dan kekirinya lalu menunduk, menghindari tatapan pria berparas tampan disampingnya. Gadis itu benar-benar menghindari tatapan keduanya bertemu karena Ranti merasa tatapan Brian sangat tajam hingga bisa menembus jantungnya. "Aduuuuh...salah ambil kursi nih, kalau aku pindah dia tersinggung ga ya? jangan liat matanya jangan liat..., " batin Ranti seperti merapal mantra. Ranti  berharap pak Yono segera kembali memecah ke canggungan yang ia rasakan, tapi Brian malah terlihat santai, duduk dengan tegap di samping Ranti tanpa ekspresi, kedua tangannya di simpan di atas kedua pahanya yang saling betautan, Brian  terus memperhatikan Ranti dan merasa aneh melihat gadis disampingnya yang seperti salah tingkah. Ia mengerutkan dahinya, kepalanya sedikit miring ke kiri lalu ke kanan memperhatikan gadis cantik disampingnya yang terlihat gugup. Diperhatikan seperti itu membuat jantung Ranti berdetak marathon, kakinya terasa lemas untung sekarang ia dalam posisi duduk bila sedang berdiri mungkin ia sudah jatuh berguling-guling di lantai. Tidak lama kemudian, pak Yono memecahkan keheningan itu. "Pak sudah siap? Kita jalan kemana?" tanya Pak Yono pada Brian. "Ke jalan pejuang Pak"  "Baik Pak"  Sepanjang perjalanan mereka tetap saja  membisu tak ada obrolan lagi. Brian memalingkan pandangannya kemudian melipat tangan di d**a, lengan kemejanya menyempit, otot-otot di lengan Brian terliat sangat seksi seperti meronta ingin merobek lengan kemeja itu. Brian memang idaman setiap wanita, tidak ada wanita yang tidak menoleh bila Brian lewat termasuk Ranti yang sedari tadi melihat sesekali ke arah Brian hanya sekedar menikmati ketampananya. Dari ujung matanya, Brian bisa merasakan Ranti sedang menatapnya intens tapi ia pura-pura tidak tau dengan memperlihatkan ekspresi datarnya. Sikap pria dingin itu hanya akan membuat Ranti sakit nantinya. Di dalam mobil hanya Ranti dan Pak Yono yang berbincang-bincang sambil sesekali Ranti menunjukan jalan arah kosannya dan Brian  hanya termenung mencerna perkataan Ranti tadi. Brian yang digilai setiap wanita hingga selalu dibuat kesal dengan prilaku berlebihan wanita-wanita tersebut merasa aneh, ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Kenapa Ranti begitu berani padanya.  "Sudah sampai!! Terima Kasih untuk....., " Ranti tidak melanjutkan kalimatnya karena bingung harus berterimakasih untuk apa dari tadi Brian hanya diam saja. "Terimakasih untuk tumpangan mobilnya" pak Yono menambahi. "Nah iya terima kasih atas tumpangannya tuan Brian yang terhormat. Kalau begitu saya pamit sekarang," katanya sedikit ketus karena kesal sedari tadi dia diacuhkan saja. Padahal kan dirinya bukan patung hehe. "Hmmm," jawabnya datar. Udah pengen nampol aja liat orang kaya Brian. Tapi ya walau bagaimanapun pun juga Ranti masih berperasaan dia tidak akan setega itu. Ranti tersenyum dan keluar dari mobil, gadis itu melambaikan tangan dan masuk perlahan menuju kantornya.  Ponsel Ranti  terus bergetar dan sudah ada 10 panggilan tak terjawab, tapi Ranti masih asik dengan pikirannya ia sedari tadi terus memikirkan sikap dingin Brian yang menyebalkan selama perjalanan menuju kantornya. Tadi malam ia baru bisa memejamkan mata pada pukul empat subuh, karena ia tidak bisa tidur, gadis cantik itu lupa mengubah mode bunyi dari mode getar di telepon genggamnya. Sampai akhirnya ia teringat dengan telepon genggamnya saat hendak mengambil dari tasnya ponsel tersebut jatuh hingga tepat menimpa kakinya. Ranti langsung terperanjat nunduk, kakinya terasa nyeri tapi getaran telepon genggam mengambil alih perhatiannya.  Ia memicingkan mata melihat layar telepon genggamnya, ada panggilan dari Karin "Halo de... " Jawab Ranti. Tumben sekali adik perempuannya ini mau menghubunginya, kecuali bila kekurangan uang. Seingatnya baru seminggu yang lalu ia mentransfer uang kepada Ibu. "Kaaa... Bapak masuk rumah sakit, tadi ada rentenir yang datang ke rumah terus mendorong Ayah hingga kepalanya membentur tembok dengan keras, harus dioperasi secepatnya dan membutuhkan biaya 100 juta tapi 50 juta harus masuk sekarang juga ke Rumah Sakit" Karin berteriak dari sebrang sambungan telepon. Seketika Ranti merasakan sakit dikepalanya semakin menjadi, bukan karena ia pusing memikirkan pekerjaannya, bukan, tapi karena penuturan Karin tadi, tubuhnya lemas dan ia merasa sangat mual, ditambah lagi dia belum sempat makan, stress memikirkan dari mana harus mendapatkan uang 50 juta sekarang juga, tiba-tiba Ranti merasa ingin lenyap saja dari muka bumi ini. "Lalu bagaimana keadaan Ayah sekarang de? Apa Ayah kritis? " cecar Ranti  khawatir. "Iya Ka, Ayah udah masuk ICU dan butuh penanganan secepatnya" Karin menjawab sambil terisak. "Ya Tuhan Bagaimana ini?" gumam Ranti pada dirinya sendiri. "De, apa mobil Bapak bisa dijual dulu atau digadai gitu sambil nunggu Kaka cari uang?" Ranti benar-benar bingung tidak tau apa yang harus dia lakukan, dan hanya asal bicara saja. "Ka, mobil Ayah sudah di jual kemarin untuk bayar hutang-hutang Ayah Sebelumnya ke rentenir" tukas Karin lirih, ia merasa bersalah karena ikut andil memberikan ide untuk menjual mobil Ayah. "Ya ampun de, kok Kakak sampe ga tau? " Ranti tak tahan membendung air matanya, ia tertunduk lemas tidak berdaya. "Ya sudah, kaka cari uangnya dulu ya de, nanti kalau uangnya sudah ada, kaka kabarin ade lagi!" suara Ranti sangat pelan hampir tidak terdengar oleh Karin. "Kaka mau cari kemana? Jangan mikir yang nggak-nggak ya Ka, ade mohon... Ade sayang Kaka " lalu Karin mengakhiri panggilan teleponnya. "Kaka juga sayang ade" batin Ranti getir. Kini pikiran Ranti  benar-benar buntu, ia tak tau kemana harus mencari uang sebesar itu saat ini juga. "Hmmm ada-ada saja. Masalah baru lagi. Mana ini perut sumpah lapar banget. Dasar Brian kenapa tadi ga ngajak mampir untuk makan dulu dan ini di rumah kenapa bisa-bisanya Ayah berurusan lagi dengan rentenir sih. Ya sok aja kalau uangnya ada tapi pas lagi ga ada kaya gini aku bisa apa coba? Sial-sial!!!!!!!" batin Ranti semakin ga karuan siang itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN