Chapter 2 :
Prince Charming (2)
******
MEI perlahan-lahan mendongak. Melihat pria itu yang sudah berdiri menjulang di hadapannya.
Mei terdiam. Ini pertama kalinya dia melihat wujud pria yang aura kebangsawanannya menguar dengan kuat, padahal tadi dia hanya melihat pria itu berjalan ke arahnya.
Tatkala Mei benar-benar melihat wajah pria itu dengan jelas, Mei semakin terpaku. Pria itu memiliki rambut yang berwarna merah. Crimson red. Matanya juga…berwarna sama seperti rambutnya.
Ini aneh. Apakah rambutnya di-bleaching? Namun, mata? Bagaimana dengan mata? Apakah dia memakai lensa kontak? Tidak mungkin ada orang Asia yang memiliki rambut serta mata dengan warna merah natural seperti itu. Bahkan, satu dunia pun kemungkinan tidak ada yang memiliki mata serta rambut natural yang berwarna merah. Namun, pria ini memilikinya.
Sialnya, keajaiban itu sangat cocok dengan wajahnya yang tampan. Hidungnya mancung dan garis rahangnya terbentuk dengan sempurna. Bentuk matanya sebetulnya terlihat tajam seperti elang, tetapi karena tatapannya sangat lembut dan ramah, bentuk matanya itu jadi tidak terlihat mengintimidasi. Malah terlihat seperti mahakarya. Secara penampilan, dia tampak begitu sempurna. Dengan penampilan yang begitu unik dan luar biasa seperti itu, apakah dia pernah ditawari untuk berkerja sebagai model? Atau mungkin dia adalah seorang model?
Namun, entah mengapa…rasanya dia terlalu majestic untuk menjadi seorang model. Rupa pria itu terlihat seolah dia memiliki garis keturunan bangsawan atau sesuatu sejenis itu. Paling tidak, keseharian hidupnya pasti berbeda dengan orang-orang biasa. Caranya berjalan, caranya tersenyum…
Eh, sebentar, dia tersenyum pada Mei?
Mata Mei melebar. Pria itu memang sedang tersenyum padanya! Senyumannya begitu manis, gentle, dan…
Astaga. Dia kelihatan seperti pangeran berkuda putih yang ada di dalam cerita-cerita dongeng. Sangat gentle. Benar-benar prince charming.
Pria itu lalu melepas topi fedoranya. Tanpa sadar, Mei jadi mematung melihat betapa tampannya pria itu dengan rambut merahnya. Dia keturunan apa, sih?
Senyuman pria itu terlihat semakin lembut dan manis. Pria itu lalu sedikit memiringkan kepalanya. “My lady.”
Apa?
My…lady?
Oh, Tuhan. Pria itu betul-betul bersikap seperti bangsawan. Dia memperlakukan wanita dengan istimewa. Harusnya etika itu diajarkan juga kepada semua lelaki zaman sekarang. Dia perfect sekali.
Menyadari bahwa pria itu sedang berbicara padanya, Mei pun jadi agak bingung. Mei mencoba untuk menguasai dirinya sendiri agar bisa menjawab pria itu dengan baik.
“…Ya?”
Pria itu kemudian tertawa kecil.
Well, damn. Dia tampan sekali. This man had to be a descendant of a s*x god because there is no way a face like that was human.
Bukan berarti Mei benar-benar tahu apa pun tentang seks—mengingat dia masih perawan—tetapi demi Tuhan, pria itu memang memberinya kesan seperti itu.
“Boleh aku duduk di sini, my lady?” tanya pria itu dengan sopan.
Ya Tuhan, suaranya. Suaranya sangat halus dan serak. Sangat seksi. Hampir membuat Mei merinding.
Hampir.
Well, Mei agak kaget mendengar permintaan itu. Sialnya, jantungnya pun tidak bisa diajak kompromi. Jantung sialan, malah berdegup kencang tanpa tahu waktu dan tempat. Jangan sampai pipi Mei memerah hanya karena permintaan itu. Itu sungguh tidak lucu.
Meski kegugupannya hampir kelihatan, Mei tetap menjawab pria itu. Ia mulai menyingkirkan tasnya ke sudut. “Oh—ya, boleh. Silakan.”
Waduh, dia akan duduk satu meja dengan pria seksi itu! Bukan seperti Mei menantikannya, ya.
Bukan sama sekali.
“Terima kasih, my lady,” ucap pria itu, lalu pria itu mulai beranjak untuk duduk satu meja dengan Mei. Mereka duduk berhadapan.
Mei melihat pria itu meletakkan topi fedoranya di atas meja. Sesaat setelah pria itu duduk, ada seorang pelayan café yang mengantarkan minuman pesanan pria itu ke atas meja. Pria itu tampak memesan cappuccino.
“Ah—terima kasih,” ucap pria itu kepada pelayan yang mengantarkan pesanannya. Pria itu memberikan sebuah senyuman yang manis kepada pelayan itu. Pelayan itu lalu mengucapkan ‘Sama-sama, Tuan.’ dan merunduk hormat sebelum akhirnya pergi meninggalkan meja mereka.
Tatkala kepala pria itu kembali menghadap ke arah Mei, Mei mulai gugup lagi. Sial, mengapa Mei jadi gugup begini? Rasanya canggung sekali. Apakah mereka akan mengobrol? Atau hanya diam-diaman saja?
Pria itu meminum cappuccino-nya sejenak, lalu matanya mulai menatap Mei. Seraya tersenyum, pria itu pun mulai berbicara.
“Apakah kau sering datang ke sini, my lady?”
Mei, yang sedari tadi lupa memalingkan pandangannya, kini jadi melebarkan mata. Diam-diam, dia mengutuk dirinya sendiri yang tanpa sadar terus memperhatikan pria itu. Dia langsung tersenyum simpul, lalu berpura-pura mengaduk minumannya. “Oh—iya. Aku sering ke sini sepulang bekerja.”
“Oh...” ujar pria itu, tetapi Mei tidak melihat wajahnya. Mei tidak tahu ekspresinya seperti apa. Wajah pria itu terlalu mengagumkan; Mei tidak mau kelihatan salah tingkah. Masa dia salah tingkah dengan orang yang baru ia temui? Mei bukan gadis murahan yang ada di jalanan.
…but then again, pria itu tampak terlalu memesona. Dia juga sangat gentle. Jadi, wajar saja Mei agak salah tingkah.
“Jika kau berkenan, apakah aku boleh bertanya di mana kau bekerja, my lady?” tanya pria itu lagi.
Mei pun mulai mengangkat kepalanya. Dia menatap pria itu yang kini masih tersenyum dengan ramah padanya.
Mei sadar bahwa seluruh warna merah yang dimiliki oleh pria itu tampak indah sekali. Seperti melihat bunga mawar yang tumbuh di taman kerajaan. Mereka tumbuh dengan anggun dan mulia. Agung.
Mei mengerjap. Gadis itu menyiapkan dirinya secara mental karena mungkin saja percakapan mereka akan berlanjut. Kemungkinan besar, keadaan di antara mereka berdua tidak akan menjadi canggung. Mereka tidak akan diam-diaman saja.
Akhirnya, Mei pun menjawab, “Aku…bekerja di Kantor Pelayanan Publik. Tidak jauh dari sini.”
“Oh, apakah kau seorang PNS?” tanya pria itu lagi. Matanya sedikit melebar tatkala menanyakan hal itu.
Mei mengangguk. Gadis itu pun tersenyum tipis, sedikit canggung. “Iya.”
Wah, untuk sejenak Mei jadi lupa bahwa dia baru saja putus hubungan. Pria itu benar-benar menyita perhatiannya.
Pria itu pun berdeham sedikit panjang, lalu mengangguk. Dia meminum cappuccino-nya lagi, kemudian kembali menatap Mei setelah meletakkan minumannya di atas meja. Tatapannya lembut dan ramah, terlihat benar-benar menghormati perempuan.
Dia benar-benar terlihat seperti bangsawan. Seolah dia adalah bagian dari keluarga kerajaan di Eropa zaman dahulu. Apakah pria itu bahkan memiliki kekurangan? Dia terlihat begitu sempurna. Tutur katanya begitu sopan, gentle, berkelas, dan tertata. Pakaiannya rapi dan wajahnya tampan. Caranya menghormati dan menghargai wanita juga patut diacungi jempol.
Karena tidak ingin membuat pria itu merasa seperti mesin penanya satu arah—padahal pria itu tidak berpikiran demikian—Mei pun berinisiatif untuk bertanya balik pada pria itu.
“Bagaimana denganmu? Apakah kau juga bekerja di sekitar sini?” []