Hening, masih dalam posisi di mana Kiandra dan Dimas duduk saling berhadapan di sebuah ayunan. “Taruhan?” Kiandra memperjelas perkataan Dimas. Dimas menatap datar Kiandra lalu menganggukkan kepalanya pelan. Kiandra melempar tatapan marah pada Dimas. “Lo mau ngelamar gue, tapi pakai taruhan, lo waras?” Dimas menyandarkan punggungnya. Ia berusaha menata raut wajahnya agar tidak terlihat gugup dan khawatir. “Itu juga kalau kamu berani,” sahutnya santai. “Gue nggak mau!” Kiandra menyahutnya masih dengan menatap Dimas datar. “Berarti kamu harus mau nikah sama aku.” “Kok, gitu?” “Iya, lah, kan, kamu menyerah sebelum bertaruh.” Kiandra menatap wajah Dimas dengan tatapan penuh tanya. Tubuh Dimas mencondong dengan kedua siku yang ia tumpu di atas lutut. “Aku boleh ngasih penjelasan?” tanya

