04 - Mencoba Melawan

1028 Kata
Gladys menatap Gama dengan bingung saat pria itu tampak terburu-buru. Padahal, baru sekitar setengah jam yang lalu mereka sampai di hotel. Namun, Gama tampak sudah terburu-buru untuk pergi dari hotel. "Kakak ada urusan mendesak? Nggak mau istirahat dulu?" tanya Gladys pada suaminya itu. Lagi pula, seingat Gladys, Gama sendiri yang memberi tahu padanya kalau ayahnya sudah membantu mengurus soal cuti selama mereka honeymoon. Jadi, seharusnya pria itu tidak punya pekerjaan yang semendesak ini hingga harus buru-buru pergi sesaat setelah tiba di hotel. "Aku belum sempat pesankan room buat Alysa. Dan room di hotel ini sudah terlanjur penuh," kata Gama. Gladys mengernyitkan kening sejenak, sebelum akhirnya ia mengerti maksud ucapan suaminya, dan hanya bisa berlapang d**a dengan semuanya. Gama berbalik, membuat dua manusia itu hampir saja bertabrakan. Gama tampak kesal saat melihat Gladys di depannya. "Bisa geseran dikit? Aku harap kamu tidak sedang berusaha buat menahan aku biar nggak pergi," ketus Gladys. Gladys gelagapan. Namun, ia segera bergeser ke samping, memberi ruang bagi Gama untuk melewatinya. "Aku nggak tahu bakalan bisa pulang malam ini atau tidak. Jadi, kalau kamu merasa butuh makan malam, cari aja sendiri, jangan nungguin aku!" pungkas Gama, sebelum akhirnya pria itu keluar dari kamar yang harusnya menciptakan kenangan manis di antara pasangan pengantin baru itu. Gladys menarik napas dalam-dalam. Berusaha memenuhi pasokan oksigen dalam tubuhnya secepat mungkin, setelah rasa sesak mendera dadanya ketika mendengar ucapan Gama. Bibir gadis itu membentuk sebuah senyuman miris. "Memang apa lagi yang aku harapkan? Sejak awal aku sudah tahu jika keadaannya akan seperti ini, kan?" *** “Kesalahan terbesarku adalah karena aku benar-benar mencintaimu, meski sejak awal aku tahu jika hatimu tak akan pernah jadi milikku.” Mungkin kalimat itulah yang paling cocok untuk menggambarkan perasaan Gladys saat ini. Andai ia bisa memilih, ia tidak ingin memiliki perasaan pada Gama. Ia ingin menghapus rasa itu jauh-jauh, sebab ia tahu keberadaan perasaan itu hanya akan membuat ia semakin tersiksa dalam pernikahan kontrak yang ia jalani bersama Gama. Mau menyiapkan diri sekeras apapun, tetapi, kenyataannya tak mudah bagi seseorang yang memiliki status sebagai istri untuk melihat suaminya bersama perempuan lain. Seperti saat ini contohnya. Gladys menghela napas panjang. Padahal ia hanya pergi sebentar untuk mengambil barang di kamar. Namun, kini, di tempat ia duduk tadi sudah ada seorang perempuan yang tampak asyik mengobrol dengan suaminya. Gladys tahu, jika ia menegur mereka, pasti malah ia yang akan kena marah Gama. Namun, ia sedang dalam suasana hati yang tidak baik. Hatinya tetap sakit saat melihat Gama bersama dengan Alysa secara langsung di depan matanya. “Maaf, tapi itu tadi kursiku, Kak,” ucap Gladys pada kekasih suaminya itu. Alysa menatapnya dengan sengit. Raut wajahnya yang awalnya tampak cerah, kini langsung suram begitu menyadari kedatangan Gladys. “Kamu kenapa, sih? Itu kursi lain kan masih ada. Atau kalau kamu nggak nyaman lagi di sini, bisa tuh duduk di meja lain!” usir Gama. “Terus kalau ada orang yang ngefotoin kalian dan laporin ke orang tua Kakak, Kakak yakin nggak bakal ngelibatin aku? Siap sama semua konsekwensinya?” tantang Gladys. Alysa menghentakkan kakinya kesal. Jika sudah membawa serta soal orang tua Gama, maka ia tidak bisa berkutik. “Ya udah duduk sana!” Gladys tersenyum, lalu mengambil alih kursi perempuan itu. Sementara Alysa, duduk di sebelah Gladys sambil menggeser minumannya. “By, habis ini kita ke mana? Aku mau snorkling dong. Kamu ada rekomendasi?” tanya Alysa. Tampaknya gadis itu sedang berusaha untuk menunjukkan pada Gladys, bahwa dirinya dan Gama tidak menganggap keberadaannya. “Gimana kalau-” “Tante Almira minta foto kita nih, Kak. Sama tadi ngerekomendasiin buat kita jalan-jalan di daerah Kintamani. Katanya, Tante Almira punya teman yang punya rumah makan di sana, dan kita disuruh mampir,” ucap Gladys. Ia tidak berbohong. Memang saat bangun tidur tadi, ia sempat bertukar pesan dengan ibu mertuanya itu. “Nggak usah mengada-ngada deh. Kamu cuma pengen ambil Gama dari aku dan ngehalangin kami pergi berdua, kan?” kesal Alysa. Gladys mengambil ponselnya, lalu mencari room chat-nya dengan sang ibu mertua dan menunjukkannya pada Alysa. “Kalau Kakak mau ajak Kak Gama ke tempat lain, bisa nggak aku minta tolong ke Kakak buat bilang ke Mama Almira? Jadi, Kakak aja yang minta izin langsung. Biar nanti aku nggak ditagih fotonya,” kata Gladys dengan santai. Ia tahu betul jika ibu mertuanya sangat tidak suka pada Alysa. Tidak mungkin Alysa berani untuk berhadapan secara langsung dengan ibu kandung dari kekasihnya itu. Mendengar tantangan dari Gladys, Alysa hanya bisa mendecak sebal. “Setelah jadi menantu kesayangan Tante Almira, kamu jadi besar kepala gini, ya? Ingat, Gladys, yang kamu nikahin itu Gama. Dan hati Gama masih jadi milikku. Kamu mungkin bisa ngambil waktu dia dari aku. Tapi, sampai kapan pun, kamu nggak akan bisa rebut hati dia dari aku.” Alysa bangkit dari duduknya, kemudian melenggang pergi dengan wajah memerah menahan marah. Gladys tersenyum tipis sejenak, sebelum ia mendengar semburan amarah dari pria di depannya. “Puas kamu? Ini kan yang kamu mau?” sentak Gama. “Kamu nggak ingat dengan perjanjian kita? Kamu nggak ada hak buat ikut campur urusan pribadiku, termasuk soal Alysa. Dan sebaiknya, hal kayak gini nggak akan kamu ulangi lagi kalau kamu-” “Jadi gimana? Mau Kakak aja yang minta izin langsung ke Mama Almira? Soalnya aku benar-benar malas kalau harus diteror buat dimintain fotonya. Kakak juga nggak mau, kan, kalau aku sampai salah jawab dan akhirnya orang tua Kakak tahu kalau Kak Alysa juga berada di sini?” potong Gladys dengan nada santai. Gama mengepalkan tangannya. Tangannya benar-benar terasa gatal. Darah dalam dirinya seolah mendidih mendengar dan melihat sikap Gladys saat ini. Ia tidak menyangka, jika Gladys akan berani berkata seperti itu padanya. Untuk menahan diri agar tidak sampai meledakkan emosinya dan berujung menjadi masalah yang semakin runyam, Gama pun memilih pergi mengejar kekasihnya. Meninggalkan Gladys sendirian di restoran yang ada di dalam hotel tempat mereka menginap itu. Meninggalkan Gladys, dalam ketidak pastian akankah pria itu kembali padanya lagi pagi ini atau tidak. Gladys menghela napas panjang. “Apa yang aku lakukan sudah benar, kan? Aku nggak mau membuat mereka selalu merasa di atas angin. Aku juga ingin memberi tahu mereka kalau aku bukan orang yang akan diam saja saat ditindas.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN