03 - Wanita Lain di Hatinya

832 Kata
Pesta pernikahan Gladys dan Gama digelar dengan sangat mewah di sebuah ballroom hotel berbintang di Jakarta. Tamu yang datang pun didominasi oleh para pengusaha-pengusaha besar, dibanding teman para mempelai sendiri. Usai pesta pernikahan digelar, Gladys dan Gara segera pulang ke rumah yang akan menjadi tempat tinggal mereka setelah ini, rumah yang Gama beli beberapa bulan lalu di kawasan yang tidak jauh dari kantor tempat ia bekerja. “Ini adalah kamar kita. Sebenarnya, aku ingin memisahkan kamar kita. Tapi mengingat jarak rumahku ke sini yang dekat, aku yakin Mama pasti bakalan sering datang. Jadi, untuk sementara kita tidur dalam satu kamar dulu,” terang Gama. "Kenapa nggak pisah kamar aja, Kak? Baru nanti kalau ada keluarga yang datang, kita tempatin mereka di kamar lantai bawah,” usul Gladys. “Ribet. Lagi pula, kamu bisa jamin kalau orang tua kita nggak akan ngecek suatu hari nanti?” balas Gama. “Kamu tenang saja. Kamu tahu, kan, aku sudah punya pacar. Jadi aku tidak mungkin akan menyentuhmu. Sesuai kesepakatan, kita hargai privasi masing-masing, lalu bercerai setelah dua tahun.” Gladys merasakan sesak di dadanya. Seseorang yang ia cintai telah menikahinya, tetapi di hari pernikahan mereka, bahkan dia sudah membahas tentang perpisahan mereka dua tahun lagi. “Oke. Aku percaya sama Kakak,” putus Gladys. Ia menyusul Gama masuk ke kamar utama yang ada di kediaman itu. Kemudian, Gladys menata barang-barang yang ia bawa di lemari dan meja. Sebagian besar barangnya sudah sampai di sini sejak kemarin dan sudah ditata oleh asisten rumah tangga yang bekerja dengan mereka. Jadi, Gladys tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan kegiatannya. Gladys berbalik setelah memastikan barang-barangnya sudah berada di tempat yang seharusnya. Di waktu bersamaan, Gama keluar dari kamar mandi, sudah dalam keadaaan bersih dan segar. “Aku mau ke ruang kerjaku yang ada di sebelah dulu. Kamu jangan tidur dulu! Karena aku mau kasih tahu kamu sesuatu setelah kamu mandi,” ucap Gama. “Nggak bisa sekarang aja?” tanya Gladys. Namun, Gama seolah tidak mendengarnya kemudian keluar begitu saja dari kamar mereka. Gladys menghela napas panjang. Kemudian, ia segera mengambil pakaian ganti dan pergi ke kamar mandi. Setelah itu, ia kembali ke kamar. Namun, ia tak mendapati Gama berada di sana. Merasa haus, Gladys pun berlalu ke dapur. “Mbak Gladys mau saya buatkan teh?” tawar Bi Marsih. “Enggak usah, Bi. Kalau sudah malam, saya nggak biasa minum selain air putih,” jawab Gladys, sambil mengisi gelas di tangannya dengan air dari dispenser. “Ya sudah kalau begitu saya kembali ke kamar dulu ya, Bi.” Saat Gladys sampai di lantai dua, ia bertemu dengan Gama yang baru keluar dari ruang kerjanya. Pria itu seperti sedang sibuk dengan ponselnya. Tampaknya, ia baru saja selesai menelepon seseorang. Lalu, di salah satu tangannya, ia membawa sebuah amplop berukuran cukup besar. Ia hanya menoleh sekejap pada Gladys sebelum akhirnya berjalan menuju ke kamar mereka. “Ini hadiah pernikahan dari Papa. Tiket honeymoon ke Bali selama empat hari. Kita akan berangkat minggu depan.” Gama menyerahkan amplop di tangannya pada Gladys setelah perempuan itu menyusulnya ke kamar. Gladys segera membuka amplop itu. Ia senang bukan main ketika melihat dua paket liburan itu. Sudah sangat lama ia ingin pergi ke Bali. Namun, ia tidak bisa mewujudkannya karena selama ini ia hanya sibuk dengan studinya sendiri, ditambah lagi, ia juga tidak punya teman untuk diajak traveling hingga ke luar pulau. “Kakak bisa ambil cutinya kan, Kak? Kita akan berangkat, kan?” tanya Gladys antusias. “Ya. Nggak mungkin Papa nggak bantu soal urusan cuti,” jawab Gama, membuat senyum Gladys tampak semakin lebar. Gadis itu baru akan mengucapkan terima kasih, tetapi Gama sudah lebih dulu menyela. “Alysa juga sudah ambil cuti untuk tanggal itu. Jadi, nanti dia akan ikut berlibur bersama kita.” Bagaikan disambar petir, senyum Gladys pun luntur saat itu juga. “Tapi ini kan paket honeymoon.” “Kamu bisa kan jalan-jalan sendiri selama di sana? Kamu bebas pergi ke mana aja dengan tiket itu. Soal aku dan Alysa, kamu nggak perlu khawatir karena aku juga sudah menyiapkan semuanya berdua dengannya,” terang Gama dengan begitu enteng. Hati Gladys meradang. Ia tahu hati Gama hanyalah untuk Alysa. Namun, tidak bisakah pria itu menghargainya sedikit saja? Lagi pula ini cuma liburan. Kenapa sulit sekali bagi Gama untuk melakukan sesuai yang telah direncanakan oleh orang tua mereka? “Semenjijikkan itu ya buat Kakak jalan-jalan sama aku?” lirih Gladys. Gama menatap kesal gadis di hadapannya itu. “Kamu tahu, kan, gara-gara pernikahan ini, aku dan Alysa jadi sulit untuk menghabiskan waktu bersama? Orang tuaku jelas melarang kami untuk bertemu lagi. Dan orang-orang sudah tahu kalau kamu istriku. Mereka semua akan memandang Alysa sebagai w************n kalau sampai melihat aku jalan sama dia. Jadi, kenapa nggak kami manfaatin saja waktu selama di Bali nanti?” balas Gama. Apa Gama lupa jika gadis di hadapannya itu menyimpan rasa padanya? Bahkan, meski pun Gama masih ingin melanjutkan hubungan terlarangnya dengan Alysa, apa tidak bisa jika hubungan itu dilakukan setidaknya tanpa sepengetahuan Gladys?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN