4. Sekotak Macaron

1142 Kata
Mendengar perkataan yang dilontarkan oleh laki-laki itu membuat Khanza diam seribu bahasa. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Saat ini dirinya memang sudah kalah telak dengan Dzaky. Namun, haruskah Khanza mengatakan apa penyebab dirinya pergi? Ahh sungguh ini bukan sebuah hal yang terbaik untuk dibahas. Masa lalu itu sudah dia kubur dalam-dalam. Tidak mungkin digali lagi. "Maafkan, aku." Hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulut Khanza. Pelan dan lirih, tapi bisa didengar dengan begitu jelas oleh Dzaky. "Tidak apa. Setiap orang berhak memiliki hak dan kewajiban. Jika sekarang kamu katakan untuk tidak ingin menemui aku, maka akan dengan senang hati ku lalukan." Dzaky berkata santai sambil mengambil satu bungkus kacang kulit dari dalam plastik yang tadi dibeli Khanza. Mendengar perkataan Dzaky membuat Khanza mengerutkan keningnya tak percaya. Antara Dzaky yang sudah berubah atau Khanza yang kembali menjadi wanita bodoh karena berdekatan dengan laki-laki itu? Dulu, laki-laki ini adalah salah satu alasan mengapa Khanza tidak pernah menolak kalau diajak menginap atau berkunjung ke rumah orang tua Sagina yang berada di kota berbeda dengan tempat kerja mereka. Laki-laki ini juga yang dia perhatikan secara diam-diam di setiap kesempatan. Laki-laki ini juga yang mampu mengalihkan perhatian Khanza dari seluruh para laki-laki yang mendekatinya. Terkadang kalau akhir pekan, Sagina tidak pulang. Maka, Khanza dengan susah payah akan membujuk wanita itu untuk pulang. Tentu saja dengan sebuah alasan kalau dia merindukan masakan Mamanya Gina Padahal kenyataan yang sebenarnya adalah Khanza yang merindukan wajah laki-laki incarannya. "Maksudnya bagaimana?" tanya Khanza. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang barusan dikatakan oleh Dzaky. Sepertinya memang pikiran Khanza yang menjadi lemot kembali saat berdekatan dengan Dzaky. "Setiap manusia, 'kan mempunyai hak asasi. Kamu, berhak tidak ingin bertemu dengan aku," kata Dzaky sambil masih mengkonsumsi kacang kulit milik Khanza. "Mengapa kamu bisa berpikiran seperti itu?" tanya Khanza. Wanita itu langsung mengalihkan pandangannya ke danau. Terlalu malu, saat Dzaky ternyata bisa dengan tiba-tiba membaca jalan pikirannya. Sebenarnya bukan tak ingin bertemu. Justru Khanza sangat ingin bertemu dengan Dzaky. Hanya saja dirinya merasa tidak pantas untuk berteman apalagi nanti sampai rasa cinta yang dahulu dia kubur bersemi kembali. "Mengapa? Aku rasa kamu tahu jawabnya," kata Dzaky melirik sekilas dan tersenyum pada Khanza. Meski sedang menatap keindahan danau buatan itu, tapi Khanza tahu kalau Dzaky melirik dan tersenyum pada dirinya. Siàl! Aku masih saja menjadi wanita paling bodoh di dunia ini saat bertemu dengan dirinya. Mengumpat pada diri sendiri yang sejak dulu tidak pernah terlihat pintar dan berkelas saat berhadapan dengan Dzaky. Saat ini saja–saat semuanya sudah berubah dia tetap sama. Menjadi wanita bodoh dihadapan laki-laki yang ia cintai dan itu hanya terjadi jika Khanza berhadapan dengan Dzaky. "Bu–bukan begitu. Hanya saja, aku ...." Khanza sungguh tak bisa melanjutkan kalimatnya karena dia bingung harus berbicara apa. "Tak perlu menjelaskan apa-apa. Sebab tidak ada yang perlu dijelaskan," ucap Dzaky. Saat Khanza terlihat gugup dan malu karena ketahuan ingin menghindar dari Dzaky. Justru laki-laki itu malah bersikap sebaliknya. Dia terlihat bisa saja. Bahkan tampak seperti sedang menikmati waktu berdua bersama Khanza. Sedang berusaha untuk menormalkan dirinya sendiri. Lagi-lagi Khanza berlatih pernapasan agar bisa mengontrol pikiran dan rasa malunya. "Mengapa tiba-tiba kamu bisa ada di sini?" tanya Khanza saat menormalkan dirinya. Semoga kali ini aku tidak terlihat seperti wanita bodóh lagi. Seharusnya pertanyaan itu sudah dia tanyakan sejak pertama kali melihat Dzaky ada disini. Namun, karena pikirannya yang tidak menentu membuat Khanza lupa dan baru ingat sekarang. "Seperti kamu yang tidak memberikan alasan tentang mengapa