Part 4

3430 Kata
"Tidak ada Mister, beneran. Tidak ada posisi yang kosong saat ini." Itu argumen Bu Siska HRD. Mister Chandra pagi ini datang ke ruang HRD untuk melaksanakan PRnya. Malam sebelumnya dia sudah mengatakan pada Pak Faisal bahwa di perusahaannya sedang ada lowongan pekerjaan. Memang beresiko mengatakannya tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu dengan tim HRD. Sekarang dia harus menerima kenyataan kalau lowongan yang tersisa sudah habis. "Apa tidak bisa diusahakan?" Mister Chandra berujar dengan sedih. Dia sudah menjanjikan satu lowongan. Bisa buruk reputasinya jika tidak bisa diusahakan sama sekali. "Penuh semua, Mister. Lowongan yang terakhir sudah terisi minggu lalu. Kita juga sedang tidak ada orang yang mau pensiun ataupun mengundurkan diri. Kenapa memangnya? Titipan orang ya?" Bu Siska bertanya to the point. Mister Chandra tidak bisa mengelak. Memang benar titipan seseorang. Orang itu juga bukan orang biasa, tapi orang yang sangat penting bagi Mister Chandra. Kalau sampai tidak dapat juga, dia akan sangat malu pada Pak Faisal karena menjadi tong kosong. "Iya Bu, titipan Pak Faisal." Mister Chandra bicara dengan suara pelan. Wajahnya terlihat begitu sedih dan kecewa seperti seorang adik kecil. Bu Siska jadi goyah. CEO muda ini berbahaya kalau menggunakan cara itu. Sudah begitu nama Pak Faisal sangat dikenal di Diamond Corp. Orang itu sangat berjasa dalam perkembangan perusahaan ini. Bu Siska menghela napas menyerah. "Baiklah coba kita lihat dulu. Namanya siapa? Nanti kita lihat CV-nya dan coba cari solusinya." Ujar Bu Siska lembut. Mister Chandra terlihat kembali bersemangat. Wajahnya jadi cerah dan itu menyilaukan. Bu Siska sampai harus mengerjap beberapa kali untuk menghilangkan perih. "Asteria, namanya Asteria!" Bu Siska membuka email dan mengetik nama itu di kolom pencarian. Sebuah pesan masuk yang belum dibaca muncul atas nama itu. Email itu berisi perkenalan singkat, surat lamaran kerja, CV, ijasah, Surat Rekomendasi dan Surat Paklaring dari perusahaan penerbangan ternama. Bu Siska membuka file CV dan membacanya. "Asteria Viennetta, pengalaman kerja satu setengah tahun di perusahaan visa, sembilan bulan di perusahaan penerbangan. Keterampilannya mm, oh lumayan, lebih baik dari admin yang kita rekrut minggu lalu." Kata Bu Siska sambil bergumam. Mister Chandra juga ikut melihat dari balik pundak Bu Siska. CV Asteria sangat rapi dan tidak terlalu banyak isi, hanya poin-poin penting yang sederhana. Sangat berbeda dengan CV orang lain yang suka dipenuhi dengan satu halaman berisi prestasi atau seminar yang pernah diikuti. Dia tidak suka CV yang seperti itu. "Atau begini saja, Mister buka posisi baru di kantor. Nanti biar saya hitung anggaran gaji, insentif, tunjangan dan lain-lainnya." "Posisi baru? Bisa?" "Eh, kan Mister CEO-nya atuh. Kok tanya saya. Saya mah bagian buat kontrak, Mister tinggal tandatangan. Sok mangga mau buka posisi apa? Tapi jangan admin. Kita sudah kebanyakan admin." Ujar Bu Siska. "Kalau begitu sekretaris." Kata Mister Chandra ringan. "Sekretaris?" "Iya, sekretaris buat saya." Bu Siska menoleh saat mendengar jawaban Mister Chandra. Dia memutar kursinya agar bisa melihat Mister Chandra lebih baik. Tangannya disilangkan di d**a. "Yakin sekretaris?" Nada suara agak main-main. "Iya, kenapa memangnya?" tanya Mister Chandra bingung. "Tahun lalu Mister minta ke saya cari sekretaris buat Mister. Terus pas selesai diwawancara Mister malah nyuruh saya buat menaruh orang itu jadi pramugari pesawat jet pribadi saja. Saya