Entah atas dasar apa Ibunya itu dan Tante Inggit menjodohkan Ranti dengan Brian, seorang duda. Usia mereka terpaut delapan tahun. Apalagi Brian sosok yang dingin dan kaku. Dan bodohnya lagi Ranti tidak bisa menolak tawaran dari Tante Inggit itu.
"Dijalani saja dulu, kalau memang kalian merasa tidak cocok kami tidak memaksa" itu yang Tante Inggit katakan pada Ranti.
"Tante yakin kamu bisa mengembalikan senyum Brian seperti dulu," lanjut Tante Inggit yakin kalau Ranti bisa membuatnya berubah. Sementara Ranti hanya membalasnya dengan sebuah senyuman terpaksa.
Karena alasan berhutang budi pada keluarga Tante Inggit, sehingga Ratih tanpa bantahan bahkan itu juga salah satu keinginan sang Ibu untuk berkerabat dengan Keluarga Brian yang secara tidak langsung beliau harapkan dari Ranti.
"Sayang kamu menginap saja ya di sini. Di luar hujan deras banget apalagi ada petir juga walaupun tetap memaksakan ini akan beresiko," bujuk Inggit ketika melihat Ratih memandangi terus arloji di tangan kirinya.
"Tapi Tan," tolak Ranti.
"Kamu ga usah khawatir disini kan kamar banyak," jelasnya.
"Bibi… Bi Sri tolong antar Non Ranti ke kamar tamu ya," perintah Inggit pada Bi Sri.
"Baik Nya"
Lalu Ranti berjalan mengekor Bi Sri menuju kamar tamu itu.
"Ini kamarmu ya Non, sudah bi Sri bersihkan, semoga Non betah dan nyaman."
Bi Sri meninggalkan Ranti, dan beranjak keluar. Kamar berukuran tiga kali tiga ini cukup besar, lebih besar dari kamar di kosannya Ranti sendiri.
Ranti menaruh tasnya di atas kasur lalu merebahkan badannya. Dan seketika Ranti kaget ternyata pertemuan antara dirinya dan Brian memang sudah diketahui oleh Ibunya sendiri. Beliau barusan memberitahu Ranti
[Bagaimana sayang pertemuan dengan Mas Briannya? Kamu suka kan? Ibu harapkan sih pertemuan kalian akan terus berlanjut sampai ke pernikahan] begitulah isi pesan dari sang Ibu.
[Jadi ini bagian dari rencana Ibu? Kenapa ibu ga ngomong dulu sama aku?] Ratih membalas pesan itu dengan diakhiri emoji kecewa.
[Kalau Ibu bilang yang ada kamu bakalan menolaknya Ran]
Ranti malas membalas pesannya lagi dengan sang Ibu akhirnya ia membiarkan pesan itu begitu saja.
Dan misinya Ranti sekarang adalah mengembalikan Brian seperti dulu lagi, Ranti tak terlalu mengenalnya, ia tahu Brian hanya dari cerita Inggit.
Keesokan paginya. Ranti sudah bangun lebih awal selepas shalat subuh dia dengan cekatan membereskan kamar tidurnya kembali rapi lagi seperti sedia kala. Dan tak lama ada yang mengetuk kamarnya.
"Sayang kamu udah bangun. Aduh rajin banget kamarnya udah rapi lagi emang ya Tante ga salah pilih mantu hehe," sapa Tante Inggit.
"Ah Tante ini. Ini adalah kegiatan yang biasa dilakukan aku jadi adalah hal wajar ko Tan. Hmm Tante ini suka berlebihan deh," kata Ranti malu-malu.
"Oh iya sayang, ayo kita sarapan dulu," panggil Tante Inggit, Ranti bergegas beranjak keluar dari kamar itu, berjalan menuju meja makan.
Di sana sudah terlihat Pak Handoko, Inggit dan juga Brian.
"Hallo Ma," sapa Jerry berhambur ke pelukan Tante Inggit, dia baru datang karena semalam dia menginap di apartemennya. Kemudian ikut gabung untuk makan juga.
"Hallo sayang. Kamu jam segini baru pulang abis ngapain aja?" cecar Inggit.
"Biasalah Ma anak muda nongkrong dulu terus semalem sengaja ga pulang takut kena Omelan Mama hehehe jadinya tidur di apartemen deh. Ah Mama ini ya kaya ga pernah muda aja deh. Ia ga Ka," jawab Jerry sambil menyiku tangannya Brian.
"Apaan sih lu! Jangan bawa-bawa gue ya. Gue itu waktu kuliah ga kaya lu ya. Gue itu rajin pake banget malah" Brian memberi pembelaan.
"Alaaaah ngeles aja. Bilang aja takut sama Mbak yang ada di hadapannya itu, Iyaaaaa kan? Takut reputasi lu jelek wkwkwk"
"Dia hiii enggak banget deh yang ada itu cewek bakalan kegeeran dah!" batin Brian ngedumel.
"Eh iya ngomong-ngomong siapa namanya?" tanya Jerry pada Ranti.
"Ka Brian gitu ya punya pacar ga bilang-bilang huh," lanjut Jerry semakin penasaran pada Ratih.
Belum juga dijawab oleh Ranti ini anak udah ngoceh aja terus ga berhenti-henti ga capek apa ya? Hehe
"Dia itu Ranti namanya. Calon Kakak ipar kamu nanti," timpal Inggit. Sementara Ranti hanya membalas dengan senyuman.
"Sok manis banget sih pake acara senyum-senyum segala lagi," dengus Brian menatap Ranti tajam.
"Wohooo ka Brian itu cemburu kan gara-gara dia senyum ke aku hahaha"
"Udah ah kalian ini ayo dimakan kapan selesainya kalau ngobrol terus keburu dingin yang ada nasi gorengnya," titah Inggit membuat suasana mendadak hening dengan perintahnya.
Selepas sarapan karena ini hari libur jadi keluarga Brian menghabiskan waktunya di rumah. Dan Ranti juga masih nampak disana. Dia selepasnya sarapan kembali lagi ke kamar tidur yang sedari kemarin telah disiapkan oleh Tante Inggit. Karena udara pagi ini masih gerimis jadi Ranti tidak dibiarkan pulang justru ia disuruh berlama-lama di rumahnya Tante Inggit.
"Ranti…." panggil Tante Inggit, Ranti beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu.
"Aduh apalagi baru juga nyampe tempat tidur hmmm"
"Iya bentar Tante"
"Itu Brian lagi santai, kamu buatkan kopi ya," pintanya.
Ranti menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Harus dimulai sekarang Tan?" tanya Ranti
"Iya lebih cepat lebih baik, ayok sana."
Tante Inggit menarik tangannya Ranti dan mendorongnya ke dapur.
Entahlah Ranti jadi merasa takut, jujur ia tak suka tatapan dingin Mas Brian..
Ranti mulai menyalakan kompor untuk merebus air. Ia siapkan cangkir yang kemudian ia isi dengan kopi dan gula, lalu ia tuangi air yang barusan mendidih.
Dilihat Mas Brian baru keluar dari kamar mandi, kata Tante Inggit kalau libur biasanya dia akan duduk di ruang tengah menyalakan TV. Ranti sudah diberitahu tentang kebiasaannya itu.
Pelan ia langkahkan kaki, berhenti di depannya, dan meletakkan kopi itu di meja.
"Mas Kopinya," ucap Ranti padanya, dia sedang sibuk dengan ponsel di tangannya.
Tak menjawabnya sama sekali. Ratih seolah tak terlihat olehnya.
Ranti pun memilih meninggalkannya dan kembali ke kamarnya .
Tante Inggit muncul dari kamarnya, dia menyuruhnya kembali, rasanya ia ingin menangis, ia tak bisa begini.
Huff Ranti menarik nafas dalam.
'Ranti jadilah dirimu sendiri, penakut dan malu-malu itu bukan kamu.'
Ranti beranjak kembali ke ruang tengah, Mas Brian yang masih sibuk dengan ponselnya.
Ranti mengambil bantal di sampingnya menghempas p****t di sofa, tepat disamping Mas Brian
Dia mengambil remot yang ada di meja, menaikkan kakinya dan duduk bersila, memindahkan chanel ada acara siaran gosip, iya siapa tahu ada info terkini di tentang artis +62 biasanya kan suka heboh sejagat raya.
'Mendingan nonton acara itu ketimbang ngobrol dengannya'
"Bisa dikecilkan ga suaranya!" Manusia Es itu bicara padanya, walau sebuah perintah.
Ranti mengecilkan Volume TV sesuai perintahnya.
Tangannya meraih cangkir kopi di depannya. Kemudian mengarahkan ke mulutnya.
"Peehh" melepeh kembali kopi buatan Ranti
"Masa bikin kopi saja nggak bisa sih," ucapnya dengan nada meninggi.
Ranti menatapnya dengan wajah penuh tanya, apa yang salah?
"Aku tidak suka manis," ucapnya kemudian, seakan menjawab pertanyaan hatinya Ratih.
"Mas, hidup Mas itu pahit, sesekali minum yang manis bagus buat memperbaiki mood," ucap Ranti tanpa perasaan bersalah.
Mas Brian menatap kesal, Ranti ikut menatapnya juga.
"Salah?" tanya Ranti. Wajahnya Brian semakin kesal.
"Dasar bodoh! Ga tau diri!"
Ranti benar-benar tidak bisa menahan emosinya. Karena terus mendapat kata-kata kadar dari Brian umpatan demi umpatan terus keluar dari mulutnya. Ratih dengan refleks menepuk meja dengan keras lalu mengambil cangkir kopi dan menyiramkan ke wajahnya Brian.
"Ah sialan!" Brian mencoba menghindar namun terlambat karena tumpahan kopi itu sudah mengenai wajah dan tubuhnya.
Ranti belum merasa puas lalu dia mencakar wajahnya Brian. Cakaran Ranti meninggalkan bekas merah dipergelangan tangan Brian.
"Aaaaaaaah kamuu!" Mata Brian seketika melotot melihat ulah Ranti padanya yang
membuatnya semakin kesal. Dan Brian pergi meninggalkan Ranti sendirian di sofa.
Brian pergi meninggalkan banyak pertanyaan dalam benak Ranti Sementara dalam hatinya mulai ragu, akankah ia menerima perjodohan itu? Melihat lelaki itu begitu menyebalkan, tapi tampan dan mapan.
Ranti tidak menampik, jika ia menyukai Brian dan semua yang ada pada dirinya. Termasuk sikap cueknya yang membuat semakin penasaran. Ia harus memantapkan hati, jika Brian adalah jodoh yang dikirimkan Allah untuknya.
Tak berapa lama, Tante Inggit muncul, dia memegangi kepalanya.
"Haduhh Ranti Tante kan sudah ajarkan kemarin," ucap Tante Inggit dengan ekspresi mewek.
Ranti seketika menggigit bibir bawahnya dan terpaku. Untungnya beliau tidak melihat kejadian saat dirinya menyiram Brian dan Tante Inggit hanya mengomentari perihal kopi yang dibuatnya saja.
"Tan, Ranti nggak bisa merubah pribadi mas Brian, tapi Tante tenang aja Ranti akan tetap bantu Tante, kalau Ranti harus menyerupai mantan istri Mas Brian, yang ada Mas Brian nggak bisa move on," jawab Ranti sok tau.
Terlihat Tante Inggit manggut-manggut menyetujui ucapan Ranti.
"Kamu ada benarnya juga, ya udah deh, pakai cara apa saja terserah, yang penting Brian nggak jadi manusia Es lagi."