Tiga hari setelah pesta pernikahan yang mengah itu, Anya kembali ke Kantor, dunianya yang pernah terasa begitu keras dan tak ramah kini terasa berbeda. Senyum-senyum palsu dan sapaan-sapaan manis memenuhi ruangan kerjanya. Karyawan-karyawan yang dulu memandangnya dengan penuh kebencian, kini mendekatinya dengan penuh basa-basi, menawarkan bantuan dan pujian yang terasa hambar di lidah Anya. Ia tahu, semuanya karena Ethan. Posisi Ethan sebagai Wakil Direktur telah mengubah pandangan mereka terhadapanya. “Anya, bagaimana malam pertamamu dengan Tuan Ethan?” salah satu karyawan, dengan berani mengajukan pertanyaan yang membuat pupi Anya memerah. Ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak mampu menutupi rasa ketidaknyamanan yang mendalam. Ia melewati mereka, berusaha menghindari pertany