menghindar. Maka aku juga tidak akan memberi alasan kenapa, aku bisa berada disini." Dzaky tersenyum, kali ini Khanza kalah telak. Apa yang barusan terjadi padanya kini malah menimpah dirinya sendiri. Huuaaaa! Demi apa pun tolong aku! Tololoonggg! Ya Allah ... ini laki-laki kenapa dari dulu pintar banget mainin keadaan? Mendengar itu justru membuat kekesalan Khanza terhadap Dzaky malah semakin menjadi-jadi. Batinnya meronta-ronta, ingin sekali rasanya Khanza menenggelamkan Dzaky ke dalam danau yang ada dihadapannya ini. Bagaimana dia tidak kesal kalau kenyataan apa yang dikatakan Dzaky adalah sebuah kebenaran dan manusia memang memiliki hak asasi masing-masing. Ada ranah private juga yang tak harus diberitahu pada orang lain. Siapa pun berhak melakukannya. "Up to you." Khanza berusaha berkata senormal mungkin, menutupi perang batin yang sedang dia rasakan. "Ya, memang harus seperti itu. Sebab siapa pun berhak untuk tidak memberitahu tentang apa pun," kata Dzaky. Sejak tadi laki-laki itu hanya sibuk memakan kacang kulit yang dibeli Khanza. Dia terlihat seperti orang yang tidak bermodal. "He he he. Ia, kamu benar." Khanza tertawa sumbang hanya untuk menetralkan dirinya saja biar tidak terlalu gugup. Kemudian kedua anak manusia berbeda kelamin itu saling diam. Dzaky sibuk dengan kacang kulit yang sudah hampir habis. Sementara Khanza sibuk dengan pikiran-pikirannya sambil meminum soft drink yang mungkin saja nanti akan membuat kadar asam lambungnya naik. Hingga langit menampilkan jingga. Memperlihatkan bahwa senja sudah datang. Memantulkan cahaya kuning keemasan di danau buatan itu. Tak ada satu pun dari mereka berdua yang membuka pembicaraan terlebih dahulu. Dzaky yang tadinya terlihat banyak bicara kini sudah diam seribu bahasa. Begitu juga dengan Khanza yang memilih untuk menenangkan dirinya. Menormalkan perasaan bersalah karena sudah tidak memiliki kesempatan untuk meminta maaf pada Sagina yang kini sudah tenang di alam sana. "Pernah mendengar bahwa kehidupan itu ibarat sekotak macaron?" tanya Dzaky tiba-tiba. Setelah sekian lama mereka saling diam. Akhirnya laki-laki itu membuka pembicaraan untuk pertama kali. "Warna-warni?" tanya Khanza. Hanya itu yang dia tahu soal macaron. Cookies warna-warni yang menggambarkan tentang perasaan seseorang. Sebab di kafe tempatnya bekerja. Cookies itu akan dipesan sesuai dengan warna atas dasar suasana hati yang memesannya. "Ya, indah bukan?" tanya Dzaky. Lagi-lagi Khanza dibuat bingung oleh tingkah laki-laki yang ada dihadapannya ini. Memberi pertanyaan tapi tidak menjelaskan. Kalau hanya berkata seperti itu anak kecil juga tahu. "Indah ... dan memang sudah seharusnya kehidupan manusia layaknya macaroon. Warna-warni bukan hitam dan putih seperti pudding zebra." Khanza berkata sambil melirik kearah kantung plastik jajanan yang ia beli tadi. Ternyata Dzaky hanya makan kacang kulit saja. Membuatnya mengambil bungkusan cemilan berisi biji bunga matahari. Asin dan gurih. Rasanya juga hampir sama dengan kacang kulit hanya saja ini terlalu kecil. "Namun, sayangnya terkadang hitam putih justru terlihat jauh lebih menarik daripada warna-warni," ucap Dzaky. Sejak tadi sepertinya Dzaky tidak kehabisan akal untuk membuat Khanza penasaran. Ternyata sifat laki-laki itu masih sama. Selalu saja membuat Khanza penasaran akan bagaimana diri laki-laki itu. "Gimana bisa kamu ngomong seperti itu? Sudah jelas-jelas bahwa warna-warni itu ibarat menggambarkan kehidupan dan perasaan yang berlika-liku. Hitam putih kan cuma warna dasar saja." Khanza berkata sesuai dengan apa yang dia pikirkan. Menurutnya kehidupan memang harus berwarna-warni seperti macaron bukan? Kalau tidak mengapa mereka menjual cookies itu sesuai dengan rasa yang diinginkan pemesan? Sejak LanLan cake and bakery didirikan menu Makaron adalah sebuah menu yang harus dipesan sesuai dengan suasana hati si pemesan. Oleh sebab itu segala warna yang menggambarkan kebahagiaan dan juga kesedihan disediakan oleh pemilik kafe tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN