Chapter 8 :
Calm and Deep Ocean (1)
******
MATA Mei melebar.
Pada momen itu, debaran jantung Mei terdengar sangat aneh. Debarannya kencang sekali. Di hadapannya, dia melihat Akashi Roan Kaiser—dengan seluruh pesona dan kekuasaannya—tengah duduk bersantai sambil menatapnya dengan lekat. Memenjarakannya di dalam dunia yang dikelilingi dengan warna merah.
‘Pemandangannya juga bagus’?
Tidak, bukannya Mei mau percaya diri atau bagaimana, tetapi mengapa saat mengatakan itu, Akashi menatap Mei? Dia ingin meminum kopinya—gelas kopi itu hampir menempel ke bibir seksinya—tetapi dia justru menatap Mei dengan intens seraya tersenyum miring. Tatapannya seakan bisa menembus jiwa Mei.
Yes, he outright smirked then and there.
Selain itu, lengan kemeja Akashi digulung hingga ke siku; Mei bisa memandang lengan Akashi yang berotot, berurat, dan menarik itu. Ada urat-urat nadi yang menonjol dari lengan bawahnya.
Mei tahu semuanya. Bukan karena Mei memperhatikan setiap gerakan pria itu (sekali lagi, tentu saja tidak), tetapi karena...pesona pria itu sudah di luar nalar.
Sial. Sepertinya, pipi Mei merona. Ada bisikan di belakang kepala Mei yang hampir menyuruhnya untuk mendekati Akashi sekarang juga dan menyentuh otot—
Oke, tidak. Tidak. Tahan dulu. Akashi mungkin tidak bermaksud seperti itu; Mei mungkin hanya salah paham.
Iya, hanya salah paham.
Akashi kini sedang meminum kopi, tetapi matanya konsisten menatap Mei dengan sangat lekat. Sangat dalam. Penuh dengan misteri yang sukar untuk Mei pecahkan.
Dia sedang mengawasi Mei.
Seolah-olah dia ingin memberitahu Mei bahwa Mei ada di dalam radarnya. Memastikan bahwa Mei ada di dalam daftar pantauannya; bahwa dia menyadari keberadaan Mei dan akan mengawasinya.
Kou pernah bilang pada Mei bahwa terkadang imajinasi Mei itu terlalu aktif dan Mei menyetujuinya. Itu cukup luar biasa mengingat dia bisa berpikiran aneh saat ekspresi wajahnya benar-benar blank.
Akan tetapi, seluruh tindakan yang Akashi lakukan itu betul-betul obvious. Betul-betul mudah untuk disadari. Itu jelas-jelas bukan imajinasi Mei belaka. Pria berambut merah itu seolah sengaja memberi tahu Mei bahwa dia sedang memperhatikan Mei dengan motif tersembunyi. Dia seolah sengaja menatap Mei dengan lekat, berbicara soal ‘pemandangan’, dan tersenyum miring.
Karena tak ingin terlihat sangat terpengaruh dengan semua gerakan Akashi, Mei pun mulai berdeham—dan berharap suaranya tidak serak—sebelum mengatakan, “O—Oh, begitu. That’s kinda strange, but okay. Good for you, then.”
Akashi tertawa kecil. “Anehnya bagaimana?”
Masih dengan ekspresi datar, Mei pun menjawab, “Kau kelihatan kaya. Café ini, kan, bukan tempat yang mewah. Agak aneh saja melihat orang dengan penampilan sepertimu ada di sini.”
Kali ini, suara tawa Akashi bisa Mei dengar dengan jelas. Oh, lord. Rasanya seperti para malaikat berkumpul dan melemparkan suara-suara indah mereka untuk membuat tawa milik Akashi. It was so heavenly. “Itu terdengar seperti kau mau mengusirku, Mei.”
Kalau saja Mei bisa merekam suara tawa itu untuk alarmnya.
Okay, that was borderline creepy, Mei.
Sebentar. Nanti dulu kagumnya. Respons dulu!
Mata Mei melebar. “Tidak, maksudku bukan—"
“It’s okay, Mei,” ujar Akashi seraya memiringkan kepalanya. Lagi-lagi, pria itu tersenyum miring. “I like feisty.”
Was—was he flirting with Mei just now?
Tidak, pipi Mei tidak memerah karena kalimat itu. Sama sekali tidak.
“Seleramu agak aneh, kalau begitu,” komentar Mei. Betul-betul tak mengizinkan dirinya untuk kalah dengan pesona Akashi. Dia harus melawan spesimen sempurna di depannya ini kalau dia tak mau jatuh cinta. “Kupikir, pria sepertimu akan menyukai sifat yang lembut dan elegan.”
Tiba-tiba tubuh Akashi yang seksi dan maskulin itu bergerak. Pria itu kembali memajukan tubuhnya…lalu menumpukan kedua sikunya di atas meja. Tatapannya terus fokus pada Mei. Dia menyatukan jemari tangannya—di depan wajahnya—lalu tersenyum miring saat berkata, “Pria…sepertiku? Memangnya aku seperti apa, Mei?”
Sial. Sial. This f*****g ikemen looking ass b***h—
Akashi pasti tahu bahwa Mei sedang malu, ‘kan? He definitely knew it and was basking in it!
Mei sudah menutupi rasa malunya sebisa mungkin. Apa masih ketahuan? Soalnya, pria itu terlihat sangat terhibur dan sangat menikmatinya!
Kali ini, pipi Mei betul-betul memerah dan Mei tak mampu menahannya lagi tatkala berkata, “Kau mau menggodaku, ya?”
Akashi spontan tertawa.
Dia tertawa lepas.
“Forgive me. I just enjoyed talking with you. Couldn’t help myself,” ujar Akashi. Tawanya kini sudah berhenti dan hanya menyisakan senyuman di wajahnya. “tetapi serius, aku sedikit penasaran.”
Kau itu sempurna.
Oke, tak mungkin Mei bilang begitu, ‘kan?
“Well…” Mei berhenti sebentar, memilih kata-kata yang harus ia ucapkan. Setelah itu, dengan ekspresi datarnya, ia berkata, “Kau terlihat seperti pria yang sukses di segala bidang. Mungkin statusmu tinggi atau sesuatu seperti itu. Wajahmu juga…”
Akashi memiringkan kepala, lalu menumpukan pipinya di kepalan tangan kanannya. Sial, entah mengapa Mei mendadak melihat ada bunga-bunga dan kupu-kupu imajiner yang jadi latar belakang sosok Akashi. Jika Akashi berada di dalam dunia komik, dia jelas merupakan karakter utama prianya.
“Wajahku…?” Akashi bertanya, dalam posisi itu, seraya tersenyum miring. Dia menunggu lanjutan kalimat Mei.
Oke, ini tidak bisa ditoleransi lagi.
Mei langsung mendengkus. Matanya menyipit. “Kau menikmati ini, bukan? Aku tidak akan melanjutkannya, kalau begitu.”
Akashi tertawa lagi. “Okay, Princess. I won’t do it again. Please continue.”
Wait.
Prin…cess?
Pria tampan ini agaknya benar-benar sedang menggoda Mei.
Pipi Mei lagi-lagi merona, but of course, pride was always a sin.
“Sisanya kau cari tahu saja sendiri,” ujar Mei. “Apa kau tidak pernah berkaca, Akashi-kun? Kau mau kupinjamkan kaca?”
Akashi menegakkan kepalanya, lalu kedua alisnya terangkat; dia merasa geli dengan respons yang Mei berikan. He was amused. “Baru kali ini ada yang memanggilku dengan akhiran -kun. Ternyata, aku cukup menyukainya.”
Oke, dasar orang tampan yang (sepertinya) kaya raya.
Namun, serius. Akashi tak pernah mendapatkan reaksi seperti itu. Reaksi dari Mei, kata-kata Mei, tergolong selalu to the point. Omongan gadis itu sangat tajam, sadis, berani, dan terus terang. Ditambah lagi, dia mengatakan semua itu dengan ekspresi datar.
Akhiran -kun di belakang nama Akashi? Terdengar seperti teman sepermainan saja. Hal itu membuat Akashi jadi kaget, hampir tak menyangka, sekaligus terhibur. Ternyata, Mei tak begitu menganggapnya sebagai orang asing lagi.
Interesting.
“Apakah kau selalu datang ke café ini sendirian, Mei?” tanya Akashi. Matanya masih menatap Mei tanpa berpaling dan ia tersenyum.
Ekspresi Mei betul-betul datar saat mengatakan, “Aku tak mau mendengar itu dari seseorang yang juga datang ke sini sendirian, Akashi-kun.”
Akashi lagi-lagi tertawa.
“Forgive me, Mei. That’s not what I meant. Maksudku, apakah kau tidak memiliki seseorang? Teman…atau…” Akashi menatap Mei dengan saksama. Dia lalu tersenyum miring; suaranya sengaja diturunkan dengan menggoda. “pacar?”
Mata Mei melebar.
Oh, Tuhan. Mei cukup tahu apa maksud pertanyaan itu; dia sudah dewasa.
Akashi was definitely enjoying this. He asked in a very, very seductive way. Goddammit.
“Kadang-kadang, aku ke sini bersama rekan kerjaku. Teman sekantor,” jawab Mei.
Akashi memiringkan kepalanya. “Bagaimana dengan pacar?”
Boleh tidak kalau Akashi saja yang jadi pacar Mei?
Oke, bukan. Bukan begitu. Please restrain yourself, Mei.
Mei mulai berpikir. Apakah Mei harus memberitahukan soal ‘pacar’ kepada Akashi? Soalnya, status Mei saat ini adalah: dia baru putus karena diselingkuhi. Rasanya…masalah itu agak personal. Seperti…too much information.
Akashi doesn’t need to know that.
Namun, jika Mei tanya lagi kepada dirinya sendiri, sepertinya akan aman-aman saja apabila dia memberitahu hal itu kepada Akashi. Tidak ada ruginya juga untuk mereka berdua, ‘kan? Soalnya, memang seperti itu kenyataannya. Untuk apa juga berbohong?
Lagi pula, Akashi memang ‘bertanya’.
Baiklah, sepertinya tidak masalah.
“Aku tidak punya pacar, Akashi,” jawab Mei. Dia menatap balik ke kedua mata Akashi.
Namun, Akashi tiba-tiba mengerutkan dahinya. “Mengapa? Tidakkah kau terlalu cantik untuk menjadi single?”
Pipi Mei. Benar-benar. Tidak. Merona.
Itu pujiannya sungguhan atau sekadar mau merayu Mei saja?
Terkutuklah Akashi dan seluruh kesempurnaannya.
“Tidakkah kau terlalu tampan untuk menanyakan hal itu pada gadis biasa sepertiku? I don’t believe that’s any of your business, Akashi-kun,” ujar Mei dengan mata menyipit.
Biasanya, mulut Mei hanya akan menimbulkan masalah. Namun, Akashi hanya tertawa. Dia agaknya jadi banyak tertawa hari ini.
“I can honestly say that evading any kind of flirting whatsoever seems to be a skill of yours, Mei,” ujar Akashi. “Kau selalu bisa membalasku.”
Mei akhirnya mendengkus.
“Aku memang single, soalnya aku baru putus dengan kekasihku beberapa hari yang lalu.”
Mendengar jawaban Mei, Akashi lantas sedikit mengerutkan dahinya. “Kok bisa?”
Mei meminum vanilla milkshake-nya sejenak—dia hampir lupa dengan minumannya sendiri—lalu menatap Akashi lagi dan berkata, “Dia selingkuh dengan perempuan lain.”
Akashi kontan mengangkat kedua alisnya. Pria itu tampak terkejut. “Seriously? Your boyfriend is one hell of a stupid person.”
Mata Mei melebar. Rasa gugupnya sontak naik ke permukaan; pipinya mulai memanas. Sial, ini sudah sore, ‘kan? Iya, ini sudah sore. Mei harus pulang sekarang juga. Dia harus pulang ke rumah sebelum dia membanting dirinya sendiri ke pelukan Akashi secara impulsif.
Is he serious or just smooth talking?
Well, Haruki memang bodoh, sih, tetapi bukan bodoh di bagian sana. Soalnya, Mei memang punya kekurangan juga.
Walaupun pipinya merona, Mei tetap berusaha untuk tenang. Dia berdeham, lalu meminum vanilla milkshake-nya lagi.
Ya, dia harus pulang sekarang.
Setelah meletakkan kembali cup vanilla milkshake-nya di atas meja, Mei pun mulai meraih tasnya dan berdiri. Gadis itu lantas menatap Akashi dari atas dan berkata, “Baiklah, Akashi. Aku pulang dulu, ya. Ini sudah sore.”
Akashi lantas menegakkan tubuhnya—dia duduk tegap—dan matanya melebar. “Oh, sudah mau pulang, ya?”
“Matahari sudah mau terbenam. I need to take a shower. Doesn't that apply to you as well, Akashi-kun?” tanya Mei.
Akashi tertawa kecil. “Suit yourself, my lady. May I offer you a ride?”
Mei tertegun. Matanya melebar samar.
Ini…aneh. Meskipun Mei tahu bahwa dia harus segera pulang untuk menghindari Akashi, meskipun Mei tahu bahwa rumahnya tidak jauh sampai harus diantar pulang oleh Akashi, meskipun Mei tahu bahwa berduaan saja dengan Akashi justru akan lebih mendebarkan untuknya, saat mendengar tawaran dari Akashi…
…entah mengapa Mei tidak bisa menolaknya.
Ternyata, Mei belum benar-benar bisa menahan dirinya dari godaan duniawi seperti ini.
Sial. []