bc

The CEO Scare Me

book_age18+
1.4K
IKUTI
7.6K
BACA
possessive
CEO
drama
office/work place
supernatural
lonely
office lady
like
intro-logo
Uraian

Asteria Viennetta bekerja sebagai admin pengganti di kantor barunya. Dia berjuang keras agar bisa diangkat menjadi karyawan tetap di sana. Tapi dunia kerja sangatlah keras kalau kalian mengetahuinya. Usahanya tidak berhasil dan dia tetap didepak dari sana.

Saat sedang mencari pekerjaan baru, Bos dari kantor sebelumnya menawarinya pekerjaan. Tidak pernah dia duga kalau akan bekerja langsung dengan CEO di sana. Diamond Chandra, CEO tampan yang suka jumpscare dan bikin sakit mata.

chap-preview
Pratinjau gratis
Part 1
Kehidupan yang sesungguhnya mungkin baru akan kalian rasakan saat bekerja. Segalanya jenis kesusahan akan kau rasakan. Mulai dari susahnya mencari pekerjaan, susahnya mendapatkan posisi, susahnya mempertahankan pekerjaan, sampai susahnya berinteraksi dengan sesama rekan pekerja. Semua rasa lelah, pusing, tertekan bercampur jadi satu. Bahkan pada saatnya gajian pun tidak berhasil menghapus semua perasaan itu. Kebahagiaan gajian hanya terasa saat dua bulan pertama bekerja saja, sisanya biasa saja. Asteria Viennetta merupakan salah seorang di antara pekerja muda yang merasakan kerasnya dunia kerja. Berbekal lulusan sarjana humaniora dia melamar pekerjaan. Pekerjaan pertamanya memang bukan pilihan yang tepat dan sesuai dengan bidangnya. Hanya sedikit keterampilan kuliahnya dipakai di sana. Selebihnya adalah belajar dari awal. Semua orang sama, dari lulusan manapun, jurusan apapun, saat di tempat kerja mereka akan belajar dari dasar. Belajar mengoperasikan komputer, mengolah data, menggunakan aplikasi khusus kantor dan macam pekerjaan lain. Belum lagi belajar bersosialisasi dengan lingkungan baru, orang baru, etika baru, dan lain sebagainya. Hampir delapan puluh persen yang kau pelajari selama kuliah tidak muncul dalam pekerjaan. Kecuali jika kau mengambil pekerjaan yang berhubungan dengan akademik, itu akan lain cerita. Sayangnya Asteria mendapatkan pekerjaan di sebuah bidang jasa. Kemampuan berbicara dengan orang sangat dibutuhkan. Sementara dirinya yang nyaris makhluk antisosial harus berusaha sekuat tenaga untuk mengimbanginya. Dia masih ingat saat interview bersama dua orang lain di kiri kanannya. Dia berlomba dengan kedua orang itu dan dinilai oleh dua orang pewawancara. Dia melamar di perusahaan penerbangan yang sangat terkenal di negerinya. Posisi yang dibutuhkan bisa dibilang posisi yang paling rendah di kantor itu untuk setingkat lulusan perkuliahan. Posisi administrasi. Sebelah kanannya adalah seorang mantan pramugari yang tinggi dan cantik. Dia berhenti dari pramugari karena menikah dan ingin kembali bekerja. Dia tahu banyak tentang macam-macam orang di kantor itu, juga beberapa unit di sana. Saingan berat untuk masuk perusahaan penerbangan. Asteria sudah minder saat wanita cantik itu memperkenalkan diri. Sebelah kirinya adalah seorang mantan staf ahli di pemerintahan. Wanita itu terus menceritakan betapa hebatnya dia saat jadi staf ahli dan juga betapa hebat ayahnya yang merupakan senior di perusahaan penerbangan itu. Asteria semakin pesimis saat itu bahkan untuk memperkenalkan diri. Saat tiba bagian dirinya ditanya. Dia sama seperti lainnya, bercerita tentang pengalamannya pada pekerjaan sebelumnya. "Saya biasa menggunakan Outlook" Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa dengan satu keterampilan itu adalah penentu terbesar dalam pemilihan keputusan pewawancara. Asteria tidak pernah tahu sebelumnya. Tapi setelah diterima di kantor dan merasa cukup dekat dengan seniornya, dia bertanya masalah penerimaan dirinya dan mendapatkan jawaban itu. "Apa kau ingat saat kalian bertiga di wawancara bersama? Dua orang lainnya terus-menerus menyebutkan mereka kenal dengan ini kenal dengan itu dan menyebutkan hal-hal hebat yang tidak begitu penting. Hanya kau yang mengutarakan bisa menggunakan Outlook dan Excel. Kau tahu, di kantor ini semua serba cepat. Aku tidak mau mengajarkan mereka satu persatu dari awal. Aku tidak mau repot." Itu jawaban blak-blakan dari senior yang mewawancarai Asteria. Asteria mendapatkan pekerjaan keduanya di perusahaan besar itu. Salah satu perusahaan impiannya. Mungkin lebih tepatnya impian ayahnya saat dia belum masuk IPS. Ayahnya adalah seorang teknisi pesawat yang sudah bekerja lebih dari 25 tahun. Waktu dia SMA, ayahnya pernah berkata menginginkan anaknya masuk teknik agar bisa jadi teknisi pesawat seperti dirinya. Tapi sayang Asteria masuk IPS karena gagal di mata pelajaran fisika. Dia dapat merah di nilai rapor kelas satunya. Masuk ke perusahaan itu juga bisa dibilang menggunakan orang dalam. Karena ayahnya sendiri yang menaruh CV-nya di ruang outsourcing. Tapi saat wawancara Asteria tidak begitu menggembor-gemborkannya. Memang ayahnya siapa? Bukan pejabat perusahaan kok. Asteria mendapat posisi pengganti admin. Admin yang sebenarnya akan mengambil cuti hamil selama tiga bulan. Dia dikontrak dengan kontrak minimum perusahaan dan upah UMR. Sudah terlihat mengapa di atas disebutkan posisi paling rendah? Dia hanya dikontrak tiga bulan dan mudah sekali untuk digantikan. Tidak ada jaminan untuk diperpanjang kontrak apalagi dipromosikan jadi karyawan. Tapi bagi Asteria ini lebih baik dari pada tidak sama sekali. Saat mulai bekerja, Asteria menyadari satu hal. Identitas sebenarnya seorang admin ini adalah pembantu sekretaris di unit ini. Ralat, maksudnya babu di kantor ini! Atasan Asteria adalah sekretaris unit marketing perusahaan. Atasan sekretaris ya tentu saja bos besar unit ini. Di bawah bos besar tentu saja banyak sekali bawahannya yang berpuluh-puluh. Tugas sekretaris adalah memastikan seluruh kegiatan kantor setiap harinya berjalan dengan baik. Mulai dari hal besar seperti rapat dengan klien, sampai hal receh seperti tissue habis. Pada seminggu pertama Asteria masih diberi tugas ringan masalah surat-menyurat dan pengarsipan. Saat Minggu kedua, dia baru tahu bahwa sang sekretaris kantor ini kurang bertanggung jawab. Dia pergi meninggalkannya untuk mengurus acara tunangannya yang dirahasiakan dari orang-orang kantor. Jadi dia diminta berbohong setiap kali ada orang yang menanyakan keberadaan wanita itu bahkan pada atasannya sendiri. Belum lagi banyak sekali masalah kantor yang rumit yang tidak Asteria mengerti apalagi tahu cara memecahkannya. Jadi dia harus rela bolak-balik telepon. Tidak jarang teleponnya tidak di angkat dan Asteria harus memutar otak sendiri. Hell! Dia baru seminggu di sini! Tidak selesai sampai di sana, belum genap sebulan Asteria bekerja, sang sekretaris ini menambah pekerjaan. Sang sekretaris mengajukan kenaikan pangkat dari sekretaris ke karyawan umum. Dia harus ikut pelatihan dan itu berarti meninggalkan semua tugas pada orang baru yaitu dirinya. Itu gila! Asteria belum sebulan di sini! Asteria rasanya bukan lagi berlari, tapi harus melesat dengan turbo. Dia harus bisa menguasai banyak hal dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Semua pekerjaan yang seharusnya dibagi dua jadi dikerjakan sendiri. Belum lagi beban dari bos besar yang selalu menatapnya penuh penghakiman. Di tambah para bawahan bos yang kebanyakan bapak-bapak meminta ini-itu padanya dan bisa memaki-makinya jika dia salah. Belum juga masalah senioritas. Grup anak muda di kantornya yang seharusnya bisa merangkulnya dan menjadi teman, malah seperti kumpulan senior yang merasa makhluk cupu ini perlu dihantam lebih keras agar dia bisa. Mereka hanya menyapanya saat jam makan dan langsung mengalihkan topik pembicaraan yang Asteria tidak bisa ikut nimbrung di dalamnya. Bagaimana mau bersosialisasi? Sudah gajinya kecil, karyawan kontrak, beban tugasnya banyak, sendirian, terbayang tidak betapa tertekannya di kantor barunya ini. "Mba Aster" Asteria sudah memasuki bulan keduanya di kantor ini. Dia sudah mulai terbiasa dengan pekerjaan berat. Dia juga mulai terbiasa dengan bosnya. Anggapan bahwa bosnya orang yang galak dan sinis hilang. Ternyata bosnya adalah orang yang serius dan tegas, tapi tetap perhatian terhadap karyawannya. "Ya, Pak?" "Nanti ada tamu orang Jepang. Takutnya dia datang pas saya masih rapat, tolong kamu suruh dia tunggu di ruangan saya ya." "Siap Pak! Berapa orang tamunya?" "Satu orang, dia tinggi dan biasalah kayak orang Jepang pada umumnya. Pake jas sih biasanya. Nanti kalau dia datang kamu WA saya saja ya." "Baik Pak." Bos besar unit marketing itu adalah seorang pria paruh baya yang satu tahun lebih tua dari ayahnya. Kalian pasti mengira dia pemuda tampan ya? Tidak, maaf mengecewakan. Bosnya bapak-bapak. Sebut saja namanya Pak Faisal. Pak Faisal ini perawakannya pendek dengan kumis tebal dan wajah tampan berwibawa. Asteria setuju Pak Faisal tampan untuk ukuran bapak-bapak. Sebelas dua belas tampannya dengan ayahnya. Hanya saja tubuh ayahnya lebih tinggi. Pak Faisal orangnya to the points dan sangat teliti. Jika ada surat masuk yang salah, apalagi untuk ke Direktur, akan dia minta ketik ulang sampai tidak ada titik koma yang salah. Asteria pernah lebih dari sepuluh kali revisi surat hanya untuk ditandatangani olehnya. Gemas memang, tapi mau tak mu dikerjakan. Asteria kembali duduk dan meneruskan pekerjaannya. Dia mencatat perintah si bos di sticky note dan menempelkannya di samping keyboardnya. Salah satu kebiasaan baru yang diajarkan oleh sekretaris sialan yang tidak bertanggung jawab itu. Dia ingin sekali bergosip dengan seseorang. Tapi tidak ada yang bisa diajak bicara. Hanya layar komputer, kumpulan bunyi WA dan belasan email yang menemaninya. Juga seorang adik magang yang asik fotocopy dokumen permintaan orang kantor di sini. Adik magang itu masih SMK, terkadang agak susah jika diajak bicara hal tertentu. Jam setelah makan siang adalah jam yang berat karena kantuk. Asteria normal seperti kebanyakan orang, dia ingin tidur siang. Bosnya sedang rapat dan beberapa bapak-bapak bawahan bosnya menutup pintu ruangan mereka untuk tidur siang. Genk anak muda unitnya sudah diam-diam menyamankan diri di karpet lembut ruang rapat IT yang penuh dengan bantal. Sementara meja Asteria tepat berada di depan pintu masuk kantor. Dia tidak bisa meninggalkan kursinya apalagi jika akan ada tamu. Dia harus standby. Seorang laki-laki bertubuh tinggi datang celingak-celinguk di pintu masuk. Wajahnya sangat kental dengan Asia Timur. Entah kenapa Asteria berpikir dia mirip orang Jepang atau Korea. Orang itu pakai jas sesuai dengan gambaran yang diberikan bosnya. Jadi Asteria berpikir mungkin orang ini tamu bosnya yang di pesankan sebelumnya. "こにちはお**いましょうか" (Konichiwa, otetsudai mashouka?) Artinya selamat siang, ada yang bisa saya bantu? Sudahkah Asteria mengatakan jika dia lulusan Bahasa Jepang? Sepertinya belum. Asteria benar lulusan sarjana humaniora untuk program studi Bahasa Jepang. Sayangnya dia merasa tidak sefasih itu untuk bekerja di perusahaan Jepang. Maka dia memilih bekerja di bidang lain. Tapi sebagai seseorang yang bisa bahasa Jepang dan saat bertemu orang Jepang asli, perasaan untuk mengucapkannya dalam bahasa yang dia pelajari tidak bisa dihentikan. Pria itu cukup kaget saat mendengar kalimat Asteria. Tapi dia segera tersenyum ramah. Dia bergerak mendekati meja Asteria. "Faisalさんがいますか?" (Faisal-san ga imasuka?) Apakah Tuan Faisal ada tanya pria itu. "*******さんは**がありますから。ちょっとお*ちください" (Ima Faisal-san wa kaigi ga arimasukara, chotto omachikudasai) Saat ini Tuan Faisal sedang ada rapat, mohon tunggu sebentar, jawab Asteria. "ああそう" (Aa sou) Ah oke. balas pria itu lagi. Asteria kemudian mempersilahkan orang itu untuk menunggu di dalam ruangan si bos. Sesuai guideline sekretaris, dia juga menawarkan minuman untuk si tamu. Kopi dengan gula sebagai pesanan. Asteria pergi ke pantry untuk minta dibuatkan kopi. Tapi sial sekali tidak ada orang. Dia mau tidak mau bekerja sendiri. Memasak air di pantry ini agak ribet. Pemanas airnya rusak jadi tidak bisa mati otomatis. Apalagi kopi tidak bagus kalau pakai air panas dispenser. Jadi dia menunggu dengan sabar. Menakar kopi dengan perasaan kira-kira. Jujur saja dia jarang minum kopi setelah kuliah. Jadi rasanya aneh jika tidak menggunakan kopi instan. "Semoga tidak salah, apalagi ini buat tamu." gumamnya pada diri sendiri. Dia kembali ke ruangan bos untuk mengantar kopi. Tamu Jepang itu terlihat sibuk dengan ponselnya. Kalian tidak tahu betapa gugupnya dia memberikan kopi buatannya sendiri pada orang asing. Asteria mengetuk pintu agar orang itu tahu dia datang. Kemudian dengan sukses meletakkan kopinya dengan tangan gemetar. Selama dua bulan ini dia tidak pernah benar-benar melayani tamu hingga seperti ini. "どうぞ" (douzo) silakan "ありがとう" (arigatou) terima kasih Asteria buru-buru keluar ruangan. Dia tidak berani melihat ekspresi wajah tamu itu saat meminum kopinya nanti. Walau sebenarnya penasaran juga. Saat kembali ke meja dan melihat sticky note, dia baru ingat belum memberitahu bosnya. Segera dia ketik pesan WA ke bos kalau tamunya sudah datang. Tidak lama si bos datang dengan wajah serius. Setiap habis rapat pasti seperti itu. Dia langsung menghampiri meja Asteria. "Sudah di dalam?" "Ya, Pak. Masih nunggu bapak." Pak Faisal mengernyit dahi saat mendengar jawaban Asteria. Dia kemudian melihat kembali ke ponsel ditangannya seperti memastikan sesuatu. Diberi ekspresi seperti itu oleh bos besar membuat Asteria keringat dingin. Dia takut ada yang salah. Pak Faisal tidak mengatakan apapun dan segera masuk ruangan dan menutup pintu. Tidak lama suara tawa menggelar dari bosnya terdengar. Asteria tidak tahu apa yang dibicarakan karena dinding ruangan bosnya di desain khusus. Jika kau bicara dengan nada normal, suaramu tidak akan bocor keluar. Tapi jika bersuara sangat keras baru kau bisa mendengar percakapan. Mungkin tiga puluh menit setelahnya kedua orang di ruangan itu keluar. Pak bos masih dengan senyum ramah keluar bersama pria berjas tinggi itu. "Sini saya kenalin." kata Pak Faisal sambil menyuruh Asteria keluar dari mejanya. " Ini Diamond Chandra, salah satu teman golf saya. Dia orang Indonesia." Wajah Asteria langsung melongo mendengarnya. Lupa sudah profesionalisme dirinya. Dia terlalu kaget. Orang di depannya ini orang Indonesia? "Dan Mister Chandra, mbak cantik ini namanya Asteria Vi....Vi apa?" "Viennetta, Pak." "Iya itulah pokoknya. Hahaha, namanya susah, maklum orang tua kayak saya suka susah kalau mengingat nama yang sulit." "Salam kenal mbak Asteria."ujar Chandra lembut. Tuan Chandra langsung mengulurkan tangan. Asteria dengan kaku menjabatnya. Dia tersenyum kikuk. "S-salam kenal juga Pak. Maaf saya kira Bapak orang Jepang." ujarnya malu. Asteria buru-buru menarik tangannya dan membungkuk. "Tidak apa-apa. Kebetulan saya pernah tinggal di Jepang juga kok. Jadi mungkin terlihat seperti orang Jepang." Mana ada seseorang yang tinggal di Jepang lama terus tiba-tiba kelihatan seperti orang Jepang. Kecuali jika di silsilah keluarga ada keturunan Asia Timur mungkin ya kita bisa berpikir seperti itu. Kelihatan seperti orang Jepang. Asteria tidak tahu harus mengatakan apa. Dia masih sangat malu. Asteria hanya bisa tersenyum paksa menutupi rasa malunya. "Bahasa Jepang kamu bagus. Kenapa tidak bekerja di Jepang?" Asteria kesal mendengarnya. Siapa orang ini tiba-tiba menanyakan hal seperti itu? Dia bukan teman dekatnya. Dia hanya tamu Pak bos. Kenapa orang asing bisa segampang itu bertanya soal pilihan pekerjaan seseorang? Apa mereka tidak pernah berpikir kalau itu tidak nyaman? "Terima kasih. Tapi saya mendapatkan rezeki di sini. Ya..." Asteria tidak melanjutkan. Bagaimana mungkin dia jujur di depan bosnya. Dia juga ingin bekerja di Jepang yang katanya bisa mendapatkan gaji yang lebih besar. Tapi mentalnya tidak sanggup oke. Ayolah, dia saat ini sedang berjuang untuk diperpanjang kontraknya agar tidak repot mencari pekerjaan lagi. Dia ingin stabil. "Mister Chandra, mungkin kita berangkat sekarang saja agar tidak terlalu macet di jalan." Sela Pak bos. Asteria berterimakasih pada pak bos dalam hati. Dia penyelamat. "Ah, benar." "Silakan ke lobby lebih dulu. Saya akan menyusul." Dengan kata lain Pak bos mengusirnya karena ada hal lain yang tidak bisa dikatakan di depan orang itu. Mister Chandra pun mengerti dan segera pamit keluar. Pak Faisal beralih menatap Asteria. "Maaf bapak lupa beritahu kamu tadi. Orang Jepangnya gak jadi datang hari ini. Dia mau datang lusa. Jadi sekarang saya mau pergi rapat sama Mister Chandra. Kamu nanti kalau sudah selesai jam kantor langsung pulang saja. Saya sepertinya akan selesai malam hari." "Tidak apa-apa Pak. Saya mengerti." Hari itu berlalu begitu saja.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Way Back Into Love || Indonesia

read
13.1K
bc

MANTAN TERINDAH

read
10.1K
bc

Sweetest Pain || Indonesia

read
77.7K
bc

Over Protective Doctor

read
484.3K
bc

Touch The Cold Boss

read
242.0K
bc

Pengantin Pengganti

read
85.9K
bc

For my Baby

read
256.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook