Bertemu Brian

2232 Kata
Brian Handoko Putra sulung dari Handoko dan Inggit. Penerus dalam bisnis perusahaan yang telah Handoko bangun selama bertahun-tahun. Brian pria duda yang mana dulu ia menikah dengan kekasihnya sendiri. Namun, takdir berkata lain pernikahan sakralnya itu berujung dalam sebuah perpisahan. Perpisahan karena sang istri telah meninggal dunia dengan anaknya. Malam itu di sebuah hotel bintang lima di Jakarta. "Brian… more faster please…" Desahan seduktif wanita yang baru beberapa menit ini berada di bawahnya berhasil menerbitkan senyum tipis di bibir Brian. "Boleh, sayang, tapi teriaknya jangan kenceng-kenceng." Brian mengecup bibir wanita, sementara pinggulnya terus bergerak di atas wanita itu. Wanita itu membalas dengan kerjapan mata. Bibirnya menerbitkan senyum malu. Setiap kali menemui pelepasan ia tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak. Baru akan meningkatkan ritme gerakan, fokus perhatian Brian langsung teralihkan oleh nada dering vintage yang bersumber dari ponselnya. Kring… kring… kring… Tanpa perlu melihat ke layar gawai Brian sudah tahu siapa yang menelepon. Brian memang sengaja memberi nada dering khusus untuk perempuan istimewa dalam hidupnya. Cepat, Brian mengangkat tubuh dari atas wanita yang kebetulan malam ini menjadi teman tidur Brian. Tidak peduli wanita itu memandangnya penuh protes. Melangkah ke arah meja yang terletak di sudut kamar hotel, Brian mengambil ponsel, tidak membiarkan sang penelepon menunggu lama. "Halo, Ma!" Brian menyapa dengan sopan. "Brian, kamu lagi di mana?" Terdengar suara halus seorang perempuan di seberang sana. "Di apartemen, ada apa, Ma?" Brian sengaja bilang sedang di apartemennya kepada sang Mama. Ia tidak ingin beliau tahu apa yang sebenarnya ia sedang lakukan malam itu. "Kamu bisa kesini sekarang? Ada hal penting yang ingin Mama bicarakan Brian Handoko kamu ngerti kan sayang anak baiknya Mama?" Brian tidak seketika memberi jawaban. Mata teduhnya berlari menemukan jam dinding. Tepat di saat itu ia mendapati waktu saat ini masih pukul 19.30 malam. "Bisa aja sih, Ma, tapi hal penting tentang apa dulu nih Ma?" "Pokoknya kamu ke sini aja dulu, Nanti Mama ceritanya kalau kamu sudah di rumah. Mama punya kejutan buat kamu. Mama tunggu ya sayang" "Baik, Ma. Aku akan kesana sekarang." "Oke sayang hati-hati di jalan sampai ketemu di rumah ya" Brian memerhatikan layar gawai hingga menggelap sendiri sembari berpikir di dalam hati kejutan apa yang dimaksud Mamanya. Setelahnya, Brian bergegas berpakaian. "Mau ke mana, Tuan Brian?" tanya wanita itu kala Brian melepaskan pengaman pria dewasa dari organ bawah tubuhnya. "Ke rumah Mama, katanya ada yang penting mau dibicarakan." "Tapi kita kan belum selesai, nggak bisa besok aja perginya?" protes wanita keberatan. Bibir sensualnya mengerucut kesal. Brian menggelengkan kepala. "Sorry, nggak bisa. Ini bayaran kamu sampai jumpa lagi," pamit Brian lalu meletakkan uang seratus ribuan di atas kasur itu dengan cuma-cuma. Usai berkata begitu Brian menyambar kunci mobil dan menarik langkah panjang meninggalkan wanita yang kerap ia panggil dengan sebutan sayang saat berhasil menemani sekaligus membuat hasrat biologisnya terpenuhi. Karena semenjak kepergian istrinya Brian sering merasa kesepian. Dan hanya dengan cara itulah Brian melampiaskannya nafsunya. Apalagi sampai detik ini Audy masih memiliki tempat spesial dihatinya dan entah sampai kapan ia akan belajar untuk membuka hatinya lagi? Bagi Brian tidak ada wanita yang bisa menggantikan sosok Audy sampai detik ini. Padahal ia sudah menduda hampir 5 tahun lamanya. "Brian, tunggu dulu! Kamu nggak bisa pergi gitu aja, ini kan lagi nanggung!" Brian tidak peduli dan terus pergi. Semenjak kepergian Audy. Brian memang lama tinggal di luar negeri membuat dirinya kini menganut gaya hidup bebas. Free s*x adalah hal yang biasa baginya. Dan dia baru beberapa bulanan tinggal lagi di Indonesia. Brian berhenti sesaat ketika lampu merah lalu lintas menyala. Matanya kemudian bertemu dengan sosok wanita yang berada di samping mobilnya. Ia sedang ngobrol hangat dengan suaminya yang berada kursi kemudi. Wanita itu begitu bahagia kala mendengar jawaban dari suaminya. Tiba-tiba saja bayangan Audy muncul dibenaknya begitu saja. "Au andai saja kamu masih ada aku tidak akan mungkin kesepian seperti ini sayang," kata Brian pada dirinya sendiri. Ia hampir saja melanjutkan lamunannya tapi tidak terjadi sebab suara tlakson dari belakang mobil miliknya sudah menggema seolah meneriaki dia agar segera enyah dari tempat itu karena lampu sudah menunjukkan warna hijau. "Heukh sialan. Biasa aja woy ini juga gue mau jalan sabar dikit kenapa?" teriak Brian menoleh dari balik jendela kepada mobil yang berada di belakang itu dengan mengacungkan jari tengahnya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Barangkali itulah luapan emosinya malam ini karena dia sudah dibuat kesal dua kali pertama saat di hotel dengan perempuan itu kedua saat di lampu merah sedang asik memikirkan Audy malah diganggu dengan pengendara lain. "Eh Tuan Brian, udah pulang?" sapa Sri—pembantunya, saat Brian tiba di rumah. "Iya Bi. Mama ada dimana Bi?" "Ada tuh di ruang makan." Brian segera berlalu ke ruang makan setelah menepuk pelan pundak Bi Sri. Di ruang tersebut, Brian menemukan Inggit—sang Mama, dan juga seorang perempuan muda yang Brian kira adalah asisten rumah tangga yang baru. Karena asisten rumah tangga yang menemani Bi Sri sudah resign. Inggit tersenyum lembut saat melihat kedatangan Brian. "Kamu belum makan malam kan? Kita makan sama-sama ya!" Brian menganggukkan kepala sembari menarik kursi dan duduk di sana. "Ada pembantu baru, Ma?" "Sssstt… jangan sembarangan. Dia itu punya nama Brian. Namanya Ranti. Lebih lengkapnya Ranti Aulia Darmawan. Nama yang indah bukan seperti orangnya?" Ranti menunduk malu saat dirinya diperkenalkan oleh Mama Inggit. Raanti? "Apanya yang bagus dari nama Ranti jauh sekali dengan nama Audy beda kelas, jelaaaaaaaas!" Batin Brian menatap sinis Ranti. Brian terheran-heran sendiri. Matanya memindai sosok perempuan itu dari puncak kepala hingga ujung kaki. Perempuan itu sangat sederhana. Dia mengenakan jeans lebar berwarna biru dan kemeja polkadot yang longgarnya nyaingin si celana, udah gitu lusuh banget. Sedangkan rambutnya yang panjang digerai tak lupa menggunakan bando di kepalanya dan poni yang nangkring di jidatnya menambah penampilan Ranti semakin terlihat lebih muda. Untung saja dia nggak pakai kawat gigi dan kacamata. 'Cantik dari mananya Mama? Potongan cupu kayak babu gitu dibilang cantik.' Brian mengejek dan mencibir perempuan itu di dalam hati. Ia tidak dapat menahan tawanya yang kemudian pecah. Memang Ratih selalu berpenampilan sederhana dalam kesehariannya ia tidak begitu perduli akan penampilan dirinya yang penting keluarganya di kampungnyalah yang selalu menjadi prioritas utama dia. Bahkan untuk membeli baju saja harus mikir berulang kali. "Kenapa ketawa? Ada yang lucu?" tanya Inggit heran. Masih sambil tertawa, Brian menunjuk dengan dagunya pada Ranti yang kini sedang menyiapkan makanan, agak jauh dari mereka. "Maksud Mama, dia cantik? "Iya, ada yang salah?" "Hahaha… kalau yang kayak gitu Mama bilang cantik, jadi queen yang gimana, Ma?" Ranti menggeleng-gelengkan kepala. Anak pertamanya ini memang arogan. "Jangan begitu, Brian, nggak baik. Ingat nggak waktu tadi Mama minta kamu ke sini karena ada yang penting?" "Yang pentingnya apa, Ma?" "Karena Mama mau mengenalkan kamu sama Ratih. Mama juga mau menjodohkan kamu sama dia." "Apa?" "Nggak usah kaget gitu juga kali Bri, kamu nggak salah dengar." "Emang dia siapa sih, Ma? Bisa-bisanya Mama mau menjodohkan aku sama dia?" Sesaat Inggit menghela napas sebelum menjelaskan pada Brian. "Ratih itu adalah karyawan di perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi. Kamu tahu kan Mama sering banget belanja baju di butik nah kebetulan banget butik langganan Mama itu bersebelahan dengan kantornya Ratih. Singkat cerita waktu itu kebetulan Ratih juga lagi ke luar karena jam istirahat nah Mama tidak sengaja hampir ketabrak oleh orang saat mau nyebrang dan kamu tahu siapa yang nolongin Mama? Rantilah orangnya. Singkat cerita dari kejadian itulah kita jadi mulai dekat bahkan Mama sudah lama kenal sama dia. Dia anaknya baik banget. Udah gitu rajin banget ibadahnya." "Apa, Ma?" Kedua bola mata Brian membulat sempurna mendengarnya. Tidak habis pikir dengan maksud perkataan sang Mama. "Yang benar saja, Ma, masa aku harus nikah sama orang yang ga aku kenal sama sekali bahkan aku ga tau dia seperti apa. Halah dia baik gitu ke Mama palingan karena ada maunya kan?" Inggit menyimpul senyum. "Iya, Mama serius. Hust kamu ini ya kalau menilai orang itu suka asal aja seenak jidat. Kalau dia ada maunya seperti apa yang barusan kamu katakan sudah dari awal dia nolongin Mama dia akan memanfaatkan situasi itu. Buktinya Mama kasih uang sebagai timbal balik karena udah nolongin Mama dia ga mau katanya ikhlas menolong Mama bahkan Mama paksa juga dia tetep ga Mau. Jadi tidak ada salahnya kan kalau Mama ingin mencarikan yang terbaik buat kamu Brian. Apalagi Mamanya itu teman Mama waktu SMP dan Mama tau bagaimana Beliau. Dan terbukti berkat didikan Mamanya Ranti tumbuh jadi anak yang baik." "Nggak salah, tapi bukan dengan perempuan itu!" tegas suara Brian, terang-terangan menolak perjodohan absurd tersebut. Inggit kembali menghela napas panjang dan dengan sabar menjelaskan. "Brian, Mama berani menjodohkan kamu dengan Ranti karena Mama sudah mengenal dia dengan baik. Mama nggak akan ambil resiko menjodohkan kamu dengan perempuan sembarangan. Apalagi untuk pasangan seumur hidup kamu." "Tapi dengan dia? Wanita yang ga pernah aku kenal sama sekali. Udah gitu tampilannya arghhhhh ga banget deh Ma!" "Jangan menilai seseorang dari penampilan luarnya saja, Brian. Percaya sama Mama, Mama nggak akan salah pilih. Ranti ini orangnya baik dan tulus, berbeda dengan wanita disekitar kamu. Mereka hanya dekat dengan kamu karena tahu siapa kamu. Kamu sukses, bergelimang harta. Mama mau kamu hidup bahagia dengan orang yang benar-benar tulus mencintai kamu. Mama harap kamu sudah seharusnya membuka hati Brian. Apa kamu ga capek terus-menerus sendiri heum?" "Apa sih, Ma?" Brian mulai kesal karena Inggit secara tidak langsung tengah membahas tentang Audy. Seolah Brian harus melupakan Audy. "Makanya, Brian jangan membantah kalau kamu ingin Mama bahagia." Brian kehilangan kata-kata. Tidak sanggup lagi untuk bicara. Inggit adalah Mamanya yang paling ia sayangi apalagi sewaktu Audy masih hidup beliau begitu sayang sama Audy bahkan sudah menganggap dan memperlakukan Audy dengan baik layaknya anaknya sendiri Itulah sebabnya Brian sangat menyayangi Inggit dan tidak sanggup menolak apapun yang diinginkannya. Dan mungkin… perjodohan ini juga. "Ya sudahlah, mau gimana lagi," ucap Brian pasrah, semata-mata hanya ingin agar Inggit bahagia. Inggit tersenyum mendengar jawaban Brian dan memanggil Ratih agar mendekat. Brian hanya bisa terdiam dengan raut wajah datar yang tak bisa terdefinisikan. Bisa dikatakan Brian ini shocked, terkejut atas apa yang Mamanya sendiri katakan. Menikah dengan orang yang tidak pernah ia kenal sama sekali? Tapi mau bagaimana lagi ia tidak bisa menolak permintaannya itu. Brian membuang helaan nafas panjangnya. Memijat