Today is Friday!
Hari yang paling Kiandra suka. Hari di mana dia hanya punya 2 SKS kuliah. Kiandra sudah siap dengan ripped jeans serta kemeja kebesaran khasnya, dipadu dengan tas ransel kecilnya.
“Kamu kuliah apa jalan, sih, Yan. Kok bajunya kayak gitu?” tanya Dini sambil menuangkan s**u pada gelas Kiandra.
“Hari ini Kian cuma punya 1 kelas, Ma, setelahnya mau jalan sama anak-anak,” sahut Kiandra.
“Kamu masih nge-band, Yan?” tanya Papanya.
“Emang masih ada yang nyewa?” Dini menambahkan.
Kiandra menatap datar ke arah mamanya. “Nyewa, emang orkes.”
“Omen sudah selesai di-service, Yan, itu sudah ada di garasi,” ucap Abimana.
Mata Kiandra berbinar senang. “Yang benar, Pa?” Semangat Kiandra menjadi berlipat ganda.
“Hm …,” sahut Abimana tenang.
Kiandra menghabiskan sarapannya, kemudian berjalan riang menuju garasi. “Omen, my baby!” seru Kiandra sambil memeluk motor matic-nya.
“Lebay!” ejek Dini setelah melihat respon Kiandra pada Omen, motor matic-nya.
Kiandra menuntun motornya agar keluar dari garasi. Kiandra duduk di atasnya, dan bersiap akan pergi ke kampus menggunakan motor kesayangannya. Dengan helm dan pengamanan standart, Kiandra pun siap meluncur menggunakan motor menuju kampusnya.
Dalam perjalanan, Kiandra melirik ke arah jam tangannya yang menunjukkan jika masih ada waktu setengah jam sebelum dia masuk kelas. Kiandra pun memelankan laju motornya dan mengendarainya sambil bersenandung.
Sesaat setelah senandungannya terhenti, Kiandra juga mencengkeram rem tangannya, dan menurunkan sebelah kakinya. Ia memberhentikan motornya di persimpangan lampu merah yang dekat dengan kampusnya.
“Kak Kian.”
Kian yang sedari tadi sudah membuka helmnya pun mencari sumber suara yang tadi sempat ia dengar memanggil namanya.
“Kak Kian, di sebelah kanan!”
Kiandra pun menolehkan kepalanya pada cermin mobil yang sepertinya ia kenali.
“Pagi, Kakak,” sapa Alya dari dalam mobil.
Kiandra melempar senyumnya. “Hai, Alya,” balas Kiandra sambil melambaikan tangannya.
Kiandra menoleh pada kursi kemudi, dan menemukan Dimas yang fokus pada jalan di depan.
Lampu hijau mulai menyala. “Bye, Kak.” Alya melambaikan tangannya pada Kiandra, sementara Kiandra hanya membalasnya dengan senyuman.
Kiandra mulai mengegas motornya menuju kampus. “Dia tadi nggak mungkin nggak lihat gue, kan?” gumam Kiandra sambil memarkirkan Omen di parkiran khusus motor di kampusnya.
Kiandra mendengus pelan. “Nggak mungkin nggak tahu, orang adiknya tadi manggil-manggil, kok,” sahutnya sendiri pada gerutuannya.
Kiandra yang merasa kesal pun berjalan dengan langkah gusar, wajahnya bahkan ia tekuk. Sesampainya di kelas, Kiandra bertemu Resni yang duduk sambil memainkan ponselnya, Kiandra pun mendudukkan kasar tubuhnya di kursi.
“Pelan-pelan, dong, Yan, gempa, tahu,” tegur Resni yang masih fokus pada ponselnya.
Resni meletakkan ponselnya dan menatap ke arah Kiandra yang terlihat gusar. “Kenapa sih Yan, cerita lah, ayo,” desak Resni pelan.
Kiandra mengatur posisinya. “Begini, Res, misalnya nih ya, kamu selama beberapa hari pernah diantar jemput sama seseorang, terus terakhir kalian ketemu dianya minta kamu nggak ke mana-mana di malam minggu.”
Resni mencerna dengan serius perkataan Kiandra. “Terus setelahnya kamu nggak sengaja ketemu dia di jalan, dan dia nggak nyapa kamu, malah kayak pura-pura nggak kenal, gimana rasanya?”
Resni menopang dagunya, berpikir. “Emang kamu suka sama orangnya itu?” tanyanya on point.
“Nggak, nggak suka, enak aja!” sanggah Kiandra.
“Biasa aja dong, kan aku cuma tanya,” sahut Resni dengan datar.
“Jadi, gimana menurut kamu?”
Resni mengernyitkan keningnya. “Apanya yang gimana? Ya sudah, nggak usah jadi pikiran, toh kamunya nggak suka juga, kan. Harusnya, sih, nggak ngaruh,” jawaban Resni terlau santai.
Kiandra membalasnya dengan decihan kecil pada lidahnya. Ia tak berniat untuk memperpanjang topik pembicaraan ini dengan Resni, entah mengapa ada terselip rasa kesal pada sahabatnya tersebut.
Kiandra diam sambil memperhatikan dosennya menerangkan mengenai teori kepribadian yang menjadi pembahasan kuliah mereka saat ini. Mata Kiandra mungkin ke depan, tapi tidak dengan fokus perhatiannya. Perasaan jengkel yang terbagi-bagi berhasil membuat mood-nya benar-benar buruk untuk pagi ini.
***
Kuliah 2 SKS-nya berakhir sudah. Kiandra dan Resni berjalan masing-masing dengan tujuan pulang.
“Kamu nggak nge-band, Yan, siang ini?” tanya Resni.
“Nggak, Res, kata Aldo ditunda jadi minggu depan,” sahutnya pelan.
“Terus sekarang mau ke mana?”
Kiandra mengedikkan bahunya. “Pulang mungkin, malas juga kalau harus jalan.”
Resni membalasnya dengan anggukan. “Kamu bawa Omen?”
Kiandra mengangguk. “Sudah sehat dia, jadi aku bawa lagi,” sahut Kiandra dengan ceria.
“Kenapa, sih, nolak dikasih mobil, Yan, kan enak, panas nggak kepanasan, hujan juga nggak kehujanan.”
Kiandra menatap Resni datar. “Terus Omen mau dikemanain?”
“Ya, kamu pakai sewaktu-waktu aja.”
Terdengar kekehan dari Kiandra. “Justru nanti mobil yang bakal aku pakai sewaktu-waktu, Res.”
Berjalan beberapa saat, mereka pun tiba di halaman kampus.
“Aku sudah dijemput Bang Mecca, Yan, aku duluan, ya,” ucap Resni sambil melambaikan tangannya pada Kiandra.
Sepeninggalan Resni, Kiandra juga berjalan menuju parkiran sepeda motor. Sesampainya di sana, Kiandra mengambil helmnya dan tak sengaja menjatuhkan sesuatu yang sepertinya terselip di helmnya.
Kiandra mengambil kertas yang tadi jatuh lalu membukanya perlahan.
Di dalamnya terdapat tulisan: “Selamat pagi… Walaupun ketika kamu membukanya sudah sedikit siang, jangan biasakan menekuk wajah ketika berjalan, karena kamu nggak bakal tahu, berapa banyak orang yang akan bersemangat ketika melihat kamu tersenyum.”
Jantung Kiandra berdetak dengan kencang saat ia membaca isi dari kertas tersebut. Tidak dapat dipungkiri jika hatinya menghangat ketika ia membaca isi surat tersebut. Namun seketika Kiandra melempar surat tersebut ke kantong motornya, lalu menggedikkan bahunya. “Siapa sih, yang naruh tuh surat di motor gue? Caranya jadul banget, sumpah,” gerutu Kiandra sambil memakai helmnya lalu naik ke atas motornya.
Kiandra melajukan motornya dengan kecepatan sedang, saat ia menuju jalan pulang, Kiandra merasakan perutnya meronta karena kelaparan. “Nggak bisa lagi, nih, diajak kompromi, gue harus cari tempat makan,” ucapnya sambil menepikan motornya di sebuah rumah makan bernama "Bambu Teduh".
Pramusaji datang mendekati Kiandra saat ia sudah duduk disalah satu kursi. “Permisi Mbak, silakan,” ucapnya sambil menyerahkan buku menu pada Kiandra.
Kiandra membuka-buka buku menu lalu menjatuhkan pilihannya pada nasi pecel dan juga sayur tumis tahu.
“Untuk minumnya, Mbak?”
“Teh es aja, Mbak, 2 gelas.”
Pramusaji tersebut pun berlalu setelah mencatat pesanan Kiandra. Sembari menunggu pesanannya datang, Kiandra mengeluarkan ponsel dari tasnya lalu bermain game.
“Jadi lo sudah mulai bertugas minggu depan, Dim?”
Kiandra mendengar sayup suara dari samping mejanya.
“Iya, Ri, gue diminta tugas langsung di minggu depan.”
“Enak dong, wajar sih, lo kan pinter.”
Kiandra mematikan ponselnya lalu menolehkan kepalanya pada sumber suara. Kiandra membuka lebar matanya karena terkejut. Suara pria di sampingnya tersebut merupakan suara Dimas, dan dia tidak sendiri, tetapi bersama dua temannya.
Dimas yang juga sama terkejutnya hanya bisa menatap Kiandra dengan tatapan canggung.
“Jadi kalau lo tugas di sana, lo tinggal di mess, dong?” tanya Ari, teman Dimas.
Dimas menjawabnya dengan anggukan. “Untuk sementara sih, di mess Ri. Tapi nanti bakal cari rumah.”
“Loh, kok beli rumah, bukannya mess pilot di sana kamarnya sudah sendiri-sendiri, ya?” tanya Galih, teman Dimas yang lain.
Kiandra masih menguping pembicaraan Dimas dan teman-temannya. Tidak lama setelahnya pelayan membawakan makanan pesanan Kiandra. “Terima kasih,” ucap Kiandra kepada dua orang pelayan tersebut.
“Jadi maksudnya, lo pasti beli rumah, nih?” ulang Ari.
Dimas mengangguk, “kan susah Ri, kalau keluarga mau berkunjung, masa iya disuruh cari penginapan.”
“Benar juga sih. Gue mikirnya nggak sampai ke sana,” sahut Galih.
“Tapi lo nanti nggak repot ngurus diri sendiri? Kan, kalau di mess semua makan ditanggung perusahaan.”
“Nggak masalah sih, kalau yang itu, Ri. Gue bakal cari istri.”
Kiandra terbatuk nyaring, Dimas dan teman-temannya beserta pengunjung lain bahkan menatap ke arah Kiandra, Kiandra pun menunduk malu karena insiden batuknya yang menurutnya sangat memalukan.
Matanya mengarah ke meja Dimas, dan menemukan Dimas tengah menatapnya sambil tertawa kecil. “Sialan si Mas-om, dia ngetawain gue,” umpat Kiandra pelan, ia batuk karena terkejut ketika mendengar Dimas mengatakan jika ia ingin mencari istri.
Entah mengapa, telinganya terasa panas setelah mendengar hal tersebut, Dimas dan dua temannya sudah selesai makan siang. Dimas mengangkat tangannya memanggil pelayan dan bertanya mengenai bill makanannya. “Mbak, ini ditotal sama pesanan cewek yang di sana, yah.” Tunjuk Dimas pada meja Kiandra.
Pelayan tersebut mengangguk.
“Kok lo bayarin tuh cewek, Dim? Lo kenal?” tanya Ari penasaran.
Dimas berdiri dan tersenyum kecil. “Calon gue, Ri,” sahutnya pelan.
***
Dimas tiba di rumahnya setelah beraktifitas mengantar Alya ke sekolahnya dan bertemu dua temannya.
Dimas berjalan langsung menuju kamarnya. Di dalam kamar, Dimas melakukan ritual pembersihan terlebih dahulu, setelahnya dia mendudukkan tubuhnya di kursi yang tersedia di balkon kamarnya. Dimas menghela napasnya pelan, tanpa terasa sudut bibirnya kembali tertarik.
Bayangan wajah Kiandra tergambar jelas di atas kepalanya. Bagaimana ekspresi Kiandra saat dia tiba-tiba batuk dengan nyaring ketika di rumah makan. Bagaimana pula wajah kesal Kiandra saat dia tahu jika makanannya sudah dibayarkan oleh dirinya. Sekali lagi, senyum yang sudah terukir semakin lebar tergambar di wajah Dimas. Dimas menghela napasnya lagi, dadanya terasa bergemuruh jika dia ingat besok harus melakukan sesuatu yang bisa dikatakan nekat untuknya.
Dimas merasakan cemas dan was-was. Entah mengapa, Dimas merasa yakin jika Kiandra pasti akan menolaknya. Seketika raut wajah Dimas berubah menyendu. Untuk saat ini, sosok Kiandra memang tidak bisa ia pungkiri bisa membuat harinya menjadi sedikit lebih menyenangkan. “Aku harus mencari cara,” gumamnya sendiri sambil berpikir keras.
Lama Dimas berpikir, raut wajah was-wasnya berubah menjadi seringaian kecil. Sepertinya dia sudah mendapatkan ide.
Dimas tersenyum puas dengan ide serta rencananya, dia pun berjalan keluar kamar sambil menyunggingkan senyum merekahnya.
“Kenapa kamu Dim, senyum-senyum kayak gitu?” tanya Lia yang bertemu Dimas di ruang tengah.
“Rahasia, Bu,” sahut Dimas sok misterius.
Sardi menatap Dimas dengan tatapan datar. “Dim, Ayah mau tanya, boleh?”
Dimas merubah ekspresinya menjadi serius. “Tanya apa, Yah?”
Sardi seolah berpikir. “Perihal malam esok, bagaimana jika Kiandra ternyata menolak kamu?” tanya Sardi yang Dimas tahu pasti Ayahnya bersusah payah melontarkan pertanyaan tersebut.
Dimas tersenyum kecil. “Tenang, Yah, Dimas punya cara, Ayah sama Ibu cukup doakan Dimas supaya rencananya berjalan dengan lancar."