Chapter 4 :
Prince Charming (4)
******
MESKI sangat enggan melepaskan diri dari tatapan mata Akashi, Mei tetap berusaha untuk mengalihkan pandangannya. Dia membuang seluruh hasratnya—meski itu nyaris mustahil mengingat betapa luar biasanya daya tarik dari kedua mata Akashi—dan menguatkan dirinya karena ini adalah keputusan yang terbaik. Dia tak mau terbawa suasana ataupun terbawa perasaan.
Lagi pula, takutnya Akashi tahu kalau Mei mulai gugup dan malah menikmatinya. Okay, that’s a whole misunderstanding right there, Mei.
Mei akhirnya mengangguk; dia mulai melepaskan tangannya dari genggaman Akashi. Dia lalu mengambil tas selempangnya—yang masih ada di atas meja—dan memakai tas tersebut.
Dia harus pulang. Pokoknya harus pulang, kalau tidak mau dicap gampangan. Sial, jangan sampai dia naksir sama Akashi.
Akan tetapi, kalau dia mau pulang, mau tidak mau dia harus menatap Akashi lagi untuk berpamitan. Dia harus bersikap sopan; dia harus menghargai Akashi. Sama seperti bagaimana Akashi memperlakukannya sejak tadi. Dia tahu bahwa berurusan dengan Akashi akan menyeretnya ke dalam situasi di mana dia harus bersikap di luar kepribadiannya. Dia bisa menjadi gugup, malu, dan m***m…seperti tadi.
Oke, dia akan menatap Akashi lagi. Sebentar saja.
Come on, Mei. Let’s get this over with.
Saat telah menatap Akashi kembali, Mei pun berusaha untuk tersenyum. Namun, sialnya, senyum yang muncul di wajahnya ternyata hanyalah senyum tipis. Cocok sekali dengan wajahnya yang tak berekspresi. Kalau tahu begini, Mei akan lebih rajin berlatih tersenyum dengan orang. “Kalau begitu, aku pulang dulu, ya, Akashi. Ini sudah sore. Aku harus mencuci pakaianku.”
Akashi terlihat melebarkan matanya; tubuh pria itu sedikit menegap. “Ah—begitu, ya? Di mana rumahmu, Mei? Pulang naik apa? Mau kuantar pulang?”
Kontan saja kedua mata Mei membeliak, dia buru-buru menggeleng dan menggerakkan sebelah tangannya ke kanan dan ke kiri, menolak Akashi dengan cepat. Sial, dia pulang untuk menghindari ‘jatuh cinta dadakan’! Percuma saja kalau Akashi mengantarnya pulang. “Tidak usah, Akashi. Aku tinggal di daerah sini kok. Aku bisa berjalan kaki dari sini.”
“Benar di daerah sini?” tanya Akashi lagi, memastikan. Dahi pria itu agak berkerut, dia tampak khawatir pada Mei.
Mei mengangguk. “Iya. Apartemenku ada di dekat sini. Aku duluan, ya, Akashi.”
Akhirnya, Akashi pun mengangguk. Pria itu menghela napasnya pelan, terlihat seakan sudah menerima kepergian Mei dari sana serta menerima Mei yang tidak mau diantar olehnya.
“Baiklah kalau begitu. Hati-hati, ya, Mei,” ujar Akashi, pria itu pun tersenyum dengan lembut pada Mei.
Mei mengangguk. Gadis itu balas tersenyum pada Akashi, lalu berpamitan. “Terima kasih, Akashi. Aku pulang dulu, ya.”
Setelah melihat Akashi mengiyakannya, Mei pun menunduk singkat pada Akashi, lalu ia berdiri dan beranjak keluar dari meja itu. Ia mulai berbalik—membelakangi Akashi—dan berjalan ke pintu masuk café.
Ketika Mei sudah berdiri di depan pintu café, Mei tahu bahwa untuk sampai ke apartemennya, dia harus menghadap ke kanan, lalu berjalan lurus. Jadi, dia akan kembali melewati jendela tempat ia dan Akashi tadi duduk.
Tatkala Mei melewati jendela itu, Mei melihat Akashi yang masih duduk di sana; Akashi melihat ke arahnya melalui jendela yang terbuka itu. Akashi memberikannya sebuah senyuman manis, kemudian pria itu melambaikan tangan padanya.
Damn, you handsome stranger.
Dengan senyum simpul (dan ekspresi wajah yang ditahan agar tidak kelihatan gugupnya), Mei pun balas melambaikan tangannya pada Akashi. Setelah itu, Mei mulai berjalan meninggalkan café itu dengan lega.
******
Akashi menurunkan tangannya yang tadi tengah melambai kepada Mei. Dia masih melihat ke arah Mei yang sedang berjalan menjauhi café. Kepalanya menghadap ke kanan dan matanya melihat ke belakang, berhubung arah pulang Mei itu berlawanan dengan posisi duduknya saat ini.
Senyuman yang tadi ia berikan kepada Mei itu masih menghiasi wajah tampannya, tetapi kini senyuman itu terlihat sedikit berbeda. Sedikit menipis.
Matanya yang sejak tadi memberikan tatapan yang ramah dan lembut itu perlahan-lahan kembali mengikuti bentuk aslinya. Bentuk mata yang tajam seperti elang. Sensual. Misterius. Kedua bola mata berwarna merahnya mengikuti langkah Mei yang semakin lama terlihat semakin jauh. Dia menyipitkan mata, memperhatikan Mei dengan saksama di dalam diamnya. Cahaya merah dari kedua matanya seakan-akan mampu mengunci Mei dari jauh, mengurung Mei di dalam penjara yang ia ciptakan di dalam kepalanya.
Tak lama kemudian, Akashi pun menoleh ke depan. Ke posisi awal. Pria itu kemudian meraih topi fedoranya yang ia letakkan di atas meja, memakai topi tersebut, lalu pergi keluar dari café itu.
Tatkala berjalan keluar dari café dengan langkah tegapnya, orang-orang yang ada di dalam café tersebut kembali melihat ke arah Akashi dengan tatapan terpukau. Dia tidak terlihat seperti orang ‘biasa’. Antara artis, model, atau…keluarga prestigious. Dia seperti punya status yang tinggi.
Tatkala Akashi sudah berada di luar café, pria itu pun menghampiri sebuah mobil limousine hitam, Rolls Royce Phantom limousine, yang sudah terparkir di depan café itu. Menunggunya.
Ada beberapa orang berjas hitam yang terlihat berdiri di depan limousine tersebut. Mereka semua berpakaian rapi, berjas hitam, dan di dalamnya mereka memakai kemeja berwarna putih. Mereka semua berdiri berjajar dengan rapi, mulai merunduk hormat tatkala melihat Akashi keluar dari café. Mereka menyambut Akashi dengan hormat.
Begitu Akashi berdiri tepat di depan mereka, salah satu dari mereka yang tengah memegang sebuah jas hitam panjang langsung dengan sigap mengganti jas yang tengah Akashi kenakan dengan jas hitam panjang tersebut.
“Boss,” sapa salah satu dari mereka, menyambut Akashi. Dia membukakan pintu mobil untuk Akashi. “Sudah selesai?
“Hm,” deham Akashi. Pria itu mulai masuk ke mobil, lalu pintu mobil itu ditutup kembali oleh pria yang tadi membukakan pintu untuknya. Ada dua orang yang ikut satu mobil dengan Akashi, sementara beberapa pria yang lain hanya mengikuti dari belakang dengan mobil hitam yang berbeda. Mengawal mobil Akashi.
Ketika mobil yang Akashi naiki itu mulai berjalan, suara Akashi pun terdengar.
“Di mana apartemen yang jarak tempuhnya bisa berjalan kaki dari sini?”
Pria yang duduk di depan, seorang capo yang tengah menyetir mobil itu, tampak sedikit melebarkan mata tatkala mendengar pertanyaan dari bosnya. Dia mengerutkan dahi, berpikir sejenak, lalu melebarkan matanya lagi karena sudah mendapatkan jawabannya. Dia ingat sesuatu.
Pria itu lantas menjawab, “Ah, mungkin yang ada di depan sana, Boss. Sekitar seratus meter, sebelah kiri. Di sana kalau tidak salah ada apartemen tiga lantai.”
Suara Akashi kembali terdengar di dalam mobil itu. Suaranya yang begitu dingin, sarat akan kepemimpinan, tetapi sangat menggoda untuk didengar. Tipe-tipe suara yang membuatmu ingin mendengarnya lagi dan lagi. Jika ia bertelepon denganmu dengan suara itu, kau akan merasa seolah meleleh.
Dia berkata, “Begitu, ya.”
“Memangnya ada apa, Boss?” ujar salah satu capo itu, sesekali melihat Akashi melalui kaca spion dalam. Capo satu lagi—yang duduk di sebelah Akashi—pun tengah menatap Akashi, ingin tahu mengapa bos mereka menanyakan hal itu. Mereka menunggu Akashi berbicara.
Akashi pun mulai menatap ke jendela mobil yang ada di samping kanannya, lalu di bibirnya terbit seulas senyum. Matanya menatap dengan begitu dingin. Berkilat dan tajam layaknya mata seekor elang. Mengunci apa pun yang sedang ia lihat.
“Tidak ada,” ujar Akashi kemudian. “Besok aku akan pergi ke café yang tadi lagi.” []