Chapter 5 :
Crimson Red (1)
******
BEGITU sampai di dalam apartemennya, Mei langsung meletakkan tasnya di atas meja yang ada di dalam kamarnya, lalu pergi mandi. Jujur saja, sejak ia berjalan pulang dari café langganannya tadi, ia terus saja memikirkan Akashi beserta kedua mata berwarna merah menyala milik pria itu. Ia jadi teringat dengan karakter-karakter vampir atau drakula yang ada di film-film. Mereka biasanya digambarkan memiliki mata yang berwarna merah, memakai pakaian-pakaian mewah, dan terlihat seperti bangsawan. Kebanyakan dari mereka juga terlihat memiliki fisik yang sangat menawan serta etika yang sangat baik meskipun mungkin itu adalah salah satu cara untuk memikat mangsanya.
Tatkala Mei sudah berendam di bathtub pun, Mei masih memikirkan Akashi.
Ternyata, orang seperti Akashi itu ada di dunia ini. Bukan hanya di dunia fiksi.
Ketika sudah keluar dari kamar mandi, Mei langsung memakai pakaiannya. Mei tak bisa berhenti memikirkan betapa mengejutkannya pertemuannya dengan seseorang seperti Akashi sampai-sampai dahi Mei terus berkerut saat sedang mengeringkan rambutnya. Bagaimana mungkin ketika menciptakan manusia, Tuhan melewatkan Akashi saat membagikan porsi ‘kekurangan’? Agak tidak masuk akal, soalnya selama Mei hidup, Mei selalu mendengar kata-kata seperti: ‘Tidak ada manusia yang sempurna’.
Akan tetapi, Akashi memang terlihat seagung itu. Mata merahnya, rambut merahnya…semuanya unik, tetapi benar-benar pas untuknya. Vibe yang dia berikan memang se-noble itu. Majestic. He looks like a royalty member or something.
Akhirnya, Mei pun membanting tubuhnya ke kasur; dia berbaring telentang. Kedua tangannya ia rentangkan dan matanya menatap lampu kamarnya tanpa berpaling. Meskipun begitu, sebenarnya dia tidak benar-benar sedang melihat lampu itu. Otaknya tengah memikirkan hal lain.
Akashi.
Siapa nama lengkapnya tadi?
Oh. Akashi Roan Kaiser.
Mei jadi penasaran. Kaiser? Sepertinya, Mei pernah dengar.
Apa suatu hari nanti Mei bisa bertemu lagi dengan Akashi? Atau pertemuan mereka tadi adalah pertemuan yang pertama dan terakhir kalinya?
Entahlah.
Tatkala sibuk memikirkan tentang pertemuan serta percakapannya tadi dengan Akashi, tiba-tiba ponsel Mei berbunyi. Mei tersentak, gadis itu mulai bangkit dan berjalan ke meja tempat ia meletakkan tasnya tadi. Ponsel itu masih tersimpan di dalam tasnya.
Di atas meja Mei itu, ada beberapa buku dan sebuah laptop. Di sana juga ada sebuah lampu karena Mei akan menggunakan meja itu kalau dia lembur malam-malam. Mei tak mau menggunakan lampu kamar karena baginya lampu kamar itu terlalu terang kalau untuk bekerja di malam hari.
Setelah membuka ritsleting tasnya, Mei langsung merogoh isi tas itu dan menemukan ponselnya di dalam sana. Ponsel itu berdering dan juga bergetar. Mei lantas mengambil ponsel itu, lalu melihat ke layarnya karena dia ingin tahu siapa yang meneleponnya.
Oh. Ternyata Kou.
Mei pun menerima panggilan telepon dari sahabatnya itu.
“Kou.”
“Ah, Mei,” panggil Kou dari seberang sana. “Kau sudah pulang, ya?”
“Iya,” jawab Mei. Matanya agak melebar ketika menjawab pertanyaan dari Kou. “Ada apa, Kou?”
“Ke minimarket, yuk!” ajak Kou. “Sambil jalan-jalan malam, cari angin.”
Mei menghela napas. Gadis itu tersenyum karena ia tahu bahwa Kou pasti sudah on the way ke rumahnya. Rumah Kou tidak jauh dari sini dan mereka sudah berteman lama. Kalau mau ke minimarket, Kou memang harus melewati apartemen Mei terlebih dahulu.
“Baiklah. Aku keluar sekarang. Kau sudah di jalan, ya?” tanya Mei. Yah, daripada dia terus mengendap di dalam kamarnya sambil memikirkan Akashi, lebih baik dia cari angin ke luar bersama Kou. Ikut Kou ke minimarket. Mei sekalian mau beli es krim saja, deh.
“Yoi,” jawab Kou. “Aku baru saja sampai di depan gedung apartemenmu, nih.”
“Oke,” jawab Mei. Gadis itu sedang mencari jaketnya. Seraya memakai jaket itu, ia pun menjawab, “Tunggu, ya.”
“Okeee,” jawab Kou, lalu panggilan telepon itu diputuskan oleh Kou. Mei lantas berjalan dengan cepat ke arah rak sepatu yang ada di dekat pintu depan, mengambil sepasang selopnya yang berwarna krem, memasang selop itu, lalu membuka pintu depan unit apartemennya. Setelah mengunci pintu itu kembali, ia pun berlari menuruni tangga untuk menuju ke bawah, berhubung unit apartemennya ada di lantai dua.
Ketika sudah sampai di bawah, ia pun bertemu dengan Kou yang sudah menunggu di sana seraya tersenyum padanya. Malam ini, Kou memakai sebuah jaket berwarna biru dengan motif garis-garis lebar berwarna putih. Berhubung rambut Kou berwarna coklat, malam itu warnanya jadi kelihatan agak gelap karena minimnya cahaya, padahal sudah dibantu dengan lampu dari jalan. Apartemen Mei berdiri di sebelah kiri jalan yang lumayan besar. Namun, jalan itu bukanlah jenis jalan besar yang selalu ramai. Jalan itu lumayan sepi, terutama kalau malam-malam begini. Jika kau melewati jalan besar tersebut, lurus terus…hingga kau bertemu dengan sebuah jembatan besar—yang menghubungkan sisi kanan dan sisi kiri jalan itu—maka di sisi kirinya kau akan melihat apartemen Mei. Apartemen Mei berdiri tepat di sisi kiri jalan dekat jembatan itu, tetapi bagian depan apartemen itu tidak menghadap ke arah jalan. Dari jalan besar itu, kau hanya bisa melihat apartemen Mei dari bagian samping kanannya.
Biasanya, di jembatan itu tergantung sebuah billboard besar yang kadang-kadang isinya adalah iklan rokok, fashion, atau semacam itu. Namun, kali ini billboard besar itu kosong. Sedang tidak ada yang memasang iklan di sana.
“Ayo,” ajak Kou dan Mei lantas mengangguk. Mereka pun mulai berjalan berdampingan.
“Hei, kau baik-baik saja?” tanya Kou ketika mereka sudah berjalan bersama sekitar lima langkah. Mei lalu menoleh kepadanya.
“Hm?” deham Mei, seakan ingin Kou mengulangi pertanyaannya.
“Umm…” Kou agak menunduk, lalu menggaruk tengkuknya. Akhirnya, di antara cahaya dari lampu jalan malam itu, mata berwarna hazel milik Kou mulai menatap Mei dengan penuh keingintahuan.
“Maksudku…Haruki,” ujar Kou kemudian. “Apa kau masih sedih karenanya?”
Mata Mei melebar.
“Oh.” Mei memasukkan kedua tangannya ke saku jaketnya, lalu kembali menghadap ke depan. “Ya…begitulah. Rasa sakit di hatiku sudah agak baikan, tetapi aku masih membencinya.”
Kou pun mengangguk. “Baguslah. Jangan habiskan waktumu untuk menangisi pria berengsek sepertinya.”
Mei mendengkus. “Aku tidak menangis.”
Mata Kou melebar saat ia menatap Mei. “Masa? Tidak sedikit pun?”
“Aku tidak sepertimu yang gampang menangis cuma gara-gara ada T-Rex yang mati di Jurassic Park, Kou,” ujar Mei dengan ekspresi datarnya.
“Oi! Sejak kapan aku gampang menangis?! Jangan bawa-bawa T-Rex itu!” protes Kou, pria itu menyatukan kedua alisnya.
“Aku sakit hati pada Haruki, tetapi sekarang aku lebih ingin membakar pantatnya,” ujar Mei dengan ekspresi datar.
Kou menganga; dia menggeleng tak habis pikir. Mengapa tiba-tiba Mei membicarakan soal p****t? “Mulutmu semakin hari semakin pedas saja. Kau yakin kau tidak pernah mem-bully seseorang dengan mulut sadismu itu?”
Mei menyipitkan matanya. “Kalau pantatnya terbakar, dia takkan bisa memakai celana selama beberapa waktu. Aku tak akan melihat wajahnya untuk sementara. Oh, tetapi…aku harus menyiram celananya dengan bensin terlebih dahulu sebelum membakar celananya. Kalau celananya dibakar sekalian, mungkin alat kelaminnya juga akan terbakar. Itu ide yang bagus. Sosisnya pasti kecil, jadi itu tak berguna. Masa depannya tetap akan suram meskipun sosisnya tidak mutung. Oh, mungkin aku juga akan mengiris kedua telurnya—”
“STOP!! STOP STOP STOP!!” teriak Kou. Mata Kou membulat sempurna; di pelipis Kou langsung muncul keringat dingin. “JANGAN BAKAR SOSIS YANG BELUM PERNAH KAU LIHAT!”
“Tsk.” Mei mengalihkan pandangannya.
“Barusan kau berdecak, ‘kan? Kau berdecak, ‘kan??!” teriak Kou dengan mata yang melebar sempurna. Gila, dia sudah sering memikirkan ini, tetapi dia tetap tak percaya. Bisa-bisanya dia bersahabat dengan gadis seperti Mei. Mei bisa membicarakan sesuatu yang serius dan kejam dengan tanpa ekspresi di wajahnya.
Melihat Mei yang akhirnya diam, Kou pun menghela napas. Gila, gawat sekali kalau Mei sudah marah. Mulutnya jahat sekali. Dia terlalu sassy, terlalu straightforward. Sadisnya minta ampun.
Tiba-tiba Kou teringat sesuatu.
“Oh ya,” ucap Kou, membuat Mei jadi menoleh kepadanya. Kou tampak memperhatikan Mei dengan mata yang membulat karena penasaran. “Kapan kau mau main ke rumahku? Ibuku terus-terusan bertanya kapan kau akan datang. Sudah lama tak melihatmu, katanya.” []