Malam itu…. “Besok aku akan pulang. Mungkin gerakku akan selalu diawasi oleh anak buah kakakku atau daddyku.” Dalam dekapan pria yang dicintainya itu, gerakan kepala mengangguk pun dirasakan oleh Clarisa ketika tubuhnya menempel pada bidang d**a si pria. Hangat, tenang dan senang bercampur menjadi satu. Rasa nyaman ini membuat Clarisa rileks dalam keadaan pikirannya yang begitu khusus. “Hm, aku paham itu,” lirih Kim Woo mengecup puncak kepala Clarissa. “Tapi kamu tidak membohongiku kan, Ris?” tanya Kim Woo seraya mencium aroma tubuh Clarisa yang kini mulai menjadi candunya. Clarisa membalikan tubuhnya, menatap Kim Woo dengan intens. “Bohong apa?” “Kamu tidak terluka? Kakakmu tidak memukulmu karena kamu sudah membuat kakak iparmu pergi?” Clarissa mengernyit. “Kenapa kamu bisa berkata

