Chapter 12 :
Sanguineous (3)
******
MATA Kazama melebar. “Oh. Maafkan aku, Boss. Aku ingin Anda mendengar sendiri kebohongan yang keluar dari mulutnya. Aku tadi sudah mencoba untuk menelepon Anda beberapa kali, tetapi tidak tersambung… Untungnya, teleponku yang terakhir bisa tersambung padamu.”
Ah, itu tidak tersambung karena Akashi sedang bersama Mei. Mengantar Mei pulang.
Akashi bernapas samar. “Dia hanya rekanan. Bukan bagian dari keluarga kita. Habisi saja.”
“Baik, Boss.” Kazama kontan menunduk hormat, diikuti oleh seluruh anggotanya. Suara Kazama terdengar sangat tegas. “Maafkan kami.”
Akashi diam. Dengan tenang, dia kembali memegang jasnya dan mulai berdiri. Dipandanginya dinding hitam yang ada di ujung sana; dinding yang berhadapan dengannya. Di dinding itu terdapat relief sebuah tangan yang memegang seekor ular.
“Orpheus, ya?” ujar Akashi pelan. Matanya menatap relief itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun, satu hal yang pasti adalah: kilat di matanya terlihat begitu tajam…seolah-olah bisa mengulitimu di tempat.
Akashi pun berbalik. Kazama mengangkat kepalanya, menatap punggung tegap Akashi yang lebar itu seraya menunggu apa yang akan Akashi katakan selanjutnya.
Beberapa detik kemudian, suara Akashi pun kembali terdengar.
“Kazama,” ujarnya. “Ambil semua uang yang kuberikan pada Masahito…serta yang dia selundupkan dariku. Setelah itu, bunuh istrinya. Mereka bekerja sama.”
Mata Kazama membeliak.
******
Mei berendam di bathtub sambil melamun. Gadis itu tak bergerak untuk membersihkan tubuhnya sama sekali; dia hanya duduk diam di bathtub itu, matanya menatap ke depan, tetapi pikirannya melayang hingga ke angkasa.
“I like feisty.”
“Memangnya aku seperti apa, Mei?”
“Forgive me. I just enjoyed talking with you. Couldn’t help myself.”
“Okay, Princess. I won’t do it again.”
“Baru kali ini ada yang memanggilku dengan akhiran -kun. Ternyata, aku cukup menyukainya.”
“Bagaimana dengan pacar?”
“Tidakkah kau terlalu cantik untuk menjadi single?”
“I can honestly say that evading any kind of flirting whatsoever seems to be a skill of yours, Mei.”
“Your boyfriend is one hell of a stupid person.”
“Suit yourself, my lady. May I offer you a ride?”
“I will drop a woman off right in front of her house, my lady, to ensure her safe return.”
“Kau tidak akan pernah merepotkanku, Mei.”
“Looking forward to meeting you next time.”
Oh, damn it. Deretan kata-kata itu masih Mei ingat dengan jelas, tanpa cacat sama sekali. Suara dan ekspresi Akashi saat mengatakan itu juga terekam jelas di benak Mei. It’s very haunting. Sekarang, ketika Mei pikir-pikir lagi…itu bukan konversasi biasa. Itu flirting, ‘kan?! Akashi jelas-jelas menikmati semua itu; dia berendam di dalam sensasinya. Sial. The audacity of that man!! Is he a flirt machine?!
Pria itu benar-benar menghancurkan segala pertahanan Mei. Dia menginvasi pikiran Mei tanpa izin. Itu ilegal. Mei harus menelepon pihak berwajib. Pria itu sungguh berbahaya untuk jantung dan keperawanannya. Eh, tunggu. Bukan keperawanan. Dia takkan memberikan keperawanannya kepada seorang pria secepat itu. Let’s call interpol immediately. Or 911. Oh, no. This is not America. Let’s call 110 then.
Oke, wait. Tenang dulu. Setidaknya jangan menghubungi pihak berwajib dalam keadaan telanjang.
Mei pun menghela napas. Dia mulai bersandar di bagian kepala bathtub-nya.
Today is a long day. Periodt.
Pertemuan dengan Akashi…terasa seperti instant attraction. Mei menatap air yang agak beriak di atas tubuhnya dengan tatapan kosong, soalnya pikirannya masih ada di awang-awang. Lebih tepatnya, pikirannya tersangkut di sepasang mata merah yang tadi sore memenjarakan tubuhnya.
Tiba-tiba, Mei teringat bagaimana dia bertanya pada Akashi:
“Apakah kau merupakan anak seorang raja, bangsawan, atau sesuatu sejenis itu?”
“Apakah kau memimpin sesuatu? Apa saja, pokoknya memimpin sesuatu. Do you?”
…dan Akashi tertawa. Pria itu bahkan sampai bercanda dengan menyebut Ranger Merah. Sialan!! Apa hubungannya Power Rangers dengan semua ini?! Leave Power Rangers out of this, you sexy red-eyed menace!!!
Pipi Mei spontan memerah. Oh, Tuhan, Mei malu sekali!! Mengapa pertanyaannya jadi terdengar begitu konyol?! Lagi pula, mana ada kerajaan di kota ini! Sialan, Mei harus memberi pelajaran kepada mulutnya sendiri. Dia harus menampar mulutnya sepuluh kali setelah mandi nanti. Satu tinjuan di pipi kanan sepertinya juga bagus.
Mei pun menunduk dan menenggelamkan wajahnya ke air. Hal itu memunculkan gelembung-gelembung ke permukaan. Pipinya memanas…seolah-olah akan mengeluarkan asap. Dia harus mendinginkan wajahnya (atau bahkan seluruh bagian kepalanya) sebelum mengutuk dirinya sendiri dengan boneka voodoo yang dia simpan di laci meja riasnya. Saat SMA, dia membeli boneka voodoo itu iseng-iseng karena ingin mengutuk gadis dari kelas sebelah yang mencoret-coret tasnya.
Ah, pokoknya, Mei benar-benar kesal sekaligus malu dengan keadaan ini…tetapi di sisi lain, dia sangat penasaran dengan Akashi Roan Kaiser. Dia terus-menerus memikirkan pria berambut merah itu.
His mysterious and majestic vibe. His alluring red color that screams danger.
Everything seems like…a natural disaster.
******
Keesokan harinya, Mei pergi bekerja seperti biasa. Gadis itu berjalan santai ke kantornya, melewati pedestrian walkway yang tidak terlalu ramai. Mei tinggal di kota yang penduduknya tidak banyak, jadi meskipun ini adalah jam-jam di mana masyarakat keluar rumah untuk bekerja atau ke sekolah, di daerahnya jalanan terasa cukup lengang.
Pagi ini, Mei hanya ingin meredakan stres dan kelelahan mental yang timbul akibat memikirkan Akashi, that sexy beast.
Entah karena stres atau apa, hari ini tubuh Mei kurang fit. Dia tidak semangat seperti biasanya. Kejam sekali hidup ini. Beberapa hari yang lalu, dia stres karena patah hati. Sekarang, dia stress karena memikirkan Akashi. Lord, please have mercy.
Kaki Mei juga sakit. Biasanya, dia akan baik-baik saja mengenakan high heels ke kantor. Mengapa hari ini segalanya terasa melelahkan? Kakinya pun jadi ikut-ikutan sakit.
Panas matahari terasa sangat menyengat di trotoar tempat Mei berjalan. Mei bersyukur akal sehatnya masih menuntunnya untuk membawa deodoran hari ini. Dia memang tak pernah bisa bertahan dengan panas. Siapa pun yang memutuskan untuk memalsukan laporan cuaca hari ini pantas menderita. Seperti kehilangan uang lima puluh ribu yen atau celananya robek di depan umum.
Seharusnya suhu di luar hari ini sekitar tiga puluh derajat. Bukan seratus derajat.
Tiba-tiba, suara mesin yang bergemuruh pelan membuat Mei terkejut. Mei menoleh ke sumber suara.
Sumber suara itu adalah sebuah mobil Lamborghini Aventador berwarna hitam. Mobil itu terlihat sangat seksi, tetapi di sisi lain juga terlihat…misterius dan futuristik.
Mei tersentak. Mobil itu berhenti di sebelahnya, membuatnya refleks ikut berhenti berjalan. Sejak kapan ada mobil semewah ini di kotanya? Siapa pemilik mobil ini? Alis Mei langsung menyatu.
Satu detik kemudian, jendela mobil itu diturunkan.
Oh, sial. Tuhan memang tak pernah benar-benar berada di pihak Mei sejak dua hari yang lalu. Tatkala jendela mobil itu diturunkan, Mei langsung melihat objek lamunannya belakangan ini…tengah duduk di dalam mobil itu. Mengendarai mobil itu.
Akashi Roan Kaiser. []