pangkal hidung bangirnya. Ia pusing, mendengarkan masalah perjodohan ini membuat kepalanya rasanya ingin pecah saja. Apakah tidak ada gadis lain? Tidak dengan wanita itu juga. Dia adalah pria dewasa, dan seorang duda lagi. Apakah dia pantas menjadi istrinya? Apa dia mampu menjadi istri yang baik seperti Audy. Ini benar-benar tidak bisa dibayangkan, memikirkannya saja membuat aliran napasnya sesak. Ia tidak yakin dengan perjodohan ini, karena Brian pikir gadis itu tidak akan bisa menjadi istrinya. Mengetahui dirinya yang seorang duda saja sudah dipastikan gadis itu akan langsung menolaknya. Mana ada gadis yang mau dijodohkan dan dinikahkan dengan dirinya. Brian juga mempunyai trauma untuk menikah lagi. Jika memang ia harus menduda untuk selamanya, tidak masalah, ia akan siap terima itu. Tapi sang Mama selalu saja berusaha untuk menjodohkan dirinya karena beliau sangat menginginkan seorang cucu dari Brian. "Ayo, Brian, kenalan dulu sama Ranti nak," pinta Inggit. Ranti mengulurkan tangan sambil tersenyum yang disambut Brian dengan enggan. Bahkan, hanya ujung jarinya yang menempel di telapak tangan Ranti. Muka masam laki-laki itu membuat Ranti jadi tahu bahwa Brian tidak menyukainya. "Mama ke toilet sebentar ya, kalian ngobrol-ngobrol aja dulu." Inggit lalu pergi meninggalkan keduanya. Melirik sekilas punggung Mamanya yang menjauh, Brian kemudian bicara pada Ranti dengan suara separuh berbisik. "Lo jangan seneng dulu. Gue nggak akan membiarkan perjodohan nggak masuk akal ini terjadi. Lo bukan tipe gue. Bahkan gue nggak pernah bermimpi menikah dengan cewek kaya lo ditambah lagi gue ga kenal Lo sama sekali lagi hareuh!" tegas Brian sambil memicingkan matanya. Ranti tersenyum kecut dan sama sekali tidak terpancing meski Brian mencoba menyulut emosinya. Dengan tenang ia menjawab, "Baik, saya akan selalu mengingat hal itu. Lagian emang gue mau nikah dengan lo? Ga! Cowok arogan kaya gitu yang ada cewek ga bakalan ada yang mau dengan kamu!" balas Ranti yang membuat Brian geram. Brian menyimpan suara ketika Inggit kembali muncul ke tengah-tengah mereka. Ranti hanya bisa bersabar atas sikap yang ditunjukkan Brian. Sejak awal ia sudah tahu bahwa Brian tidak akan menerima perjodohan ini. Ranti menyetujuinya hanya untuk menghargai permintaan Inggit. Perempuan itu sudah terlalu banyak membantu. Kebaikannya tak terhitung lagi. Ranti jadi tidak punya alasan untuk menolak saat Inggit ingin menjodohkannya dengan Brian si duda yang sikapnya begitu arogan semenjak kepergian istrinya. Ranti hanyalah seorang wanita biasa yang berjuang mengadu nasib di ibukota. Semenjak Ayahnya bangkrut kini ia harus banting tulang membatu kedua biaya sekolah adiknya selain itu juga ayahnya mempunyai hutang di mana-mana. Dikejar debt collector bukanlah hal luar biasa dalam hidup Ranti. Saat ini ia menghidupi dirinya dengan kerja banting tulang. Ranti akan melakukan apa saja yang penting bisa menghasilkan uang. Mulai dari terima orderan kue hingga jualan pulsa. Siang ia bekerja sebagai karyawan. Sisanya ia menghabiskan waktunya sebagai pelayan di sebuah cafe. Ranti memasrahkan hidup ke mana pun takdir akan membawanya. Termasuk dengan memenuhi permintaan Inggit itu. Kalau pun Brian menolak perjodohan ini, tidak masalah baginya. Pria muda itu tidak tahu bahwa sesungguhnya Ranti sangat membenci tipe lelaki kaya dan arogan sepertinya. Dan satu hal lagi, Brian juga bukan tipenya. Brian Handoko Putra sulung dari Handoko dan Inggit. Penerus dalam bisnis perusahaan yang telah Handoko bangun selama bertahun-tahun. Brian pria duda yang mana dulu ia menikah dengan kekasihnya sendiri. Namun, pernikahan sakralnya itu berujung dalam sebuah perpisahan. Perpisahan karena sang istri telah meninggal dunia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN