Seorang Bayi

1405 Kata
  بـــــــسم اللّـــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم ⚠Ambil baiknya, buang buruknya⚠ ⚠Jangan ngejudge suatu cerita sebelum kamu mebacanya sampai tamat⚠ Selamat Membaca Hari ini Rania dan Yusuf berniat untuk menjenguk Senna yang sedang berada di rumah sakit. Rania juga merasa sudah lama tidak berjumpa dengan Senna. Semenjak menikah, Rania lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Yusuf. Laki-laki yang tidak pernah membuatnya bosan sembuat Rania selalu tersenyum malu. "Ma syaa Allah, istri aku cantik banget." Puji Yusuf saat menatap Rania yang sudah mengenakkan gamisnya. Tubuh Rania kaku seketika. Padahal kalimat itu sudah sering ia dengar, tapi tetap saja saat kata itu terlontar dari mulut Yusuf reaksinya berbeda. Hati Rania praktis berkata; makasih, Aa "Jadi patung lagi, kan? Masa gerakannya jadi pause terus? Gimana ceritanya kalau aku mau bilang kamu cantik tiap saat?" Yusuf terus saja menggoda istrinya. Membuat pipi Rania merah adalah hobi Yusuf yang terbaru. Sebab saat melihat pemandangan seperti itu membuat Yusuf bahagia sendiri. "Enggak, ah. Biasa aja. A Yusuf aja yang berlebihan." "Hmm gitu, ya?" Yusuf menganggukkan kepalanya. Kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas bufet. Rania mengerutkan keningnya. Sebab ini pertama kalinya dia melihat Yusuf bisa tersenyum hanya karena sebuah ponsel. "Aa lagi ngapain sih?" "Enggak." Yusuf memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dipadangnya Rania dengan tatapan tak terbaca. "Niqabnya mana? Biar aku yang pasangin." "Sebentar." Rania berjalan menuju lemari, mengambil sehelai kain kecil berwarna hitam. "Ini..." Yusuf mendekat, kemudian memasangkan kain itu pada wajah Rania. "Jangan senyum dulu." "Kok Aa tau?" "Kan udah dibilang, kalau kamu senyum, d**a aku bergetar. Ini namanya cinta, makanya aku suka kalau kamu lagi senyum." Pipi Rania sudah merona merah, untung saja ada kain yang menutupi wajahnya. Jadi Yusuf tidak akan bisa melihat secara bebas bagaimana kondisi wajahnya saat ini. Apalagi dengan bibir yang terus melekungkan senyum, kalau perkataan konyolnya, gigi Rania akan kering karena terus-terusan tersenyum seperti itu. "Udah ah, Aa. Kalau kayak gini terus kita nggak jadi sampai di rumah sakit." Yusuf mengangkat kedua tangan-nya. Baiklah, dia menyerah. Yusuf dan Rania memasuki gedung rumah sakit. Saat berjalan di koridor rumah sakit, ada beberapa orang yang menatap Rania penuh selidik. Bahkan tadi saat akan masuk ke dalam gedung rumah sakit ini, beberapa satpam menghentikan langkah Yusuf dan Rania. Mereka meminta agar Rania membuka cadar-nya. Sebab mereka menganggap Rania adalah teroris yang bisa membuat kekacauan di rumah sakit ini. Untung saja Yusuf bisa memberi jawaban yang membuat mereka mengerti, bahwa tidak selamanya emas harus diperhilatkan kepada orang banyak. Rania miliknya, jadi Yusuf berhak sepenuhnya memilikinya sendiri. Saat akan masuk ke ruangan Senna, tidak sengaja Yusuf dan Rania melewati ruangan bayi. Langkah Yusuf terhenti. Dipandangnya bayi-bayi itu dengan binar mata yang berbeda. Ada cinta luar biasa yang terpancar dari kedua mata Yusuf,  dan Rania bisa melihat itu semua. "Aa suka liat bayi di sini?" "Sangat. Mereka begitu lucu, aku nggak sabar pingin milikin makhluk kecil seperti itu." Rania menunduk, seperti merasa bersalah karena belum bisa memberikan apa yang Yusuf inginkan. "Aa, maafin aku, ya. Aku belum bisa kasih Aa bayi." "Bentar lagi kita pasti dikasih, sayang." Yusuf beralih menatap istrinya. Ditariknya dagu Rania hingga sepasang mata itu saking beradu. "Aku yakin kalau Allah akan segera ngirim malaikat itu ke rahim kamu. Kita harus hanyak-banyak meminta." "Iya sih. Aa kan paling gencar pengen punya bayi." "Hussstt. Jangan keras-keras ngomongnya." "Hehe, maaf, Aa." "Yaudah kita ke ruangan Senna." "Tunggu dulu, Aa.." "Ada apa, Raniku..." "Sekarang aku yang masih pingin liat bayinya. Liat itu Aa, bayi-nya kembar. Lucu tau, Aa." "Kamu mau punya bayi kembar?" "Ya mau sih. Tapi pasti ribet ngurusnya. Satu bayi aja kalau nangis aku belum tentu bisa tenangin, gimana dua?" Rania melirik suaminya sejenak. "Kan ada aku. Kita ngurusnya sama-sama. Kamu kan udah kebagian nyimpan dia di dalam perut, tinggal tugas aku buat bantu kamu ngerawat dia." "Aa kenapa sih baik banget sama aku. Aa tau nggak? Aku ngerasa jadi perempuan paling beruntung karena bisa nikah sama Aa. Aku nggak nyesel kok nikah muda, soalnya Aa ngajakin aku pacaran terus. Jadi aku ngerasa kalau aku nggak kehilangan masa-masa remaja aku. Kemana aja Aa pasti mau nemenin aku." "Untung waktu itu aku ketemu kamu pas di jembatan. Mana mukanya galak lagi." Yusuf terkekeh pelan. Di balik cadarnya, Rania cemberut. "Tapi Aa udah pegang-pegang tangan aku." "Maaf, sayang. Waktu itu kan waktunya mepet. Kamu mau loncat gitu." "Tapi nggak pa-pa deh. Berkat A Yusuf, aku masih bisa hidup sampe sekarang." "Itu bukan karena aku. Tapi karena pertolongan Allah dan diri kamu sendiri. Kalau waktu itu kamu nggak dengerin kata-kata aku, kamu masih bisa lakuin hal itu di tempat lain. Tapi nyatanya kan enggak." "Tapi tetap aja, Aa. Kalau awalnya bukan karena Aa, mana bisa aku sadar." Yusuf megembuskan napas pelan. Kemudian menarik tangan Rania untuk dicium. Tidak peduli dengan kondisi rumah sakit yang sedang ramai. "Mungkin karena alasan itu Allah mempertemukan kita dan menjadi suami-istri kayak sekarang ini." Rania mengangguk penuh arti. Rania berhatap semoga Allah tetap mengizinkan mereka untuk terus bersama-sama, hidup dengan cinta yang utuh dan terjaga. Bagi Rania Yusuf bukan hanya sosok suami, bukan juga sosok dosen yang bisa memberinya ilmu saat berada dikampus. Tapi Yusuf adalah guru dalam hidupnya. Seseorang yang bisa membuat Rania percaya akan kekuatan doa dan cinta. Memaafkan setulus hati meski memeluk luka yang amat dalam. Berkat Yusuf, Rania percaya bahwa luka yang sudah lama mengaga akan sembuh jika diobati dengan penuh kesabaran. Dulu Rania selalu percaya bahwa tidak selamanya pelangi akan datang setelah hujan teduh, tidak selamanya setelah kesedihan akan datang kebahagiaan. Tapi semuanya berubah setelah kehadiran Yusuf, laki-laki yang sudah berhasil mengubah pola pikirnya. Rania percaya bahwa setiap manusia di muka bumi ini sudah pasti punya standar tersendiri dalam menghadapi hidupnya, karena Allah lebih tahu porsi mana yang kita butuhkan. "Nanti kalau pulang dari rumah sakit, kamu harus benar-benar jaga kandungan kamu, Senna. Itu satu-satunya keturunan Radit yang masih ada!" lagi-lagi kata ity terlontar dari mulut Asri, entah untuk yang keberapa kalinya. "Iya, Bu. Aku bakal lebih hati-hati, kok. Aku juga nggak mau kehilangan anak aku." "Kamu nggak bakal bisa tenang tinggal di rumah itu. Ibu udah bilang, kamu tinggal di rumah ibu aja. Biar kamu jauh-jauh dari tante kamu yang jahat itu. Minimal sampai anak kamu lahir." Senna menarik mapas dalam-dalam. Sepertinya dia memang harus mengikutin saran dari Asri. Selain untuk keselamatan bayi-nya, Senna juga bisa merasa lebih nyaman. Di rumah Asri, Senna bisa merasa memiliki keluarga. Sekarang Senna sudah tidak peduli lagi dengan rumah peninggalan orang tuanya. Suatu saat nanti Senna akan membalas perbuatan tantenya yang kejam itu. Mungkin ini saatnya Senna menyusun rencana, saran Radit waktu itu untuk membunuh tantenya sendiri akan ia lakukan. "Assalamualaikum..." Pandangan Asri dan Senna tertuju ke arah pintu. Dilihatnya perempuan bercadar dengan seorang laki-laki. Asri mengenali laki-laki itu, tapi tidak dengan wanita yang ada di sampingnya. "Yusuf, kamu sama siapa?" "Sama Rani atuh, Bu." "Rania?" "Ibu masa nggak ngenalin anaknya sih?" kata Rania dengan nada manja. "Ya Allah. Maaf, Rani. Habis kamu pake tutup muka pake kain itu segala sih." "Alhamdulillah itu hal yang bagus kan, Bu? Artinya kecantikan Rania cuma buat aku seorang." "Ih A Yusuf ... Jangan gitu, malu. Ada kak Senna tuh." Rania mendorong lengan Yusuf. Tapi Yusuf hanya tertawa. "Malu tapi mau, kan? Aku tau kamu lagi senyum-senyum." "Ishh, fitnah. Bu dia godain aku terus nih." "Kalian ini. Nggak di rumah, nggak di sini, selalu aja kayak gitu. Bikin ibu gemes sendiri." Asri menggelengkan kepalanya. Ia sangat bahagia melihat Rania seperti ini. Sebab kebahagiaan Rania adalah segalanya bagi Asri. Di balik bahagianya Rania. Ada seseorang yang diam-diam terluka. Matanya mulai berkaca-kaca dengan ulu hati yang semakin terasa nyeri. Diam-diam Senna cemburu. Kenapa Rania bisa mendapatkan suami sebaik Yusuf? Tampan dan perhatian. Hatinya begitu lembut, cara bicara dan pandanganya pada Rania juga teduh, dengan pancaran mata penuh cinta. Sementara dirinya, harus menderita sendiri. Kebahagiaannya hanya bertahan sejenak, sampai akhirnya Radit meninggalkan luka yang amat dalam. Kenapa bukan dia yang bahagia seperti Rania? Kenapa hanya Rania? Salahkah Senna ingin laki-laki seperti Yusuf? "Kak Senna, kenapa nangis?" tanya Rania tiba-tiba. Sontak Senna menghapus air matanya. "Hmm, nggak pa-pa. Aku cuma kangen sama kamu. Aku liat semakin ke sini kamu semakin jadi wanita yang baik." "Aku lagi belajar, Kak. Pelan-pelan, In syaa Allah." Senna hanya tersenyum. Haruskan dia seperti Rania? Agar dia bisa mendapatkan laki-laki seperti Yusuf? Yang Senna tahu, semenjak Rania memutuskan mengubah hidupnya, kebaikan selalu datang tanpa henti. Ayah-nya kembali, dan ia mendapatkan suami yang baik. Apakah Allah juga akan memberikannya kebahagiaan seperti itu? Bersambung Hayo, Senna nih Jazakillahu khairan khatsiiran ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN