"Kamu kenapa kaya kesal gitu?" tanya Papa Handoko pada Brian yang baru saja membersihkan baju kotornya yang tadi terkena tumpahan air kopi.
"Ini tadi minum kopi eh malah tumpah," bohong Brian dia tidak ingin Papanya tahu kalau sebenarnya bajunya itu habis disiram dengan sengaja oleh Ranti karena ucapan kasar dia pada Ranti.
Emang ga tahu diri udah untung dibuatin kopi masih aja protes dan ngomel gara-gara kopinya kemanisan. Padahal tinggal taro lagi aja di mejanya dan ga usah ngomong kasar kan beres. Tapi ya namanya juga Brian kalau ga maki-maki bukan dia hehe.
"Kamu ini makanya kalau minum kopi tuh hati-hati. Sini duduk Papa mau bicara sama kamu," titah Pak Handoko sambil mempersilahkan Brian duduk di sampingnya. Kebetulan beliau juga sedang libur jadi hari ini beliau gunakan untuk bersantai bersama keluarganya. Biasanya beliau pergi rekreasi tapi semenjak kepergian Audy rutinitas pergi berlibur menjadi hilang begitu saja.
"Tumben nih si Papa pasti ada hal penting yang ingin ia bicarakan," batin Brian sedikit deg-degan.
"Iya Pak. Ada apa?" tanya Brian setelah duduk disampingnya.
"Bagaimana kamu suka kan dengan Ranti? Papa lihat dia anak yang baik, pekerja keras lagi. Ya segitu mah cantik lah yaa ga beda jauh kan sama almarhumah Audy?"
"Tidak, Pa! Brian tidak bisa menerima perjodohan ini. Bagaimana bisa Brian nikah dengan wanita yang tidak Brian kenal. Beda jauh kemana-mana dengan almarhumah istriku itu hih wanita itu tidak ada apa-apa dengan Audy Ku," tolak Brian sambil mengusap kasar wajahnya.
Handoko berdiri dari duduknya, matanya nyalang memandang Brian penuh kebencian. Sudah kesekian kalinya Handoko bicara tak berbuah hasil tentang perjodohan anaknya dengan wanita yang sudah dipilihkan oleh istrinya itu. Dan kali ini Inggit istrinya mencoba menjodohkan Brian dengan anak dari teman SMP Mamanya Ranti dulu.
"Kamu tetap akan menikah dengan Ranti. Kamu lupa umur kamu ini sudah mau masuk kepala 4 Brian," jelas Handoko penuh penekanan.
"Kan baru mau masuk Papa. Lagian Brian masih 36 Pa," timpal Brian tanpa rasa bersalah.
"Kalau menolak sama dengan kamu membunuh Mamamu ini Brian secara perlahan-lahan. Mamamu ingin kamu menikah dengan Ranti! Kamu tidak punya pilihan lain, Brian!" tekan Handoko masih menunjukan sisi amarahnya. Tidak pernah Handoko semarah dan seemosi ini menghadapi Brian. Kehidupan bebas Brian tak pernah Handoko campuri tapi kali ini masa depan pernikahan Brian ada di tangan Handoko. Mengingat ketakutan Handoko karena usianya sudah tidak muda lagi. Ia takut kalau dirinya akan meninggal sebelum menimang cucu dari anak pertamanya itu.
"Malah diam," dengus Handoko geram.
"Oke, Brian akan menikah tapi tidak dengan perempuan itu!" Brian ikut berdiri menghadapi keegoisan Handoko. Keduanya sama-sama keras dan tidak mau ada yang mengalah.
"Menikah dengan Ranti atau kamu kehilangan hak waris atas kekayaan keluarga ini dan angkat kaki dari rumah ini. Kamu akan dicoret dari daftar keluarga ini!"
"Hahahaha." Brian tertawa lepas, ia bertepuk tangan atas sikap kejam Handoko. Usai tertawa tampak d**a Brian naik turun.
"Papa serius Brian!" Tegas Handoko dengan tatapan tajam.
"Lagian Papa ini kenapa sih Brian harus menikah dengan Ranti? Dia itu bukan tipe Brian!" Teriakan Brian membuat Mamanya muncul dari dalam kamar. Perlahan-lahan menuruni anak tangga. Wajahnya tampak pucat karena sakit yang dideritanya sejak satu bulan ini. Sesekali terbatuk sambil memegang dadanya.
"Ma, ayo duduk." Handoko memapah Mama Inggit menuju sofa.
"Nak, kemarilah." Tangan Mama Inggit melambai mengajak Brian menghampirinya.
Brian mendekat dan bersimpuh dengan kedua tangannya disimpan di atas paha Mamanya.
"Brian, tolong Mama kali ini saja. Tolong Mama dan Papa untuk kamu menerima perjodohan ini. Tidak ada hal yang membahagiakan lain selain melihatmu menikah dengan Ranti, Nak. Dia gadis baik dan sopan. Mama tidak mau sampai Papamu bertindak kasar bahkan sampai mengusirmu dari rumah ini. Menikahlah dengan Ranti, Brian." Mama Inggit membelai wajah rupawan Brian. Pelupuk mata Inggit mulai basah, air matanya hampir menetes.
Sial!
Jerit batin Brian, tidak dapatkah ia memilih pendamping hidupnya sendiri? Lantas bagaimana dengan Audy? Cintanya pada wanita itu, istrinya yang selalu menemani hari-harinya yang kini sudah tiada tapi masih saja melekat dihatinya. Brian memang masih saja setia dengan Audy. Bahkan tak jarang dia ngobrol sendiri. Menurutnya dia sedang ngobrol dengan Audynya. Bagi Brian Audy tetap ada di dekatnya sampai kapanpun juga.
"Tapi, Ma,-"
Brian tidak meneruskan kata-katanya, mata Brian bersirobok dengan mata Handoko yang melarangnya menolak ucapan Mama Inggit.
"Iya kamu ini. Sudah berapa wanita saja yang sudah Mama kenalkan tapi tetap nihil. Kali ini Mama mohon kamu setuju ya sayang. Kamu mau kan menerima permintaan Mama ini" Inggit kembali memohon lirih dengan tidak sengaja meneteskan air matanya dengan menggenggam erat kedua tangan Brian.
"Baiklah, Ma. Kalau itu yang Mama inginkan. Brian akan menikah dengan gadis itu," ucap Brian dengan berat hati.
"Makasih, Nak. Makasih." Mama Inggit mendekap tubuh Brian dan mengecup kening anak sulungnya itu.
***
Cahaya matahari yang menyelinap dari balik pepohonan dan daun-daun yang bergesekan satu sama lain membuat mata Ranti mau tak mau terbuka. Jam sudah menunjukan pukul 09.30 pagi, Ranti beringsut duduk mengumpulkan nyawanya yang masih berterbangan. Matanya masih berat setelah tadi menangis. Ternyata setelah ia tadi menyiram Brian dengan air kopi dia ditelpon oleh Ayahnya dan seketika setelah telponnya dimatikan Ranti tertidur begitu saja. Ia baru saja menangisi permintaan Ayahnya juga yang mulai ikutan menginginkannya menikah dengan Brian.
Imran, ayahnya Ranti yang selama ini dijadikan panutan laki-laki idamannya dan kelak Ranti ingin mempunyai suami yang bersifat sama seperti Ayahnya. Tapi sekarang sosok idaman itu perlahan pudar dari benaknya bagaimana Imran membuat pilihan sulit baginya. Ancaman yang sama yang ditujukan Handoko pada Brian. Angkat kaki atau menikah.
"Sejahat itukah Ayah sekarang!" Air mata Ranti kembali lolos dari singgasananya. Hatinya tak terbendung menahan sakit. Ini jaman modern kenapa masih ada perjodohan.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan terdengar di pintu kamarnya. Tak lama handle pintu bergerak.
"Ranti" Mama Inggit datang dengan senyuman yang merekah dibibirnya.
"Eh iya Tante aduh maaf ya Ranti malah ketiduran lagi," jelasnya sambil membetulkan posisi duduknya.
"Tidak apa-apa kan hari libur juga."
"Oh iya Tan, Ranti ingin pulang sekarang ga papa kan? Soalnya di kosan ada cucian menanti. Udah 3 hari Rantibelum nyuci soalnya listrik di kosan Ranti koslet. Kata temen kosan Ranti katanya udah dibenerin. Nah makanya karena sekarang udah dibenerin jadi Ranti mau sekalian beres-beres juga. Ga papa kan Tan?"
"Ga papa. Yaudah kalau gitu biar Brian yang anterin kamu pulang ya," tawar Inggit padanya. Ranti tersenyum dengan senyum terpaksa.
'Mampus gue dia kan sedang kesel. Yang ada kalau liat muka gue dia makin kesel aja dah tuh si manusia dingin kek beruang kutub?'
"Brian tolong antarkan pulang Ranti ya," pinta sang Mama setelah tiba di ruang tamu kebetulan Brian masih duduk di sana.
"Dasar cewek sialan. Udik nyusahin lagi tadi pagi aja udah buat gue kesel itu manusia!" Batin Brian ketika menatap Ranti yang penuh ketakutan. Brian tahu kalau Ranti juga sebenarnya enggan diantar pulang olehnya.
Di dalam mobil. Masih saja keheningan yang terjadi di dalam mobil itu. Keduanya memilih diam tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya masing-masing.
