Kenyataan pahit untuk Brian

1763 Kata
  Semua yang ada di sana menangis mendengar ucapan itu, begitu juga Dokter dan Suster yang nampak cemas mendengar pasiennya berbicara seperti itu. "Y..uura, b..bisakah kamu gantikan a..ku? tolong jaga suami aku dan bayi ku," pinta Audy dengan nafasnya yang mulai sesak seperti menahan sakit. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Mamanya Audy. "Kamu yang harus jaga suami dan bayimu nak" "A..aku gk b..bisa, i..ini sangat s..sakit Mamaaaa. Au ga kuat lagi Ma" Audy terbata-bata sambil memegang dadanya. "T..tolong Yura nikahlah dengan suami ku dan jaga bayi aku, ini keinginan terakhir a..aku" "Sayang, aku cuma mau sama kamu" Brian semakin gak karuan mendengar itu semua. "Jangan bicara aneh-aneh sayang" "T..tolong kabulkan keinginan aku k..kalo aku udah pergi nanti, tolong jangan sampai e..enggak, a..aku gk rela suami dan bayi aku dengan wanita lain kecuali Yura, sayang tolong aku, t..tolong," pinta Audy dan detak jantung semakin melemah. "Aku ga bisa Au. Undangan sudah disebar aku ga bisa ngecewain Bima Au," tolak Yura. "Kamu jangan egois sayang. Yura juga butuh bahagia!" tegas Brian seolah tidak mau menikahi Yura, sahabatnya itu. "Kalau begitu. Aku minta sama kamu, tolong ikhlaskan kepergian ku, Brian ku. Agar aku tenang disana. Kamu jaga diri baik-baik di sini dan jaga juga anak kita ya, kamu boleh menikah lagi untuk mencari penggantiku. Perempuan yang akan mengurus kamu selepas aku pergi. Aku akan bahagia jika melihat kamu bahagia di sini. M-aaafkan aku Brian ku sayang" Audy terus saja berkata seperti itu. Membuat Brian geram mendengarnya. Namun dimonitor nampak jantungnya Audy semakin melemah. Dengan segera sang Dokter dan beberapa Suster menghampiri Audy dan memeriksa kembali keadaannya. "Auuuuuuudy... Jangan pergi, kau yang harus urus keluargamu, Au. Mereka sangat membutuhkan sosok kamu," kata Yura tidak rela sahabatnya harus pergi dalam waktu dekat. Detak jantung Audy semakin melemah, semuanya panik,  menangis tidak karuan melihat keadaan Audy. Beberapa menit kemudian, Audy kembali memejamkan kedua matanya dan detak jantungnya perlahan-lahan membaik, semuanya sedikit tenang dengan keadaan Audy, semua masih diposisi yang sama, mereka menunggu Audy kembali membuka matanya namun Yura tidak membuka matanya, matanya masih  tertutup rapat oleh kedua tangannya. "Biarkan Audy istirahat, sepertinya tadi sedikit syok saat sadar" Dokter menatap semuanya. "Terimakasih dok," ucap Tuan Handoko. Dokter mengangguk dan melangkah pergi ke luar, diikuti beberapa Suster lainnya, Brian dan Yura kembali menghampiri Audy mereka menggenggam tangan mereka masing-masing, Yurs menggenggam tangan kanan, Brian menggenggam tangan kiri Audy, mereka terus-menerus menangis, begitu juga dari kedua keluarga itu, baik dari keluarganya Brian maupun keluarganya Audy.  Satu bulan kemudian. Audy belum juga sadar setelah komanya yang kedua. Hari ini bertepatan dengan ulang tahun Audy. Brian sudah membeli cake dan hadiah kalung yang diinginkan Audy sebelum mengalami kecelakaan, semuanya kembali berkumpul di rumah sakit di ruang vvip Audy, semuanya menyanyikan lagu ulang tahun bersama dengan isak tangis yg gak bisa ditahan. "Happy Birthday My Wife" Brian mencium kening Audy dengan lama ia menciumnya dan keningnya basah karena air mata Brian yang terus-menerus mengalir "Tuhan, sadarkan Audyku, aku dan anakku ini membutuhkan Audy begitu juga yang lain mulai dari Mamaku, Papa, juga Papa dan Mama mertuaku," batin Brian. "Sayang liatlah aku, kamu tahu apa yang aku bawa, kalung yang selama ini  kamu mau" Brian kemudian membuka kotak kalung itu, dan... Perlahan-lahan tangan Audy bergerak, Brian dengan segera menekan tombol darurat lalu sang Dokter datang dengan beberapa Suster langsung mengecek keadaan Audy, Audy mulai  membuka kedua matanya dan menatap semuanya sambil tersenyum. "Kenapa kalian nangis? apa aku sangat menyedihkan?" tanya Audy dengan suara sangat jelas seperti orang sehat yang gak pernah mengalami koma, semua yang ada di sana menatap keheranan melihat perkembangan Audy. "Gak sayang, kamu udah sehat?" tanya Brian menghampiri Audy sambil mengusap kepalanya. "Sehat, emang aku sakit apa?" tanya Audy. "Gak, kamu tau gk hari ini hari apa?" tanya Brian "Tau, hari ulang tahun aku kan?" "Iya betul. Dan ini kado untuk mu sayangku" Brian kembali memperlihatkan kado tersebut padanya. "Akhirnya kamu sadar juga sayang," ucap Yura senang melihat Audy sembuh.  "Iya Ra, aku udah sembuh sekarang. Hei manja, gimana kuliah? lancar? kapan nikah?" cecar Audy diiringi tertawa kecil. "Lancar sayang. Nunggu kamu kembali ke rumah baru aku mau nikah dengan Bima," jelas Yura sambil mengusap air matanya. "Kamu gak boleh nikah sama Bima Yuraaaaaa," ucap Audy membuat semua orang kebingungan. "Kenapa gak boleh?" tanya sang Mama. "Bukannya kamu merestui Yura nikah dengan Bima?" "Sekarang gak, Yura harus nikah dengan suami aku dan mengurus bayi aku" Audy sedikit tegas "Sayang, kamu bercanda terus dari kemarin," timpal Brian. "Aku gak bercanda Brian ku!" tegas Audy. "Sayang, ini hadiah ulang tahun dari aku. Kamu pakai ya," pinta Brian mengalihkan pembicaraan dan memakaikan kalung itu dilehernya Audy. "Ah lucu. Makasih sayang," ucap Audy tersenyum bahagia. "Sayang aku punya keinginan di hari ulang tahun aku, tolong kabulkan," pinta Audy. "Apa sayang?" jawab Brian sambil mengusap pipi Audy. "Tolong, nikah dengan Yura kalau aku pergi, tolong" lirih Audy meneteskan air mata. "Aku dan anak-anak butuh kamu bukan wanita lain!" "Tolong Brian tolong. A..aku gk bisa nahan sakit i..ini," lanjut Audy. "Yura batalkan pernikahan i..itu" lirih Audy melepaskan kalung yang baru saja diberikan oleh Brian. "Kenapa dilepas kalungnya? mau model lain?" tanya Brian. "Ini untuk mu, pakailah Yura," ucap Audy memakaikan kalung itu di jari manis Yura. "Ini tanda kamu terima keinginan aku" "Gk Au. Aku mohon Mas Bima udah nunggu aku. Kalau aku menerima permintaan kamu akan ada banyak hati yang tersakiti olehku. Mengertilah. Kalaupun kamu mau aku mau merawat anakmu itu, aku bersedia tapi tidak untuk menikah dengan suami kamu itu." Yura dengan tegasnya lalu melepaskan kalung  itu namun di tahan Audy. "Tolong, sekali aja kabulkan keinginan terakhir aku Yura, tolong" Audy kembali memaksa  lalu tangan Yura, dan nafas Audy mulai tidak beraturan, nafasnya kembali sesak. "Kamu juga harus ngertiin aku Au. Aku mohon. Aku ga bisa!"  "Sayang keluar dari rumah sakit kita jalan-jalan ke Jepang ya, kamu katanya mau ke Jepang, kita ajak anak kita nanti ya, oke?" ucap Brian kembali menahan tangis. "Kalau gitu oke kau ga papa. Asalkan anak aku diurus oleh kamu. Aku rela Ra. Maafkan aku tadi aku sedikit memaksamu. Dan tolong terima kalung ini sebagai hadiah pernikahan kamu nanti dengan Bima. Dan untuk kami Brian tolong relakan a..aku p..pergi dan jangan menyalahkan Yura terus atas kecelakaan kita, kamu mengerti?" Permintaan Audy barusan. Dadanya  kembali semakin sesak. "Kalo kamu pergi, aku juga mau pergi Audy," ucap Brian mengambil sebuah pisau kecil disakunya. "J..jangan sayang, kalo kamu begini, nanti anak kita kesepian, t..tolong kabulkan permintaan aku, tolong" "Gk, aku gak rela kamu pergi Audy, jangan pergi, bawa aku pergi bersama kamu" Brian semakin nangis gk karuan "Mama, Papa, juga Mama dan Papa mertuaku, aku minta maaf jika selama ini aku punya salah salah sama kalian.  Begitu juga Yura maafin aku. Juga suamiku sayang, maafin aku jika selama kamu hidup dengan aku. Aku masih banyak kurangnya ku minta maaf. Apalagi aku salah. Kayaknya banyak sekali kesalahan aku padamu. Maafin aku sayang, aku bahagia hidup dengan kamu. Dan kali ini tugasku sudah selesai menjadi istrimu. Aku pamit ya, bahagia selalu sayang kalian semua. Terimakasih sudah menjagaku dengan baik dan menyayangiku dengan baik. Ikhlaskan aku ya agar aku tenang disana," pinta Audy. Dan nyatanya ini adalah permintaan terakhir dirinya pada mereka sebelum dirinya benar-benar pergi. "Berhenti Audy bicara begitu!" tegas sang Papa. "Kita selalu menunggu kamu," timpal sang Mama. "Benar, fokuslah pada kesehatan, kamu pasti bisa kembali" Mama Inggit pun ikut berbicara. "Aku mau cium bayiku sebelum aku pergi," ucap Audy, kepada Suster yang ada di dalam langsung menggendong bayinya dan mendekati Audy. "Liat Audy, anak kita kini sudah lahir. Mereka telah hadir untuk melengkapi rumah tangga kita" Brian kembali tersenyum melihat Audy memeluk bayinya. "Ah, aku belum berikan nama untuk mereka, baiklah akan ku berikan nama sebelum pergi, Bagas Pratama Handoko, bagus bukan?" tanya Audy. "Bagus sayang, bagus sekali," jawab Brian tersenyum. Audy kembali mencium bayinya, lalu nafasnya semakin sesak,  Suster itu kembali menidurkan bayinya di kasur bayi, dan memeriksa keadaan Audy. "Brian ku, aku sayang kamu. Ku mohon jaga anak kita dengan baik ya," kata Audy meminta kembali kepada Brian agar menjaga anaknya dengan baik. Dan... Tttttttuuuuuuuttttttt....... Detak jantung Audy terhenti.. Dokter memberikan pertolongan dengan alat, sudah satu jam detak jantung Audy namun juga tak kembali, Audy telah meninggal. "Maafkan saya. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Tuan dan Nyonya," ucap Dokter dengan lirih. "AAAAAAAUDYYYYYYYY BANGUN JANGAN TINGGALKAN AKU, AKU MOHON" Brian teriak dengan isak, d**a Brian ikutan sakit. Orang yang ia sayangi selama ini, sekarang sudah tiada. Begitu juga yang lain mereka juga kehilangan sosok Audy untuk selama-lamanya. "Tolong Audy bangunlah, aku gk bisa hidup tanpamu Audy," ucap Brian yang terjatuh di lantai karena tidak kuat melihat keadaan istrinya yang meninggalkan dirinya begitu aja. Nyonya Inggit merangkul bahu Brian mencoba menguatkan Brian, semuanya semakin meraung-raung tangisan satu dengan yang lainnya saling berbalas, Dokter dan Suster juga ikut menangis melihat kejadian itu, Yura berusaha membangunkan Audy namun tidak bisa, Audy sudah meninggal, meninggalkan semuanya untuk selamanya.  Brian masih terkejut sekaligus sangat terpukul mendengar kabar bahwa istri dan anaknya  telah meninggal dunia. Tubuhnya bergemetar menahan tangis. Kakinya terasa kaku sekadar berjalan mendekati tubuh istrinya  yang sudah terselimuti oleh kain putih. Benar-benar di luar dugaannya bahwa Audy akan pergi meninggalkannya sendiri. Air mata Brian menetes, rasanya sangat sakit dan menyesakkan. Ia melihat Inggit pingsan, sedangkan Papanya seperti biasa saja, tetapi raut wajah lelaki paruh baya itu tampak rapuh. Ia tahu bahwa Papanya itu tengah menahan kesedihan yang mendalam saat ini. Seolah melupakan permasalahan yang terjadi di antara mereka. Saat ini Brian sedang mengurus pemakaman Istri dan buah hatinya dengan sangat baik. "Sudah Bri, kamu harus belajar ikhlas. Ini sudah menjadi takdirnya. Ayo kita pulang sekarang."  "Tapi Pa. Brian masih ingin disini menemani Audy. Dia kasihan sendirian," ucap Brian sambil memeluk pusaran Audy. "Bri, tidak baik meratapi seperti ini. Ayo nak kita pulang sekarang" Melihat Brian begitu terpuruk sang Papa ikut sedih melihatnya.  Brian terenyuh mendengar perkataan sang ayah. Mulutnya terkatup. Lidahnya kelu. Ia hanya bisa menganggukkan kepala mengiyakan ucapan itu. Setidaknya sekarang, wanita yang ia cintai sudah tenang dan tidak merasakan sakit lagi. Setelah  bertahan melawan sakitnya, ternyata Tuhan sangat menyayangi istrinya itu. Sesampai dikediamannya. Sorot matanya Brian mengedar menatap ke sekitar yang sudah ramai oleh orang-orang untuk melayat dan ada beberapa papan bunga ucapan belasungkawa. Ia berjalan bersama dengan salah satu teman kerjanya untuk memasuki lebih dalam. Jerry dapat melihat Brian hanya duduk dengan posisi kepala yang menunduk. Pasti lelaki itu merasa sangat sedih kehilangan orang yang begitu ia cintai dan sayangi. Ingin sekali rasanya ia menghampiri dan meminjamkan bahunya untuk Brian bersandar. Akan tetapi, ia sadar dengan posisinya sendiri yang tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut.  Bagimaan kehidupan Brian setelah ditinggal Audy? Penasaran? Stay tune terus ya gais.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN