3. Danau Kenangan

1596 Kata
Panik membuat Khanza tidak tahu harus berbuat apa? Pilihan untuk pergi dari kafe sama sekali tidak ada dipikirannya. Hanya terlintas begitu saja kemudian dilaksanakan. Berjalan kaki menjadi pilihan wanita itu. Meski dia tidak tahu harus pergi ke mana? Saat ini yang ada dalam pikiran wanita itu hanyalah menjauh dari Dzaky. Entah mengapa ... yang pasti setelah mendengar penjelasan Dzaky membuat, Khanza merasakan sakit dihatinya. Seolah hal itu menguak kembali masa lalu yang telah lama dia kubur dalam-dalam. Langkah kakinya terpaksa harus berhenti saat mendengar ada bunyi notification dari ponselnya. Memilih untuk membuka benda pipih itu terlebih dahulu sebab dia tahu siapa yang mengirim pesan padanya. [Annisa] Baik-baik saja? Tepat sekali dugaannya. Belum juga kaki melangkah jauh, tapi Annisa sudah menanyakan keadaan Khanza. Dari trotoar tempat Khanza berdiri saat ini terlihat jelas toko rotinya. Ada Guna juga yang baru keluar dari sana. Bocah itu sepertinya akan pulang. Dia memang tidak betah berlama-lama kalau di sana tak ada Khanza. Aneh memang, padahal baru beberapa bulan mereka berkenalan, tapi seperti sudah akrab sejak lama saja. Mengalihkan pandangannya kembali pada ponsel. Khanza membalas pesan Annisa. [Khanza] It's okay. I'm fine. Padat, singkat, tepat dan jelas. Khanza, tahu. kalau saat ini, Annisa pasti sedang bertanya-tanya tentang dirinya yang pergi tiba-tiba. "Tidak masalah. Aku akan menceritakannya nanti," kata Khanza sambil menyimpan kembali ponsel itu kedalam tasnya. Melanjutkan perjalanannya meski tidak tahu tujuan harus ke mana, tapi saat ini Khanza hanya ingin menikmati suasana berjalan kaki saja. Bertahun-tahun menutup segala hal yang telah berlalu dan tentu saja dia sesali. Hari ini, takdir justru membawa Khanza bertemu pada orang dari masa lalunya. Jauh sebelum bertemu dengan Annisa. Sagina adalah sahabat sekaligus kakak terbaik yang Khanza miliki. Satu-satunya orang yang berteman dan perduli dengan tulus padanya. Namun, pepatah yang mengatakan kalau air s**u dibalas air tuba ternyata benar adanya. Buktinya, Khanza mengulah! Dia menyia-nyiakan kebaikan Sagina hanya karena seorang laki-laki bajingàn. Cinta memang mampu membuat siapa saja lupa diri. Setiap manusia pasti membutuhkan cinta, tapi terkadang manusia tak sadar bahwa cinta lah yang dapat menghancurkan kehidupan mereka. Siapa yang tak ingin dicintai dan mencintai? Seberapa bahagianya bila saling mencintai? Namun, pernahkah kita berpikir bahwa hanya ada segelintir orang yang akan saling mencintai. Selebihnya ibarat untung dan rugi. Tak semua manusia memiliki nasib baik. Itulah yang dialami oleh Khanza dulu. Memprioritaskan laki-laki yang dia cintai, dijunjung dan diagung-agungkan. Melupakan orang-orang terdekat, bahkan melupakan orang yang paling berjasa dan selalu ada dalam hidupnya. Cinta membuat Khanza lupa. Melupakan dirinya sendiri, melupakan orang-orang sekitarnya demi memberikan sebuah kebahagiaan dan kasih sayang yang tulus pada seorang laki-laki yang paling dia cintai. Namun, apa yang didapat? Sebuah kesalahan besar! Orang yang selama ini dia junjung setinggi langit dan diperlakukan bak raja nyatanya mematahkan hati Khanza hingga berkeping-keping. Menghancurkan kehidupan wanita itu. Hancur sehancur-hancurnya. Setelah semua itu, yang dia rasakan hanyalah penyesalan. Beberapa tahun lalu sempat ada niat hati untuk mencari Sagina. Bagaimanapun di sini, Khanza lah yang bersalah. Jadi sudah seharusnya dia mencari dan meminta maaf. Ke sana ke mari mencari, tapi tak menemukan jejak apa pun. Rumah wanita yang dia anggap kakak sendiri itu juga sudah pindah. Keluarganya sama sekali tidak bisa dihubungi. Ternyata saat ini Sagina sudah berpulang kepada sang pencipta. Menyisakan penyesalan dan beribu-ribu kata maaf pada Khanza. Dia telah menyia-nyiakan wanita baik, teman terbaik, sahabat terbaik dan kakak terbaik seperti Sagina. **** Berjalan sambil ditemani oleh kepingan-kepingannya ingatan masa lalu ternyata menyenangkan. Bahkan membuat Khanza tidak sadar bahwa saat ini dirinya sudah berada disebuah taman kota. "Pantesan ODGJ kalau jalan itu bisa berpuluh-puluh kilometer. Ternyata ini rahasianya," kata Khanza tergelak. Mencari sebuah warung terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam taman itu. Khanza butuh minuman dan cemilan. Berjalan kaki hampir tiga puluh menit ditengah teriknya matahari ternyata membuat tenggorokan kering dan perut keroncong. "Aneh-aneh aja sih kamu! Ngapain coba main kabur-kaburan? Tinggal ngobrol-ngobrol aja apa susahnya sih?" Khanza bermonolog. Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Khanza memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang ada di taman itu. Tempat yang menjadi favorit-nya sejak dulu. Sebuah danau buatan yang langsung menampilkan pemandangan hutan kota. Hijau, asri dan sangat menyenangkan. Apalagi ketika mendengar suara angsa yang sedang berenang ditambah dengan kicauan burung-burung. "Indah sekali," kata Khanza sambil merenggangkan otot-otot lengan dan kakinya. Sedikit merilekskan sebelum wanita itu menjatuhkan bokongnya untuk duduk di atas rerumputan hijau. Bangku memang sudah tersedia, tapi dia lebih menyukai duduk di atas tanah seperti ini. Lebih menyatu dengan alam. "Di sini juga ternyata?" tanya seseorang dengan suara bariton yang khas. Baru saja ingin merilekskan tubuh dan pikiran, tapi tiba-tiba saja Khanza hampir dibuat stroke dini sebab terkejut. Ah, tentu saja dia mengenali suara itu–suara laki-laki yang saat ini sungguh ingin dihindarinya. Syok atas kematian Sagina belum hilang, ditambah lagi dengan rasa bersalah dan penyesalan yang dia pendam selama ini. Sungguh demi apa pun yang ada di dunia ini, Khanza belum siap untuk bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya. Apalagi orang-orang terdekat Sagina. Dengan gerakan perlahan, wanita itu menolehkan sedikit kepalanya untuk bisa melihat siapa gerangan yang berbicara barusan. "Ka–kamu? Ba–bagaimana bisa, kamu di sini?" tanya Khanza terbata-bata. "Karena ini tempat umum," jawab laki-laki itu. Dia malah berjalan mendekati Khanza. Membuat wanita itu membulatkan matanya tak percaya. Jantungnya pun berdebar dua kali lebih cepat. Tenang, Khanza tenang ... okay ... rileks aja kaya di pantai dan tidak terjadi apa pun. "Aku boleh, ya duduk sini?" tanya laki-laki itu. Padahal dia sudah menjatuhkan bokongnya terlebih dahulu agar bisa duduk bersebelahan dengan Khanza. Astagaaa! Demi apa pun yang ada di dunia ini. Kenapa sekarang laki-laki ini terlihat begitu menyebalkan di mataku? Menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkan secara perlahan demi lebih santai mengahadapi orang yang ada di depannya saat ini. Dengan senyum terpaksa tanpa menampilkan deretan gigi putihnya, Khanza berkata, "Duduk ajalah. Gak apa-apa kok. Lagi pula ini tempat umum. Siapa aja bisa duduk di mana aja." Gimana mau aku bilang gak boleh, Bambang? Kalau kamu aja udah duduk lebih dulu. Ngeselin banget sihh. Rasa sedih, penyesalan dan kekecewaan yang tadi dia rasakan kini berubah. Bak hilang di tiup angin. Berganti dengan rasa kesal yang entah mengapa bisa datang tiba-tiba pada. "Kamu kenapa berbohong?" tanya Dzaky. Seketika pertanyaan itu membuat tenggorokan Khanza terasa kering. Bahkan air liurnya saja tak mampu dia telan. Mengerjap-erjapkan matanya, Khanza bingung harus bicara apa. Melirik ke sembarang arah, Khanza berharap dia dapat menemukan jawaban. Entah itu dari angsa yang berenang, burung yang terbang, air danau, pohon atau apa pun itu. "Kamu, kayaknya lagi ada masalah, ya?" tanya Dzaky sekali lagi saat tidak mendapatkan jawaban dari Khanza. Apalagi setelah melihat tingkah aneh wanita itu. "Ha? Kenapa-kenapa?" tanya Khanza pura-pura kaget. Aku tuh bukan kayak lagi ada masalah, tapi emang lagi bermasalah! Bermasalah sama kamu yang tiba-tiba ada di mana aja. Semoga kamu gak ada di rumahku nantinya. Dzaky memandang Khanza dengan penuh selidik. Dia seperti tidak mengenal wanita yang ada di sampingnya ini. Dari segi wajah memang sedikit berubah, terlihat lebih cantik, tapi sikapnya yang seperti orang bingung itu lah yang membuat Dzaky heran. "Aku, tuh tadi nanya ... kenapa kamu bohong? Terus sekarang, kamu juga keliatan kayak orang yang lagi punya masalah. Kamu sebenarnya kenapa?" Mendengar pertanyaan beruntun dari Dzaky membuat batin Khanza kembali berkata-kata. Dia sungguh tidak percaya kalau orang yang ada dihadapannya ini adalah Dzaky–teman kuliah sekaligus cinta pada pandangan pertamanya. "Emm ... i–itu ... sebenarnya aku––" "Aku tahu," kata Dzaky memotong ucapan Khanza. Membuat jantung wanita itu berdetak hebat. Dia kaget. Apa selama ini, Dzaky berubah jadi pesulap yang bisa membaca pikiran orang? Perlahan-lahan Khanza menatap tak percaya pada laki-laki itu. Satu hari ini entah sudah berapa kali jantungnya dibuat berdebar. Mungkin sebentar lagi, Khanza akan mengalami stroke dini. "Tahu tentang apa?" tanya Khanza cepat. Dia tak perduli kalau dibilang berbohong atau apa pun itu, tapi saat ini Khanza benar-benar ingin tahu mengenai apa yang Dzaky tahu. "Tentang, kamu." Dzaky berkata sambil melirik Khanza dengan menaikkan sebelah alisnya. "Tahu apa kamu tentang aku?" tanya Khanza sinis. Bertahun-tahun lalu dia memang menyukai laki-laki ini dalam diam. Memendam perasaannya dalam-dalam, apalagi ditambah dengan sikap dingin dan cuek yang dimiliki Dzaky saat itu. Membuat rasa cinta semakin bertambah dan berkembang tapi tidak berbunga. Namun, demi apa pun! Saat ini, Khanza justru dibuat kesal dengan tingkah Dzaky yang berbeda dari yang dulu. Sekarang laki-laki ini jadi banyak bicara. Padahal dari raut wajahnya belum berubah. Masih menampilkan tampang-tampang cowok dingin dan cuek. Tadi saat di kafe juga masih ada aura itu, tapi kenapa sekarang bisa jadi berubah seratus delapan puluh derajat? "Aku, tahu banyak tentang kamu. Tahu semua hal tentang, kamu." Dzaky berkata dengan begitu percaya diri. Kenapa dia jadi banyak bicara sih? Jadi kayak cowok-cowok Jamet di TokTok ihhh! Sebel!!! Menarik napas dalam-dalam untuk menormalkan emosinya. Sejak tadi entah sudah berapa kali, Khanza berlatih kesabaran dengan cara menarik napas agar rileks. "Coba katakan apa yang kamu tahu!" kata Khanza menantang. Tersenyum devil Dzaky melirik ke kanan dan kiri. Kemudian menatap Khanza yang terlihat sedang mengerutkan keningnya. Dzaky mengedipkan sebelah matanya. "Ehh, apaan sih kamu! Gak jelas banget," kata Khanza kesal. Perkataan Khanza membuat Dzaky malah tertawa. Hal itu justru semakin aneh di mata Khanza. Ketempelan setàn danau apa, ya dia? Khanza mengerjap-erjapkan matanya tak percaya. Kalau memang, Dzaky ketempelan makhluk halus yang ada di danau ini. Lalu bagaimana cara memulihkan kembali keadaannya? "Aku, tahu kamu ke sini untuk mengulang dan mengingat kembali masa lalu. Sebab tempat ini adalah tempat kamu dan kak Gina berbagi cerita," kata Dzaky. Deg! Khanza hampir lupa akan hal itu. Dia lupa kalau Danau ini adalah sebuah danau yang menjadi tempat berkumpulnya kenangan-kenangan indah bersama almarhum Sagina.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN