Chapter 7 :
Crimson Red (3)
******
AKASHI memperhatikan Mei dengan mata yang sedikit menyipit dari dalam mobilnya. Ia duduk di kursi penumpang, bersandar di sana seraya menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Jendela mobil mewah berwarna hitam itu terbuka; mobil itu terparkir jauh di seberang Kantor Pelayanan Publik, tetapi Akashi masih bisa melihat area kantor itu dengan jelas.
Pria itu hari ini memakai sebuah jas panjang berwarna coklat muda. Jas itu panjangnya seperti mantel, tetapi ia hanya menyampirkannya di tubuhnya (hanya digunakan sebagai outer, lengannya tidak terpasang). Di dalam jas itu, ia memakai sebuah vest yang berwarna senada dengan jasnya. Dasinya berwarna coklat tua dan kemejanya berwarna putih. Lengan kemeja itu ia lipat hingga hampir separuh, menampilkan lengan kekarnya yang terlihat berurat. Ada sebuah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Kedua mata Akashi masih fokus melihat ke samping. Melihat dari balik jendela mobil yang ada di samping kanan tubuhnya. Ia tengah memperhatikan sesuatu dari jauh.
Sebuah senyum simpul terbit di wajahnya tatkala ia melihat Mei mulai muncul di depan Kantor Pelayanan Publik itu dan langsung masuk ke sana.
“Boss, mengapa Anda ingin mampir ke sini?” tanya sopir mobil itu yang sebenarnya adalah salah satu anak buahnya Akashi. “Apakah ada sesuatu yang harus kami ketahui?”
Tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Mei, dengan masih tersenyum simpul, Akashi pun menjawab, “Tidak. Aku hanya ingin memastikan.”
Anak buahnya Akashi—yang hari ini kebagian tugas menjadi sopir itu—kontan mengerutkan dahinya. Alisnya menyatu. “Memastikan apa, Boss?”
Senyuman Akashi tampak semakin merekah, tetapi masih terlihat penuh dengan rahasia. Di pagi yang cerah ini, wajahnya terlihat begitu tampan dan segar. Dia adalah seorang pria matang yang produktif. Rambut berwarna merahnya disisir ke belakang dan menggunakan pomade, tetapi ada beberapa helai rambutnya yang terjatuh ke dahi dan membentuk koma. Kedua matanya memiliki bentuk seperti siren eyes, membuatnya terlihat tajam, sensual, dan penuh dengan misteri,
Suara Akashi pun kembali terdengar. “Wanita…biasanya akan membuat pertahanan jika dia memiliki suatu kecurigaan. They’ll run…or lie.”
Anak buahnya Akashi masih mendengarkan.
Senyuman Akashi kini berubah. Perlahan senyuman simpulnya itu mulai berganti menjadi senyuman miring. Pria itu pun melanjutkan, “…tetapi dia tidak berbohong padaku.”
Kini, anak buahnya Akashi jadi semakin mengernyitkan dahi. Ia sedikit melihat ke arah Akashi melalui bahunya dan berkata, “…Wanita? Siapa, Boss?”
Akashi mengalihkan pandangannya dari Kantor Pelayanan Publik itu. Kini, ia tidak melihat ke jendela mobilnya lagi; kepalanya beralih menghadap lurus ke depan. Si sopir lantas melihat Akashi melalui kaca spion dalam mobil; dia melihat Akashi yang sudah kembali menghadap ke depan sepenuhnya. Dia juga melihat senyuman miring yang tiba-tiba menghiasi wajah tampan pemimpin mereka itu.
Namun, sepertinya pertanyaannya tadi belum bakal dijawab oleh boss-nya itu.
Akashi justru berkata:
“Ayo berangkat. Aku ada meeting hari ini.”
Akhirnya, tanpa mengatakan apa pun, si sopir—anak buahnya Akashi itu—lantas mengangguk (kepalanya menoleh sedikit kepada Akashi, lalu dia menunduk hormat) dan berkata, “Baik, Boss.”
Mobil hitam itu pun mulai berjalan dengan pelan, meninggalkan Kantor Pelayanan Publik itu.
******
Mei menikmati vanilla milkshake yang ia pesan seraya duduk di spot favoritnya, yaitu di ujung ruangan dan di dekat jendela café. Berhubung dia memang pengunjung setia di café itu—karena sangat menyukai vanilla milkshake buatan mereka—dia pun jadi merasa ada yang kurang apabila dia tidak berkunjung ke café itu minimal tiga hari sekali.
Duduk di sini sekarang sudah tidak terasa ‘biasa’ lagi sejak ia bertemu dengan Akashi kemarin. Biasanya, ia selalu duduk sendirian di sini. Kalau misalnya spot ini sudah keburu terisi, dia akan mencari spot nyaman lainnya di mana dia bisa duduk sendirian dengan tenang. Namun, sekarang…di spot ini dia jadi terus mengingat keberadaan Akashi yang kemarin duduk di seberangnya. Cara Akashi menyapanya dengan sebutan ‘my lady’, pergerakan tubuh Akashi yang begitu gentle seperti bangsawan, wajah Akashi yang tampan, pakaiannya yang elegan... Dia seperti seorang noble dari abad ke-18. Caranya menghormati perempuan, caranya berbicara, tata kramanya, semuanya berhasil membuat Mei terkesan. Mei kira di zaman yang sudah gila ini pria seperti itu sudah punah. Ternyata belum.
Apakah suatu hari nanti ia bisa bertemu lagi dengan Akashi?
Ketika pikiran itu melintas di otaknya, Mei kontan tersentak dan menggeleng. Oh, Tuhan. Ada-ada saja. Mei harus banyak-banyak minum air putih, sepertinya. Akashi itu orang asing, apalagi kemarin Akashi hanya kebetulan ingin minum kopi dan mungkin pria itu hanya berhenti di café terdekat secara random. Lagi pula, sebenarnya café ini terlalu sederhana untuk orang seperti Akashi.
Mei bersandar di kursinya. Ia lantas merogoh ponselnya yang ia letakkan di dalam saku blazernya. Tatkala sudah mendapatkan ponsel itu, Mei pun membuka kuncinya dan berencana untuk meminum vanilla milkshake-nya seraya melihat video-video di media sosial.
Mei tersenyum ketika melihat video-video kucing imut yang lewat di beranda media sosialnya. Setelah satu menit berlalu, tangan kanan Mei mulai meraih cup vanilla milkshake-nya, lalu mengantarkan cup itu ke mulutnya. Namun, sebelum Mei sempat meminum vanilla milkshake itu, tiba-tiba ada sebuah suara yang memecah fokusnya.
“Mei.”
Alis Mei sedikit terangkat. Entah mengapa Mei seperti…kenal dengan suara itu.
Seperti suara yang sudah Mei tandai.
Mei pun berhenti menatap ponselnya. Kepalanya perlahan terangkat ke atas…hingga ia mendongak. Tak ayal, kini kedua matanya sukses melihat ke atas, ke arah seseorang yang rupanya tengah berdiri di depannya.
…dan tepat setelah itu, kedua mata Mei kontan melebar. Tiba-tiba jantungnya seolah berhenti berdetak.
…karena orang yang berdiri di sana adalah:
Akashi.
Akashi Roan Kaiser.
Pria itu betul-betul berdiri di hadapan Mei; dia tersenyum dengan sangat manis kepada Mei seraya sedikit memiringkan kepala. Hari ini, pria itu…memakai jas berwarna coklat muda. Demi dunia dan segala isinya, pria itu terlihat begitu tampan. Begitu seksi. Begitu menggoda.
Tanpa Mei sadari, sebenarnya seisi café itu juga sedang takjub karena melihat sosok Akashi. Namun, Mei terlalu kaget untuk menyadari semua itu. Dia kaget sekaligus…heran.
“Akashi…?” Mei mulai mengerutkan dahinya.
“Uh-hm,” deham Akashi. Pria itu pun memberi salam kepada Mei dengan anggukan singkat. “Halo, Mei. Kita bertemu lagi, ya.”
“Ah… Halo, Akashi,” sapa Mei balik. “Apakah kau mau minum kopi lagi?”
Oh, ayolah, Mei. Ya jelas dia mau minum kopi! Buat apa dia datang ke café kalau bukan mau minum kopi?!!
Mei merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Dia mengutuk otaknya yang mendadak jadi sangat bodoh. Apa dia mulai gugup lagi, seperti kemarin?
Namun…sekarang Akashi ada di depannya. Dia bertemu lagi dengan Akashi. Akashi ternyata datang ke café ini lagi…
Diam-diam, jantung Mei mulai berulah. Degupannya mulai kencang. Entah mengapa, ada rasa senang yang hinggap di hatinya.
Meskipun pertanyaan Mei terdengar bodoh, ternyata respons dari Akashi tidak memperparah kegugupan Mei sama sekali. Akashi hanya mengangguk dan tertawa kecil. “Iya. Kebetulan lewat sini. May I sit here?”
Mata Mei agak melebar. “Oh—ya. Silakan, kalau kau tidak keberatan duduk denganku.”
Akashi sedikit menunduk kepada Mei sebagai bentuk respect, lalu dia mengangkat kepalanya lagi dan tersenyum dengan lembut kepada Mei. “Terima kasih, Mei.”
“Sama-sama, Akashi.” Mei mengangguk dan tersenyum.
Akashi pun mulai beranjak duduk di hadapannya. Pria itu menarik kursi yang berseberangan dengan kursi Mei, lalu duduk di sana. Ketika Akashi sudah duduk di hadapan Mei, aroma tubuh pria itu menguar semakin jelas di sekeliling Mei. Aroma tubuh Akashi sangatlah harum, segar, dan maskulin. Itu adalah jenis parfum yang akan membuatmu berpikir seperti, ‘Aku akan mengekori pria mana pun yang mengenakan parfum ini di jalan.’
Wanginya bisa membuatmu jatuh cinta. Wanginya itu seperti…campuran dari bergamot, neroli, green tangerine…dan ada juga wangi…rosemary? Ada campuran wangi daun nilam juga, sepertinya. Semua wangi itu…kalau dicampur ternyata jadi sesegar ini. Wangi yang sangat maskulin. It also smells very expensive. Sesuai dengan Akashi.
Tepat setelah Akashi duduk di seberang Mei, segelas kopi pesanan Akashi pun datang ke meja mereka. Sang waitress yang mengantarkan pesanan Akashi itu sempat tercengang sebentar, matanya tanpa sadar menatap Akashi tanpa berkedip. Ia diam selama beberapa detik karena terlalu takjub melihat betapa tampannya pelanggan yang sedang ia layani itu, lalu akhirnya ia tersadar kembali ketika Akashi tersenyum padanya dan mengucapkan, “Terima kasih.”
“Ah—ya—maaf, Tuan. Silakan menikmati.” Waitress itu lantas menunduk hormat pada Akashi dengan pipi yang memerah karena malu, lalu langsung menjauh dari meja mereka dengan terburu-buru.
Mei melihat Akashi mulai menghadap ke depan—ke arah Mei—kembali. Pria itu memajukan tubuhnya dan menumpukan kedua sikunya di meja. Setelah itu, ia menyatukan jemari tangannya.
Seraya tersenyum simpul, Akashi pun mulai membuka pembicaraan.
“Aku mulai tertarik pada café ini,” ujar Akashi. Pria itu mulai menoleh ke kiri…lalu ke sekeliling ruangan yang masih bisa ia jangkau dengan kedua matanya. Setelah itu, pandangan matanya kembali tertuju pada Mei. Setelah bertatapan kembali dengan Mei, Akashi pun tersenyum lagi.
Mei berkedip. Sedari tadi, ia terus memperhatikan Akashi; kedua matanya seolah enggan meninggalkan sosok semegah Akashi.
“Ah…begitu, ya.” Mei akhirnya bersuara. Gadis itu mengangguk perlahan, kedua matanya masih memperhatikan sosok Akashi. Namun, tiba-tiba dahi Mei berkerut.
Mei lantas memiringkan kepalanya, lalu bertanya, “Memangnya apa yang membuatmu tertarik? Tidakkah café ini terlihat biasa saja untuk orang sepertimu?”
Akashi sedikit menunduk, lalu pria itu tertawa kecil. Goddammit, tawa kecilnya itu membuatnya terlihat seratus persen lebih menakjubkan. Dia tampak seperti pangeran berkuda putih atau seorang bidadara yang baru saja turun dari langit! Tak tahukah dia bahwa tawa kecilnya itu sangat atraktif? Seakan ada background bunga-bunga yang mekar di belakang tubuhnya ketika ia tertawa. Seakan ada sayap-sayap malaikat yang membentang di belakang tubuhnya. Dia terlihat memabukkan. Membuat candu. Menawan. Seksi.
Tepat setelah tawa kecilnya itu, Akashi pun kembali menatap Mei dan tersenyum. Pria itu mulai membuka tautan jemarinya dan meraih pegangan gelas kopinya.
Tubuh Akashi mulai bersandar ke kursi. Sejak tadi, ia duduk dengan kaki yang bersilang sehingga ketika ia bersandar, sosoknya terlihat semakin elegan dan berwibawa. Akashi mulai mendekatkan gelas kopi itu ke bibirnya. Namun, sebelum meminum kopi itu, Akashi menyempatkan dirinya untuk menjawab Mei.
“Kata-katamu membuatku terdengar seperti orang yang sangat arogan, Mei. Aku tertarik karena kopinya enak,” jawab Akashi, matanya melihat lurus ke arah Mei. Kedua kelopak matanya terlihat sedikit turun. Tatapan mata tajamnya itu terpusat pada Mei. Begitu sarat arti, tetapi tetap sulit untuk diartikan. Ada sebuah kilat yang penuh dengan rahasia di kedua mata berwarna merahnya. Ia seperti menatap langsung ke jiwa Mei, memerangkap Mei menggunakan tatapan matanya.
Momen itu terasa begitu mendebarkan…dan menggairahkan.
“Selain itu, pemandangannya…” Akashi masih menatap Mei dengan tatapan yang sama, lalu pria itu mulai tersenyum miring. “…juga bagus.” []