10. Taruhan

2256 Kata
Pagi di hari Sabtu, diawali dengan embun yang berlapis kabut dan sinar matahari yang tidak tampak dari balik awan. Kicau burung mulai menghiasi pendengaran, dan suara kodok mendominasi terdengar dari halaman belakang. Kiandra bangun dari tidur nyenyaknya, ia masih mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina. Ia menghela napas panjang seolah mengisi nyawa yang sejak ia tidur bertebaran entah ke mana. Setelah memastikan bahwa matanya tidak lagi mengantuk, Kiandra mengubah posisi berbaringnya. Ia mengubahnya menjadi terlentang, masih dengan selimut tebal yang menutup hingga d**a. Kiandra tersenyum tiba-tiba. Entah mengapa, mengetahui jika hari ini adalah hari Sabtu dapat membuat mood-nya cerah seketika. Kiandra bangun dari posisi tidurnya menjadi duduk. Setelah menguap dan menggaruk kepalanya asal, Kiandra pun turun dari tempat tidur dan berjalan menuju speaker yang terletak di meja riasnya. Speaker mungil berbentuk Tata dari karakter BT21 itu pun ia sambungkan dengan musik di ponselnya. Setelahnya, terdengarlah alunan lagu dari girlgroup favoritnya. Hey boy! Kiandra mulai memasang kuda-kuda di depan cermin, seirama dengan lagu, tubuhnya mulai bergerak mengikuti gerakan dance yang ia ingat sesuai dengan lagu yang dia putar. Make 'em whistle like a missile, bomb, bomb~ Every time I show up, blow up, uh~ Make 'em whistle like a missile, bomb, bomb~ Every time I show up, blow up, uh~ Kiandra terus mengikuti langkah demi langkah dari dance lagu tersebut, sampai ketika ia mendengar ada yang mengetuk pintunya. “Iya, sebentar!” sahut Kiandra sambil mengecilkan volume speaker-nya. Kiandra berjalan menuju pintu dan langsung membukanya lebar. Di sana sudah ada Bi Minah yang berdiri. “Ada apa, Bi?” “Anu, Non, dipanggil Ibu, katanya disuruh bantu-bantu di dapur.” Kiandra menaikkan kedua alisnya. “Emang Mama ngapain?” Bi Minah menggedikkan bahunya. “Nggak tahu, Non, dari kemaren Bibi lihat kayaknya sibuk bener si Ibu.” “Ya sudah, aku matiin speaker dulu, setelahnya baru nyusul ke bawah,” sahutnya. Bi Minah pun mengangguk dan bergegas turun ke bawah. Kiandra melangkahkan kakinya ke kamar mandi hanya sekadar untuk cuci muka, dan menyikat giginya. Setelahnya dia selesai, ia langsung berjalan menuju dapur, masih dengan baju tidur karakter kesukaannya, kartun kodok hijau bernama Keroppi. “Ya ampun, Kian, kenapa belum mandi?!” seru Dini yang melihat anaknya turun tangga masih menggunakan baju tidur. “Malas, Ma, lagian hari ini Kian nggak punya jadwal apa-apa.” sahut Kian sambil mengambil sepotong bolu di meja makan. “Cuci tangan dulu, heran, deh, kebiasaan!” omel Dini sambil menepuk punggung tangan Kiandra yang ia gunakan untuk mengambil bolu di atas meja. Kiandra memperhatikan mamanya yang sedari tadi terlihat sibuk menyiapkan banyak hal. “Ma, emang mau ada apaan sih, hari ini?” tanya Kiandra pada mamanya. “Loh, kamu lupa?” Kiandra mengernyitkan. “Lupa? Emang aku tahu, hari ini mau ada apa?” Dini menatap datar ke arah putri tunggalnya tersebut. “Kamu ada janji nggak buat malam minggu?” tanyanya sambil bermain tepung dengan kedua tangannya. Kiandra menyipitkan matanya. “Kayaknya nggak ada deh.” “Yakin nggak punya?” “Iya, deh, kayaknya, Ma. Seingat Kian nggak ada bikin janji malam ini.” Dini menghela napas. “Apaan, sih, Ma, Kian beneran lupa,” desak Kiandra pada Dini. “Keluarga Aditama mau berkunjung malam ini,” sahut Dini santai. Kiandra mencerna pelan perkataan Dini. “Oh,” responnya dengan datar. “Kok, cuma oh doang responnya?” “Terus harus apa? Teman Papa doang, kan, yang datang, ya udah.” Dini menggoyangkan jarinya di depan wajah Kiandra. “Dijamin malam ini bakal beda,” sahut Dini dengan wajah sok misteriusnya. Kiandra hanya cuek sambil memakan bolunya, Dini menatap Kiandra dengan tatapan heran. “Kok, kamu nggak lebay kayak biasanya, sih, Yan?” tanya Dini penasaran. Kiandra mengalihkan pandangannya pada mamanya. “Lebay, apaan, sih, Ma? Kita, kan, emang sering kedatangan tamu temannya Papa, lah paling ujung-ujungnya Kian disuruh pakai dress yang rada bagusan dikit biar nggak malu-maluin, iya, kan?” “Ya, heran aja, sih, biasanya kalau berhubungan dengan Dimas, kamunya selalu over.” Kiandra menghentikan suapan bolu ke mulutnya. “Dimas, si Mas-om? Ya jelas, lah, orang aku kesal sama dia,” jelas Kiandra pakai urat. “Tuh, kan, langsung lebay pakai urat. Emang kamu pikir keluarga Aditama nggak termasuk Dimas? Ya, dia pasti ikut, lah.” Kiandra semakin mengernyitkan keningnya untuk berpikir. “Tunggu, Ma, jadi maksud Mama, tamu Papa kali ini keluarga Aditama, si keluarga Dimas, Mas-om itu?” Dini menghela napasnya. “Iya, Kiandra, perlu kamu garis bawahi, bukan cuma tamu Papa, tapi juga tamu kamu,” sahut Dini sambil berjalan menjauh untuk menuang adonan kuenya ke dalam loyang. Sekelebat ingatan Kiandra terputar pada momen beberapa hari yang lalu, Kiandra langsung menepuk pelan keningnya. “Oh, pantesan!” serunya. Dini menoleh. “Apanya yang pantesan?” “Beberapa hari yang lalu, si Mas-om minta aku jangan ke mana-mana malam minggu, Ma.” “Iya, itu kamu baru ingat.”  *** Alya menatap datar ke arah Kakaknya yang sedari tadi berjalan mondar-mandir di depannya. Sambil duduk di sofa dengan posisi tangan ia lipat di depan d**a, sudah tidak terhitung Alya mendengar Dimas menghela napas panjang dan mendengus pelan. “Kak Dimas berhenti, nggak, aku pusing lihatnya,” kata Alya yang sudah cukup jengah. Dimas masih berjalan dengan membawa perasaan was-was sejak pagi tadi. Jam dinding di atas sudah menunjukkan pukul 17.00 waktu setempat, perasaan cemas Dimas semakin besar. Lia melihat Dimas terus berjalan gusar hanya menggelengkan kepalanya pelan. “Yah, apa Ayah dulu waktu mau lamar Ibu juga gelisah kayak gitu?” tanya Lia pada Sardi. Sardi tertawa kecil. “Nggak, tuh, Bu, Dimas aja yang lebay,” sahut Sardi. Dimas menatap jengkel pada ayahnya. “Ya jelas lah Ayah nggak gugup, orang Ayah sudah tahu kalau lamaran Ayah bakal diterima oleh Ibu. Apalagi yang dibikin gugup, beda sama aku,” bela Dimas pada rasa was-wasnya. “Ya sudah, sih, namanya juga usaha. Kata guru agama Alya di sekolah, kalau rezeki nggak bakal ketuker, Kak, seandainya malam ini kita gagal, bukan berarti kita tidak mendapatkannya, siapa tahu kita hanya belum mendapatkannya,” sahut Alya bijak. Dimas menatap Alya dan memikirkan perkataan adiknya tersebut. Seketika senyum Dimas terukir di wajahnya. Dimas mendudukkan tubuhnya di sebelah Alya, lalu mendaratkan tangannya di atas surai cokelat adiknya tersebut. “Adiknya Kakak sudah pintar ngasih nasihat,” ucap Dimas.  *** Suasana di kediaman keluarga Soetomo masih diwarnai dengan perdebatan kecil antara ibu dan anak. Sedari tadi Dini masih belum berhasil membujuk Kiandra agar mau memakai gaun yang sudah ia siapkan untuk Kiandra pakai malam ini. “Kiandra, Mama sudah pilihkan baju buat kamu capek-capek, ya, kamu hargai Mama, dong.” Debat Dini pada anak gadisnya tersebut. Kiandra menatap gaun yang terhampar di tempat tidurnya. “Gaunnya heboh, Ma. Kalau dipakai cuma buat menyambut keluarga Dimas yang datang sekadar bertamu doang, nggak mau pokoknya.” Kiandra kekeuh pada pendiriannya. Dini mendaratkan pukulan pelan pada bahu Kiandra. “Mama nggak mau tahu, ya, kamu harus pakai gaun ini nanti, kalau nggak pakai, nih!” Dini mengarahkan jari jempol dengan kepalan tangannya segaris di leher. Kiandra langsung kicep dan menggedikkan bahunya ngeri setelah mamanya keluar dari kamarnya. Kiandra mengalihkan fokusnya ke gaun selutut dengan bahan brokat berwarna navy. Kiandra mengambil gaun tersebut dan membawanya ke kamar mandi dengan gusar. “Bertamu doang, elah, acara pakai gaun segala, kayak mau lamaran aja,” gerutunya sambil melepas baju rumahnya, dan menggantinya dengan gaun tersebut. Ddrrttt … ddrrtttt …. Terdengar bunyi getaran ponsel Kiandra di meja riasnya. Mama: Make-up dipakai, jangan cuma jadi pajangan! Kiandra menatap jengah pada layar ponsel yang masih menampilkan pesan singkat dari sang Mama. Kiandra tidak punya niat untuk membalas, ia pun hanya memoles tipis wajahnya. Untuk tatanan rambut, Kiandra hanya menggalungnya dengan galungan simple, sehingga membuat wajahnya terlihat lebih feminim dari biasanya. Kiandra menolehkan kepalanya pada jam di dinding. Di sana sudah tertera waktu menunjukkan pukul 20.00 waktu setempat. Entah mengapa, Kiandra merasa gugup. Tangannya terasa kebas karena dingin. Hatinya merasakan perasaan was-was yang sangat tidak nyaman. Kiandra mematut dirinya di cermin dengan ekspresi datar. Tidak lama setelahnya terdengar bunyi ketukan di pintu kamarnya. “Non, sudah disuruh turun,” kata Bi Minah. Kiandra mengangguk pelan. “Makasih, Bi,” sahutnya, lalu setelahnya dia berjalan menuruni tangga. Keluarga Aditama kini sudah berada di ruang tamu rumah Kiandra. Gadis itu berjalan mendekat, langkahnya semakin melambat saat matanya bertemu tatap dengan Dimas yang malam ini berpakaian sangat rapi. Dimas yang sudah di posisi duduk pun tidak dapat mengalihkan pandangannya pada Kiandra. “Aduh, Kiandra, makin hari semakin cantik aja,” puji Lia dengan binar dimatanya. Kiandra menanggapinya dengan senyuman malu. “Kamu ini bisa aja, Ya. Kian dandan kayak gini bisa dihitung jari, loh, dalam setahun,” sahut Dini yang diselipi ejekan dalam kalimatnya. Kiandra mendelik sebal pada Mamanya. “Jadi, Bi, bisa kita mulai sekarang?” tanya Sardi pada Abimana. Abimana menatap sekilas anak gadisnya, kemudian ia mengangguk pelan pada Sardi. “Begini Bi, Din, dan Nak Kian. Kami atas nama keluarga Aditama, datang kemari membawa maksud tertentu, bukan hanya sekadar bertamu,” kata Sardi membuka pembicaraan. Terlihat Sardi menatap lekat ke arah Kiandra, setelahnya mengambil napas dalam sebelum mengatakan sesuatu pada Kiandra. “Begini, Nak Kian, sebenarnya Om sekeluarga datang kemari dengan tujuan ingin melamar kamu untuk anak kami, Dimas.” Ekspresi wajah Kiandra masih terlihat biasa, sepertinya dia masih belum mencerna dengan baik perkataan Sardi untuknya. Kiandra bingung mengapa semua yang ada menatap ke arahnya. “Kenapa semua pada liat Kian?” tanyanya dengan pandangan mengedar. “Kian, kamu tadi nggak dengar apa yang Om Sardi bilang?” tanya Dini lembut sambil merangkul bahu Kian. “Dengar Ma, katanya datang ke sini mau melamar, kan? Siapa yang melamar?” “Ya, Dimas lah, Yan, masa iya si Alya, kan dia cewek,” sahut Dini gemas. “Oh, terus?” sahut Kiandra yang masih belum paham. “Lalu kamunya bagaimana, Nduk, menerima, atau belum?” tanya Lia pelan pada Kiandra. Kiandra menatap Dini. “Kok, nanya ke Kian, Ma?” Dini menyipitkan matanya. “Ya iya lah tanya kamu, kan, yang bakal nikah sama Dimas itu kamu, bukan Mama, gimana sih,” gerutu Dini yang semakin gemas pada keleletan anak gadisnya dalam memproses informasi. “Kian? Sama Mas-om ini, dinikahkan?” tanya Kiandra yang mungkin setengah sadar. Baik Sardi ataupun Abimana, mereka menganggukkan kepalanya. Kiandra menatap Dimas yang terdiam menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kiandra menghela napasnya pelan. “Tunggu dulu, biar Kian perjelas. Jadi, Om Sardi sekeluarga datang ke sini bukan bukan cuma mau bertamu, tapi juga mau melamar aku untuk Dimas, gitu?” Sardi dan Lia kompak menganggukkan kepalanya. “Jadi intinya, Ma, Pa, Kian mau kalian jodohkan sama si Mas-om?” “Kian, Dimas itu bukan mas-mas, apalagi om,” tegur Dini. Kiandra kini mencerna segala sesuatu yang terjadi, ia pun mulai berseru heboh. “Hoooo nggak bisa, Ma, Pa! Kian nggak setuju!” ucap Kian heboh saat kesadarannya terkumpul sempurna. Baik Sardi maupun Abimana beserta istri terkejut mendengar jawaban Kiandra. “Kiandra nggak bisa, apaan, sih, main jodoh-jodohan, nggak, Ma, aku nggak mau,” ucap Kiandra yang mulai resah. “Kiandra!” Abimana menegur putrinya pelan. “Nggak, Pa, Kian nggak bakal mau! Pa, Ma, Kian masih 18 tahun, kuliah baru semester awal, masa iya mau nikah?!” rajuk Kiandra yang berusaha membuat orang tuanya gagal menjodohkan. “Nggak! Pokoknya bagaimana pun caranya, tetap nggak!” “Kian, dengar Mama dulu, Nak—” “Untuk pembicaraan ini, anggap saja Kian nggak pernah dengar, dan kita nggak pernah bahas!” Kian mulai berdiri. “Untuk Om sama Tante, mungkin Kian kelihatan nggak sopan, tapi Kian sungguh-sungguh minta maaf, untuk hal ini, Kiandra emang nggak bisa.” Lalu setelahnya Kiandra pun berjalan meninggalkan ruang tamu. Semua yang hadir di sana terkejut dengan respon Kiandra yang memang di luar dugaan. Dini berdiri dan berniat menyusul Kiandra. “Tante, biar Dimas yang susul,” cegah Dimas pada Dini. Dini pun kembali duduk, dan membiarkan Dimas yang membujuk Kiandra. ***  Kiandra berjalan menuju taman olahan di belakang rumahnya. Di sana ada sebuah ayunan, dan Kiandra memilih untuk duduk di atasnya. Ia mendengar suara langkah berjalan mendekat padanya. “Aku udah bilang nggak mau, jadi jangan dipaksa,” ucap Kiandra dengan nada suara yang bergetar. Dimas mendehamkan tenggorokannya, dan duduk pelan pada ayunan tepat di depan Kiandra duduk. Kiandra menatap Dimas yang duduk di depannya dengan tatapan benci. “Ngapain lo ke sini, mau bujuk gue? Nggak, keputusan gue nggak bakal berubah.” Dimas hanya diam membiarkan Kiandra mengoceh sendiri sampai emosinya habis terkuras. Tanpa disangka, Kiandra menitikkan air matanya. “Apa lo pikir pernikahan hal yang enteng? Gue nggak bisa ngejalanin sama orang yang nggak gue suka, apalagi sama orang kayak lo.” Dimas masih menatap nanar ke arah Kiandra, perasaan bersalah mulai merasuki hatinya. “Jujur, gue nggak benci sama lo, tapi gue juga nggak bisa ngebayangin harus nikah sama lo.” Kiandra kini menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, ia menggelengkan kepalanya kuat. “Nggak, pokoknya tetap nggak.” Dimas ragu apakah ia harus menggunakan rencananya sesuai dengan apa yang sudah ia rancang ketika dalam keadaan seperti ini. Namun, sepertinya sisi egois Dimas mendominan jika harus bersangkutan dengan Kiandra, ia pun tetap melajukan rencananya sesuai dengan apa yang sudah ia susun. “Kalau seandainya kita membuat kesepakatan, kamu mau?” tanyanya pada Kiandra dengan pelan. Kiandra menaikkan sebelah alisnya. “Nggak, nggak mau,” sahutnya yang masih sangat jengkel. Dimas berusaha menenangkan debar jantungnya, ia tahu ini mungkin sedikit keterlaluan, namun bagaimana pun ia harus melanjutkan rencananya. “Kalau taruhan?” “Taruhan?”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN