Ya sudah lah yang penting Ayah bisa segera ditangani di rumah sakit itu" Ranti menghembuskan nafasnya perlahan. Gadis itu kini sudah berada di kosannya dengan perasaan sangat lega, tak menyangka satu masalahnya selesai tapi kemudian timbul masalah baru. Ternyata pikirannya terus melanglang buana ia terus termenung, masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, ia memikirkan kedepannya harus bagaimana menyetujui atau menolak pernikahan dengan pria dingin tanpa ekspresi yang sepertinya tidak menyukainya sama sekali dan bagaimana cara menyampaikannya kepada Ayah, Ibu juga adik-adiknya? Juga kepada Tante Inggit. "Oke, pahit-pahitnya kalaupun nanti misalnya aku menyetujuinya itu hanya akan pura-pura menikah, tapi apakah akan tinggal satu rumah? satu kamar? atau bahkan satu kasur? lalu apa a

