6. Crimson Red (2)

1226 Kata
Chapter 6 : Crimson Red (2) ****** MATA Mei melebar. Oh, iya. Itu sudah agak lama. “Begitu, ya,” ujar Mei. “Baiklah. Nanti aku akan datang ke rumahmu kalau aku senggang.” Setelah mendengar jawaban dari Mei, Kou pun tersenyum lega. “Oke, deh. Jangan lupa datang, ya. Aku bingung harus memberikan alasan apa lagi pada Ibu.” Mei tersenyum simpul. Seingat Mei, terakhir kali dia bermain ke rumah Kou adalah sekitar satu bulan yang lalu. Yah…mengingat mereka sudah berteman sejak lama dan kemarin-kemarin Mei memang sering bermain ke rumah Kou, wajar saja ibunya Kou jadi mencarinya seperti ini. “Oke,” jawab Mei, ia mengangguk karena ingin menenangkan Kou. Kou pun tertawa kecil. Mereka terdiam selama beberapa detik. Hanya suara langkah kaki mereka yang menemani mereka saat itu. Mei melihat ke bawah; pikirannya mulai ke mana-mana lagi. Sementara itu, Kou tetap menatap ke depan dan sesekali pria itu bersiul. Dia menyiulkan lagu favoritnya. “Kou,” panggil Mei tiba-tiba. Panggilan itu sukses membuat Kou berhenti bersiul dan langsung menoleh ke arah Mei. “Hm?” jawab Kou. Pria itu mengangkat kedua alisnya, menunggu apa yang akan Mei katakan, tetapi gadis itu tak kunjung berbicara. “Ada apa?” tanya Kou sekali lagi. Mei masih menunduk. Dahi Mei berkerut; ia terlihat berpikir sejenak. Ia ingin bertanya pada Kou, tetapi dia agak ragu. Kou menunggu Mei selama beberapa detik. Hingga akhirnya, Mei pun mulai mendongak untuk menatap Kou yang lebih tinggi darinya. “Apakah kau percaya dengan keberadaan manusia yang…sempurna?” tanya Mei. Mata birunya tampak sedikit melebar ketika menanyakan itu. Kou kontan menyatukan alisnya. “Eh?” Ah, Kou pasti bingung dengan pertanyaannya. Tentu saja. Mei akhirnya mengalihkan pandangannya dari Kou. Dia kini melihat ke depan, menghela napas, lalu menggeleng. “Tidak. Tidak apa-apa, Kou.” Namun, di luar ekspektasi Mei, beberapa detik kemudian Kou tiba-tiba membuka suara. “Kalau kau tanya pendapatku, sebenarnya aku tidak percaya, sih,” jawab Kou, sukses membuat Mei melebarkan matanya dan langsung menoleh kepada pria itu lagi. “Kalau memang di bagian luarnya dia terlihat sempurna, paling tidak dia pasti memiliki satu kelemahan atau kecacatan. Hal yang paling mungkin terjadi adalah: dia menyembunyikan kelemahan itu.” Mei mendengarkan pendapat Kou dengan saksama. Begitu Kou selesai berbicara, Mei lantas mengalihkan pandangannya, sedikit menunduk, lalu mengangguk. “Iya, ya,” jawab Mei pelan. “Memangnya ada apa?” tanya Kou dengan alis yang menyatu. Mei kontan membulatkan matanya. Dia lalu menatap Kou dan menjawab, “Ah—tidak. Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tahu pendapatmu.” Sejujurnya, dia ragu untuk menceritakan soal Akashi kepada Kou. Agak malu juga karena dia tak bisa berhenti memikirkan Akashi, apalagi pada dasarnya Akashi itu orang asing. Orang asing, kan, memang biasa lalu-lalang di dalam kehidupan kita. Alhasil, walaupun Kou mengernyitkan dahinya—karena heran dan agak curiga—dia pun hanya mengedikkan bahu. Yah, sudahlah. Mungkin memang tidak terjadi apa-apa. Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan minimarket yang mereka tuju. Keduanya lantas masuk ke minimarket itu dan mulai berbelanja. Mei, yang memang cuma mau menemani Kou sekaligus mencari angin, hanya membeli es krim dan satu snack coklat untuk menemaninya mengobrol bersama Kou malam itu. ****** Jam alarm milik Mei berdering. Bunyinya sangat kencang di telinga Mei, sangat memekakkan, sampai-sampai Mei spontan menggeliat di kasurnya dan mengerang. Dia langsung mengerutkan dahi, menghadap ke kanan dan ke kiri, lalu perlahan-lahan mengulurkan tangannya untuk mematikan jam alarm yang ia letakkan di atas nakasnya itu. “Ugh…” keluh Mei. Sumpah, dia masih malas bangun. Tubuhnya masih pengin lengket di kasur, menempel di sana hingga siang. Kasurnya terasa nyaman sekali. Matanya masih mengantuk. Ah, kerja lagi, deh. Sial. Malas sekali rasanya. Kalau bisa, Mei mau tidur saja sampai siang. Akan tetapi, nanti Mei tidak punya uang kalau tidak pergi kerja. Ini weekend kapan datangnya, sih? Andaikan Mei bisa dapat uang tanpa harus bekerja. Menjadi istri seorang miliarder, misalnya. Atau istri seorang pangeran. Namun, mengingat omongan Mei yang hampir selalu sadis, daripada menarik perhatian seorang pangeran atau miliarder yang lurus-lurus saja, mungkin Mei akan lebih menarik perhatian seorang leader mafia atau gangster. Nah, kan. Gara-gara malas bangun, Mei jadi banyak berkhayal. Mendengkus kesal, Mei lantas berdecak dan bangkit. Ia duduk di kasurnya sejenak dengan mata yang setengah terpejam—mengumpulkan nyawa, mungkin—lalu beberapa saat kemudian, dia menggaruk kepalanya dan akhirnya kakinya turun ke lantai. Berdiri dan mulai berjalan dengan lesu ke kamar mandi. Dia mengeluh soal bangun pagi, tetapi akhirnya tetap bangun juga. Tetap kerja juga. Soalnya, kalau dia tidak kerja, nanti dia tidak bisa membeli es krim. Tidak bisa jajan. Tidak bisa membayar apartemennya. Tidak bisa makan. Hah. Menyebalkan sekali. Setelah mandi dan bersiap-siap, Mei pun sarapan sejenak. Ia hanya memanggang roti yang setelahnya ia berikan olesan selai kacang, lalu menyiapkan segelas s**u hangat. Gadis itu memakan sarapannya seraya memainkan ponsel, lalu setelah makan, ia pun meletakkan piring dan gelas kotornya di wastafel. Setelah mencuci piring dan gelas kotor itu sejenak, ia pun akhirnya siap untuk berangkat kerja. Tatkala baru saja mengambil sepatu kerjanya dari dalam rak sepatu, tiba-tiba ponsel Mei berbunyi. Mei lantas merogoh tasnya, lalu mengambil ponsel itu dan melihat bahwa yang meneleponnya adalah ibunya. Mei mengangkat panggilan telepon itu dan menempelkan ponselnya di telinganya, menahan ponsel itu dengan bahunya. “Ya, Bu,” jawab Mei sambil memakai sepatu. Ketika Mei sudah memasang sepatunya dan baru saja mau membuka pintu depan, ibunya pun menjawab, “Oh, Mei! Sudah bangun, Nak?” “Sudah, Bu,” jawab Mei seraya keluar dari unit apartemennya. Gadis itu kini sedang mengunci pintu. “Aku baru saja mau berangkat kerja.” “Kau sudah sarapan, ‘kan? Jangan lupa sarapan, Nak,” kata ibunya. “Makan dulu sebelum bekerja. Jangan sampai sakit.” Mei tersenyum. Berhubung ibunya Mei tinggal jauh dari Mei, wanita paruh baya itu rajin menelepon hanya untuk menanyakan apakah Mei sudah makan atau belum. “Sudah, Bu. Tadi aku sudah makan,” jawab Mei seraya menuruni tangga apartemennya. Ketika sudah sampai di bawah, Mei kembali berbicara, “Ibu sudah makan?” “Sudah. Tadi Ibu makan nasi dan sup,” ujar ibunya. “Mei, sudah dulu, ya, Nak. Ada tetangga yang memanggil Ibu. Nanti Ibu telepon lagi, ya. Nanti siang jangan lupa makan!” Mei pun mengangguk meski ia tahu bahwa ibunya takkan bisa melihatnya. “Baiklah, Bu. Aku pergi kerja dulu.” “Hati-hati, Sayang,” pesan ibunya dari seberang sana. “Iya, Bu. Aku tutup, ya.” “Iya.” Setelah mendengar jawaban terakhir dari ibunya, Mei pun menutup panggilan telepon itu. Gadis itu meletakkan ponselnya kembali ke dalam tasnya seraya tersenyum. Mei sangat bersyukur bisa memiliki seorang ibu yang sangat menyayanginya meskipun ia tak lagi memiliki ayah. Ayah Mei sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Pagi ini, pikiran soal Akashi tak begitu hinggap lagi di kepala Mei. Well, setidaknya belum benar-benar hinggap. Mei sejak tadi hanya fokus bersiap-siap untuk berangkat kerja. Jadi, ingatan soal Akashi belum begitu mampir di otaknya. Ada lewat sekilas, sih, tetapi karena dia tak ingin terlambat, dia pun akhirnya menggeleng (mengusir pikiran itu) dan memilih untuk fokus bersiap-siap. Urusan memikirkan Akashi itu nanti saja, deh. Lagi pula, aneh sekali kalau dia terus-terusan memikirkan orang asing. Mei mulai berjalan…hingga akhirnya ia sampai di depan Kantor Pelayanan Publik tempat ia bekerja. Benar, jarak dari rumahnya ke kantor tidak begitu jauh. Jadi, biasanya ia hanya menempuhnya dengan berjalan kaki. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN