05 - Selalu Tentang Dia

812 Kata
Sebenarnya, Gladys sudah tahu, meski pun ia akan berhasil membawa Gama pergi bersamanya, tetapi pria itu pasti akan tetap mengabaikannya. Seperti saat ini misalnya. Mereka sedang makan siang bersama di rumah makan milik teman Mama Almira. Tempat itu memiliki pemandangan hijau yang indah khas dataran tinggi. Udara yang begitu sejuk, membuat nyaman untuk mengobrol dengan orang tersayang. Namun, yang Gama lakukan justru fokus pada ponselnya. “Ini tambahan sate lilitnya.” Gladys tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada pegawai yang mengantar tambahan pesanannya. Saat Gladys kembali menatap ke depan, ternyata Gama juga sedang menatapnya. Pria itu menatapnya aneh, seolah kaget dnegan apa yang baru saja terjadi. “Kenapa?” bingung Gladys. Gladys pikir, sejak tadi Gama hanya sedang fokus pada ponselnya. “Ini udah porsi ke berapa? Yakin masih bisa ngabisin?” Gladys menunduk menatap satu porsi sate lilit yang baru saja ia pesan. “Satu porsi cuma berisi lima tusuk sate, Kak. Makan sepuluh porsi juga nggak akan kekenyangan.” Gama menatap Gladys tidak suka. Lelaki itu merasa, Gladys seolah sengaja mengulur waktu karena tahu setelah dari sini Gama akan pergi bersama dengan Alysa. Ya. Gama sudah punya janji dengan Alysa. Alysa mengajaknya ke beach club milik teman kuliah mereka yang menetap di sini. “Cepat habisin! Kalau mau nambah lagi, bungkus aja!” ujar Gama. Gladys mengernyitkan keningnya. “Kenapa? Dari tadi aku perhatiin Kakak kayak buru-buru banget. Padahal ini kan tempatnya bagus. Kita juga belum lama keliling, kan?” “Aku ada urusan,” jawab Gama. Gladys seolah langsung tahu kalau urusan yang dimaksud suaminya pasti berhubungan dengan Alysa. “Harus banget ya kita lagi kayak gini pun Kakak masih fokus ke Kak Alysa?” tegur Gladys. Ia berbicara tanpa menatap lawan bicaranya. Kepalanya tertunduk, dan ia berpura-pura bisa menikmati makanannya tanpa gangguan, meski yang sebenarnya terjadi bukan seperti itu. “Kamu sadar sama apa yang kamu tanyain barusan?” Gama balik bertanya. Gladys mendongak menatap Gama. Pupil matanya bergetar, tapi, sayang, sepertinya Gama tidak menyadarinya. “Aku cuma minta Kakak hargain aku sedikit aja. Kita lagi di luar, Kak. Di tempat temannya Mama Almira. Menurut Kakak, apa aku udah nggak bisa ngerasain malu saat ada orang yang sadar kalau suamiku lagi mikirin perempuan lain di tengah masa honeymoon kita? Terus, apa Kakak juga nggak takut kalau hal ini bakal sampai ke Mama?” “Asal kamu diam, semua akan baik-baik saja.” Gladys tersenyum sinis. “Orang-orang juga nggak bego, Kak. Mereka pasti sadar kalau ada yang nggak beres sama kita kalau melihat interaksi kita dari tadi yang begini-begini saja. Kakak cuek, sama sekali nggak ajak aku bicara. Kakak cuma fokus ke HP Kakak. Siapa pun yang lihat pasti bakal mikir ke mana-mana, dan itu bukan salah mereka.” Ego Gama tersentil. Namun, ia tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk membela dirinya. “Udah selesai makannya? Kalau udah, langsung balik ke hotel aja, daripada aku harus merasa malu lebih lama karena orang-orang melihatku diabaikan oleh suamiku sendiri.” Gladys bangkit dari kursinya. Di hadapannya masih ada dua tusuk sate yang belum dimakan. Namun, selera makannya sudah kacau seketika, dan ia memillih untuk tidak menghabiskannya. Gladys berjalan lebih dulu ke parkiran. Lalu, sembari menunggu Gama yang membayar makanan, Gladys mengambil beberapa foto untuk ia kirimkan ke Mama Almira. Gladys [Gama lagi bayar makanan, Ma. Gladys keluar duluan ini.] Mama Almira [Loh … foto berduanya mana?] Gladys terdiam. Ia bingung bagaimana harus menjelaskan pada ibu mertuanya jika ia tidak dapat mengambil foto bersama dengan Gama. Keadaannya sangat tidak memungkinkan. Suasana hati Gladys sudah terlanjur kacau sehingga membuatnya enggan berinteraksi dengan Gama. Namun, tanpa Gladys duga, seseorang menyahut ponselnya begitu saja. Gladys menoleh kaget. Namun, mulutnya yang sudah bersiap untuk berteriak seketika terkatup rapat ketika menyadari jika pelakunya adalah Gama. Gladys lebih terkejut lagi saat menyadari jika Gama membuka fitur kamera di ponselnya dan mengarahkannya pada mereka. “Kak-” “Mama yang minta, kan? Senyum dikit kalau kamu nggak mau Mama curiga dan bayar orang buat ngikutin kita!” potong Gama Gladys menghirup udara panjang, sebelum akhirnya mengeluarkannya kembali dengan perlahan. Untuk tersenyum di saat suasana hatinya redup seperti ini, tentu bukanlah hal yang mudah. Namun, ia cukup sadar. Jika ia menunda atau menolak, yang ada, nanti dia sendiri juga yang akan merasakan dampaknya. Gladys memaksakan senyum. Lalu, mengaitkan tangannya pada lengan Gama hingga membuat pria itu menoleh kaget. Gladys berusaha bersiap biasa saja, tetap menatap ponsel di depan mereka, membuat Gama akhirnya memutuskan untuk bersikap tidak peduli dan segera mengambil gambarnya dengan Gladys. Saat Gama akan membuka pintunya mobilnya, Gladys yang sejak tadi tampak berpikir keras akhirnya mendapatkan jalan keluar untuk masalahnya kali ini. “Kakak mau pergi, kan? Kakak duluan aja! Aku mau pulang ke hotel naik ojek aja.” Setelah berkata demikian, Gladys pun pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Gama. Lagi pula, ia cukup sadar diri kok, kalau Gama juga tidak akan peduli dengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN