Part 2

3245 Kata
Asteria sampai di bulan ketiga dia bekerja. Syukurlah usahanya untuk tetap di kantor ini terbayar. Kontraknya diperpanjang. Dia jadi tidak perlu repot-repot mencari pekerjaan baru. Setidaknya bertahan di sini akan sedikit menguntungkannya. Kabar baik lainnya adalah admin yang dia gantikan akan kembali bekerja. Ranti adalah seorang ibu muda yang baru punya anak. Umurnya lebih muda satu tahun dari Asteria, namun terlihat lebih dewasa. Mungkin karena dia menikah lebih dulu. Asteria masih lajang, tentu saja pola pikirnya tidak sedewasa ibu muda itu. Ranti adalah orang yang ramah dan cekatan. Dia murah senyum dan dapat dipercaya. Banyak hal baru dipelajari Asteria dari Ranti. Terutama dalam menghadapi masalah orang kantor. Hal-hal yang seharusnya diajarkan oleh sekretaris sebelumnya. Masalah baru muncul saat Ranti kembali. Banyak orang yang terlalu percaya pada Ranti sehingga tidak ingin Asteria membantu. Bahkan ada yang secara blak-blakan mengatakan 'kamu tidak bisa, kamu tidak mengerti, saya mau Ranti saja!' Asteria memang baru di situ. Tapi dia ingin belajar. Dia ingin bisa menangani semua masalah agar bisa meringankan beban Ranti. Sebagai ibu yang sedang menyusui, adakalanya Ranti pergi untuk pumping. Anehnya setiap kali Ranti pergi, masalah selalu muncul. Asteria ingin bisa banyak hal agar Ranti merasa tenang saat mengurus anaknya. Jadi tidak akan berefek pada air susunya. Ada seorang anak baru di kantor. Dia adik kelas Ranti saat SMA. Anaknya supel dan cerewet. Namanya Resa dan Asteria mulai berteman dengannya. Suatu hari Resa mengajak Asteria ke kontrakan barunya. Niat utama Resa sebenarnya adalah mengajak Asteria pindah agar Resa tidak perlu bayar penuh kontrakannya. Mereka berbicara banyak hal hari itu, hingga Resa mulai membahas gosip tentang dirinya. Resa menceritakan alasan kenapa orang-orang di kantor terlihat menjauhinya. "Jadi, si nona cantik sekretaris (yang tidak bertanggung jawab) itu ngomongin kakak. Katanya dia ga suka sama kakak. Kata dia sekretaris itu harus cantik dan berpenampilan menarik. Sementara kakak, bukannya pakaian kakak ga rapi. Kakak tuh rapi banget, tapi kurang menarik. Apalagi kakak kan kalo makeup tipis ya. jadi ya menurut mereka jelek lah kalau di taruh di front desk." Asteria tentu kaget mendengarnya. Jadi alasan mengapa selama ini dia diabaikan hanya karena penampilan. PENAMPILAN?! Tapi Asteria merenung. Perkataan wanita itu ada benarnya juga. Setiap hari penampilan Asteria bisa di bilang paling biasa dibanding yang lain. Make-up hanya lipstik dan bedak tipis. Pakaian umum kantor berwarna monoton yang gombrong. Dibandingkan dengan semua orang di kantor yang modis memang dia paling biasa. Sudah begitu unitnya bekerja sebagai marketing kantor jadi banyak klien dari luar lalu-lalang di kantor. Karena itu semua orang berusaha berpakaian menarik hanya untuk mengesankan klien. Keesokan harinya Asteria mengubah penampilannya. Dia memakai kemeja ditambah vest yang membentuk lekuk tubuhnya. Dia memakai celana ngepress. Dia juga mendandani dirinya full makeup dengan eyeshadow dan blush-on. Tidak lupa dia banyak tersenyum dan menyapa semua orang. Asteria berubah. Dia mengikuti saran Resa masalah penampilan. Juga berlatih tersenyum di cermin, karena kata Resa muka seriusnya saat bekerja itu menyeramkan. Ajaibnya semua orang berubah sikap padanya. Banyak dari mereka yang menyapanya bahkan mengobrol dengannya. Bapak-bapak yang tadinya tidak mau ada urusan dengannya sekarang mempercayainya melakukan tugas-tugas yang biasanya hanya dilakukan oleh Ranti. Semua hanya karena mengubah penampilan. Grup anak muda kantor juga mulai mengajaknya makan bersama. Mereka juga membicarakan topik yang bisa dimengerti Asteria. Mereka mengizinkan Asteria bergaul. Fake people , sungut Asteria. Semua pekerjaan kantor terasa lancar. Walau sebenarnya Asteria harus mengeluarkan usaha ekstra untuk melakukan ini semua. Dia orang introvert yang masa bodoh dengan penampilan. Untuk berubah begitu besar menguras energinya. Beban batin memang, tapi semua dia lakukan untuk bertahan di perusahaan ini. Ayahnya sangat senang dia masuk ke sini. Jika dia bisa bertahan lebih lama itu akan baik. Suatu hari Mister Chandra datang membawa dua orang berjas. Mereka bercakap-cakap dengan bahasa Jepang sambil mendekati meja Asteria. Saat itu Ranti yang notabenenya secretary on training Pak Bos sedang istirahat sekaligus pumping. Jadi Asteria harus menghadapinya sendiri. Sejak Ranti datang, semua urusan sekretaris dan jadwal Pak Bos di pegang Ranti. Asteria hanya tahu sedikit. Tapi beruntung mereka saling bertukar password laptop, jadi Asteria bisa mengintip jadwal Bosnya dalam kondisi seperti ini. " *しぶりAsteriaさん。 Faisalさんがいますか" (Hisashiburi Asteria-san. Faisal-san ga imasuka) Lama tidak jumpa Nona Asteria, apa Pak Faisal ada? " お*しぶりChandraさん。 ***がいます。**がありますが。 ちょっとお*ちください" (Ohisashiburi Chandra-san. Fukudanchou ga imasu. Kaigi ga arimasuga. Chotto omachikudasai.) Lama tidak bertemu juga Tuan Chandra. Deputy Leader ada, tapi sedang rapat. Mohon tunggu sebentar. "あー***できる?" (A, Nihongo dekiru?) Ah, bisa bahasa Jepang? sahut salah satu tamu berjas yang dibawa Mister Chandra. Dia terlihat kaget dan antusias. "うん。AsteriaさんはFaisalさんの**。 ****を**した。***が**だ" (Un, Asteria-san wa Faisal-san no Hisho. Nihongakka wo sotsugyoshita. Nihongo ga jouzu da.) Ya, Nona Asteria adalah sekretaris Pak Faisal. Dia lulusan Bahasa Jepang. Bahasa Jepangnya jago, puji Mister Chandra. Asteria langsung panik. Kemampuan Bahasa Jepangnya tidak sebagus itu. Dia takut tiba-tiba diajak rapat untuk jadi translator. Itu sangat menakutkan baginya. "いいえ。いいえ。 *は**じゃありません。 ***も**じゃありません。" ( ii e, ii e, Watashi wa hisho ja arimasen. nihongo mo jouzu ja arimasen.) Tidak, tidak. Saya bukan sekretaris. Saya juga tidak jago bahasa Jepang. Dengan cukup usaha, Asteria akhirnya berhasil membuat mereka bertiga pergi ke ruangan bos untuk menunggu. Dia mencoba menghentikan kalimat Mister Chandra yang selalu melebih-lebihkannya. Tapi usaha itu agaknya gagal, dan dia memilih kabur. Sebelum kabur dia sempat menawarkan mereka minuman. Kopi lagi-lagi sebagai pilihan. Asteria menelpon OB meminta membuatkan kopi untuk tiga orang tamu. Kurang dari sepuluh menit kemudian seorang OB datang dengan nampan berisi kopi. OB itu mengantarkan kopi ke dalam. Hanya selang mungkin dua menit sesudah OB itu keluar, suara Mister Chandra memanggilnya dari dalam. "Aku ingin kopi ini diganti." ujar Mister Chandra. 'Eh, kenapa?' kata Asteria dalam hati. Mister Chandra melihat wajah kebingungan Asteria. Dia tersenyum dan mengubah kalimatnya. "Aku menginginkan kopi seperti terakhir kali aku ke sini." Asteria tiba-tiba berkeringat dingin. Terakhir kali Mister Chandra ke sini kan yang buat kopi dirinya. Asteria tidak tahu harus berkata apa. Tapi dia mengangguk kaku dan mengambil kembali cangkir kopi di depan Mister Chandra. Dua orang Jepang yang duduk di sisinya terlihat bingung tapi tidak menginterupsi. "Aku menunggu." ucap Mister Chandra final. Itu seperti penekanan untuknya agar cepat. Asteria buru-buru keluar dari ruangan dan menuju pantry. OB yang tadi mengantar kopi terlihat bingung melihat kedatangan Asteria. "Kenapa mbak?" tanya OB itu. "Ah, ini Mister Chandra minta ganti." "Oh, oke." OB itu terlihat mengambil cangkir baru dan mau menyendok kopi. "Biar saya saja Mas." Asteria langsung mengambil alih cangkir dan bubuk kopi itu. Asteria tidak ingat seberapa takaran kopi yang dia buat dulu. Jadi dia mengira-ngira. Setelah selesai dia kembali ke ruangan dengan membawa kopi buatannya. Mister Chandra tersenyum bertopang dagu menunggunya. Asteria baru saja meletakkan kopi di meja. Dia belum sempat beranjak pergi dari sana saat Mister Chandra mengangkat cangkir. Dia meniupkan beberapa kali dan menyeruputnya. Asteria bahkan tidak mengerti kenapa dia masih berdiri di situ seperti menunggu penilaian. "Ya yang seperti ini. Terima kasih." Asteria merasa lega. Dia mengangguk dan memohon izin pergi. Baru saja dia duduk setengah menit, suara Mister Chandra kembali memanggilnya dari dalam. Asteria buru-buru datang. "Kedua tuan ini juga ingin kopi yang sama denganku. Tolong punya mereka diganti." Asteria bingung dan agak tidak nyaman. Apa Mister Chandra sedang mengerjainya? Tidak berani bertanya, Asteria segera mengangkat kopi kedua tamu itu dan membawanya ke pantry. OB saja sampai bingung saat melihatnya kembali dengan dua cangkir kopi yang masih penuh. Dengan cepat Asteria menyeduh kopi baru. Kemudian membawanya kembali ke ruangan bos. Kedua orang itu hanya mengucapkan terima kasih. Bergegas Asteria pergi dari situ. Syukurlah Pak Bos datang tidak lama setelah Asteria menyuguhkan kopi. Ruangan Pak Bos ditutup untuk diskusi. Setelah hampir satu jam pintu ruangan Pak Bos terbuka. Pak Bos keluar lebih dulu sambil memimpin jalan tamu-tamunya. Mister Chandra keluar paling akhir dan berjalan lambat. Dia berhenti sebentar di meja Asteria. "Terima kasih kopinya, aku suka." Ujarnya dengan senyum yang aneh. Asteria hanya tersenyum profesional. Padahal dalam hati dia merinding. Entah kenapa senyum itu membuatnya tidak nyaman. Juga kata suka dibelakangnya membuat dia merasa geli. ASTAGA DIA JIJIK. "Hati-hati di jalan Mister Chandra." Mister Chandra tersenyum dan mengangguk. Dia bergegas menyusul ketiga orang lain yang berjalan lebih dulu. Asteria hanya bisa duduk dan menghela napas. Dia lelah tiba-tiba. *** Asteria pulang malam itu setelah sebelumnya ke mall untuk membeli sesuatu. Entah kenapa dia ingin membeli buku. Setelah berbulan-bulan menahan diri, dia akhirnya membeli novel horor yang diincarnya. Asteria sedang berjalan menuju halte bus untuk menaiki angkutan umum. Dia masih mengenakan pakaian kantor, hanya saja ditambah jaket hitam bertuliskan kanji miliknya. Dari jauh samar-samar dia melihat seorang wanita yang diganggu dua orang pria. Wanita itu memakai rok span dan baju atas kemeja berlengan pendek. Kedua pria yang kelihatan seperti preman melecehkannya. Mereka menahan wanita itu dan menyobek roknya. Sialnya tidak ada orang di sana yang cukup peduli untuk menghentikan mereka yang bersenjata. 'Abaikan, tidak, abaikan, tidak' batin Asteria. Asteria sempat ragu untuk mendekat. Tapi teriakan minta tolong dan tangisan sedih wanita itu di dengarnya. Dia bisa merasa bersalah seumur hidup jika dia membiarkan wanita itu di perkosa dua orang itu. Maka dia memberanikan diri mendekat. Dia menimpuk kepala salah satu pria dengan buku novel yang baru di belinya. Pria itu langsung menoleh padanya. "Kau!" Orang itu begitu marah saat melihatnya. Dia mengacungkan belati ditangannya dan menerjang Asteria. Asteria menunduk saat orang itu sudah di dekatnya. Dia memutar kaki dari belakang tubuhnya dan menahan tubuh ke aspal dengan tangan. Tendangannya luar biasa keras dan kena wajah pria itu. "Argh!" Saat pria itu oleng, Asteria memindahkan tumpuan kaki. Dia memelintir badan dan membuat tendangan berputar lain dengan tangannya di tanah. Tendangannya kena d**a pria itu. Belatinya terlepas dari tangan. 'Ya ampun aku bisa menghajar orang, oh my god.' batin Asteria histeris. Pria lain yang masih menahan wanita malang itu segera melepaskannya. Dia menerjang Asteria tidak terima temannya ditendang. Asteria merunduk memindahkan posisi tangan. Dia memutar tubuh menghindari serangan yang datang. Belum setengah putaran selesai, dia membalik badan dan menendang lagi. Satu tendangan, dua, lalu tiga. Di akhiri dengan memutar kaki di udara dengan tumpuan tangan sebagai poros, seperti break dance. Pria itu K.O. "PAK POLISI SEBELAH SINI!" Seseorang berteriak seperti itu. Kedua pria itu panik dan berusaha bangkit menahan sakit. Mereka berlari secepat yang mereka bisa. Padahal sebenarnya itu hanya akal-akalan wanita malang yang tadi mereka serang. 'Haduh gimana ini, mati aku kalau ada polisi.' batin Asteria lagi. Asteria sempat mau kabur juga. Tapi tidak jadi saat dia tidak melihat siapa-siapa. Asteria buru-buru merapikan baju dan menepuk-nepuk tangannya yang kotor aspal. Ternyata belajar Capoeira saat sekolah ada gunanya juga. "Terima kasih banyak telah menolong ku." Wanita itu berkata. Asteria tersenyum. Tapi dalam hati dia merasa miris dengan keadaan wanita itu. Rok spannya robek parah hingga hampir terlihat celana dalamnya. Bajunya juga agak sobek di depan tapi masih sedikit lebih baik dari roknya. Belum lagi lipstik dan rambut yang berantakan, terlihat habis diperkosa. Asteria melepaskan jaketnya dan langsung mengikatnya di pinggang wanita itu. Dia juga memberhentikan taksi. "Terima kasih, aku akan mengembalikannya, boleh aku minta kontakmu?" Asteria mendorong wanita itu masuk taksi. Tidak menggubris pertanyaan wanita itu. "Pak, tolong antar mbak ini pulang ya. " Asteria bahkan menyerahkan tiga lembar uang merah seratus ribuan pada sang supir. "Nona, biarkan aku tahu namamu?!" Wanita itu berteriak dari pintu belakang. Tapi Asteria berusaha mengacuhkannya. Dia malah menyuruh pak supir untuk tancap gas. Taksi itu bergerak meninggalkannya. Asteria mengambil bukunya yang tergeletak di aspal. Buku baru yang dia gunakan untuk menimpuk orang. Asteria menghela napas saat melihat isi dompetnya. Uang taksi itu adalah jatah makan dia selama dua minggu. Asteria akhirnya menunggu angkutan umum yang lewat untuk kembali ke kosannya. *** Tanpa diketahui Asteria, ada sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Keempat orang di dalamnya melihat aksi Asteria. Mister Chandra adalah pemilik mobil itu. Dia baru saja mau mengantar kedua klien orang Jepangnya ke hotel. Supirnya melewati halte bus itu untuk memotong jalan. Saat keributan itu terjadi Mister Chandra menyuruhnya berhenti. Mister Chandra sempat ingin turun dari mobil, tapi tidak jadi saat melihat tendangan berputar Asteria. "Wow, itu keren sekali, seperti Eddy di game Tekken." Ujar supir Mister Chandra antusias. "かっこいい" (Kakkoii) Keren! ujar kedua orang Jepang yang bersamanya. Mister Chandra hanya diam sambil terkagum-kagum. Dia melihat tanpa komentar. Tapi hatinya juga tersirat kekhawatiran. Wanita itu gila. Yang dia lakukan sangat berbahaya. Dia bisa mati! Mereka menunggu Asteria hingga masuk ke angkutan umum. Saat dirasa tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, Mister Chandra meminta supirnya menjalankan mobil. *** Setelah hari itu Mister Chandra semakin sering datang berkunjung. Tidak setiap hari sih, tapi hampir setiap minggu. Belajar dari pengalaman sebelumnya, setiap kali Mister Chandra meminta kopi, Asteria sendiri yang akan membuatnya. Pak Bos juga semakin sibuk dengan klien orang Jepang lainnya yang dibawa Mister Chandra. Sepertinya urusan mereka sangat serius sehingga Pak Bos sampai pulang larut malam untuk mengurusnya. Mister Chandra sendiri tidak banyak mengganggunya. Dia hanya tersenyum ramah dan menyapa. Tidak berkomentar apa-apa atau mencoba melibatkan Asteria dalam percakapan. Melihat sikap profesional Mister Chandra, hati Asteria lega. Dia bisa tenang mengerjakan tugas-tugasnya yang banyak. Sampai tiba bulan ke sembilan Asteria bekerja, hari itu dia dipanggil ke ruangan bos. Perasaannya tidak enak. Bos jarang sekali memanggilnya di sore hari seperti ini. "Saya memanggil kamu untuk memberitahu kami sesuatu. Sebenarnya saya juga tidak ingin hal ini terjadi. Tapi kontrak kerja kamu tidak bisa diperpanjang. Perusahaan sedang memotong besar-besaran karyawan outsourcing. Saya mohon maaf." Inti percakapan panjang sore itu hanya satu, Asteria di PHK. Perusahaan mengeluarkan kebijakan baru untuk memotong anggaran. Mereka memberhentikan karyawan kontrak. Asteria dan Ranti masih karyawan kontrak di kantor itu dan sedang diajukan promosi ke karyawan tetap. Tapi sepertinya itu hanya janji palsu. "Ya, mungkin memang harus ngurus bayi dulu kali ya." Komentar Ranti setelah dipanggil ke ruangan Pak Bos sore itu. Kami berdua berlinang air mata. Bukan karena sedih di PHK. Masalah akan ada PHK besar-besaran memang sudah tercium sejak lama, dan kami tanpa sadar menyiapkan diri. Kami berdua menangis karena melihat Pak Bos, Pak Faisal menangis saat memberitahu kabar ini pada kami. Mereka sudah sangat dekat dan Pak Bos juga sudah bergantung pada keduanya. Dia sedih karena tidak berhasil memperjuangkan anak-anaknya yang kompeten. Sementara mereka sedih harus kehilangan sosok Bos yang baik dan bijaksana. Selfless dan merangkul semua orang. Dia adalah gambaran seorang bos yang hanya bisa Asteria lihat dalam buku fantasi. Tidak pernah terbayang Asteria akan bertemu sosok pemimpin hebat seperti beliau. Hati Asteria sakit saat melihat beliau menangis. Tapi hidup harus terus berlanjut. Asteria kembali ke kosannya dan mulai mencari pekerjaan. Hatinya masih sedih dan lelah. Dia butuh penyembuhan. Sambil membuka aplikasi novel online, Asteria mencari bacaan ringan. Dia butuh menghilangkan sedihnya dulu. Sebuah pesan dari Pak Faisal masuk. Pak Faisal menawarkan lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan swasta lain. Pekerjaan sebagai administrator juga. Asteria buru-buru membacanya. Kelihatannya tidak buruk, jadi Asteria tanpa ragu melamar. Hari itu Asteria berdoa agar lamarannya diterima. *** Asteria mendapat panggilan wawancara. Asteria datang sambil membawa berkas-berkas miliknya. Dia menyiapkan mental. Pertanyaan wawancara kadang suka tidak masuk akal. Dia di wawancara HRD tentang tipe pria idamannya. Asteria tidak tahu harus menjawab apa. Asteria memberikan jawaban klasik. "Aku berpikir pria idamanku adalah orang yang bisa melihat ku sebagai diriku, bukan orang lain." Jujur itu jawaban absurd yang terlintas di kepalanya. Asteria tidak pernah memikirkan hal semacam itu. Ibu HRD yang mewawancarainya tertawa. Tapi kemudian dia meminta Asteria untuk wawancara kedua dengan Usher sehabis makan siang nanti jam satu. Bagi yang belum tahu, umumnya wawancara itu dua kali. Pertama oleh tim HRD, kedua oleh Usher atau orang yang membutuhkan karyawan. Keputusan diterima atau tidak bisa dari kedua pihak itu. Tapi jika Usher benar-benar tidak suka, ya kalian telak tidak akan diterima. Usher nanti juga yang akan menempatkan orang baru tersebut dan pada kasus tertentu mengajari karyawan baru itu. Seperti di kantor sebelumnya, Asteria di wawancara basic oleh pihak outsourcing. Baru dia di wawancara Usher. Usher dia saat itu ya si nona cantik sekretaris yang tidak bertanggung jawab. Lucunya karena Asteria dan Ranti di PHK, nona cantik sekretaris yang tidak bertanggung jawab itu harus kembali menjadi sekretaris. Haha, karma. Asteria terlalu gugup hingga dia tidak berani makan siang. Dia hanya minum sedikit air putih agar tidak bolak-balik ke kamar mandi. Sudah berkali-kali interview kerja, rasanya tetap sama menegangkan. Jam satu datang. Dia dipanggil ke ruangan oleh resepsionis depan. Dia mengernyitkan saat melihat tulisan ruang CEO. Bukankah bagian administrasi harusnya berada di posisi rendah jadi tidak perlu wawancara dengan CEO? Asteria memantapkan hati. Dia mengetuk pintu dua kali. Suara halus berkata 'masuk' terdengar dari dalam. Asteria memutar gagang pintu dan masuk ke dalam. "こんにちはAsteriaさん。*しぶり" (Konnichiwa Asteria-san. Hisashiburi ) Halo Nona Asteria. Lama tidak bertemu. Asteria kaget melihat siapa orang yang sedang duduk di kursi bos besar. Platname bertuliskan Diamond Chandra sebagai CEO perusahaan. "Silakan duduk" Asteria nyaris tidak mendengar perkataan itu. Dia dengan perasaan tidak karuan duduk di kursi di depan Mister Chandra. Asteria buru-buru menenangkan diri. Dia harus profesional. "Jangan tegang, aku tidak akan menggigitmu." Ujar Mister Chandra. "Terima kasih telah mengizinkan saya mengikuti wawancara di sini." Lihat, Asteria berusaha profesional. "Ck ck ck, kau kaku sekali jika berada di depanku." Mister Chandra menyatukan tangannya untuk menopang dagu. Senyumnya kali ini terlihat aneh, mengingatkan Asteria pada kejadian kopi dulu. "Sekarang ceritakan padaku tentang dirimu." Itu pertanyaan dasar pada saat wawancara. Asteria menceritakan latar belakang pendidikan dan pengalamannya bekerja. Tapi Mister Chandra memotong kata-katanya. "Aku tidak ingin mendengar hal itu. Aku bisa membacanya sendiri di CV. Sekarang beritahu aku apa yang tidak kau tulis di situ." Asteria blank seketika. Dia memutar otak mencari tahu apa hal yang pantas untuk dia ucapkan berhubungan dengan dirinya. Senyuman Mister Chandra terlihat dingin saat dia berpikir. "Apa kau butuh bantuan?" Nada suara Mister Chandra terdengar menyeramkan. Dalam kepanikan Asteria mengingat wawancara di HRD. Pertanyaan absurd itu. "Aku suka pria yang melihatku sebagai diriku, bukan orang lain." Keluar begitu saja dari mulutnya. Asteria mengumpat dalam hati. Mister Chandra terlihat kaget mengerjapkan matanya. Tapi senyumnya berubah. "Lalu?" "Aku suka kucing, tapi aku tak bisa merawatnya." Hal absurd tidak penting lain yang terlintas di kepalanya. Mister Chandra mengubah posisinya tangan. Dia bertopang dagu dengan satu tangan tapi sedikit mencondongkan tubuhnya. "Terus?" "Aku suka novel misteri dan genre horor." "Kalau begitu katakan padaku apa yang tidak kau suka?" "Pengkhianatan." Hening sekian menit. Mata Mister Chandra berkilat saat mendengar kata itu. Kelihatannya Asteria juga sudah kehabisan ide. Mister Chandra menegakkan tubuhnya. Dia tersenyum kecil. "Selamat, kamu diterima sebagai sekretaris." Asteria terlihat linglung. Mister Chandra memberinya selamat, berarti dia diterima kan? Tapi... "Mister, bu-bukankah lowongan ini untuk admin?" Mister Chandra kembali bertopang dagu. "Kenapa harus jadi admin jika kau sangat kompeten untuk jabatan yang lain. Lagipula Pak Faisal merekomendasikanmu. Akan mengecewakan jika aku menempatkanmu di jabatan yang prospeknya kurang bagus. Jadi selamat menjadi sekretarisku nona Asteria." Boleh Asteria keluar ruangan sekarang. Dia ingin muntah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN