Brian udah berusaha memohon untuk Audy bangun dan sadar, namun belum juga sadar, satu jam kemudian, terdengar suara tangisan bayi.
Owa-owa-owa-owaaaaaaaa
"Selamat Tuan Brian, anaknya ganteng seperti Tuan," ucap Dokter sedikit tersenyum.
"Alhamdulilah. Sayang, liatlah, Tuhan telah mendengar keinginan kamu, ayo bangun, anak lelaki kita sudah lahir dia mirip kita berdua. Apalagi senyumnya seperti kamu, mirip sekali. Ayo sadar sayang," ucap Brian, sebahagia apapun saat ini karena Audy yang udah melahirkan namun hati Brian sangat sakit, sangat. Karena orang yang telah berhasil melahirkan anaknya kini tengah terbaring lemah bahkan ia masih belum ada tanda-tanda akan siuman. Badannya masih kaku.
Kedua Suster itu segera memandikan bayi mereka, Brian duduk di lantai karena ia tak berdaya melihat Audy masih gak sadarkan diri dikasur rumah sakit, semua keluarganya masuk ke dalam dan menguatkan Brian untuk sabar.
Beberapa menit kemudian bayi tersebut selesai dimandikan, Audy dipindahkan ke ruang operasi, Brian gak bisa ikut masuk, semuanya nunggu di luar ruang operasi, bayi tesebut dipindahkan ke ruangan NICU karena jantungnya lemah.
"Tuhan, sadarkan istriku, Audy, tolong, bayi ku sangat membutuhkannya," batin Brian.
3 jam kemudian, operasi selesai.
"Operasi berjalan lancar, namun Nyonya Audy masih gak sadarkan diri, dan segera dipindah kan ke ruang VVIP," ucap Dokter menatap semuanya.
Semua mengangguk dengan wajah kecewa, dan sembab, karena mereka terus-menerus menangis.
Audy udah dipindahkan ke ruang VVIP dan semuanya udah di dalam ruangan itu, sementara sang Bayi berada di ruangan berbeda, di sana bayi tersebut sedang tidur pulas.
Tidak!!!!
"Audy, liatlah bayimu, ganteng, lucu hidungnya mirip sepertimu, apa kamu gak mau bangun? mereka mencarimu Audy," ucap Yura sambil menatap bayinya Audy dari balik ruangan itu diiringi isak tangis
"Maafkan aku au kalo semua ini gara-gara aku yang memaksa Audy untuk menemani aku ke butik," lanjut Yura dengan penuh penyesalan.
"Sudah jangan bahas itu sayang, semua udah diatur Tuhan, mungkin ini udah rencana tuhan," timpal nyonya Inggit yang baru saja tiba di ruangan itu untuk melihat cucunya. Ia lalu sambil mengusap kepala Yura seraya menenangkan.
Keesokan harinya.
Brian masih setia menunggu Audy disampingnya. Ia memilih tidak masuk kerja sampai ia melihat kondisi Audy membaik dan sadarkan diri.
Pagi ini Yura datang kembali ke rumah sakit..
"Mas Brian selamat pagi," sapa Yura yang baru saja datang, lalu menghampiri
Brian.
"Makan dulu, aku bawa makanan nih," lanjut Yura sambil memberikan beberapa kotak makan.
"Gak perlu, saya gak lapar!" tolak Brian ketus tanpa melirik.
"T..tapi nanti s..sakit gimana?" gugup Yura.
"Urus aja dirimu gak perlu urus diri saya!" Tegas Brian sinis.
"M-aaafkan aku, aku tau pasti kamu akan membenci ku karena Audy kecelakaan gara-gara aku, plis maafin aku," kata Yura dengan memohon.
"Andai waktu bisa di ulang, aku gak mau antar istri ku padamu cuih, Pergi sana!" Brian semakin emosi melihat kedatangan Yura.
"Maafin aku Brian," ucap Yura sangat gugup.
"Pergi lah, jangan datang ke sini lagi! Saya tidak mau melihat kamu berada disini, enyahlah dari hadapanku Yura!!!" Nada suara Brian naik dua oktaf.
"Kenapa kau membentak Yura, Brian?" ucap Mamanya Audy yang baru masuk ke dalam ruangan.
"Yura gak salah, ini murni kecelakaan, ini udah rencana Tuhan,” lanjut sang Mama.
"Tapi kalo aku gak antar Audy padanya, mungkin kecelakaan ini gak akan terjadi," jelas Brian semakin kesal.
"Jangan menyalahkan takdir Brian, Mama juga sama kecewa dalam masalah ini. Tapi ya mau bagaimana lagi? Semua sudah menjadi kehendaknya belajar untuk tidak menyalahkan terus keadaan yang ada makin runyam. Kamu harus bisa menerima semua ini dengan ikhlas."
"Sekarang kamu makan dulu ya, istirahat, biar Mama yang jaga Audy. Kalau kamu seperti ini nanti kamu juga ikutan sakit." Mamanya Audy berusaha menenangkan menantunya itu sambil mengusap lembut punggung Brian.
"Gak, aku mau nunggu Audy sampai dia sadar"
"Kalo Audy sadar, Mama kasih tau kamu, sekarang kau istirahat, mandi sana, nanti Audy menjadi tidak nyaman karena aroma bau dari badanmu itu," ledek Mamanya Audy mencoba mencairkan suasana.
Brian mengalah dan ia bangun dari kursi yang disamping Audy dan melangkah pergi ke luar, Mamanya audy merangkul bahu Yura, Yura menundukkan kepala.
"Maafkan Brian, Brian bicara begitu karena terlalu cemas dengan Audy. Ia terbawa suasana, maafin ya," pinta sang Mama.
"Iya Tante. Yura paham ko Tan," ucap Yura sedikit meneteskan air mata.
Seminggu kemudian, hari dimana Yura akan menemui keluarga calon suaminya yang baru pulang dari paris.
"Audy udah sadar?" tanya Bima menatap Yura karena tatapan Yura tidak biasa. Ia begitu sendu. Make up yang menempel diwajahnya juga tidak bisa menghilangkannya kesedihan diwajahnya.
"Belum, masih koma"
"Semua salah aku, salah aku," lanjut Yura meneteskan air mata.
"Kenapa menyalahkan diri sendiri? kita gak akan tau kecelakaan akan terjadi kapan, jadi jangan salahkan diri sendiri" ucap Bima mencoba menenangkan Yura calon istrinya itu.
"T..tapi aku merasa bersalah sayang," lirih Yura.
"Udah jangan bahas ini kalo ini membuatmu sedih"
"Hmm, sayang bisa gak pernikahan kita diundur aja?" tanya Yura yang sambil menahan tangisnya.
"Pasti karena sahabat kamu itu ya?" tanya Bima tidak habis pikir.
"Bim aku mohon mengertilah, aku gak bisa nikah dan bahagia kalo Audy masih koma" Yura tidak ingin bahagia diatas penderitaan sahabatnya itu.
"Oke aku akan mengerti, aku nunggu sahabatmu sadar dan kamu siap untuk menikah dengan ku" Bima berusaha tegar akan keputusan kekasihnya itu.
"Makasih banyak sayang," ucap Yura lalu dipeluknya oleh Bima.
Yura dan Bima tengah duduk di sofa, gak lama orangtua bima datang dan duduk di sofa bersama, mereka membahas kelanjutan pernikahan, obrolan itupun membahas juga tentang alasan mengundurkan pernikahannya dengan Bima.
Karena saking khawatirnya dengan sahabatnya itu, Yura segera kembali ke rumah sakit dan langsung masuk ke dalam ruang VVIP Audy. Ia langsung menghampiri Audy sambil menggenggam tangannya.
"Audy sayang ini aku Yura, Au tolong sadar, kasihan bayi kamu dia sangat membutuhkan kasih sayangmu Au. Au denger aku ayo Au kamu pasti bisa melewati ini semua aku yakin itu Au," rintihan Yura sekembalinya ia ke dalam ruangan Audy.
Perlahan-lahan tangan Audy mulai bergerak.
"DOKTER, DOKTER, AUDY SADAR, TANGANNYA BERGERAK," teriak Yura sambil menekan tombol darurat.
Beberapa Suster dan Dokter datang, diikuti Brian, keluarga Brian dan keluarganya Audy juga mereka di belakangnya.
"Biar saya cek dulu. Permisi tolong tunggu dulu di luar ya," titah sang Dokter mengecek keadaan Audy dibantu suster, semua keluarga cemas dan wajah penuh harap agar Audy kembali sadar seperti biasa.
Perlahan-lahan Audy membuka kedua matanya dan menatap wajah mereka satu persatu yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Maaaaaas," panggil Audy dengan parau.
"Iya sayang. Sayaaaaaang kamu tahu," kata Brian terus mengajak bicara Audy.
Semuanya mengangguk dan meneteskan air mata melihat Audy sudah sadar, gak lama diruangan berbeda bayinya tiba-tiba menangis sangat kencang mungkin karena tau Ibunya sudah sadar, Brian menghampiri lalu mendekati Audy, tak lama salah satu Suster masuk ke dalam ruangan itu dengan menggendong bayinya Audy. Dengan segera bayi itu diraih oleh Brian dan digendongnya.
"Sayang, liat anak kita dia begitu ganteng bukan?" Brian langsung histeris saking bahagianya dengan wajah sembab sambil menatap Audy dan memperlihatkan bayinya, sementara Audy hanya merespon dengan menahan senyumnya.
"Gak apa-apa gak usah bicara dulu cukup kamu lihat anak kita aja dulu ya, itu udah buat aku seneng Audy" Air matanya kembali membasahi kedua pipinya, tiba-tiba tangan Audy mengusap air mata Brian, lalu menggenggam tangan Audy dengan lembut.
"Lekas sehat sayang, aku selalu menunggu mu" Brian mencium tangan Audy. Mama Inggit menggendong bayi yang ada di gendongan Brian, dan bayi itu berhenti menangis saat ia dekat dengan Audy.
Perlahan-lahan tangan Audy mulai bergerak.
"DOKTER, DOKTER, AUDY SADAR, TANGANNYA BERGERAK," teriak Yura sambil menekan tombol darurat.
Beberapa Suster dan Dokter datang, diikuti Brian, keluarga Brian dan keluarganya Audy juga mereka di belakangnya.
"Tolong biarkan Nyonya Audy seperti ini dulu karena dia baru aja sadar dari komanya, dan jangan diajak bicara dulu sebelum dia sendiri yang memulainya, mengerti?" Perintah sang Dokter.
"Baik Dok"
"Kalau begitu biar saya cek dulu. Permisi tolong tunggu dulu di luar ya," titah sang Dokter mengecek keadaan Audy dibantu suster, semua keluarga cemas dan wajah penuh harap agar Audy kembali sadar seperti biasa.
"Sayang, liat anak kita dia begitu ganteng bukan?" Brian langsung histeris saking bahagianya dengan wajah sembab sambil menatap Audy dan memperlihatkan bayinya, sementara Audy hanya merespon dengan menahan senyumnya.
"Gak apa-apa gak usah bicara dulu cukup kamu lihat anak kita aja dulu ya, itu udah buat aku seneng Audy" Air matanya kembali me
"Lekas sehat sayang, aku selalu menunggu mu" Brian mencium tangan Audy. Mama Inggit menggendong bayi yang ada di gendongan Brian, dan bayi itu berhenti menangis saat ia dekat dengan Audy.
"Anak bayi aja tau kalo dia butuh kamu sayang" Brian mengusap kepala Audy dan mencium keningnya.
"Apalagi aku, butuh kamu, kita gak boleh berpisah dalam keadaan apa pun, janji?"
"Mas ada yang mau aku bicarakan penting," kata Audy terbata-bata.
"Apa sayang?"
"Mas ini saatnya kita harus berpisah, tolong jaga anak kita ya..." perkataan Audy barusan membuat d**a Brian sakit. Baru saja ia sadarkan diri kenapa harus berbicara seperti itu.
"Kamu ngomong apa sih sayang?"
"Au apa yang kamu bicarakan? Kamu pasti bisa sembuh. Semangat Au. Aku rela ngebatalin pernikahan aku demi kamu. Ayo Au kamu pasti bisa Au," lirih Yura.