Malam hari dikediamannya Ranti saat akan menjelang tidur, Ranti membuka sosial media dari smartphone miliknya.
Brian Handoko
Ranti mengetikkan nama Brian di tab pencarian. Muncullah sebuah akun centang biru dengan lebih dari tiga juta pengikut.
Akun tersebut bagaikan galeri yang memamerkan foto-foto Brian. Mulai dari prestasi hingga sensasi. Dan juga ada sebagian foto mendiang istrinya yang masih ia pajang di akun miliknya itu.
Jujur saja, tidak dapat dipungkiri jika Brian memang tampak gagah dalam kostum jas kerjanya. Brian mengundang decak kagum banyak orang karena wajah tampan dan gagahnya tidak terkecuali Ranti.
Namun kekagumannya lekas berganti dengan rasa tidak suka saat Ratih melihat komentar cewek-cewek yang berpakaian kurang bahan dengan manisnya membalas setiap postingan di fotonya Brian dan parahnya lagi Brian juga membalasnya dengan balasan yang mesra juga. Membuat ilfil saja ketika melihatnya.
Selain arogan, ternyata Brian juga suka gonta-ganti wanita yang ia jadikan sebagai pemuas nafsunya setelah kepergian Audy si Istrinya itu, membuat pikiran Ranti pada laki-laki itu hanya dipenuhi oleh pikiran negatif.
***
Pagi dengan sedikit gerimis saat Ranti baru saja terbangun dari tidur karena ponselnya terus berdering, dengan nyawa yang belum terkumpul dia meraih ponselnya yang berada di samping bantal, meliriknya sekilas sebelum kemudian menjawab panggilan telepon dan memencet tombol loud speaker.
"Halo…," Gumam Ranti dengan suara serak, matanya memejam kembali karena kantuk yang belum menghilang.
"Ranti! Ran, lo ngapain aja baru angkat telpon gue, gue dari tadi nyariin elo tau gak!" Cerocos suara paling familiar bagi Ratih, Salsha.
"Gue baru bangun Sha. Mampus gue Sha, lu tau kenapa? Gue jadi dijodohin Sha tolongin gue Sha."
"Ya sudah, kawin sana. Emang udah waktunya juga kan?"
"Tega banget sih lo Sha, sama sahabat lo sendiri. Gimana dong Sha? Bokap ngancam gue Sha, kalo gue kali ini gak mau menerima perjodohan itu bokap bakal ngusir dan menghapus nama gue dari kartu keluarga! Gimana hidup gue Sha, gue bakalan jadi anak durhaka kalau gitu"
"...."
"...."
"Halo Sha, lo dengerin gue kan Sha?" Terdengar suara Ratih dengan nada keheranan karena tidak adanya respon dari Salsha
"Hmm, iya Ran. Lagian gue yang tadinya mau curhat sama Lo eh ini malah Lo sendiri yang ngoceh panjang lebar kaya kereta ga ada berhentinya coba ampun deh ah"
"Hehehe"
Selang beberapa menit tak ada suara apapun dari Salsha. Ia tidak merespon lagi ocehannya Ranti.
"Jangan bilang lo tidur lagi ya Sha! Gue capek-capek ngomong dari tadi, lo nya tidur!"
"...."
"Salshaaaaa! Tega lo sama gue!" Pekik Ranti dengan suara keras.
Salsha meringis sekaligus gelagapan terkejut dengan suara Ranti yang cukup keras, dia menjauhkan ponsel itu darinya.
'Dia yang tadi ngomel-ngomel gara-gara aku ngangkat telponnya lama lah ini malah dianya sendiri yang balik tidur lagi ampun dah anak satu, Salsha hmmmm bikes deh ah'
Telinga Salsha agak berdenging setelah mendengarkan teriakan Ranti, sahabat satu satunya sejak SMA hingga kini. Berkat teriakan Ranti, Salsha pun tersadar sepenuhnya dari tidurnya.
"Iya Ran, aku dengar kok," jawab Salsha, setengah aja tapi, tambahnya dalam hati sambil menggosok sisi luar telinga.
"Nah, trus gue harus gimana Sha?"
"Ya kayak yang aku bilang tadi Ran, kawin aja sana. Mungkin aja yang kali ini beneran jodohmu."
"Tapi Sha, gue gak mau dijodohin, gue mau nya jatuh cinta, pacaran, baru nikah. Emang jaman siti nurbaya pake di jodoh-jodohin, mana bokap pake acara ngancem segala lagi," pungkas Ratih panjang lebar.
"Gini aja Ran, kamu datang aja ke acara itu, mungkin aja calonnya tipe kamu, dan bisa aja kan setelah pertemuan itu kamu jatuh cinta sama calonmu. Lagian gak ada salahnya nyenengin kedua orang tua kamu kan, sekedar datang, aku yakin baik Ayah kamu maupun Ibu kamu udah pasti mereka senang, dan kamu selamat," cetus Salsha membersihkan solusi yang paling cepat terpikirkan olehnya.
Ranti terdiam sesaat, lalu terdengar hembusan napas yang sedikit kasar.
"Masalahnya gue udah ketemu itu orang, dan lu tau dia seorang duda Sha," dengus Ranti kesal.
"Mana gue juga banyak berhutang budi lagi sama Tante Inggit," lanjut Ranti.
"Gimana-gimana maksudnya? Jangan bilang Duda itu anaknya Tante Inggit?"
"Iya itu dia Sha emang cowok itu adalah anak sulungnya Tante Inggit"
"Dia punya buntut ga? Keren ga?"
"Ga. Dia ga punya anak. Keren si Sha tapi ya aduh deh menyebalkan banget pokoknya," papar Ranti penuh penekanan.
"Yaudah udah setengah tujuh kurang. Mendingan kita lanjutkan obrolannya nanti aja di kantor. Gue siap-siap dulu ya Ran" pamit
"Ok, Nona Salsha Sabrina Maesy tersayang," jawab Ranti mengiyakan ajakan sahabatnya itu.
Salsha terkekeh sebentar kemudian mematikan panggilannya.
Dengan malas Ranti meletakkan kepalanya kembali ke bantal, dia melirik jam yang tertampang diponselnya itu, pukul enam pagi kurang dua puluh menitan.
Masih banyak waktu sampai pukul setengah tujuh pagi, batin yang kemudian memutuskan untuk bermalasan di ranjang, bergelung diselimut hangatnya sambil bermain ponsel.
Setelah hampir tiga puluh menit bergelung sambil memainkan ponselnya, perut Ranti pun bunyi tanda lapar minta diisi. Dengan langkah gontai juga penampilan yang acak-acakan Ranti keluar dari kamar menuju dapur mininya membuat sarapan super simpel, hanya sereal dan s**u.
Sembari sarapan Ranti membuka laptop untuk mengecek kembali dokumen-dokumen yang diperlukan untuk pekerjaannya.
Itulah Ranti, yang saat sarapan pun tetap memikirkan pekerjaan, dedikasinya yang tinggi pada perusahaan dan kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil ia bisa membiayai kedua adiknya dalam mengenyam pendidikan.
Ponsel Ranti kembali berbunyi, kali ini yang masuk hanya pesan dari Salsha.
[My Besty: Jangan telat. Lu harus udah rapih titik ga mau tau pokoknya. Gue jemput 20 menit lagi,oke! No telat awas aja kalau telat heum]
Ranti tersadar dirinya telah duduk di depan laptop lumayan lama yang hanya diinterupsi oleh tetangga kamar kosan nya yang memberikan Ranti sebuah oleh-oleh dari kampung halamannya, memang Ranti dan teman-teman di samping kamarnya tidak jarang selalu saling berbagi ketika ada yang pulang kamu tidak terkecuali dengan Ranti. Setelah itu dia duduk kembali dan tenggelam lagi dalam pekerjaannya. Cuma Salsha selalu tahu seperti itulah dirinya.
