Balas Budi untuk Tante Inggit

1890 Kata
"Kamu lagi apa? Kamu sehat kan Na?" Tanya sang Ibu dari balik teleponnya. "Alhamdulillah Ranti baik Bu. Ibu sendiri gimana kabarnya? Ayah gimana sehat juga kan? Mila sama Galih gimana Bu kabarnya? Gimana dengan kuliahnya Rara  dan sekolahnya Galih?" "Ibu sama Ayah juga Alhamdulillah baik nak. Adik-adik kamu juga baik Ra. Alhamdulillah sejauh ini lancar semua. Transferan dari kamu udah masuk. Makasih banyak ya sayang. Ibu doain semoga rezekinya makin lancar makin berkah."  "Syukurlah Ranti ikut lega dengernya. Aamiin makasih ya Bu selalu terus doain Ranti di sini agar Ranti bisa terus membahagiakan Ibu sama Ranti di rumah."  "Owh iya Nak. Ibu mau tanya sesuatu boleh?"  "Iya Bu," jawab Ranti berusaha tenang. "Memangnya kamu ga mau menikah Ran? Laki-laki kayak apa sih yang kamu cari? Ingat Ra, umur kamu satu minggu lagi sudah dua puluh delapan tahun. DUA PULUH DELAPAN loh Ra!"  Ratih yang baru saja pulang ke rumah langsung mendapatkan omelan dari Ibunya. "Aduh Ibu Ranti kan baru aja pulang kerja ini malah diomelin Mulu masalah jodoh hmmm," batin Ranti mendengus kesal dengan omelan Ibunya itu. "Memangnya kenapa kalau umur aku dua puluh delapan Bu? Banyak kok yang di atas tiga puluh tapi nggak nikah-nikah," balas Ranti membela diri. Ranti sudah tahu, pasti Ibunya menyinggung masalah umur gara-gara dirinya yang masih betah melajang. "Jadi kamu mau kayak gitu? Kamu mau nggak laku-laku kayak mereka?" Suara Ibunya meninggi mendapat balasan dari Ranti. "Bukan begitu, Bu, tapi yang namanya jodoh kita kan nggak pernah tau. Kali aja jodohku lagi dijagain orang." "Halaa… kamu kebanyakan alasan. Lihat tuh si Sinta, nggak cantik-cantik amat tapi bisa dapetin Fatih. Nah, kamu? Cantikan kamu kemana-mana, pinteran kamu ke mana-mana, tapi kok ya nggak laku-laku." Ibunya mulai membandingkan Ranti dengan sepupunya. "Aku bukan barang lho, Bu, lagian umur aku masih kepala dua." "Masih aja ngeles," kecam sang Ibu kesal. "Ingat, Ra, yang namanya perempuan punya rahim. Dan yang namanya rahim ada masa expirednya. Ibu tuh malu kamu sampai keduluan sama Sinta. Mana tante kamu pake nyindir Ibu mulu lagi. "Ya biarin ajalah Bu, nggak usah didengerin apalagi dipikirin omongan orang!" tegas Ranti "Pokoknya Ibu nggak mau tahu, kalau bulan depan masih belum ada juga kamu harus mau menerima pilihan Ibu!" ancam Ibunya. Ranti terkesiap. Apa itu artinya sang Ibu akan menjodohkannya? "Nggak, nggak, aku nggak mau. Ibu nggak perlu repot-repot nyariin buat aku. Aku bisa kok nyari sendiri. Yaudah udah dulu ya Bu, Ranti lapar belum makan soalnya. Wassalamualaikum," tutup Ranti terpaksa berbohong karena malas melanjutkan obrolan itu. Ia dengan segera menutup telponnya tanpa menunggu dulu balasan dari Ibunya. Ranti bergegas menuju kamarnya melempar tas sembarangan dan menghempaskan tubuh ke kasur yang empuk. Ranti mengerti kekhawatiran mamanya. Minggu depan dia akan berulang tahun kedua puluh delapan dan saat ini statusnya masih lajang. Cantik, sederhana, cerdas, body goals, mandiri serta sukses. Namun sayangnya ia kurang beruntung dalam kehidupan percintaan. Para lelaki yang menjadi pacarnya sesat semua. Yang pertama meminta tidur dengannya dan akan menikahi jika memberi anak laki-laki. Tapi kalau perempuan, dia tidak akan bertanggung jawab. Dan pacar keduanya ternyata hobi flirting dengan cewek lain. Deringan suara ponsel membuat lamunan Ranti buyar. Salsha, sahabatnya yang menelepon. Ranti: "Hallo" Salsha: "Di mana lo, Ran?" Ranti: "Gue baru nyampe rumah. Gue pusing banget, Sha." Salsha: "Pusing kenapa?" Ranti: "Nyokap nanyain mulu kapan kawin? Kapan kawin?" Salsha terkekeh. Sudah berkali-kali Ranti mengeluhkan masalah itu padanya. Salsha: "Nikah kali, bukan kawin." Ranti: "Iya, itu maksud gue." Salsha: "Gini aja deh, kenapa lo nggak nyoba yang pernah gue saranin sama lo?" Ranti: "Cari jodoh?" Salsha: "Hooh, nyoba dulu nggak ada salahnya kan? Lagian kalau jodoh nggak ada yang tahu." Ranti terdiam dan berpikir sesaat. Salsha memang pernah menyarankan padanya agar mencoba aplikasi cari jodoh yang saat ini sedang booming. Tapi saat itu Ranti masih ragu. Ranti: "Hmm ya udah deh, ntar gue coba tapi gue pikir-pikir dulu deh Sha ya hehe" Salsha: "Dasar hmm yaudah deh serah lu! Kasih saran udeh. Ya balik lagi ke lu. Kan lu yang mau jalaninnya" Setelah obrolan singkat jarak jauh itu berakhir, Kiran kembali termenung. Dia merasa dilema akan mencoba aplikasi itu atau mengabaikan saran Salsha seperti yang sudah-sudah. 'Kayaknya nggak ada jalan lain deh, gue mesti coba aplikasi itu daripada dijodohkan. Eh tapi enggak ah nanti kalau diresponnya sama om-om gimana hiiiiiih amit-amit dah' *** Keesokan harinya di kantornya Ranti telah menunjukkan jam istirahat.  "Lu mau makan ga?" tanya Salsha. "Hmm nggak deh. Gue bawa bekal soalnya ini lo mau?" tawar Ratih pada Salsha dengan menyodorkan kotak makan miliknya. "Orang seupit gitu. Gimana dengan lu nya? Yaudah gue ke kantin ya Ran"  "Hehehe ya udah oke hati-hati lu. Awas nanti kepeleset kaya waktu itu lagi," ledek Ranti pada sahabatnya itu. "Sialan lu galah sekarang mah. Gue bakalan lebih hati-hati keles!" Lalu Salsha pergi begitu saja meninggalkan Ranti yang hendak membereskan meja kerjanya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ada sms masuk. Ternyata dari Tante Inggit. [Inggit: Assalamualaikum Ranti. Ini Tante sore ini kamu ada waktu ga?] [Ranti: Waalaikumsalam Tan. Ga ada. Kenapa ya?]  [Inggit: Tante ingin ketemu bisa?]  [Ranti: Bisa-bisa Tan mau ketemu dimana?] [Inggit: Di kafe dekat kantor  kamu aja supaya lebih Tante juga mau ke butik biar sekalian nantinya ya. Kalau gitu sampai ketemu nanti sore sayang]  [Ranti: Iya Tan] Ranti terlihat fokus memandangi layar gawai. Ibu jarinya dengan lincah menggulir menu pesan w******p yang baru saja ia kirim kepada Tante Inggit. "Kira-kira mau ngomongin soal apa ya? Duh jangan sampai beliau bahas utang yang tempo hari aku pinjam soalnya itu duit udah aku kirim semua ke Ibu hiks hiks hiks duh gimana ini mati gue. Ah kacau banget sih dua hari ini. Rasanya ingin mengurung diri di kamar dan ga mau ketemu sama siapapun juga," batin Ranti semakin ga karuan. *** Di sebuah cafe. Ranti masuk dan mengingat cafe yang tadi dikasih tau oleh Tante Inggit. Berdiri di pintu cafe, Ranti memindai setiap sudut dengan matanya untuk mencari sosok Tante Inggit. Ekor matanya menangkap sosok wanita yang sedang melambaikan tangan padanya. Selama sepersekian detik Ratih tertegun. Ragu-ragu Ranti membalas senyum Tante Inggit dan berjalan mendekat. Tante Inggit yang sore itu mengenakan kemeja hitam polos berdiri lengkap dengan kacamata hitamnya dan mengulurkan tangan lalu memeluknya saat Ranti menghampirinya. "Ranti sini sayang. Duh apa kabar sayang lama ya kita ga jumpa," sapa Tante Inggit padanya.  Ranti menyambut uluran tangan Tante Inggit lalu mencium tangannya kemudian membalas pelukan hangat dari beliau."Iya Tante Alhamdulillah Ratih baik Tan. Iya nih hehehe soalnya Ranti juga akhir-akhir ini lagi sibuk di kantornya juga. Tante sendiri gimana kabarnya?"  "Alhamdulillah Tante juga baik.  Ayo, silahkan duduk!" ujar Tante Inggit mempersilahkan duduk pada Ranti. Ranti. memposisikan diri di depan Tante Inggit setelah Beliau menyuruhnya. Penampilan Ranti standar dan biasa. Tapi Ranti itu sanggup membuatnya tidak mengedipkan mata bermenit-menit. Lekukan yang muncul di pipinya saat Ratih tersenyum membuat Tante Inggit terpesona. "Kamu makin cantik aja sih sayang dengan rambut barunya," puji Tante Inggit ketika Ranti sudah duduk di hadapannya. "Ah Tante ini berlebihan," jawab Ranti malu-malu hingga membuat kedua pipinya merona. "Kita makan dulu aja ya sayang. Kamu belum makan juga kan?" "Eh, boleh deh Tan hehe iya belum Tan" Ranti menyetujui saat Tante Inggit menawarkan padanya. Setidaknya dia punya banyak waktu untuk memikirkan apa saja yang akan dibicarakan nanti. Dua porsi tenderloin steak datang setelah mereka memesan pada waiter. "Ranti, Tante boleh nanya sesuatu?" Pertanyaan Inggit membuat Ranti mengangkat kepala. Ranti  menyeka pinggir bibirnya dengan tisu. Khawatir kalau saja ada sisa-sisa saos yang menempel. "Iya ada apa Tan?"  "Maaf ya Tan aku belum bisa bayar semua hutangku pada Tante," kata Ranti takut beliau mengajak makan akan membahas soal hutangnya. "Aduh kamu ini ya. Udah Tante bilang berapa kali juga tenang aja kalau belum ada kamu ga usah khawatir itu. Lagian Tante ajak kamu makan bukan untuk membahas masalah itu," jelas Inggit membuat Ratih bernafas lega. "Lalu?"  "Kamu sudah punya pacar belum?"  "Pacar? Belum Tan"  "Masa sih?"  "Iya Tante aku masih jomblo ngenes banget ya hahaha hari gini jomblo"  "Nah kebetulan banget anak Tante juga sama lagi jomblo. Kamu mau ga nikah sama anak Tante?" Pertanyaan Tante Inggit yang terdengar antusias. "Tante ingin kau menikah dengan Brian anak Tante," lanjut Tante Inggit. Ranti terdiam, gadis itu enggan menanggapi. "Kali ini Tante serius, Nak. Tante sudah menyetujui perjodohan kalian." Inggit terus membujuk Ranti agar mau menikah dengan anaknya itu. "Maaf, Tante, aku tidak setuju. Aku tidak bisa hidup berumah tangga dengan seseorang yang tidak kukenal," elak Ranti kesal. "Bagaimana bisa kamu mengenalnya jika kamu tidak memberikan kesempatan untuk menemuinya. Dengan begitu, kalian bisa saling mengenal satu sama lain," ujar Inggit meyakinkan. "Bagaimana bisa Tante menyetujui perjodohan kami, sementara kami belum tentu mau dijodohkan terutama anak Tante itu?" "Brian sudah pasti mau dijodohkan denganmu"  Ranti cukup terkejut dengan pernyataan Inggit. Bagaimana bisa lelaki itu menerima perjodohan ini? "Mau ya Ran, temuilah dulu sebelum kamu memutuskannya, Nak." "Jika aku tetap tidak suka?" "Tante  yakin, kau pasti akan menyukainya." "Tapi itu terlalu cepat, Tan," sanggah Ranti tak mau kalah. "Bukankah lebih cepat lebih baik. Lagi pula, Brian anak yang baik dan mapan. Ya meskipun dia seorang duda Ranti. Tapi kamu tenang saja dia tidak memiliki anak. Lalu apa kurangnya lagi dia bagimu, Nak?" Inggit sambil menunjukkan foto Brian terbaru di hp miliknya. "Aku tidak mencintainya, Tante" "Tante mohon sayang tolongin Tante kali ini saja? Tante udah ga tega liat dia sering murung, melamun dia terus-terusan memikirkan almarhum Audy. Semenjak kepergian Audy dan anaknya Brian jadi berubah sikapnya  menjadi dingin dan sering marah-marah tapi hatinya baik ko. Mungkin dia merasa terpukul akan kematian Audy. Karena Audy begitu dicintai Brian. Makanya Tante ingin dia menikah supaya hatinya tidak terlalu kosong. Setidaknya ada orang baru yang akan mengisi hari-harinya nanti dan Tante yakin kamulah orangnya yang tepat Ranti.  Mengenai mencintai seiring berjalannya waktu Tante yakin cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Kalian hanya perlu saling mengenal saja." "Gimana ya Tan?" Ranti bingung harus menjawab apa dia terus menggaruk kepalanya. "Apalagi Ibu kamu juga sudah setuju akan perjodohan ini," lanjut Tante Inggit. "Ibu? Oh jadi ini alasan Ibu nyuruh aku suruh nikah. Diam-diam ternyata ibu sudah merencanakan perjodohan ini hmmm," gerutu Ratih tidak habis pikir. "Ranti?" Panggil Inggit karena melihat Ranti diam saja. "Eh i-iya Tante ya udah Ranti coba ya. Ranti coba untuk mau menemui dulu Mas Brian"  "Makasih banyak ya sayang," kata Inggit sambil menggenggam erat kedua tangannya Ranti. Tak ada pilihan lain bagi Ranti untuk menerima tawaran Tante Inggit mengingat beliau sudah banyak membatu dirinya. Ia pun pasrah dengan perjodohan yang tiba-tiba ditawarkan. Di usia dua puluh delapan tahun, memang telah cukup baginya untuk menikah dan menjalani hidup berumah tangga. Namun ia tak pernah membayangkan jika harus menikah karena dijodohkan apalagi dengan seorang Duda. Bagaimana bisa dua orang asing yang tak saling mengenal, tiba-tiba harus dipertemukan dan dipaksa untuk menjalani sebuah pernikahan.  Bagaimana rasanya hidup seatap, berstatus suami istri, tanpa rasa saling mencintai dan hidup bersama bagai dua orang yang saling tak mengenal? Akankah hubungan pernikahan itu akan berhasil? Membayangkannya saja membuat Ranti sudah pusing tujuh keliling. Penat yang tiba-tiba menumpuk menjadi sebuah beban berat. Seperti sebuah mimpi buruk jika akhirnya harus bersanding dengan lelaki itu di pelaminan. Ranti tak bisa lagi mengelak saat Tante Inggit mengatakan jika lelaki yang dijodohkan dengannya itu akan ia temui lusa di rumahnya. Ia hanya bisa berpasrah dengan keadaan. Menerima takdir walaupun ia harus menerima perjodohan itu. Demi membahagiakan sang Ibu juga Tante Inggit. Karena selama ini Tante Inggit sudah banyak berkorban dan membantu keluarganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN