Suara bunyi notifikasi dari ponsel terdengar. Tangan lelaki dengan urat-urat tebal mengambil ponsel itu dari saku bajunya. Mata berwarna kecoklatan memindai layar ponsel yang dipenuhi beragam notifikasi dari aplikasi yang dia pasang. Sebuah pesan baru dari w******p menjadi pilihannya.
[[Selamat siang Mister, meeting siang ini jadinya Mister ikut yang mana ya?]]
Pesan teks dari kepala manager pemasaran yang sekaligus merangkap menjadi asistennya kala senggang. Orang yang ditanya baru mengingat jika dia ada dua rapat yang waktunya bertabrakan. Tapi sial dia lupa. Ah tidak juga, dia sengaja lupa, karena yang satu adalah meeting tidak begitu penting yang tidak memerlukan kehadiran dirinya. Sedangkan satu lagi meeting dengan orang menyebalkan yang ingin dia hindari.
[Saya tidak ikut keduanya. Jika kamu kosong, tolong datang untuk meeting dengan Pak Joko. Kalau tidak minta Pak David yang ke sana. Meeting progres billing nanti saya minta Mba Monik saja yang ikut. Kalau ada yang tanya saya ke mana, bilang saja saya sedang meeting dengan Pak Faisal di kantornya. Ini saya sudah dalam perjalanan ke sana.]
[[Oke Mister, siap!]]
Pria itu segera mengetik pesan ke orang-orang yang disebutkannya tadi. Pesan berisi perintah untuk menggantikan dirinya meeting. Bukannya dia mau mangkir dari pekerjaan. Tapi Pak Faisal adalah kliennya yang istimewa. Tidak enak kalau dia membatalkan lagi janjinya setelah dua kali membatalkannya tiga minggu lalu.
Mungkin seharusnya dia memilih waktu lain. Tapi jadwalnya yang agak senggang hanya hari ini. Itu juga karena ada dua rapat yang bisa ditangani orang lain selain dirinya. Kalau tidak hari ini, kapan lagi dia bisa bertemu Pak Faisal. Apalagi bos marketing perusahaan penerbangan itu juga memiliki jadwal yang padat. Jika dia tidak sibuk, Pak Faisal yang sibuk, begitu pun sebaliknya.
Pria itu kembali memandang layar ponselnya. Dia mengecek pesan terakhir antara dirinya dan Pak Faisal. Pesan terakhir yang dia kirimkan jam setengah sebelas pagi belum juga dibaca. Sepertinya Pak Faisal juga masih sibuk hingga tidak bisa membuka pesan. Pria itu menghela napas kecewa.
"Kenapa Mister? kelihatannya pusing sekali." Ujar supir pribadinya.
"Ah biasa Pak Kul, pesan saya ke Pak Faisal belum dibaca. Takutnya pas sampai di sana beliau tidak ada." jawab pria itu.
"Mungkin coba tanya sekretarisnya Mister. Yah buat memastikan saja kalau Bapak di kantor."
Orang yang dipanggil Mister itu tersenyum. Bukannya dia tidak terpikirkan hal itu. Hanya saja sekretaris Pak Faisal agak gimana gitu kalau berhubungan dengannya. Memang orangnya cantik dan baik. Tapi dia terlalu...hmm flirty? Apa kata yang tepat untuk menggambarkannya lelaki itu tidak yakin. Pada akhirnya dia mengandalkan instingnya kalau Pak Faisal ada di kantor.
"Hari ini apa akan sampai malam lagi Mister?" tanya si supir.
"Saya sih inginnya tidak. Tapi ya tergantung situasi. Kenapa Pak? capek ya nungguin saya."
"Bukan begitu Mister, saya hanya khawatir saja. Mister Chandra sering sibuk sampai pulang dini hari. Besok paginya selalu berangkat pagi lagi. Di mobil juga Mister jarang tidur dan selalu mengecek pesan atau menelpon. Apa Mister tidak lelah?"
Orang yang dipanggil Mister Chandra itu hanya tertawa hambar. Dia tahu waktu istirahatnya kacau. Belum lagi beban pikiran dari pekerjaan. Mau tidur di jalan seperti sekarang juga tidak tenang karena kepikiran. Intinya rutinitas miliknya seperti ini sangat tidak sehat.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya Pak. Saya senang ada yang peduli dengan saya. Tapi pekerjaan saya memang banyak. Saya pulang lembur juga buat menyelesaikan berkas agar tidak tertumpuk di meja."
Mister Chandra adalah orang yang sangat teliti dan hati-hati. Dia akan membaca setiap dokumen yang masuk ke ruangannya. Kadang dokumennya banyak yang tidak layak diajukan dan akan dia letakkan ke tumpukan revisi. Masalahnya bisa sangat sepele seperti kesalahan penggunaan tanda baca atau penempatan tanggal dan nama. Hal-hal seperti itu cukup membuang waktu sehingga membuatnya lama selesai. Belum lagi setelahnya dia juga harus mengarsipkan dan mendata dokumen apa saja yang sudah dia tanda tangani. Semua dia lakukan agar selalu ada rekapnya dan mudah dilanjutkan prosesnya.
"Mungkin sudah saatnya Mister mempekerjakan sekretaris lagi. Siapa tahu pekerjaan Mister berkurang sedikit." Ujar Pak Kul.
Kalimat itu bukan sekali ini Mister Chandra dengar dari rekannya. Sudah beberapa orang menyarankannya untuk segera mengambil sekretaris. Mister Chandra sendiri merasa tidak begitu membutuhkannya karena masih bisa dia tangani sendiri.
"Saya masih bisa mengerjakannya sendiri. Kenapa harus mempekerjakan orang lain." Jawabnya kalem.
Pak Kul tersenyum sambil fokus menyetir. Dia melirik bosnya dari kaca spion tengah sambil melanjutkan perbincangan.
"Saya dengar Mister pernah punya pengalaman tidak menyenangkan dari sekretaris yang sebelumnya. Apakah itu yang membuat Mister takut mengambil sekretaris?"
Selintas bayangan tentang kejadian masa lalu muncul di benak Mister Chandra. Saat itu dia masih baru menjadi CEO dan memiliki seorang sekretaris wanita. Orangnya cantik dan ramah. Dia juga dapat diandalkan. Sayangnya semua itu hanya kedok semata. Wanita itu menjual informasi perusahaan ke pihak luar dan hampir membuat perusahaannya bangkrut. Beruntung teman-temannya segera melaporkan pengkhianatan itu padanya. Jika tidak, perusahaan yang dia rintis susah payah sudah tidak bersisa sekarang.
"Salah satunya iya. Saya masih tidak berani mengambil orang baru yang sama sekali tidak dikenal. Terlalu banyak resiko."
Percakapan itu ditutup karena mereka sudah masuk kawasan perkantoran bandara. Banyak mobil yang parkir membuat Pak Kul agak sulit menemukan tempat parkir. Memang karyawan perusahaan ini banyak yang menggunakan mobil pribadi sampai mereka harus parkir paralel. Padahal kantor sudah menyediakan fasilitas bus antar-jemput dan shuttle untuk mengurangi volume kendaraan.
"Saya turunkan Mister di lobby ya. Nanti telpon saya saja jika sudah selesai."
Mister Chandra mengerti kode tersebut. Pak Kul akan mencari parkir di luar yang tempatnya jauh. Mister Chandra maklum dengan kondisi ini.
"Terima kasih."
Mister Chandra turun di lobby kantor dengan tulisan besar salah satu maskapai penerbangan berwarna hijau yang terkenal. Dia masuk dan disambut oleh miniatur pesawat Boeing 737 berlogo maskapai itu. Aroma kopi dari caffee stand di lobby menarik perhatiannya.
"Rasanya ingin beli kopi."
Stand itu bukan kopi terkenal seperti Starbucks. Tapi jika di kawasan kantor, harganya sebelas-dua belas dengan kopi franchise luar itu.
"Ah nanti saja." pikir Mister Chandra.
Dia melanjutkan perjalanan ke lantai tiga gedung. Walaupun sebuah perusahaan penerbangan internasional, fasilitas gedung ini sangat standar. Dari dua lift di gedung ini hanya satu yang berfungsi. Satunya lagi rusak dari tiga bulan lalu dan belum diperbaiki. Lift juga sangat kecil, hanya bisa memuat empat orang dewasa. Sebenarnya ada tangga di sebelah lift, tapi dia tidak ingin bertemu makhluk halus kepala buntung di sana.
Mister Chandra memang bisa melihat makhluk mistis. Walau di siang bolong sekalipun, dia bisa melihat mereka dengan jelas. Kemampuan ini mulai dia rasakan saat berumur 15 tahun setelah dia mengalami kecelakaan mobil yang hampir merenggut nyawanya.
Awalnya dia sangat takut karena wujud mereka yang menyeramkan. Dia sering histeris dan menangis di rumah. Pamannya yang khawatir segera membawa Chandra ke rumah kakeknya. Keluarga Diamond sebenarnya secara turun temurun memiliki kepekaan terhadap hal mistis. Pamannya juga bisa melihat, tapi dia tidak tahu bagaimana cara menghadapi Chandra yang terus histeris. Beruntung kakeknya dapat menangani Chandra dan mengajarinya untuk menghadapi makhluk-makhluk itu. Jadi dia bisa lebih tenang saat mereka muncul di sekitarnya.
Mister Chandra melihat dari kaca pintu ruang unit marketing yang transparan. Dia menoleh ke kiri dan kanan untuk mendapati tempat itu sepi. Mungkin banyak yang masih istirahat siang.
"こんにちはお**いましょうか" (konichiwa otetsudai mashouka)
Suara seorang wanita yang menyapanya dalam bahasa Jepang cukup mengagetkan. Mister Chandra menoleh ke arah suara itu berasal. Seorang wanita muda dengan kemeja putih panjang. Alisnya tebal dengan mata besar dan hidung yang mungil. Bibirnya terlihat kering karena sariawan. Wanita muda itu duduk di kursi yang biasa ditempati sekretaris cantik Pak Faisal. Jika melihat penampilannya orang pasti berpikir dia anak magang.
Mister Chandra kaget karena setahunya di unit ini tidak ada yang bisa bahasa Jepang. Kebanyakan karyawan bisanya bahasa Inggris dan ada satu yang bisa bahasa Rusia karena pernah sekolah di sana. Dia segera memperbaiki raut wajahnya dan memasang senyum. Mungkin wanita ini berpikir dia orang Jepang. Dia tahu betul dengan tampilan ini dan wajahnya yang terlalu Asia Timur, orang sering salah mengira dia orang luar.
Mister Chandra langsung mendekati mejanya. Dia balas bertanya dengan bahasa Jepang yang dijawab dengan lancar oleh wanita itu. Suara wanita itu begitu halus dan tidak dibuat-buat imut. Biasanya perempuan yang belajar bahasa Jepang cenderung membuat suara imut mengikuti anime. Tapi dia terdengar natural saja walau masih berlogat Indonesia.
Percakapan itu sangat singkat dan sederhana. Hanya beberapa kata saja. Tapi Mister Chandra begitu khawatir pada wanita ini. Ingat jika Mister Chandra menghindari tangga agar tidak bertemu dengan hantu kepala buntung. Sekarang hantu itu malah berada di sisi wanita ini.
Dia melihat banyak sekali hantu yang mengelilingi wanita ini. Ada gadis kecil yang biasa bermain di ruang Pak Faisal, hantu yang kadang terlihat kepalanya di lift, si kepala buntung di tangga, wanita dengan jari mengkerut dan beberapa lagi. Dia melirik sedikit ke bawah dan mendapati seekor harimau jawa berwarna putih yang menatapnya tajam. Sebenarnya ada apa dengan wanita ini? Apa dia penganut aliran sesat?
Wanita itu mengantarnya ke ruangan Pak Faisal untuk menunggu. Padahal biasanya tamu yang datang akan diarahkan menunggu di sofa luar di depan ruang rapat yang jauh dari tempat itu. Saat ditawari minum, tentu saja Mister Chandra akan memilih kopi mengingat dia ingin beli kopi tadi.
Mister Chandra menunggu wanita itu pergi mengambil minuman untuknya. Dia dengan santai menunggu sambil mengotak-atik ponsel dan membaca beberapa dokumen digital yang dikirim bawahannya. Tidak lama wanita magang itu kembali dengan kopi di tangan. Tunggu dulu, biasanya kan OB yang mengantarkannya. Bahkan si sekretaris cantik Pak Faisal tidak pernah memperlakukannya seperti ini.
Dia meminum kopinya setelah agak hangat. Baru mencicipi sedikit, rasa familiar menyapa lidahnya. Rasa kopi pahit dengan tekstur kental yang sedikit manis. Sebuah rasa yang pernah dia rasakan waktu kecil saat masih tinggal dengan orang tuanya dulu.
Ayahnya adalah tipe orang yang sangat jarang minum kopi. Tapi setiap kali dia minum, dia akan membaginya dengan Chandra. Ibunya selalu membuat kopi kental dengan sedikit gula yang rasa pahitnya masih akan tertinggal di lidah setelah meminumnya. Dulu ayahnya selalu mendapatkan stok kopi yang banyak dari bosnya yang pecinta kopi. Tapi keluarga Chandra yang miskin harus menghemat biaya hidup apalagi sekedar membeli gula. Karena sejak kecil selalu mendapatkan kopi yang pahit, saat dewasa dan punya uang, Chandra selalu membeli kopi Starbucks dengan gula yang banyak untuk dinikmati. Sekarang merasakan ini dia merasa nostalgia.
Suara langkah kaki membuyarkan lamunannya. Pak Faisal akhirnya datang dengan penampilan formalnya berkemeja batik. Mister Chandra segera berdiri menyambutnya.
"Chandra!"
Pak Faisal telah menutup pintu ruangannya. Mereka berjabat tangan dan duduk di sofa.
"Maaf lama, saya baru selesai rapat."
"Ah, tidak apa-apa kok Pak. Saya juga belum lama tiba di sini." ujarnya
"Saya lupa belum balas w******p dari Chandra. Kebiasaan sudah di read lalu teralihkan saat ada yang mengajak saya bicara."
"Tidak apa-apa, saya mengerti." Ujar Mister Chandra sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong itu yang di meja depan, anak magang ya Pak?"
"Anak magang?" Pak Faisal bingung.
"Yang di meja sekretaris Bapak, yang pake baju putih, rambutnya diikat."
"Ah itu, bukan anak magang. Dia admin baru yang gantiin Mba Ranti."
"Mba Ranti?"
"Itu loh, admin saya yang suka duduk di situ. Yang lagi hamil. Sekarang dia lagi cuti gravida, makanya digantiin sama yang lain"
Mister Chandra kelihatan mengingat-ingat. Sekilas bayangan seorang wanita hamil berkacamata diingatnya. Dia tidak tahu sudah berapa bulan kehamilannya saat terakhir ke sini.
"Oh yang orangnya mungil pake kacamata itu ya? Sudah cuti gravida toh. Berarti sebentar lagi lahiran ya."
"Sudah lahiran malah. Bayinya laki-laki."
"Wah, bapak dapat cucu dong."
Mister Chandra bercanda. Pak Faisal ini sering menganggap karyawannya terutama yang masih muda sebagai anak-anaknya. Wajar jika anggapan dia mendapat cucu dari salah satu karyawannya yang baru melahirkan.
"Cucu saya banyak di mana-mana." Pak Faisal tertawa.
"Mba yang di depan itu sudah lama di sini?"
"Belum, baru dua bulan. Kenapa memangnya, apa dia tidak sopan?" tanya Pak Faisal khawatir.
"Tidak, tidak" Mister Chandra melambaikan tangan dengan gestur mengatakan tidak. "Tadi dia nyambut saya pakai bahasa Jepang. Saya kaget saja karena selama ini kan tidak ada yang bisa bahasa Jepang di sini."
"Oh ya ampun. Saya memang sebelumnya berpesan kalau akan ada tamu orang Jepang yang mau rapat hari ini. Sepertinya dia salah mengira kamu sebagai orang Jepang."
"Eh orang-orang itu sudah mau datang hari ini?" Mister Chandra seharusnya jadi mediasinya. Bapak sendiri yang minta.
"Tidak jadi, diundur lusa."
"Tapi Bahasa Jepang mbaknya bagus. Jadi saya ladenin pake bahasa Jepang juga." puji Mister Chandra.
"Dia memang lulusan sastra Jepang seingat saya. Saya malah belum pernah dengar dia ngomong bahasa Jepang."
"Bagus kok Pak. Harusnya jangan jadi admin. Sayang kemampuannya kurang dipakai."
"Yah, nanti mungkin kalau ada lowongan lain akan saya tawarkan. Ngomong-ngomong Chandra sudah makan siang belum?"
"Belum sih Pak."
"Kalau begitu kita ngobrolnya sambil makan siang saja ya."
"Boleh...boleh, saya ikut bapak saja."
"Di terminal tiga bagaimana?"
"Sepertinya kalau di terminal tiga jam segini masih ramai Pak."
"Kalau begitu di Soewarna saja ya, bareng pakai mobil saya saja." Ujar Pak Faisal sambil mengirimkan pesan singkat pada supirnya.
Mereka berdua keluar dari ruangan sambil berbincang kecil. Saat tiba di depan meja sekretaris, Pak Faisal berhenti. Dia meminta wanita yang dikira anak magang itu untuk mendekat.
"Sini saya kenalin, ini Diamond Chandra. Salah satu teman main golf saya. Dia orang Indonesia."
Mister Chandra memperhatikan ekspresi kaget wanita di depannya. Wajahnya begitu lucu dengan mata bulatnya yang semakin membesar. Mister Chandra sering mengalami hal seperti ini dengan orang yang baru bertemu. Apalagi saat diberi tahu kalau dia orang Indonesia. Ekspresi mereka akan lucu. Mereka sering menganggapnya orang asing.
Pak Faisal melanjutkan memperkenalkan karyawan barunya. Mister Chandra mendengarnya sebagai Asteria Vi- something. Dia tidak ingat jelas karena pengucapannya yang susah. Mister Chandra mencoba berbasa-basi dengan membahas bahasa Jepangnya nona Asteria ini. Tapi kelihatannya wanita itu merasa tidak nyaman membahasnya. Dia menyudahinya saat Pak Faisal memintanya untuk ke lobby lebih dulu.
Saat hendak menggunakan lift, Mister Chandra dikagetkan lagi dengan kemunculan makhluk ghaib penghuni gedung ini. Anak kecil yang biasa bermain di ruang Pak Faisal tiba-tiba muncul di depan lift. Tingginya hanya sekitar pinggangnya saja. Hantu itu mendekat dan menendang tulang kering Chandra dengan keras.
"Aduh!" Mister Chandra mengaduh.
Makhluk itu langsung berlari kembali ke unit marketing. Di depan ruang marketing, Pak Faisal sepertinya telah selesai menyampaikan entah apa pada Nona Asteria. Mister Chandra bisa melihat bocah hantu itu berlari ke kaki Asteria dan sembunyi di sana, sambil mengintip dan menjulurkan lidah mengejeknya. Mister Chandra melihat Asteria berbalik masuk ke unitnya. Matanya membelalak kaget saat menyadari ada makhluk ghaib lain yang sangat besar mengikuti Asteria di belakangnya.
'Apa itu?!'
***
Beberapa hari setelahnya Mister Chandra kembali membawa tamu Pak Faisal, dua orang Jepang dari perusahaan penerbangan Nasional Jepang. Pak Faisal meminta bantuannya untuk menjadi semacam pendukung kerjasama. Berhubung perusahaan Mister Chandra juga masih terkait penerbangan jadi dia bantu. Apalagi jika Pak Faisal berhasil tandatangan kontrak kerjasama, Mister Chandra akan dapat komisi.
Saat memasuki ruangan marketing, Mister Chandra menemukan nona Asteria lagi. Mister Chandra agak pangling karena wanita itu berdandan dan merubah penampilan. Dia tidak bisa menahan diri untuk langsung menyapa wanita itu dalam rangka bahasa Jepang.
Percakapan mereka tidak banyak, tapi efek yang ditimbulkan sesuai keinginannya. Kedua orang Jepang yang dibawanya terlihat senang saat ada orang lain yang bisa bahasa mereka. Seandainya saja wanita ini bisa dia seret ke ruang rapat, pasti kerjasama antar perusahaan ini akan lebih mudah.
Sayangnya Pak Faisal melarangnya melakukan itu. Beliau bilang urusan kerjasama ini terlalu rumit dan bahasa penerbangan pasti banyak yang tidak Asteria mengerti untuk sekedar diterjemahkan. Mister Chandra setuju untuk hal itu karena dia juga merasakannya saat awal-awal menjalankan perusahaan. Dia bahkan mesti kembali ke Jepang dan belajar lagi di sana.
Mister Chandra dan dua tamunya di minta menunggu di ruangan Pak Faisal. Mereka memesan kopi untuk menunggu. Tidak lama seorang OB masuk membawa kopi. Mister Chandra mencicipi kopi yang dibawa, rasanya ringan dan terlalu manis. Mister Chandra segera memanggil Asteria. Dia meminta kopinya diganti dengan kopi yang sama dengan terakhir kali dia ke sini. Raut wajah Asteria yang ketakutan sangat lucu baginya. Setelah Asteria kembali dengan kopi baru, Mister Chandra segera meminumnya. Benar dugaannya, orang yang membuat kopinya dulu adalah Asteria. Pantas berbeda.
Mister Chandra tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerjai wanita itu. Dia meminta kopi dua orang tamunya diganti agar sama dengan dirinya. Padahal kedua orang itu bahkan tidak mengatakan apa-apa. Mister Chandra berdalih kalau kopi buatan Asteria sangat enak. Entah sugesti atau mereka yang berusaha sopan, kedua orang itu memuji kopi buatan Asteria yang tidak terlalu manis itu. Tapi setelah mengerjai Asteria, bocah hantu yang mendiami ruangan Pak Faisal muncul dan menendang tulang keringnya. Mister Chandra harus menggigit bibir agar tidak berteriak sakit. Kenapa hantu kecil itu jadi mengganggunya? Padahal selama bertahun-tahun hantu itu hanya menatapnya saja dari sudut ruangan.
Semuanya terasa lancar hari itu hingga malam tiba. Mister Chandra berniat mengantar tamunya ke hotel naik mobilnya. Supirnya hendak memotong jalan pintas dan mereka kaget saat menemukan sebuah perkelahian. Nona Asteria sedang berkelahi sendirian dengan dua preman.
Mister Chandra ingin turun dan menolong. Tapi dia tidak berkutik saat melihat makhluk hitam besar yang muncul dari atas halte tempat Asteria berkelahi. Tangan makhluk itu begitu panjang dan berbulu. Dia menekan tubuh preman yang berusaha berdiri untuk membalas tendangan Asteria. Makhluk itu seperti membantu Asteria menghadapi kedua orang itu. Setelah kedua preman itu pergi, makhluk itu tetap di sana sampai Asteria masuk angkutan umum. Dahi Mister Chandra berkerut khawatir. Apa wanita itu tidak melihat makhluk besar itu?
***
Setelah kejadian itu intensitas kedatangan Mister Chandra semakin tinggi. Bukan untuk melihat Asteria, tapi untuk membantu Pak Faisal menghadapi argumen alot dengan orang Jepang yang dibawanya.
Cukup sulit memang untuk kembali mendapatkan tender dari perusahaan Jepang ini karena lima tahun yang lalu perusahaan Pak Faisal pernah mengecewakan mereka. Saat itu Pak Faisal belum ditempatkan di marketing. Beliau masih dalam unit urusan legal dokumen dan kontrak. Memang bos marketing saat itu tidak bisa dipegang kata-katanya. Makanya perusahaan Jepang ini tidak berani kerjasama untuk waktu yang lama.
Syukurlah setelah berbulan-bulan menawarkan ini dan itu, akhirnya perusahaan penerbangan Jepang itu mau bekerja sama. Walau sebenarnya masih taraf 'menjajal dulu'. Mereka akan mengirimkan dua pesawatnya untuk dicat di perusahaan Pak Faisal. Jika perusahaan Pak Faisal berhasil mengecat kedua pesawat itu tepat waktu, maka obrolan lain bisa dipertimbangkan. Bagi Mister Chandra itu awal yang baik untuk mendapatkan kepercayaan perusahaan penerbangan nasional Jepang itu lagi. Tinggal Pak Faisal dan tim yang mengeksekusi.
Mister Chandra sesekali berpapasan dengan Asteria. Dia tidak mencoba mengajaknya bicara lagi, hanya sekedar salam dan senyum. Mister Chandra sedikit memperhatikan jika Asteria orang yang sangat reliable dan gesit. Wanita itu juga tidak beramah-tamah yang berlebihan seperti sekretaris cantik Pak Faisal yang dulu. Mister Chandra lebih senang bekerja dengan orang yang seperti ini, profesional.
Hal lain yang Mister Chandra perhatian setiap kedatangannya ke perusahaan Pak Faisal yaitu semakin banyak makhluk halus yang terlihat. Aneh sekali baginya yang biasa hanya menemukan satu-dua di siang hari. Sekarang mereka bergerombol di sekitar Asteria seperti sedang menunggu sesuatu. Tapi makhluk yang muncul tampilannya tidak lagi terlihat buruk. Justru yang bagus-bagus yang datang. Maksudnya bukan yang kaum rendah seperti pocong dan kuntilanak, tapi yang wujudnya seperti manusia normal.
Suatu hari Mister Chandra datang saat istirahat siang. Unit marketing sangat sepi dan hanya ada OB yang sedang tidur di sana. Mister Chandra berinisiatif mengambil minum sendiri di pantry dekat gudang atk. Suara wanita berbicara dari ruang sebelah membuat dirinya penasaran. Pembicaraan itu seperti dua arah, tapi hanya satu orang yang terdengar. Mister Chandra mendekat ke ruang makan untuk melihat.
"Ya, mereka semua pergi makan di terminal tiga."
Duduk di kursi, Asteria sendirian di ruang makan. Dia berbicara sambil makan. Di mata orang awam memang terlihat jika dia sendirian, tapi di mata indigo Mister Chandra, ada beberapa makhluk halus yang mengelilinginya.
"Aku tidak tahu kenapa mereka tidak mengajakku, mungkin mereka masih tidak bisa menerima kehadiranku. Mungkin mereka tidak ingin orang asing masuk grup mereka."
Entah respon apa dari makhluk-makhluk itu tapi Asteria kembali melanjutkan.
"Manusia memang menakutkan. Aku tahu, aku tahu. Mereka tidak bisa berhenti bermuka dua di depanku."
Satu makhluk tinggi mulai memainkan lemari kayu yang berdecit jika di buka.
"Hei! Berhentilah melakukan itu. kasihan adik PKL-ku sampai ketakutan mendengarnya. Aku tahu dia tidak ada di sini sekarang, tapi kalau dia makan sendiri di sini, tolong jangan mengganggunya."
Mister Chandra mengusap tengkuknya yang terasa dingin. Ternyata selama ini wanita itu memang bisa melihat bahkan berkomunikasi dengan makhluk-makhluk itu. Sungguh kenyataan yang tidak mengagetkan. Tapi melihat kondisi dia yang berbicara sendirian (walau sebenarnya tidak) membuat hatinya sedih. Memangnya tidak ada manusia yang bisa diajaknya bicara?
***
Mister Chandra tidak lagi datang ke kantor Pak Faisal untuk waktu yang lama. Pekerjaan di kantor miliknya sedang cukup banyak hingga membuat dia kurang istirahat. Dia akan sampai rumah dini hari atau memilih menginap di hotel dekat kantor.
Hari itu dia masih berkutat di depan laptopnya untuk mengecek data yang dikirim finance. Hasil audit yang keluar cukup mengecewakan karena ada yang tidak sesuai data lapangan. Dia sudah meminta mereka merekap data manual jika hasilnya masih timpang seperti ini. Dia tidak mau sampai ada yang menyelewengkan duit perusahaan. Kerugian besar jika dibiarkan.
Dering ponsel mengalihkan perhatiannya dari laptop. Dia melirik jam di laptop yang hampir menunjukkan pukul sepuluh malam. Nama Pak Faisal tertera di layar. Hatinya bertanya ada apa gerangan Pak Faisal menelponnya jam segini? Tidak biasa.
"Malam Pak."
[Malam, maaf menelpon jam segini. Lagi sibuk tidak?]
"Tidak kok Pak"
[Masih di kantor atau sudah di rumah?]
"Masih di kantor Pak" Mister Chandra menjawab sambil tertawa hambar. "Kenapa Pak telpon jam segini? Bapak baik-baik saja kan?" Ucapnya khawatir.
[Ah, saya baik saja. Maaf ya mengganggu pekerjaan dek Chandra. Tapi saya mau tanya, di kantor dek Chandra lagi ada lowongan pekerjaan tidak?"]
"Lowongan?"
[Iya, jadi admin atau apa gitu.]
"Kenapa memangnya Pak?"
[Jadi gini, kamu ingat gak saya pernah cerita kalau perusahaan saya mau memotong pegawai besar-besaran?]
"Iya ingat, Bapak pernah cerita rencana itu sudah dari lama."
[Iya, jadi hari ini kita PHK massal gitu. Nah saya berniat bantu anak-anak yang di PHK, kalau ada lowongan boleh kasih tau saya. Walau cuma buat satu orang juga gak apa-apa.]
"Ada yang mau direkomendasikan ke saya Pak orangnya?"
Mister Chandra sambil menscroll layar laptopnya. Dia mencari data dari grup HRD tentang lowongan pekerjaan yang masih buka. Ponselnya masih terpasang di telinga.
[Kamu ingat perempuan yang bisa bahasa Jepang? Saya mau rekomendasikan dia]
" Dia?"
Mister Chandra berhenti menscroll laptopnya. Dengan khidmat dia mendengarkan penjelasan Pak Faisal
[Asteria, dia bisa bahasa Jepang. Dia ulet dan gesit. Daya tangkap cepat jadi kamu gak susah ngajarinnya. Dia bisa mengoperasikan komputer. Dia bisa mengatur meeting, reservasi tempat meeting, memesan tiket perjalanan, mengkoordinir supir. Dia bisa mengorganisir dokumen segala macam, banyak deh. Kurangnya paling dia cukup pemalu saja.]
"Kedengarannya orang yang sangat kompeten."
Mister Chandra tersenyum sambil kembali menscroll email dari HRD. Matanya akhirnya menangkap email yang dicarinya. Segera dia klik untuk dibuka. Mister Chandra menggigit ujung pulpennya saat dia membaca keterangan kalau lowongan itu sudah di checklist. Lowongan itu terisi seminggu yang lalu.
[Jadi apakah ada lowongan di perusahaan dek Chandra?]
Mister Chandra agak ragu. Tapi dia sangat ingin membantu Pak Faisal. Dia banyak berhutang budi pada beliau.
"Ada Pak, ada. Saya kirim persyaratannya ke w******p ya Pak."
[Terima kasih, terima kasih banyak dek Chandra.]
Pak Faisal menyudahi telpon itu. Mister Chandra menjatuhkan kepalanya ke lipatan tangannya di meja. Tugas barunya kini adalah bernegosiasi dengan tim HRD untuk menciptakan posisi kosong agar bisa memenuhi permintaan Pak Faisal.
"Aku lelah."