Audy tidak akan menyangka akan mendapat ucapan sebanyak ini. Rangkaian bunga berjejer mendekati pintu masuk. Di lobby kantor pun masih banyak yang berjejer, bunga-bunga dengan pot atau hand bouquet juga menghiasi ruang kerjanya. Bau harum berbagai bunga masuk ke hidung membuat Salsabila sedikit pengar.
SELAMAT ULANG TAHUN PERNIKAHAN BAPAK BRIAN HANDOKO & IBU AUDY AYUNDA HANDOKO
HAPPY ANNYVERSARY 4th BAPAK BRIAN & IBU AUDY
Itu hanya sebagian yang sempat Audy baca ketika tiba di kantornya Brian. Karena semua tulisan papan rangkaian bunga maupun kartu ucapan itu isinya nyaris sama, sebuah ucapan selamat ulang tahun pernikahan antara dirinya dan Brian.
Empat tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Siapa sangka Audy mampu bertahan dalam gelanggang pernikahan ini. Bahkan, Audy pun seakan tidak mempercayai dirinya sendiri bisa bertahan selama itu. Audy merasa bahagia karena sebentar lagi rumah tangga mereka akan semakin lengkap dengan kehadiran buah hati yang selama ini sudah dinanti-nantikan kehadirannya.
Menikah dengan salah seorang keturunan Handoko memang sulit untuk tidak mendapat atensi semacam ini. Seluruh rekanan dan media tahu kapan ulang tahun pernikahan antara seorang Brian dan Audy, dan mereka juga mengingat tanggal-tanggal lainnya. Alih-alih merasa terganggu, Audy sudah membiasakan diri menerima perhatian itu. Berat? Tentu saja. Rasa tidak pantas ia mendapat perhatian seperti itu dan sedikit ada perasaan bersalah. Brian bahkan juga tidak pernah lupa mengingat setiap tahun akan pernikahannya itu. Terbukti dengan kejadian tadi pagi, pria itu mengungkit dan mengucapkan dengan romantis akan hari pernikahannya.
“Bu, selamat, ya,” ujar seseorang yang baru saja melihat Audy tiba.
"Iya," jawab Audy sambil tersenyum.
"Pak Brian ada?" tanya Audy kembali.
"Beliau ada ko Bu diruangannya," jawab Jihan.
Brian baru saja selesai meeting. Meeting berjalan dengan baik. Laporan neraca keuangan perusahaan ini sehat dan jauh dari minus.
“Ibu tidak mau booking dinner romantis sama bapak?” tanya Jihan sebelum kembali ke ruangannya.
“Tidak usah, Han. Saya mau di rumah saja. Lagi pula Mas Brian juga lebih suka di rumah. Kalau begitu saja ke ruangan Bapak dulu ya Han, mari" Audy langsung pergi menuju ruangan Brian dengan gembira dengan membawa rantang berisi makanan untuk makan siang Brian.
Tumben udah datang jam segini?" tanya Brian menghampiri Audy.
"Jadi aku gak boleh datang jam segini nih?" sinis Audy.
"Boleh sayang, kan biasanya kamu datang kesini itu pukul 13.00"
"Aku sekalian mau izin hehe," kata Audy lalu duduk di sofa
"Izin kemana? sama siapa?" tanya Brian ikut duduk di samping Audy
"Ah selalu banyak pertanyaan," ucap Audy sambil mulutnya sedikit maju membentuk huruf U.
"Kamu lagi hamil, gak boleh kemana-mana kalo gak sama aku!" tolak Brian sedikit cemas
"Mau anter Yura ke butik, minggu depan dia mau kerumah calon suaminya," jelas Audy.
"Butik mana? jam berapa? lama gak?"
"Mas ini ya hehe kamu cocok jadi wartawan aja deh jangan jadi CEO," dengus Audy sedikit kesal diiringi tawa melihat tingkah Brian yang begitu mencemaskan dirinya.
"Aku nanya serius, sayang ih," kekeh Brian sambil mengusap kepalanya.
"Aku gak tau butik mana, kayanya butik Aini Boutique deh, biasanya dia kalo beli baju di sana, agak sore katanya, mungkin selesai dia pulang kuliah"
"Baiklah, aku antar," saran Brian.
"Jangan sayang, nanti Yura gak nyaman gimana?"
"Aku cuma antar kamu ke butik aja, kalo udah pulang telpon aku biar aku jemput"
"Siap bos!" Audy sambil tahan tawa dengan mengangkat tangannya sembari hormat.
"Ayo makan aku lapar," ucap Brian membuka bekal makan siang yang dibawa Audy itu.
Audy dan Brian akan siang bersama, Brian yang selalu menyuapi Audy makan, entah kenapa Audy elalu ingin disuapi makan dengan Brian, hmm mungkin bawaan bayi kali ya....
Beberapa menit kemudian, selesai makan..
"Aku ke kantin ya nunggu kamu disana," pamit Audy.
"Kenapa harus di kantin? di sini aja, inikan ruang kerja suamimu dan gak ada yang larang istri ku untuk menemani aku," ucap Brian sambil merangkul pinggang Audy.
"Hehehe baiklah, aku duduk di sofa aja" Audy sambil melepaskan rangkulan itu dan menatap layar hp
"Jangan terlalu sering menatap layar hp, nanti matamu rusak sayang" Brian bangun dari duduknya.
"Siap Bos ku haha," ucap Audy masih memegangi hp.
Brian cuma bisa menggelengkan kepala dan kembali duduk di kursinya sambil lanjut kerja, sementara Audy sibuk dengan hpnya.
Jam 15.00 udah waktunya Brian pulang. Brian menghampiri Audy yang tiba-tiba tidur di sofa dan masih menggenggam hp.
"Ya ampun, apa dia lelah sekali hari ini," ucap Brian mengelus-elus perutnya Audy.
"Eh Mas, udah selesai ya" sontak Audy kaget melihat Brian ada dihadapannya. Perlahan-lahan membuka kedua matanya dengan sempurna.
"Baru aja selesai. Ayo aku antar ke butik" Brian menatap Audy.
"Ayooo" Audy bangun dari sofa.
Audy dan Brian melangkah pergi, mereka berdua saling berpegangan tangan, sweet banget pokoknya. Membuat orang iri melihat kemesraan mereka.
Sampai di dalam mobil, Brian menggunakan sabuk pengaman untuk Audy dan mengambil hpnya Audy.
"Dari tadi Nyonya Audy main hp terus, aku jadi curiga ada apa di dalam hp," cecar Brian lalu memeriksa hpnya Audy.
"Wah, kau cemburu dengan ku? aku wanita dengan perut besar yang selalu di samping kamu dan kamu cemburu?"
"Iya aku cemburu sama hp kamu," lirih Brian.
"Baiklah kita kemana? langsung ke butik?" tanya Brian.
"Kata Yura langsung ke butik aja"
Brian mengangguk dan menyalakan mesin mobil, lalu mengemudi dengan pelan, demi keselamatan mereka..
Di perjalanan.
"Sayang" nada lirih Audy sambil memegangi perutnya.
"Kita jangan ke butik deh sayang, perutku, ah s..sakit," lanjut Audy sambil menahan sakit.
"Sayang kenapa?” tanya Brian panik dan menepi di pinggir jalan sambil mengelus-elus perut Audy
"Perut aku sakit, kayaknya mau lahiran," lirih Audy.
"Yaudah tahan ya, kita ke rumah sakit aja,” ucap Brian mencoba menenangkan.
Audy mengangguk dan Brian kembali mengemudi dan menuju rumah sakit, Brian sedikit ngebut mengemudi mobilnya, karna Audy terus-menerus merintih kesakitan.
Kring, hp Audy berdering, dan hp itu tiba-tiba jatuh ke bawah ke kaki Brian, Brian mengambil tanpa menepi, ia tau pasti yang telpon Yura sahabat istrinya, saat Brian mencoba mengambil hp itu ...
"S...sayang, a...awas itu ada mobil di depaaaaaaaaaaaaan," teriak Audy sambil memegangi perutnya yang semakin sakit.
Dan...
Brug...
Brug...
Brug...
Brian menabrak mobil itu dan mereka kecelakaan. Beberapa menit setelah kecelakaan.
"S..sayang," lirih Brian memegangi kepalanya.
"Ah, dia sadar, cepat telpon ambulance," ucap seseorang.
"A.. audy" panggil Brian menatap Audy yang penuh darah di wajah dan di kakinya, perlahan-lahan Brian coba bangun dan menghampiri Audy.
"Audy, bertahan sayang," lirih Brian sambil mengusap kepala Audy dan perut Audy.
Beberapa menit kemudian, ambulance datang, Brian dan Audy dibawa ke rumah sakit, Audy tidak sadarkan diri, denyut jantung semakin melemah, Brian udah sangat panik melihat Audy yang seperti itu.
Sampai di rumah sakit, mereka masuk ke ruangan berbeda, Audy ke ruang persalinan dan Brian ke ruang perawatan untuk mengobati luka dan mengecek yang lainnya.
Sejam setelah Brian diobati, keluarga Brian Handoko dan keluarga Audy datang, wajah mereka sangat pucat mendengar dan melihat kecelakaan anaknya masing-masing.
"Kamu yang tenang Brian. Audy kan sedang ditangani oleh dokter," kata
Mama inggit kepada Brian yang sedang terbaring di ruangan rumah sakit itu.
"Tapi Ma," kata Brian berusaha pergi dari ruangan itu untuk lihat kondisi istrinya, gak lama dokter datang ke ruangan.
"Dok, gimana ke adaan istri saya?" tanya Brian dengan sangat cemas.
"Hm, kondisi Nyonya Audy sangat lemah, dan saya harus memilih salah satu dari mereka," ucap Dokter dengan nada lirih dan menundukkan kepala, karena ini kabar buruk.
"APA MAKSUDNYA? PILIH SALAH SATU? SAYA MAU ISTRI DAN ANAK SAYA SELAMAT! SAYA GAK BISA MEMILIH!" Brian berbicara dengan nada suaranya naik satu oktaf bercampur kesal dengan ucapan Dokter barusan.
"Tapi kondisi Nyonya Audy sangat lemah, kalau hidup kemungkinan koma dan gak tau kapan akan sadar, karena benturan di kepala sangat keras," jelas sang Dokter.
"Dok, tolong selamatkan menantu dan cucu saya, tolong dok," ucap Nyonya Inggit dengan isak tangis.
"Betul, selamatkan Audy anak saya juga cucu saya," timpal Mamanya Audy menangis.
"Tolong dok, selamatkan anak dan cucu saya" Pak Handoko ikut cemas.
"Tolong dok selamatkan dua nyawa yang berharga untuk keluarga kami," kata Papanya Audy dengan menenangkan istrinya. Karena sedari tadi tidak berhenti menangis mengingat Audy adalah anak satu-satunya mereka.
Baik dari keluarganya Brian atau Audy. Mereka semua tau seberapa Brian dan Audy saling mencintai, mereka selalu bersama dimana pun berada, cinta mereka yang selalu tulus dan selalu jujur satu sama lain.
"Baiklah, saya akan usahakan untuk menyelamatkan Nyonya Audy dan bayi dalam kandungannya, tapi kalo ada salah satu yang pergi tolong jangan salahkan saya, saya sudah mencoba jelaskan semuanya pada kalian," ucap Dokter dengan tegas.
"Siap dok, segera selamatkan mereka," kata semua yang berada di sana dengan kompak di iringi isak tangis.
"Baiklah saya akan memulai proses persalinan untuk menyelamatkan bayi dan operasi pada kepala Nyonya Audy," pamit sang Dokter sambil menatap semuanya.
"Boleh kah saya ikut masuk ke dalam ruang operasi?" tanya Brian menatap Dokter
"Boleh hanya satu keluarga aja yang boleh masuk itu juga saat proses persalinan aja," ucap Dokter
"Ya Dok gak apa-apa yang penting saya bisa di samping istri saya" Brian dengan wajah sembabnya.
Dokter mengangguk dan melangkah berjalan ke luar ruangan menuju ruang persalinan, diikuti Brian di belakangnya dan semua keluarganya juga ikut, sementara keluarganya menunggu di luar ruang persalinan.
Persalinan di mulai, Audy melahirkan dengan cara Caesar karena Audy masih gak sadar kan diri, Brian berada di samping Audy sambil menggenggam tangan Audy dan meneteskan air matanya kembali.
"Sayang bangun, katanya mau liat anak kita lahir ke dunia ini? Ayo sayang banguuuun," lirih Brian dengan isak tangis.