Chapter 3 :
Prince Charming (3)
******
PRIA itu tertawa kecil, lalu menggeleng. “Tidak, my lady. Aku hanya kebetulan ingin minum kopi. Jadi, aku mampir ke sini.”
“Apakah tempat kerjamu jauh?” tanya Mei dengan mata yang melebar; dia bertanya murni karena merasa sedikit penasaran.
Sedikit saja kok.
Pria itu pun sedikit mengerutkan dahinya. Matanya menoleh ke samping; ia tampak seperti tengah berpikir. “Hm…bisa dibilang begitu.”
Pria itu lalu kembali menatap Mei dan tersenyum.
“Oh…begitu,” ujar Mei, gadis itu mengangguk-angguk. Dilihatnya pria itu mulai duduk bersandar, kedua tangannya terlipat di depan d**a. Dia duduk dengan kaki yang menyilang.
Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, masih tersenyum seraya memperhatikan Mei.
Benar-benar pemandangan yang luar biasa. Sanggup membuat jantung Mei diam-diam terus berdegup kencang seolah baru saja berlari sejauh dua kilometer. Penampilannya menyilaukan.
Namun, karena tidak mau responsnya menggantung, Mei pun mencoba untuk menyampingkan rasa kagumnya untuk sementara waktu, lalu berdeham, “Ekhem. Jadi, apakah kau pulang lewat sini?”
“Tidak juga,” ucap pria itu. Dia tampak terhibur saat melihat Mei yang berdeham terlebih dahulu sebelum berbicara. Tatapan matanya pada Mei saat ini terlihat lebih…intens. “Hanya kebetulan lewat sini karena ada sebuah pekerjaan, my lady.”
Mei pun mengangguk-angguk mengerti.
Pria itu tersenyum lagi. “Boleh aku tahu siapa namamu, my lady?”
Mei mengangkat kedua alisnya. Napasnya sedikit tertahan tatkala mendengar pertanyaan itu. Ia kaget dengan kenyataan bahwa pria itu ingin tahu namanya. Cara pria itu bertanya juga…sopan sekali.
Oh sial, Mei mendadak jadi gampang gugup begini. What a handsome bastard.
Oh, no. Wait. He’s not a bastard.
Menutupi kegugupannya, Mei pun meneguk ludah dan mengangguk.
“Mei,” ucap gadis itu. “Namaku Mei.”
“Mei…?” Pria itu memiringkan kepalanya, matanya menatap Mei dengan penuh tanda tanya. Dia menunggu. Seolah masih ingin tahu sesuatu.
Ah. Dia ingin nama lengkap, huh?
“Shiori. Shiori Mei,” ucap Mei, memperjelas namanya.
Pria itu pun kembali menegakkan kepalanya; dia tersenyum puas. Suaranya lalu terdengar lagi. “Nama yang sangat cantik, my lady.”
Mei kontan berdeham; dia menyembunyikan rasa panas yang jelas-jelas naik ke pipinya karena astaga, dia tidak bisa tersipu. Dia tidak boleh tersipu semudah itu! Bisa-bisa, dia jadi naksir pada orang yang baru saja dia temui kalau begini caranya. Sudahlah tampan, pintar memuji pula. That’s not fair.
Mei pun langsung mengalihkan pandangannya ke vanilla milkshake-nya, pura-pura mengaduknya dengan pipet lagi, lalu meminumnya dengan cepat.
Reaksi Mei sukses membuat pria itu tertawa kecil. Pria itu agaknya menikmati situasi ini.
Oh, baiklah, Tuan Sempurna, kau pasti sangat terhibur.
Karena tidak ingin terus-menerus gugup, Mei pun memutuskan untuk mengalihkan perhatian. Dia berdeham, lalu mencoba untuk berbicara agar pria itu tidak terus-menerus memperhatikan reaksinya.
“Bagaimana denganmu? Siapa namamu?” Mei bertanya dengan tenang, berusaha untuk tidak menunjukkan betapa terpengaruhnya dia dengan kata-kata tersebut. Padahal, tadi pipinya hampir merona.
Pria itu kembali tersenyum seolah-olah memberikan senyuman adalah spesialisnya. Dia sepertinya sadar bahwa senyuman manisnya itu memberikan efek yang mematikan untuk perempuan. Atau jangan-jangan dia tidak sadar?
“Akashi, my lady,” jawab pria itu. “Akashi Roan Kaiser.”
Well, damn.
Wajah dan tubuhnya sempurna. Etikanya bagus. Suaranya sangat seksi. Sekarang…namanya pun bagus. Cocok sekali dengan orangnya.
Kaiser artinya…seorang kaisar, ‘kan?
Well, he looks like one.
Kelihatannya, dia akan menjadi kaisar di hati Mei juga.
Oke, itu di luar topik.
Sial. Pikiran Mei jadi ke mana-mana. Ini tentu saja salah Akashi. Baru kali ini Mei bertemu dengan seorang pria yang membuat pikirannya ke mana-mana seperti ini. Akashi harus tanggung jawab. Paling tidak, dia harus berhenti berbicara dengan bibir seksinya itu.
“Namamu…agak bagus,” ujar Mei. Sial, bukan ‘agak’! Namanya memang bagus! “Sangat cocok untukmu. Kupikir kau tidak bisa lebih sempurna dari ini.”
Pria itu lantas tertawa.
Dia betul-betul tertawa. Geli dengan sikap berani—sassy—yang mungkin tidak biasa dia dapatkan, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
Kalau saja Mei bisa melukis, Mei akan betul-betul menjadikan pria ini sebagai muse-nya. Dia terlihat seperti seorang pangeran yang baru saja turun dari sebuah kerajaan di langit.
“Hmm… ‘Agak’, ya?” ucap pria itu; dia terlihat sangat terhibur. Di matanya tersirat banyak sekali jenaka. “Baiklah. Bolehkah aku memanggilmu ‘Mei’, my lady?”
Well, sial. Nama Mei enak sekali didengar tatkala diucapkan oleh lidah pria itu beserta suara seksinya. Namanya jadi terdengar begitu indah. Membuat pipi Mei merona saja.
Pria tampan sialan.
Akhirnya, Mei pun mengangguk. Lagi-lagi berusaha untuk menutupi rasa gugupnya.
“Sure,” ujar Mei kemudian. Namun, tiba-tiba Mei tersadar akan sesuatu. “Kalau aku? Bagaimana caraku memanggilmu?”
Mei tadi dengar pria itu mengenalkan dirinya dengan nama Akashi, tetapi Mei hanya ingin memastikannya sekali lagi.
Pria itu tertawa dengan lembut di depan Mei. Tatapan matanya begitu bersahabat. Lembut dan ramah. “Akashi. Panggil saja Akashi, my lady.”
Benar. Nama panggilannya adalah Akashi.
Namanya bagus sekali. Begitu berkarisma, seperti orangnya.
“Baiklah, Akashi,” ucap Mei. Dia mengangguk dengan ekspresi datar, menyembunyikan semua pikiran aneh yang mengalir di kepalanya.
Akashi pun mengangguk. Pria itu lalu mengulurkan tangannya untuk dijabat oleh Mei. “Salam kenal, Mei.”
Jadi, dengan gerakan yang sedikit ragu, Mei pun memegang tangan kuat milik Akashi. Mei sadar akan jari-jari Akashi yang panjang; tangan Mei terlihat kecil sekali jika dibandingkan dengan tangan Akashi. Lengan Akashi juga terlihat berotot di balik sweater hitamnya.
Berusaha untuk menyingkirkan segala pikiran kotornya sebelum menembus batas wajar, Mei pun mengangguk. Ia mencoba untuk bertatapan dengan Akashi; tatapan mata mereka berserobok. Dalam waktu singkat, tatapan mereka jadi terlihat saling menerawang. Mei seakan terisap ke dalam kepekatan warna merah dari mata milik Akashi, terjerumus ke dalam warna merah yang begitu menarik perhatiannya. Warna merah itu memiliki daya tarik yang luar biasa. Memiliki kekuatan. Gairah. Begitu intens…sampai membuat Mei sukses terjerat di dalamnya dalam waktu yang sangat singkat.
Ini berbahaya.
Jika Mei berada di dalam café ini lebih lama lagi, bisa-bisa Mei benar-benar akan menyukai pria itu. Pria yang bernama Akashi itu. Ah, sial, Mei jadi terdengar aneh begini. Dia tak mau terdengar putus asa, terutama saat dia baru saja putus dengan Haruki. Masa iya dia naksir dengan orang lain secepat ini?
Mei tidak yakin dia akan bertemu lagi dengan Akashi di kemudian hari. Jadi, Mei tak mau menanggung risiko untuk jatuh cinta pada Akashi yang merupakan orang asing, terutama Mei baru saja mengalami patah hati. Agaknya, hal yang seperti ini harus cepat-cepat dicegah. Tidak lucu kalau dia harus mengalami patah hati dua kali berturut-turut dalam waktu kurang dari satu minggu. []