13. Sanguineous (4)

1238 Kata
Chapter 13 : Sanguineous (4) ****** AKASHI duduk di dalam mobil itu, sebelah tangannya memegang roda kemudi dan Goddammit, itu terlihat sangat seksi. Lengan kemejanya yang tergulung hingga ke siku, jam tangannya, urat-urat di lengannya… Sialan. Mei hampir menganga. “Good morning, Mei.” Siaaaaaal! Haruskah Mei rekam suara itu untuk alarmnya di pagi hari?! Oke, sial. Tidak. Bukan begitu konsepnya. Itu agak menyeramkan. Memangnya Mei seorang stalker?! Pura-pura tak terpengaruh, Mei pun menjawab dengan nada datar, “Selamat pagi juga, Akashi.” Akashi tersenyum. “Off to work?” tanyanya. Mei rasanya ingin memutar bola mata. Ya iyalah! Ini hari kerja, lho, bukan weekend! Akashi benar-benar harus disingkirkan dari dunia ini sebelum Mei sendiri yang akan menyingkirkannya. Mei akan mengurungnya di dalam lemari. Ekhem. “It is a Thursday, Akashi-kun, not the weekend.” Mei deadpanned. Akashi tertawa kecil. “Masih pakai -kun, ya.” Oh, sial. Berhentilah tertawa seperti itu atau hati Mei akan benar-benar tercuri. “Kau kelihatannya sangat lelah. Butuh tumpangan?” Akashi sedikit menyipitkan mata; dia memeriksa Mei dengan saksama. Namun, tentu saja, Mei akan menolak ajakan itu. Cukup kemarin saja Mei menerima ajakan Akashi dan berakhir stres sendiri karena terus melamunkan Akashi di apartemennya. Hari ini, kejadian itu takkan terulang. Ia takut jatuh cinta pada Akashi. “Tidak usah, Akashi. Aku baik-baik saja. Aku berjalan kaki setiap hari.” Mei berdeham, pura-pura membersihkan tenggorokannya. “Oh, begitu.” Akashi tersenyum miring. “Kau tidak membawa kendaraan?” Mei mendengkus. “Aku tidak punya kendaraan. Lagi pula, untuk apa kendaraan kalau kantorku dekat? Segala yang kubutuhkan ada di dekat sini. Aku tak terlalu memerlukan kendaraan.” Akashi tertawa kecil. Sepertinya, dia telah membuat Mei sedikit kesal. Meskipun demikian, dia tetap berbicara. “Are you okay? Aku agak khawatir denganmu. Langkahmu tampak semakin berat. High heels tidak dirancang untuk berjalan terlalu jauh seperti yang kau lakukan. What did you say again? You walk like this…every day?” …fuck. Aaarrrghhhh!!!!! Mei harus jawab apaaaa?!! Mengapa Akashi harus seteliti itu?! Bikin malu saja!! Mei spontan membuang muka, pura-pura cuek, padahal dia hanya ingin menyembunyikan warna merah yang mulai menyebar di pipinya. “Langkahku baik-baik saja, Akashi. Mungkin karena hari ini sangat panas, kau jadi berhalusinasi. Itu berbahaya, Akashi, sebaiknya kau pergi ke rumah sakit sekarang.” Akashi kontan tertawa. Pria itu tertawa lepas. Mei langsung menoleh kepadanya dan menatap tawanya itu dengan mata yang sedikit melebar. Diam-diam, Mei kembali mengagumi tawa itu. Dunia mendadak jadi lebih berwarna. Ada bunga-bunga, simbol hati, dan bulu-bulu lembut yang seakan-akan beterbangan di udara. Sial. Itu indah sekali. Selepas tertawa, Akashi pun kembali menatap mata Mei. “Agaknya, daripada menerima rayuan atau bantuan dariku, kau lebih memilih untuk menuduhku tidak waras dan menyakiti kakimu sendiri,” ujar Akashi. Pria itu merasa sangat terhibur. “Namun, aku akan melewati Kantor Pelayanan Publik. It wouldn’t trouble me to give you a ride.” Mei masih keras kepala. “Tidak usah, Akashi.” Akashi memiringkan kepala. “I also have a vanilla milkshake in my car if you’d like.” Mata Mei spontan membulat. Did he just say vanilla milkshake? ****** Oh, Mei memang murahan sekali. Dia tergoda dengan iming-iming vanilla milkshake. Sialan. Akashi memikatnya seperti: “Ada permen gratis, Nak.”, tetapi dengan gaya yang elegan. Sekarang, dengan tanpa malu, dia malah meneguk minuman itu sambil menggoyang-goyangkan kakinya tatkala duduk di dalam mobil ber-AC milik Akashi. Ah, vanilla milkshake di hari yang panas begini? Sempurna. Terkutuklah Akashi beserta segala triknya. Jas Akashi digantung di jok, tetapi dia masih mengenakan rompi abu-abu di atas kemeja putihnya. Tangan kanan Akashi berada di roda kemudi, sementara tangan kirinya beristirahat di tuas persneling. Musik dihidupkan dengan volume rendah. Pakaian yang ia kenakan terlihat sangat pas di tubuhnya, seolah-olah diciptakan khusus untuknya. Tidak, Mei tidak sedang memandangi area selangkangannya atau pahanya yang berukuran ideal. Tidak, Mei tidak melihat semua itu. Tiba-tiba, Akashi membuka suara. “Apa hobimu, Mei?” Mei kontan batuk-batuk sambil menyembunyikan rona merah yang terkutuk yang sepertinya akhir-akhir ini mudah muncul di wajahnya. Setelah batuk-batuk, Mei langsung menormalkan ekspresi wajahnya seolah-olah tak terjadi apa-apa. Dia menatap ke depan, lalu menjawab, “Hobiku membaca, Akashi.” Oh, semoga Akashi tidak sadar kalau Mei memperhatikannya. Namun…tunggu sebentar. Pertanyaan Akashi tadi…agak di luar dugaan. Akashi bertanya soal hobi dengan santai, tiba-tiba, seperti menanyakan kabar harian. Siapa yang menanyakan hobi dengan cara seperti itu? Akashi, apparently. “Oh ya?” Akashi menoleh kepada Mei sejenak dan tersenyum. “Apakah kau memiliki banyak koleksi buku?” Mei pun ikut menatap Akashi, lalu menggeleng. “Tidak juga. Aku lebih suka membaca buku di perpustakaan atau toko buku. Aku sering pergi ke toko buku yang ada di daerah sini.” Akashi mengangguk seraya tersenyum. Dia tampak tertarik pada fakta itu. “That sounds just like you. Di mana lokasi toko bukunya?” Oh, tidak. Mei tak mau memberitahu Akashi soal itu. Dia tak mau oversharing. Selain itu, dia juga takut waktu rileksnya jadi berantakan karena Akashi, padahal belum tentu Akashi akan mengganggunya di toko buku itu. Dia saja yang berlebihan. Terlalu percaya diri. Seseorang harus menampar Mei sekarang juga agar dia sadar. “Aku tak mau memberitahumu.” Mei menjawab seraya memasang ekspresi datar. “Yang jelas, ada di dekat sini. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki.” Akashi tertawa kecil, dalam dan rendah, hampir membuat Mei menelan ludah. “Hm…” Akashi memiringkan kepala. Keningnya berkerut sedikit, lalu ia tersenyum. “It wouldn’t be hard for me to deduce which bookstore you visited, considering it’s a rather small area. Kau bilang kau tidak punya kendaraan. Kau juga bilang bahwa lokasinya ada di dekat sini. A walking distance, so Shouzen Bookstore, I presume?” Mata Mei membulat. Jantungnya sempat hampir berhenti berdegup. Dia meneguk ludah, pipinya hampir merona akibat kejutan itu. This guy was just as terrifying as he was hot. Damn. Mengapa analisis dan observasinya itu terdengar…sangat seksi? “That’s sort of creepy, Akashi-sama,” ujar Mei. Akashi kontan tertawa. “Forgive me for wanting to get closer,” jawab Akashi. “So...are you calling me with the suffix -sama now?” Mei menghadap ke depan dan mendengkus. “Because you look like royalty or something.” Akashi tersenyum miring. “Ini sudah kedua kalinya kau menyebutku bangsawan. Do I really look like one?” “Yes, you do.” Mei menjawab seraya menoleh kepada Akashi. Ekspresinya benar-benar datar. Akashi kembali tertawa kecil. Dua detik kemudian, mobil Akashi mulai menepi di depan Kantor Pelayanan Publik. Mobil itu berhenti tepat di depan gedungnya. Oh, mereka sudah sampai. Mei pun menoleh ke samping, melihat kantornya yang sudah ada di depan mata. Mei menghela napas samar; di satu sisi, dia merasa lega karena akan segera lepas dari jebakan Akashi. Namun, di sisi lain, dia masih ingin memandangi jelmaan dewa seksi yang ada di sebelahnya itu. Saat ini…penampilan Akashi tampak sangat menyegarkan mata. Dia selalu tampak flawless, megah, tetapi kalau dilihat pagi-pagi begini… Double kill. Baiklah, Mei, kau benar-benar harus keluar dari mobil ini. Mei pun melepas sabuk pengamannya. Begitu sabuk pengaman itu terlepas, Mei berencana untuk mengucapkan terima kasih kepada Akashi dan langsung keluar dari mobil itu. Namun, sayangnya, sebelum Mei sempat mengucapkan terima kasih, tiba-tiba saja Akashi mencondongkan tubuhnya ke arah Mei. Pria itu mendekati Mei, membuat Mei terkejut dan refleks mundur hingga punggungnya menabrak pintu mobil. “A—Akashi?!” Akashi memiringkan kepalanya, lalu tersenyum miring. “Mei,” panggilnya dengan suara rendah. “Can I have your number?” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN