Malam semakin larut, tapi Gama belum juga kembali ke hotel. Gladys pun semakin ragu jika suaminya itu akan pulang malam ini. Hanya saja, membayangkan Gama menghabiskan malam bersama wanita lain di masa bulan madunya, itu sangat menyakitkan bagi Gladys.
Pupil mata Gladys melebar saat ia mendengar suara kunci pintu terbuka. Ia pun segera berbaring dan berpura-pura tertidur. Lagi pula, ia sudah tahu siapa yang datang. Dan mungkin Gama memang sengaja pulang dini hari untuk menghindari Gladys yang masih terjaga.
Terdengar helaan napas berat dari arah belakang Gladys. Namun, Gladys berusaha untuk tetap berpura-pura tidur.
“Baunya kok kayak … jangan-jangan Kak Gama mabuk?” batin Gladys.
Ia seperti mencium aroma yang sangat ia benci begitu Gama masuk ke kamar mereka. Aroma yang sama, dengan yang ia cium tempo hari ketika Gama membawanya ke kelab untuk pertama kalinya.
Tak lama, Gladys merasakan seseorang berbaring di sampingnya. Lalu, sebuah tangan melingkar di pinggangnya, membuat Gladys bergedik ngeri dan sontak bergerak refleks untuk melepaskan diri.
“Aku tahu kamu belum tidur,” gumam Gama dengan suara seraknya. Ia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Gladys ketika merasakan perlawanan gadis itu.
Alarm bahaya di kepala Gladys berbunyi. Ia semakin kuat melawan, berusaha meloloskan diri dari Gama, tetapi, usahanya seolah sia-sia.
Gama justru mengungkung tubuh Gladys, membuat Gladys semakin tidak bisa berkutik. Tatapan keduanya bertemu. Gladys menatap Gama dengan ketakutan, sedangkan Gama balas menatapnya dengan tatapan berapi-api.
“Kak, jangan kayak gini! Aku mohon!” cicit Gladys.
“Kenapa? Bukannya dulu alasanmu menolak karena kita belum menikah? Lalu sekarang, bukankah kamu adalah istriku dan melayaniku adalah tugasmu juga?”
Gladys menggeleng lemah. Air matanya mulai berjatuhan. Meski benar ia dan Gama sudah menikah, tapi ia belum siap. Ia tidak ingin menyerahkan dirinya pada pria yang tidak mencintainya. Apalagi, bayang-bayang perceraian mereka dua tahun lagi, membuat Gladys merasa tidak siap untuk segalanya.
“Aku mohon, jangan!”
Gama seolah tuli. Ia malah membekap mulut Gladys dengan bibirnya, menyesap bibir itu dengan dalam dan menuntut. Sedangkan Gladys, tangannya terus melayangkan perlawanan. Ia memukuli dan mendorong Gama menjauh, meski hasilnya sia-sia.
Gadis itu menangis pilu, merasa takut dengan apa yang Gama lakukan padanya.
Jika memang suatu hari nanti perpisahan itu terjadi, Gladys ingin hanya sakit hatinya yang ia bawa. Ia tidak bisa membayangkan jika harus membawa beban mental lain bagi dirinya yang akan membuat ia semakin menderita ketika harus kehilangan sosok Gama.
Puas memainkan bibir Gladys, Gama pun beralih pada leher istrinya itu. Ia menciumnya, lalu mengisapnya hingga membuat tubuh Gladys menegang.
“Ssshhh … jangan!”
Dengan segala kekuatan yang masih tersisa, Gladys mendorong kuat tubuh Gama dari atas tubuhnya. Dan akhirnya, usahanya itu pun berhasil. Saat Gama akan mendekatinya kembali, Gladys berteriak menolaknya.
“JANGAN!” teriak Gladys histeris. “Aku mohon jangan lakukan!” pintanya lembut.
“Kamu adalah istriku. Apa salahnya-”
“Aku memang istri Kakak. Tapi tidak ada cinta di pernikahan ini. Dan bukankah kita sudah sepakat untuk berpisah setelah dua tahun? Jika memang saatnya tiba untuk Kakak membuangku, tolong, setidaknya jangan buang aku seperti sampah! Aku tidak mau terbuang sebagai barang sisa.” Suara Gladys terdengar gemetar. Wajahnya pucat pasi dengan kedua tangan bergetar yang menyilang di depan tubuhnya.
“Mungkin bagi Kakak, meniduri orang adalah hal yang biasa. Mungkin dunia Kakak selama ini memang dekat dengan hal-hal seperti itu dan wanita-wanita yang bisa Kakak pakai begitu saja. Tapi aku tidak. Aku tidak bisa menyerahkan diriku pada orang yang tidak mencintaiku dan tidak sanggup untuk menjagaku selamanya.”
“Setidaknya, jika Kakak tidak peduli padaku dan memang ingin menyakitiku dengan cara ini, tapi pikirkan janin yang mungkin tumbuh dan nantinya harus terlahir tanpa kasih sayang seorang ayah! Bayangkan jika Kakak harus memiliki darah daging yang akhirnya harus merasakan menjadi korban broken home setelah perpisahan kita!” sentak Gladys.
Gladys menggeleng lemah. “Kakak bisa menyakitiku, tapi cukup aku saja! Jangan sampai aku melahirkan darah daging yang hanya akan menjadi korban keegoisan kita,” gumamnya semakin lirih.
Gama terdiam. Namun, tatapannya tak pernah beralih dari wajah pucat Gladys serta rambutnya yang tampak berantakan. Tidak tahu kenapa, dadanya terasa sakit melihat seorang perempuan dengan kenampakan seperti itu di depan matanya. Apalagi, secara hukum perempuan itu adalah istrinya, sosok yang harusnya menjadi tanggung jawabnya.
Gama mengusap pipi Gladys yang dibanjiri air mata. Kemudian, ibu jarinya mengusap bibir pucat milik gadis itu, sebelum akhirnya mendaratkan sebuah kecupan singkat di sana.
“Jangan menangis! Aku sangat mengantuk dan aku tidak mau suara tangisanmu mengganggu tidurku,” ucap Gama, sebelum akhirnya ia turun dari atas tubuh Gladys, dan berbaring membelakangi gadis itu.
Gladys membungkam mulutnya dengan tangannya yang bergetar. Ia berusaha keras untuk meredam bunyi tangisannya. Namun, dadanya begitu sesak. Air mata itu terus turun begitu saja seolah tak mampu ia kendalikan. Akhirnya, gadis itu pun memutuskan untuk turun dari ranjang, lalu keluar ke balkon dan menutup pintunya rapat-rapat. Di sana, tangis Gladys pecah, meski ia masih terus berusaha meredamnya dengan membungkam mulutnya rapat-rapat.
***
Gladys merasa terusik saat merasakan sebuah kain tebal menimpa lengannya. Perlahan, matanya pun terbuka. Ia terkejut saat mendapati dirinya sudah terbaring di atas tempat tidur, dengan selimut yang menutupi hingga hampir lehernya. Saat ia melihat sekitar, tampak seseorang yang baru saja menutup pintu kamar mandi dari dalam.
“Apa Kak Gama yang barusan mindahin aku ke sini?” batin Gladys. Sebab, seingatnya, semalam ia memutuskan untuk tidur di sofa.
Gladys segera bangkit. Ia kembali keluar ke balkon untuk menghindar dari Gama. Rasanya, ia belum siap untuk kembali beradu tatap dengan pria itu. Lagi pula, pasti setelah ini Gama juga akan pergi meninggalkannya. Jadi, Gladys hanya harus sedikit sabar menunggu hingga pria itu pergi untuk menemui kekasihnya.
Lima belas menit berlalu. Gladys terkejut saat mendengar suara pintu balkon terbuka. Ia pun sontak menoleh. Raut wajahnya tampak menegang saat melihat Gama yang dengan santainya turut keluar dari kamar.
“Aku udah selesai. Sana kalau mau mandi!” ucap Gama. Ekspresinya tampak santai, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
“N- nanti aja. Kakak kalau mau turun duluan, silakan!” ucap Gladys gugup. Ia juga segera memalingkan wajahnya dan berpura-pura fokus melihat hal lain.
“Nggak usah cari penyakit! Cepat mandi terus turun buat sarapan! Aku tungguin di sini,” tegas Gama.
Gladys menoleh kaget. “Aku bisa urus diriku sendiri, kok. Silakan aja kalau Kakak mau duluan! Nggak perlu nunggu aku. Aku juga bakalan makan kalau memang aku sudah ingin makan.”
Gama memajukan tubuhnya, mendekat ke arah Gladys hingga membuat perempuan itu langsung mengatupkan mulutnya dan mencengkram besi pembatas di sampingnya.
“Yakin akan langsung makan ketika ingin? Bukannya kamu cuma sedang berusaha menghindariku?” ucap Gama dengan tatapan menyorot tajam pada Gladys.
Pupil mata Gladys tampak bergerak, mengisyaratkan jika pemiliknya sedang merasa resah. “Ak- aku …”
“Kamu harus tahu satu hal. Aku paling tidak suka saat ada orang yang membantah ucapanku. Jadi, kalau kamu tidak mau aku menghukummu, kamu harus menurut padaku!” potong Gama.
“Menghukum?”
Gama menaikkan satu alisnya sambil terus memperhatikan perempuan di hadapannya itu. “Seperti semalam misalnya.”
Gladys langsung terlonjak mendengar ucapan Gama tersebut. Ia pun langsung berjalan cepat meninggalkan Gama di balkon, dan menyiapkan pakaian gantinya sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi.
“Sialan! Kalau seperti ini, dia pasti bisa semakin seenaknya sama aku. Aku nggak mau dikendalikan sama dia. Apa yang harus aku laakukan?” lirih Gladys begitu ia berada di kamar mandi.