Chapter 9 :
Calm and Deep Ocean (2)
******
JADI, saat ini Mei sedang berada di dalam mobil Akashi. Mei, out of nowhere, mengenal seorang pria asing yang luar biasa, lalu mereka bertemu dalam dua hari berturut-turut dan akhirnya Mei diantar pulang oleh pria itu.
Great. Itu mulai terdengar seperti Mei memberikan dirinya kepada pria asing dengan sangat mudah, semudah membalikkan telapak tangan.
Perjalanan dengan mobil itu sebenarnya cukup menyenangkan meskipun Mei tahu bahwa itu takkan lama. Mei duduk di jok penumpang depan, di sebelah Akashi, dengan nyaman. Mobil Akashi sangat sejuk dan wangi. Sebenarnya, wangi tubuh Akashi tersebar di dalam mobil itu dan tidak, Mei tidak bermaksud untuk mengirupnya lebih dalam. Namun, ekhem, dia pasti betah kalau berada di dalam mobil itu sampai malam.
Masuk ke mobil Akashi berarti juga masuk ke teritorial pria itu. Teritorialnya dipenuhi dengan wangi tubuhnya. Begitu kau masuk ke teritorial itu, kau akan merasa seperti dipeluk olehnya karena wangi tubuhnya tersebar di sana.
Mei betul-betul tidak akan mencari tahu merk parfum apa yang Akashi pakai.
Namun, kalau Mei cari di Google, mungkin akan ada sedikit infor—
Ekhem.
Mei mulai menoleh kepada Akashi yang duduk di sampingnya. Memperhatikan seluruh gerakan tubuh Akashi yang sangat menggoda; lengan Akashi yang berurat saat memegang roda kemudi, mata merahnya yang tajam, tubuhnya yang berotot, rambutnya yang disisir ke belakang, tulang pipinya yang tinggi, rahangnya yang tegas…
…and not to mention his incredibly chiseled face.
Ya ampun. Ayo singkirkan pikiran-pikiran yang tidak senonoh, Mei.
Akashi menggantung jasnya di jok yang ia duduki. Pria itu hanya mengenakan vest di luar kemeja dan dasinya. Bentuk tubuhnya tercetak jelas dengan pakaian seperti itu.
Mei betul-betul menahan dirinya untuk tidak memperhatikan tubuh kekar Akashi secara detail. Akashi bisa memergokinya dan menikmati situasi di antara mereka seperti tadi.
Akan tetapi, diam-diam…Mei sesekali menoleh kepada Akashi. Menatap Akashi dengan intens; memperhatikan wajah Akashi seolah ingin membaca sesuatu.
Namun, Mei tidak bisa membaca apa pun, kecuali apa yang sudah ia ketahui dalam dua hari belakangan. Membaca seseorang seperti Akashi tentunya merupakan tugas yang sulit. Makanya, kesan yang Mei dapatkan selama dua hari ini tentu merupakan informasi yang luar biasa.
Akashi adalah orang yang gentle, ramah, dan tenang. Reaksi serta ekspresinya tidak berlebihan, tidak juga kurang. Layaknya samudra, dia tenang dan indah, tetapi di sisi lain, dia tampak begitu dalam dan misterius.
Seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang 99 persen masih tersembunyi di dasar.
Entah apa itu.
Meskipun Akashi sempat melontarkan beberapa rayuan kepada Mei, kesan Mei pada Akashi tetap tidak berubah. Mungkin, aksi-aksi rayuan yang seksi itu hanyalah nol koma sekian persen dari seluruh hal yang Akashi simpan.
Di balik mata berwarna merahnya itu, seolah-olah ada kegelapan yang tak berujung. Kegelapan yang mungkin akan menenggelamkan Mei selamanya.
Namun, meski sudah mendapat kesan yang seperti itu, Mei belum ada niat untuk betul-betul menolak keberadaan Akashi.
Pria itu terlalu sempurna untuk dibiarkan.
Well, the dangerous and mysterious ones are always the most attractive.
Setelah beberapa detik memperhatikan Akashi, Mei pun mulai bersuara.
“Akashi. Apakah kau merupakan anak seorang raja, bangsawan, atau sesuatu sejenis itu?”
Akashi sontak tertawa renyah. Perjalanan yang tadinya terasa tenang dan menyenangkan, kini jadi semakin menyenangkan karena suara tawa Akashi.
Iya, iya! Mei tahu kok kalau pertanyaannya sangat konyol. Mei tahu banget! Akan tetapi, melihat respons Akashi yang hanya tertawa dan tidak menjawab apa-apa, Mei jadi sangat malu. Dia merasa seperti orang i***t; pipinya kontan memanas.
Namun, berdeham satu kali, Mei pun langsung menormalkan ekspresinya lagi dan berkata, “K—Kalau begitu, apakah kau memimpin sesuatu? Apa saja, pokoknya memimpin sesuatu. Do you? Kau terlihat seperti salah satunya.”
Aura kebangsawanan serta kepemimpinanmu kuat sekali, soalnya. Itulah yang mau Mei sampaikan.
“Hmm… Pemimpin, ya?” Akashi menatap ke depan, lalu tertawa kecil. “Maksudmu seperti Power Rangers? Ranger Merah adalah pemimpinnya.”
Kontan saja ekspresi Mei jadi betul-betul datar karena merasa kesal. “Aku serius, Akashi-kun.”
Akashi lagi-lagi tertawa.
Kalau begini, Mei rekam sajalah suara tawanya itu. Biar dia tahu rasa.
Namun, sebelum Akashi sempat menjawab pertanyaan itu, ternyata mereka sudah sampai di samping apartemen Mei. Mei—yang kebetulan melihat ke luar jendela saat itu—kontan memberitahu Akashi, “Oh, ini apartemenku, Akashi. Kau bisa menurunkanku di sini.”
Akashi sedikit memiringkan kepalanya—melihat ke arah yang sama—lalu matanya sedikit melebar. “Ah, oke. Tunggu sebentar, biar aku berbelok sedikit.”
Mei menolak. “Tidak, tidak perlu. Aku bisa turun di si—”
“I will drop a woman off right in front of her house, my lady,” jawab Akashi. “to ensure her safe return.”
Sial. Mudah-mudahan warna merah di pipi Mei tersamarkan oleh sinar matahari yang sudah berwarna oranye.
He’s so damn perfect. That’s illegal.
Tahan, Mei. Sebentar lagi kau akan turun.
Ketika sudah sampai tepat di depan apartemen Mei, Akashi pun menghentikan mobilnya. Pria itu baru saja ingin keluar—ingin membukakan pintu mobil untuk Mei—tetapi Mei langsung menghentikannya. “Tidak perlu, Akashi. Aku tidak ingin merepotkanmu lebih dari ini.”
“Kau tidak akan pernah merepotkanku, Mei.”
Stupid, heart, calm the f**k down.
Mei berdeham, menyembunyikan rona merah terkutuk yang tampaknya muncul dengan mudah di wajahnya hari ini. “Tidak usah, Akashi. Tetaplah di sini. Aku tidak apa-apa.”
Akhirnya, Akashi pun menurutinya.
Mei lantas melepaskan seat belt-nya, lalu menoleh kepada Akashi. “Terima kasih atas tumpangannya, Akashi.”
Akashi mengangguk. “Hmm. You’re welcome, Mei. It was a pleasure spending time with you today.”
The pleasure was all mine, you f*****g sexy creature—
Mei meneguk ludahnya; dia mulai gugup. Namun, dia tetap berusaha untuk merespons Akashi dengan tenang dan normal. “Aku duluan, ya, Akashi. Hati-hati dalam perjalanan pulangmu.”
Akashi kembali mengangguk pelan, lalu tersenyum. “Thank you, Mei. Looking forward to meeting you next time.”
Oh, so there ‘is’ a next time.
Mei mengangguk. Tak menghiraukan rengekan di belakang kepalanya yang terus menyuruhnya untuk tetap berada di dekat Akashi.
“Hm. Well, then.” Respons Mei akhirnya sesingkat itu.
Mei pun beranjak keluar dari mobil Akashi. Dia menutup pintu mobil itu kembali, lalu melambaikan tangannya kepada Akashi dengan pelan.
Akashi tersenyum; pria itu ikut melambaikan tangannya kepada Mei. Ia lalu melihat Mei yang mulai berbalik dan berjalan ke arah tangga apartemennya.
Akashi memperhatikan apartemen itu dengan saksama. Lokasinya, gedungnya, suasananya; seluruh detailnya. Dilihatnya Mei yang sedang menaiki tangga menuju ke lantai dua apartemen itu.
Setelah sampai di lantai dua, Mei pun berjalan sejenak dan akhirnya sampai di depan salah satu pintu. Dia membuka kunci pintu itu, lalu masuk ke sana dan menutup pintunya kembali.
Oh.
Jadi, dia tinggal di unit nomor dua dari tangga.
Akashi tersenyum miring.
Dia memang menunggu di sana. Memperhatikan dan mengawasi Mei dari dalam mobil. Setidaknya sampai dia melihat di mana unit apartemen Mei.
Saat telah melihat segala hal yang ingin dia ketahui, dia pun mengembuskan napasnya samar.
Dia lalu tertawa kecil. “Such a cute baby doll.”
******
Akashi turun dari mobil hitamnya. Setelah mengantar Mei pulang, pria itu langsung mengendarai mobilnya menuju ke suatu tempat. Kini, langit sudah gelap.
Mobil itu berhenti di depan sebuah hotel bintang lima.
Akashi tidak memakai jasnya. Jas itu menggantung di lengannya tatkala sepatu berwarna hitamnya menjejak tanah. Ia lalu berdiri dan menutup pintu mobilnya.
Saat ia turun, ada delapan orang pria yang sudah berbaris di depannya. Delapan pria itu menyambutnya dengan menunduk hormat; empat orang berbaris di kanan dan empat orang lagi berbaris di kiri. Mereka semua memakai pakaian serba hitam, dilengkapi dengan topi fedora.
Meski cuaca tampak baik-baik saja tadi sore, kini agaknya cuacanya mulai mendung. Ada beberapa kilat yang sudah muncul di langit sejak tadi. Suara gemuruh petir terdengar sesekali.
Kedelapan pria yang berbaris di depan Akashi itu mulai bersuara. Mereka berbicara dengan tegas.
“Selamat datang, Boss.”
Akashi hanya mengangguk singkat. “Hm.”
Setelah itu, salah satu dari kedelapan pria itu mulai maju ke depan dan menghadap ke Akashi. Dia masih menunduk hormat, tetapi kini ia meletakkan sebelah tangan kanannya di d**a. Di atas jantung.
Lantas, dia pun mulai berbicara. Melaporkan sesuatu kepada Akashi dengan suara yang tergolong pelan, tetapi terdengar sangat jelas.
“Thank you for your hard work, Boss,” ujarnya. “Persiapan sudah selesai. Dia sudah ada di dalam. In the underground.” []