07 - Our Time

1355 Kata
Gama beberapa kali mencuri pandang ke arah Gladys saat istrinya itu tampak sibuk menikmati makan paginya. Gama merasa, ada yang berbeda dari perempuan itu. Gladys seolah sengaja cuek padanya, dan Gama merasa kesal karena hal tersebut. Gladys mendongak saat mendengar suara sendok dan garpu yang diletakkan cukup keras di atas piring. Alisnya mengernyit menatap Gama, sebelum akhirnya ia kembali menunduk dan fokus pada piringnya sendiri. “Kamu-” “Kamu buru-buru mau pergi? Silakan! Nggak perlu nunggu aku!” Gladys memotong ucapan Gama, tanpa menatap pria itu sedetik pun. Gama menghela napas kasar. Semakin tampak jelas jika Gladys memang sedang mendiamkannya. “Mama nggak nge-chat kamu?” tanya Gama kemudian. “Mama?” “Mamaku. Mama minta foto kita lagi jalan-jalan di pantai,” jawab Gama saat menyadari jika Gladys tidak mengerti maksud ucapannya. Gladys menatap Gama, kemudian menggeleng. “Mama Almira nggak ada chat aku begitu.” “Berarti Mama lagi nge-tes kita, kalau Mama cuma chat aku doang, kira-kira aku bakal kasih tahu kamu atau enggak,” ucap Gama. Gladys diam sejenak, berusaha merangkai maksud dari apa yang suaminya katakan. “Terus gimana? Kamu mau minta aku bantu cari alasan kita nggak bisa kasih foto ke pantai? Gampang, nanti biar aku yang jelasin ke Mama. Kamu-” “Bukan begitu!” sentak Gama tidak terima. Pria itu tampak menatap ke sekeliling seperti sedang merasa tidak nyaman. “Kalau dari awal Mama mintanya ke kamu, dan kamu yang jelasin, mungkin bisa. Tapi masalahnya ini Mama chat aku. Pasti dia bakalan mikir kalau aku yang nyuruh kamu buat chat Mama kalau kayak gitu. Jadi, mau tidak mau kita harus ke pantai hari ini.” Gladys mendecak tidak suka. Sebenarnya, dari kemarin ia menunggu Gama mengajaknya keluar lebih dulu seperti ini. Namun, mengingat apa yang terjadi semalam dan tadi pagi, Gladys sedang tidak ingin melakukan hal tersebut. Alih-alih berjalan-jalan di tepi pantai layaknya pasangan yang sedang dimabuk asmara lainnya, Gladys hanya ingin berbaring seharian di kasur empuknya sekarang. “Aku sudah selesai. Aku akan ke atas buat ambil dompet sama kunci. Habis itu, aku tunggu kamu di mobil,” ucap Gama, kemudian bangkit dari kursinya. Gladys menatap pria itu dengan tatapan protes. Namun, sebelum Gladys sempat menyatakan penolakannya, Gama sudah lebih dulu pergi seolah tidak membutuhkan jawaban dari Gladys. “Ngeselin banget, sih. Setelah apa yang dia lakuin semalam sama pagi ini, masa aku masih harus ngadepin dia seharian ini?” kesal Gladys. Gladys sudah kehilangan selera makannya. Ia pun memilih untuk menghabiskan minumannya, sebelum akhirnya ikut bangkit dan kembali ke kamar untuk siap-siap. *** Pantai Pandawa dan Pantai Melasti menjadi pilihan Gama untuk membawa Gladys jalan-jalan. Sebab, memang pantai itulah salah satu destinasi paling terkenal yang paling dekat dengan hotel mereka. Di sepanjang jalan saat melewati tebing yang terbelah di kanan-kirinya, Gladys mengeluarkan tangan kirinya. Jalanan pagi itu masih lengang, dan Gladys ingin menikmati semilir angin area pantai yang menenangkan. Matanya terpejam seolah menghayati segala keindahan yang dapat ia rasa hanya melalui sentuhan tangannya. “Masukin tangannya!” Sayangnya, semua kenikmatan itu harus sirna ketika ia mendengar teguran pria di sampingnya. “Kamu nggak dengar? Masukin! Bahaya, bodoh!” sentak Gama, membuat mata Gladys terbuka seketika saat menangkap adanya satu kata kasar yang ditujukan padanya. Gladys memasukkan tangannya, kemudian menatap garang pria yang berada di bangku kemudi itu. “Memang nggak bisa bicara baik-baik? Atau memang sudah tabiat Kakak buat ngomong kasar ke sembarang orang?” Gama menghela napas jengah. “Tidak usah membesar-besarkan masalah! Lagian harusnya kamu berterima kasih padaku karena setidaknya aku masih peduli.” “Aku nggak mau sampai berurusan dengan polisi kalau kamu celaka saat berada di mobil yang aku kemudikan,” lanjut Gama, seolah tak membiarkan Gladys untuk memiliki anggapan lain. “Tapi tetap aja, nggak seharusnya Kakak pakai ngomong kasar segala. Aku paling anti mendengar umpatan seperti tadi. Bahkan, Papa yang ngebiayain aku dari aku bayi atau Mama yang merupakan orang paling berjasa di hidupku aja nggak pernah bicara sekasar itu padaku,” kesal Gladys. Gama hanya menoleh ke arah Gladys sebentar, sebelum akhirnya ia kembali fokus pada jalanan di depannya. Pria itu bersikap seolah ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh gadis di sebelahnya. Melihat reaksi Gama, Gladys hanya bisa menghela napas lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain. Memang, apa lagi yang bisa ia harapkan? Seorang Ergama Mahawira yang meminta maaf padanya? Bukankah itu sudah jelas mustahil? Setibanya di pantai, Gladys langsung turun dari mobil tanpa menunggu Gama. Ia berjalan sendirian menuju ke area perbatasan daratan dengan lautan tersebut. Kemudian, tatapannya beralih pada sebuah tebing yang dibelah, yang tadi ia lewati ketika menuju ke pantai ini. Pemandangan yang sangat unik dan belum tentu dapat ia lihat di tempat lain. Gladys mengangkat ponselnya, mencoba mengabadikan yang ia lihat itu, lalu mengunggah salah satunya ke story what’s app-nya. Namun, di tengah kegiatan itu, lagi-lagi Gama mengganggunya. Pria itu tiba-tiba berada di samping Gladys. “Perlu aku fotokan?” tawarnya. Gladys yang masih kesal dengan suaminya, memilih untuk mengabaikannya dan kembali asyik sendiri. Namun, Gama yang memang senang berbuat seenaknya, merebut ponsel Gladys secara tiba-tiba. “Apa-apaan sih, Kak? Sini-” “Sana cepetan biar aku fotoin!” potong Gama dengan suara ogah-ogahan. Gladys semakin kesal. Ia berusaha merebut kembali ponselnya. Namun, Gama meninggikannya, membuat Gladys tidak bisa menggapainya. “Buruan aku fotoin! Mumpung aku belum-” “Kalau Kakak ada urusan lain, sana fokus aja sama urusan Kakak! Aku bisa sendiri, kok.” Kini, giliran Gladys yang memotong ucapan Gama. Alis Gama menukik tajam, matanya menyorot wajah jelita yang tampak kesal di hadapannya. “Ceritanya mau balas dendam?” “Balas dendam apa?” Gladys tidak mengerti. “Setelah aku ngomong kasar ke kamu, sekarang kamu juga udah mulai berani buat meninggikan nada bicaramu?” “Aku tidak-” “Udah lupa sama apa yang aku katakan tadi pagi sewaktu kita masih di hotel?” Gama berbicara sambil mengikis jarak antara dirinya dengan Gladys. Ia semakin maju, membuat Gladys kian terhimpit dan secara refkelsn perlahan mundur. “S- soal apa?” bingung Gladys. Dari sorot matanya, sepertinya ia benar-benar tidak mnegerti. Tangan kiri Gama bergerak cepat menarik pinggang Gladys hingga tubuh bagian depan mereka benar-benar menempel. Gladys yang kaget pun tidak sempat memberikan perlawanan, sehingga Gama berhasil menang dan mendapatkan tubuh gadis itu. Gladys berusaha memberontak, tetapi, tenaganya tentu kalah jauh dibanding Gama, meski lelaki itu hanya menggunkan satu tangannya. “Lepasin!” kesal Gladys. “Enggak, sebelum kamu ingat dengan ucapanku tadi pagi.” “Soal apa, sih?” Gladys mendecak sebal. Ia merasa putus asa menghadapi pria yang selalu bersikap seenaknya seperti Gama. Bukannya menjawab dengan kata-kata, Gama justru memajukan wajahnya, membuat Gladys langsung waspada dan melebarkan pupil matanya. Kedua tangan gadis itu berusaha untuk mendorong d**a Gama agar pemiliknya tidak semakin menghimpitnya. Namun, selah tak mau peduli, Gama justru semakin menjadi. Ia semakin mendekatkan wahahnya, hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Gugup dan tak dapat lagi bergerak, Gladys pun memejamkan matanya dengan erat. Tangannya bergetar seolah bersaut-sautan dengan debaran di dadanya. Ia pikir, mungkin saja Gama akan nekat memberinya hukuman di tempat umum seperti ini. Meski awalnya ia menyangkal hal tersebut, tapi melihat bagaimana sikap Gama saat ini, bukankah semua jadi terasa mungkin? “Ah!” Gladys terlonjak kaget saat merasakan kakinya melayang. Saat matanya terbuka, ia mendapati dirinya berada di gendongan Gama. Dan Gama, membawanya menuju ke area yang lebih dalam, hingga Gladys bisa merasakan deburan ombak yang mengenai ujung-ujung kakinya. “Kamu mau apa? Tidak! Jangan!” Gladys berusaha meronta. Namun, Gama dengan wajah datarnya tetap terus melaju ke depan. Perlawanan Gladys tampak seperti tak ada artinya bagi Gama. Hingga ketika sampai di tempat yang menurutnya pas, Gama melemparkan Gladys begitu saja, membuat tubuh gadis itu terjatuh ke air. Tidak siap, Gladys hampir saja tenggelam. Wajahnya basah karena air laut. Untungnya, dia segera sadar jika air di bawahnya hanya sebatas lututnya saja. “Arrgh! Kenapa ngeselin banget, sih? Aku kan nggak bawa baju ganti!” teriak Gladys yang sudah benar-benar berada di puncak emosinya. Gladys berusaha untuk bangkit, tetapi sapuan ombak membuat ia kembali terjatuh berulang kali. Sedangkan Gama justru menatap perempuan itu dengan senyum miring di bibirnya yang berusaha ia sembunyikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN