Chapter 10 :
Sanguineous (1)
******
AKASHI berjalan masuk ke hotel bintang lima itu diikuti dengan delapan pria berpakaian hitam yang tadi menyambutnya di luar. Begitu ia melewati ambang pintu, seluruh staf di lobi langsung membeku; mereka menunduk hormat padanya dan memberinya jalan.
Udara di sana terasa sangat berat, seolah-olah atmosfer itu sendiri tunduk pada kehendaknya. Tekanannya begitu tinggi, padahal dia tak mengatakan apa-apa. Dia hanya lewat; mata elangnya yang berkilat itu menatap lurus ke depan. Tajam, menembus keheningan. Dia tak tersenyum, tak juga menunjukkan keramahan yang berarti. Dia berjalan santai…dan ketika sudah berada di ujung, ia pun belok kanan dan masuk ke lift.
Di sepanjang jalan, Akashi mengeluarkan aura yang gelap…dan kedalaman yang tak berujung. Dia terlihat seperti makhluk yang luar biasa tampan…tetapi berasal dari kegelapan. Kehadirannya terasa bagai badai dalam setelan jas yang dirancang khusus. Bagai seorang tiran elegan yang terpahat dari bayangan.
Parfumnya pun tercium bagai rahasia gelap yang memabukkan. Ia lebih seperti pertanda daripada manusia; seperti lautan yang tersamarkan air tenang, tak terduga dalamnya, tetapi mustahil untuk ditolak. Seperti misteri yang memikat.
A dark abyss.
Semua orang di sana sangat ingin mengangkat kepala mereka demi melihat sosoknya, tetapi entah mengapa mereka tak bisa melakukannya. Seolah-olah akan ada sesuatu yang terjadi…jika mereka melakukan itu.
Meskipun demikian, sebenarnya Akashi tak pernah menyentuh staf-staf hotel itu. Dia adalah sang pemilik yang jarang datang ke sana, tetapi amat dikenali wajahnya. Sejujurnya, nama Akashi Roan Kaiser cukup terkenal, tetapi sosoknya akan begitu jarang kau lihat, kecuali jika kau bekerja di salah satu perusahaannya…atau kau terlalu up-to-date soal manusia-manusia influential di negaramu.
Ah, tetapi, jika kau pernah melihat mata dan rambutnya yang berwarna merah itu…kau akan mengingatnya selamanya.
Wajahnya sangat tampan. Rahangnya tajam, hidungnya mancung, bentuk matanya seperti mata siren yang sensual dan penuh misteri…tetapi tatapannya tajam seperti elang. Saat tatapannya bertemu denganmu, kau akan merasa seolah-olah dikupas habis. Ditelanjangi, ditelusuri hingga ke pikiran terakhirmu yang paling kau sembunyikan. Terjebak di dalam tatapan matanya akan membuat tubuhmu langsung mengirimkan signal ‘bahaya’; teror akan menjalar ke pembuluh darahmu. Kau akan takut, tersudut…tetapi diam-diam berharap bahwa dia akan terus menatapmu karena…
…itu sangat hot dan mendebarkan. Sensasinya luar biasa.
Oh, manusia memang suka sesuatu yang thrilling. Ketegangan yang akan membuat mereka gila, tetapi ketagihan.
Begitu sosok Akashi sudah benar-benar masuk ke lift, semua orang yang ada di lobi itu pun langsung menegakkan tubuh mereka kembali dan mengembuskan napas lega. Mereka baru ingat untuk bernapas. Tekanannya begitu tinggi, jantung mereka berdebar-debar, tetapi sebenarnya…itu tidak sepenuhnya karena rasa takut.
Ada juga rasa hormat, rasa ingin tahu, rasa segan, serta…
…kekaguman.
It’s something dangerously close to desire.
Para wanita yang ada di sana jelas terpukau…tetapi mereka belum berani mengeluarkan suara. Di dalam keheningan yang Akashi tinggalkan itu, mereka hanya bisa memandangi sisa-sisa eksistensi Akashi dengan mulut yang separuh terbuka.
Segala sesuatu yang terkandung di dalam aura Akashi jelas meneriakkan bahaya, tetapi entah mengapa, para wanita itu mulai meneguk ludah mereka dan berbisik di dalam hati:
“Oh, he could ruin me. Ruin me, sir, and I’ll say thank you.”
‘Cuz damn.
He’s Leviathan incarnate, draped in the form of a man. Lethal. Majestic. Darkness bows to him.
Menggunakan lift besar tersebut, Akashi dan kedelapan pria yang mengikutinya itu pun turun ke Lower Ground. Tombol LG menyala di lift itu.
Tak lama kemudian, terdengarlah suara ‘ding’ dari lift itu. Pintu lift itu pun mulai terbuka.
…dan di balik pintu itu…
…semuanya gelap.
Hanya ada sedikit penerangan di lantai itu. Penerangannya berupa lampu-lampu putih kecil yang sesekali berkedip. Seisi lantai itu berwarna hitam: lantainya, dindingnya, atapnya…
…semuanya hitam.
Lantai itu bersih. Spotless. Di sana tak ada furnitur…maupun staf hotel. Tidak ada orang sama sekali.
Sepi.
Langkah kaki Akashi dan kedelapan pria yang mengikutinya itu menggema di kesunyian. Mereka berjalan ke tengah-tengah Lower Ground yang sangat luas itu…dan masuk ke sebuah liang petak yang ukurannya cukup lebar. Di liang itu terdapat tangga untuk turun ke lantai yang lebih dalam.
Biasanya, liang itu tertutup dan tersamarkan. Namun, malam ini liang itu terbuka.
Akashi memasuki liang itu…dan menuruni tangga kecilnya satu per satu. Saat ia melangkah turun, cahaya dari Lower Ground mulai semakin remang-remang, hanya meninggalkan bayangan yang menempel pada sosoknya.
Ketukan langkah kaki mereka semua masih terdengar jelas, terutama karena mereka sedang menuruni tangga.
“Yang menunggu di sana adalah Tuan Kazama, Boss,” ujar salah satu dari delapan pria itu. Dia berjalan tepat di belakang Akashi, di balik bahu kanan Akashi.
Akashi tersenyum. Senyumnya terlihat begitu tenang. Rileks.
Dia pun mengangguk.
“I see.”
Tak lama kemudian, mereka pun sampai. Tangga itu membawa mereka ke sebuah ruangan yang lebih kecil. Ruangan itu memiliki getaran yang sama dengan Lower Ground; semua areanya berwarna hitam, tetapi udaranya jauh lebih dingin. Selain itu, ada bau besi yang cukup pekat di sana.
Lampu neon pucat tergantung di langit-langit ruangan. Dinding sebelah kanan dan kiri ruangan itu dipenuhi dengan relief.
Akashi menghentikan langkahnya tatkala telah menjejaki ruangan itu. Di depan sana, di tengah-tengah ruangan…
…ada seorang pria paruh baya yang terikat di sebuah kursi besi.
Pria itu sudah terlihat babak belur. Wajahnya bengkak dan membiru. Kepalanya berdarah. Gigi depannya lepas. Dia memuntahkan darah tepat ketika Akashi datang. Di samping pria itu, berdirilah Kazama, seorang capo dari area itu. Kazama sedang menyeringai; dia memegang sebuah pisau seraya menjambak rambut pria itu. Anak-anak buah Kazama berdiri di sekeliling ruangan.
Begitu menyadari kedatangan Akashi, Kazama beserta seluruh anak buahnya langsung menghadap ke depan. Mereka menunduk hormat kepada Akashi…lalu menyapa Akashi serentak.
“Selamat datang, Boss.”
Akashi mengangguk singkat. Mata merahnya justru menatap pria paruh baya yang sedang terluka di tengah-tengah ruangan itu. Rambut pria itu ikal. Tubuhnya gemuk. Dia memakai suit, tetapi percuma saja karena jas dan kemejanya dipenuhi dengan darah dari mulutnya sendiri.
Meskipun sedang sekarat, begitu melihat Akashi…pria itu langsung bergidik. Dengan rasa takut yang naik sampai ke ubun-ubun, pria itu langsung membungkuk di kursinya dan berkata dengan suara yang bergetar. Dia hampir menangis; keringat dingin sebesar biji jagung mulai muncul di keningnya.
“T—Tuan Akashi! Maafkan aku—kumohon maafkan aku!! Aku tidak bermaksud seperti itu, aku—”
Tamparan keras mendarat di pipi pria itu. Kazama menamparnya dengan sangat kuat. “Hei, hei… Jaga mulutmu di depan Boss. Kau pikir dengan siapa kau berbicara?”
“TOLONG MAAFKAN AKU, AKU—”
Kazama menamparnya dengan keras lagi. “DIAM!”
Setelah mendengkus, Kazama pun menoleh kepada Akashi dan menunduk hormat lagi. “Maafkan kami, Boss.” []