Entah kenapa tiba-tiba Ratih memberanikan diri untuk memulai obrolannya.
"Mas Brian masih marah sama aku ya, gara-gara tadi aku tumpahkan kopi dibajunya," kata Ranti memecahkan keheningan.
"Ga," jawab Brian singkat.
"Oh bagus deh. Aku pikir Mas marah sama aku. Sebenarnya aku juga tidak mau diantar pulang sama kamu. Aku udah biasa naik kendaraan umum. Tapi karena Tante Inggit terus memaksa alhasil jadi mau ga mau aku pun bersedia diantar oleh Mas," jelas Ratih tanpa ada rasa takut.
"Kamu ini ya dari tadi nyerocos aja. Bisa diam ga. Nambah mumet aja!" bantah Brian tidak terima fokus mengemudinya menjadi terganggu dengan Ranti.
"Iya maaf orang aku cuma ngasih tau doang ko," timpal Ranti lalu memilih menatap jalanan dari pada ngobrol dengan Brian.
"Ko dia mirip Audy ya kalau dari samping," kata Brian pelan setelah melirik Ratih seketika. Dengan cepat dia kembali fokus kedepan dia takut kalau Ranti sampai tahu tadi dirinya telah memperhatikan Ranti yang ada Ranti bisa kegeeran lagi.
"Kenapa ngeliatin terus?" Tanya Ranti membuat Brian kaget.
"Apaan? Here banget orang saya lagi liatin toko disebelah sana yeee!" Bohong Brian.
Tak lama tibalah di kosannya Ranti..
"Makasih banyak Mas atas tumpangannya," ucap Ranti dengan menutup pintu mobil Brian keras.
"Woy biasa aja kali nutupnya. Bisa lecet nanti mobil saya ini!" keluh Brian tidak terima.
"Punya mobil kayak gitu aja sombong," kata Ranti malah menendang-nendang mobilnya Brian.
"Heh heh heh malah menjadi-jadi dasar cewek aneh. Awas ya sampai lecet gue tuntut lu buat ganti rugi!"
"Bodo amat. Sana minta ganti rugi pada rumput yang bergoyang haha," ledek Ranti.
"Sialan!"
"Eh iya makasih atas tumpangan gratisnya. By the way mau mampir dulu ga nih," tawar Ranti sambil menoleh ke arah kosannya.
"Ogah!" Brian lalu menancap gas mobilnya lalu pergi meninggalkan Ranti begitu saja. Sementara Ranti tertawa terpingkal-pingkal melihat Brian bersikap seperti itu secara tidak langsung sudah membuatnya semakin penasaran pada sosok Brian.
Setibanya di kosan. Ranti dengan gesitnya mulai menyelesaikan semua pekerjaannya dari beres-beres kamar sampai mencuci pakaiannya. Tak terasa semua sudah ia selesaikan sendiri. Ia kin memilih untuk merebahkan tubuhnya yang sudah bercucuran keringat dan kelelahan. Sambil menunggu makanan yang sudah ia pesan tadi Ranti kembali dengan ponselnya. Baru saja dinyalakan udah ada panggilan masuk lagi dari Ibunya.
"Nak, bagaimana perasaanmu sudah agak baikan?" tanya Santi, Ibunya Ranti dari sebrang sana.
"Ranti masih tidak percaya Ayah begitu pemaksa. Ranti tidak mau dijodohkan, Bu. Apalagi Ratih tahu dia kaya gitu hih. Ranti masih ingin berkarir Bu. Ranti masih ingin mengejar cita-cita Ranti masih banyak banget yang belum Ranti capai hmm" Ranti memelas, mengadu memegang tangan Ibunya agar Ibunya tahu bahwa Ranti sungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Jangan khawatir, Ranti. Ibu denger calon suamimu itu orangnya baik dan pasti tidak akan melarangmu berkarir. Kalaupun nanti kalian menikah apa susahnya minta ijin baik-baik karena nanti kamu bukan lagi tanggung jawab kami. Asal kamu tahu Ranti. Ibu dan Ayah melakukan ini karena kami sayang padamu, dia calon imammu. Calon imam yang akan membimbingmu, calon imam dunia akhiratmu." Ibunya meyakinkan Ranti agar keraguan di hatinya sirna. Meyakinkan bahwa Brian adalah orang yang tepat menjadi suaminya.
"Sial! Ibu ga tau aja kalau dia kaya gimana uuuuuh," umpat Ranti dengan menutup telponnya.
"Kenapa hidupku mendadak tidak karu-karuan seperti ini? Ini bukan jamannya Siti Nurbaya yang dijodohkan dengan Datuk Maringgih." Lagi-lagi Ranti sangat kesal, bibirnya mengerucut dan tak henti-hentinya mengomel seorang diri.