[Ranti: Ok bu, siap dalam waktu 20 menit dari sekarang aku tunggu. See u.]
Buru-buru Ranti menyelesaikan semuanya, makan sarapan yang masih tersisa dilahapnya kilat, kemudian melesat ke kamar mandi membersihkan diri, dan dia siap seluruh menit sebelum Salsha memencet bel unit di halaman depan kosanya.
Ranti hanya mengenakan blazer berwarna hitam, celana jeans hitam panjang, mengaplikasikan make up tipis dan menyanggul rambut panjangnya.
"Hi Sha, bentar ya aku ambil tas dulu," sapa Ranti ketika membuka pintu untuk Salsha.
"Astaga Ran, lo pake baju begitu doang? Sana gih ganti baju lo sekarang!" Seru Salsha begitu melihat outfit yang dikenakan oleh Ranti.
"Halah, biarin Aja. Aku kan cuma mau kerja, bukan fashion show. Yuk jalan, keburu telat nanti," tutur Ranti sembari mengalungkan tali sling bag ke tubuhnya.
"Ya udah, terserah lo deh."
Mereka berdua pun berjalan menuju ke arah parkiran, tempat mobil Salsha terparkir dengan pak Sentosa sang sopir pribadi Salsha yang setia menunggu di samping mobil. Setelah mereka masuk, mobil pun melaju menuju kantor.
Setiap pagi selain hari weekend Ranti meninggalkan rumah untuk kemudian menuju kantornya dimana ia bekerja. Ia melaksanakan tugasnya seperti biasa.
"Sha mampir dulu di toko kue ya," pinta Ranti.
"Siaaaaap bos laksanakan. Pak Sentosa mampir dulu di toko kue tempat biasa beli" Salsha menjawab sekaligus memerintahkan kepada supirnya agar berhenti dulu di toko kue langganan Ranti juga dirinya. Pak Sentosa pun memberikan respon dengan menganggukkan kepalanya pada perintah Salsha itu.
Tak lama mereka pun berhenti di sebuah toko kue. Ranti tidak sengaja berpapasan dengan Inggit tepat di depan pintu masuk toko tersebut. Perempuan itu agaknya juga baru saja membeli kue.
“Selamat pagi, Tante!” sapa Ranti sopan.
”Pagi sayang.” Inggit tersenyum hangat.
"Kamu mau beli kue juga?" tanya Inggit pada Ranti.
"Iya Tan," jawab Ranti singkat.
“Ran, klappertaart cokelat yang kamu kasih ke saya kemarin itu kamu beli di sini juga tah?”
“Iya, Tan. Ini emang kue langganan aku hehe” Kemarin saat ke rumah Inggit Ranti memang membawanya seloyang.
“Wah Brian itu suka banget lho sama kue brownies panggang cokelatnya katanya enak"
Ranti agak tercengang mendengar penuturan Inggit. Masa sih? Ia hampir tidak yakin. Seingatnya, saat ia berada di sana malam itu Brian tidak menyentuh sedikit pun brownies panggang cokelat tersebut.
”Emang kue di sini enak-enak Tan," kata Ranti sambil tersenyum.
"Iya tapi Tante jarang beli brownies panggang cokelat. Pas nyobain eh enak jadi Tante sekarang langsung beli lagi deh. Kamu mau berangkat kerja Ran?"
"Iya Tan. Kebetulan banget. Kamu beli brownies panggang cokelat juga?"
"Iya Tan"
"Yaudah biar dari Tante aja."
"Tapi Tante," tolak Ranti.
"Ini buat kamu satu. Dan yang ini buat Brian tolong anterin ke kantornya ya Ran. Pas jam istirahat juga ga papa anterinnya takutnya kalau sekarang nanti kamu telat lagi. Kalau gitu Tante pamit ya Ran. semangat kerjanya sayang" Inggit memeluk Ranti lalu pergi meninggalkan toko itu.
Malam itu, Brian sempat mencicipi klappertaart setelah Ranti pulang. Hanya saja Inggit tidak mengatakan jika klappertaart tersebut Ranti yang membawanya.
Selama sepersekian detik Ranti termangu karena disuruh mengantarkan brownies panggang cokelat, namun Inggit malah meminta mengantar langsung ke kantornya Brian.
Ranti menggaruk leher belakang, kebingungan. Ia merasa enggan bertemu dengan Brian yang arogan. Namun di saat bersamaan ia juga tidak enak untuk menolak permintaan Inggit. "Baik Tan, saya-"
"Kamu keberatan, Ran? Kamu ada kerjaan lain?” tanya Inggit menyadari ekspresi yang ditunjukkan Ranti.
“Bisa kok, Tan saya akan antar ke sana." Ranti buru-buru menyahut. Ia belum pernah menemukan alasan yang tepat untuk menolak apapun keinginan Inggit. Dan lagi-lagi ia tidak mau menerima saat Ranti memberikan uang untuk pembelian makanan tersebut darinya.
"Udah Ran?" tanya Salsha sekembalinya Ranti ke dalam mobil miliknya.
"Udah"
"Kamu beli banyak banget Ran?"
"Ini tadi ketemu Tante Inggit eh malah dibeliin juga lagi hmm"
"Terus satunya lagi?"
"Suruh dianterin ke kantornya Brian," jelas Ranti dengan nada malas.
"Hah serius lu?" Ranti mengangguk.
Satu loyang besar brownies panggang cokelat sudah di tangannya. Sesuai dengan permintaan Inggit, Ranti nanti akan mengantarnya pada Brian.
"Aduh seneng banget sih yang punya calon mertua baik banget. Mau aku juga" Salsha kembali meledek sahabatnya itu.
Kemudian pak Sentosa kembali melaju kencang menuju kantor karena takut Nyonya yang di sampingnya itu kesiangan.
Di kantor Brian.
"Pak ada yang ingin ketemu Bapak, katanya penting," ucap sang sekretarisnya.
"Siapa? Berani sekali ingin ketemu tapi tidak ada janji sama sekali!" Brian malah menimpali dengan nada tinggi dan ketus.
"Tidak tahu Pak. Katanya suruhan dari Ibunya Tuan," jelas sekretaris itu kembali memaparkan maksudnya.
Awalnya Brian membiarkan saja. Namun karena lama kelamaan terasa kian mengganggu apalagi ini suruhan Mamanya. Dengan terpaksa setelah mengumpat kesal ia mengizinkan juga untuk mempersilahkan masuk ke ruangannya.
"Ya sudah suruh ke ruangan saya sekarang orang itu!" titahnya dengan tegas.
"Baik Pak"
Membuka pintu ruang kerjanya, Brian tidak bisa untuk tidak terkejut saat menyaksikan sendiri siapa sosok pengganggunya siang itu. Ranti kini berdiri tepat di hadapannya dengan sebelah tangan menjinjing kantong plastik yang entah apa isinya.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Brian galak. Matanya memancarkan sorot tidak suka pada Ranti.
"Biasa aja kali ga usah nyolot juga," batin Ranti ikutan kesal.
"Maaf mengganggu, tapi saya hanya disuruh oleh Mama kamu untuk mengantar ini" Ranti menjawab seraya menyodorkan kantong di tentengannya pada Brian.
Alih-alih akan menerima, Brian malah memandang sinis dengan sebelah mata. "Apa itu?"
"Ini isinya brownies panggang cokelat. Tante Inggit bilang kalau anda sangat suka dengan brownies panggang cokelat. Tadi tidak sengaja ketemu di toko dan Beliau minta buat antar ke sini. Sebenernya aku juga malas tapi yaudah dengan terpaksa karena menghormati beliau aku bersedia," jelas Ranti membuat Brian menatap tajam.
Brian dengan angkuh bersedekap dan bicara dengan ketus pada perempuan dengan begitu menyebalkan dihadapannya.
"Gue emang suka brownies, tapi bukan brownies kaleng-kaleng kayak punya lo gini. Bawa lagi pulang!"
"Orang belinya juga di toko yang sama ko. Terserah kamu mau suka apa tidak, tapi saya hanya melaksanakan pesan dari Tante Inggit agar mengantarkannya ke sini. Itu saja."
"Gue kan udah bilang nggak mau. Kalo gue mau, gue bisa beli di Delicous,” sengit Brian sembari menyebut nama sebuah toko kue ternama langganannya. Ia mengucapkan kata-kata tersebut sambil menjatuhkan kotak kue ke lantai.
"Iya itu Tante Inggit juga beli disana. Makanya punya mata itu dipake! Lagian bukannya baca apa yaa toko kuenya juga sama" Ranti memerintah Brian agar ia membuka kresek tersebut dan mengecek kebenarannya supaya berhenti mencurigai dirinya.
"Alah bohong pasti"
Ranti terkesiap. Terbayang betapa tidak ia sudah bela-belain ke sini malah diperlakukan kaya gitu. Rasa sedih, kecewa dan sakit hati atas sikap Brian berbaur menjadi satu. "Saya tahu kalau anda memang arogan. Tapi saya tidak menyangka kalau ternyata anda tidak hanya sekedar angkuh, tapi anda juga tidak bisa menghargai orang lain"
Lalu Ranti memutar tubuh, ia ingin lenyap dari tempat orang sombong itu sesegera mungkin. Sebelum ia benar-benar menarik langkah, suara lantang Brian terdengar mencegahnya.
“Dengerin gue! Jangan sekali-kali lo menjilat dan mendekati Mama. Gue tahu lo itu nggak tulus. Lo cuma mau harta gue doang. Iya kan? Gue udah biasa ngadepin drama murahan kayak lo gini. Tapi gue bakal pastiin kalau rencana busuk lo nggak bakal berhasil." Brian tersenyum asimetris diujung kalimatnya.
Telinga Ranti memanas mendengar tudingan Brian padanya. Ia telan semua penghinaan tersebut. Ranti memutar tubuh mengarah pada Brian. Ia menemukan tatapan angkuh laki-laki itu.
"Jangan menuduh sembarangan. Saya sama sekali tidak mau uang atau harta anda. Kalau anda memang tidak setuju dengan perjodohan ini kenapa tidak bilang saja langsung pada orang tua anda? Kenapa tidak menolak?"
Brian terdiam dan merasa kalah telak. Ia sudah menolak, namun nyatanya ia tetap harus menerima perjodohan itu. Semua demi Mamanya.
"Lo sendiri kenapa nggak menolak? Kenapa iya-iya aja dijodohin sama gue?” balas Brian pada Ranti yang menantangnya.
"Saya punya alasan untuk itu. Dan alasannya bukan seperti yang ada dipikiran picik anda."
Ranti membungkukkan badan, mengambil kantong berisi klappertaart dari lantai dan memberikan pada Brian. Sebelum pergi ia masih sempat berkata, "Ini dari Mama anda, bukan saya, jadi terimalah." Ranti menutup pintu ruang kerjanya Brian dengan keras membuat Brian terbelalak karena hanya Ranti yang wanita yang berani menyanggah setiap apa yang dikatakan olehnya. Selama ini tidak ada satu orang pun yang berani menentang dia. Tapi Ranti dengan beraninya Ia melakukan itu semua.
Setelah memeriksa kresek itu Brian lalu kaget ternyata benar Ranti tidak berbohong kalau dinota itu ada tulisan Inggit Mamanyalah yang telah membeli kue brownies panggang cokelat kesukaannya. Sementara Ranti hanya mengantarkannya saja.
"Hei tunggu……" panggil Brian sedikit berteriak.
Hayooooo kira-kira Brian mau ngomong apa ya? Hehehe stay tune terus ya sama kisahnya mereka berdua.