sudah capek-capek loh bikin kontraknya, mikir range gajinya, tunjangannya. Eh harus diubah semua. Itu kan jauh banget dari sekretaris ke pramugari." curhat Bu Siska. "Ya, habis gimana bu. Dia outlook gak tahu, excel gak bisa, word saja yang dasar gak lancar. Daripada nyusahin saya, mending dia jadi pramugari saja. Kalau masuk pramugari kan dilatih dari dasar." "Gak salah sih. Ya cuma saya kesal saja. Untung anaknya mau loh." Bu Siska menatap Mister Chandra dengan serius. Dia masih ingin tahu apa Mister Chandra benar serius dengan ucapannya karena sudah bertahun-tahun yang bersangkutan tidak menerima sekretaris. Mungkin pertimbangan karena orang ini rekomendasi dari Pak Faisal. "Serius nih sekretaris? Mister udah bertahun-tahun loh ga nerima sekretaris." "Seribu-rius kalau perlu. Beneran Bu. Ih, ibu jangan menatap saya seperti itu dong. Saya jadi grogi." canda Mister Chandra. "Beneran nih ya ga ditaruh jadi pramugari. Kalau dari CV-nya dia bisa bahasa Jepang loh. Cocok buat penerbangan ke Narita." "Beneran ibu, janji deh gak diubah-ubah lagi nanti." Mister Chandra sambil mengacungkan tiga jari tangan kanannya dengan pose bersumpah. "Oke, nanti saya siapkan hitung-hitungannya. Saya akan kirim ke email Mister." "Terima kasih Bu" ujar Mister Chandra ceria. Mister Chandra pergi dari ruangan HRD dengan langkah ringan. Aura anak kecilnya keluar. Bu Siska hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan CEO muda itu. Jika sudah senang, dia bisa terlihat menggemaskan. Jika sedang serius akan sangat menyeramkan lebih dari hantu gantung penunggu lantai tiga. Bu Siska kembali ke laptopnya meneruskan pekerjaan yang tertahan karena kedatangan Mister Chandra. Dia hanya berharap, siapapun orang yang direkomendasikan Pak Faisal ini akan sangat berbeda dengan sekretaris Mister Chandra yang dulu. *** Satu masalah selesai membuat suasana hati Mister Chandra sedikit ringan. Dia kembali ke ruangannya hanya demi menemukan tumpukan dokumen sudah berada di sisi kanan pintu masuk, di atas meja khusus menaruh dokumen. Semangatnya langsung turun lagi. Dia mengangkat baki dokumen dan membawanya masuk ke ruang kerja pribadinya. Selama ini dia melaksanakan semua hal ini sendiri. Mulai dari memilah, mengangkat tumpukan dokumen, menandainya mana yang deadline-nya dekat dan mengarsipkannya. Diantara semua dokumen, dia paling kesal sebenarnya jika melihat dokumen kontrak. Kertasnya paling tebal dan dibuat rangkap dua atau rangkap tiga. Kontrak juga harus dibaca paling hati-hati agar tidak merugikan perusahaannya. Tapi memang beban pekerjaannya seperti ini. Jika dia tidak hati-hati, maka terjun bebaslah perusahaan. Pak Faisal sering cerita jika dia kadang bisa menahan kontrak sampai lima atau enam bulan di mejanya, sampai PIC kontrak itu harus keluar masuk ruangannya berkali-kali. Hal itu terjadi karena menurut Pak Faisal kontrak yang diajukan pihak perusahaan lain terlalu kecil benefitnya atau terlalu beresiko untuk dilanjutkan. Bisa resiko dari luar seperti keadaan negara atau dari sepak terjang perusahaan itu sendiri yang cukup bermasalah. Sejauh ini Mister Chandra belum menemukan kontrak yang seperti itu masuk ke mejanya. Satu persatu dia membaca dokumen hari ini. Ada beberapa yang berakhir dia coret-coret untuk di revisi. Saat sedang serius membaca dokumen proposal, ponsel miliknya berdering. "Halo, kenapa End?" [Aku sedang di jalan mau melipir ke Starbucks dulu. Mau nitip sesuatu?] "Mau mau, Ice Capuccino dong, gulanya banyakin." [Oke, mau snacknya juga gak?] "Terserah apa aja yang penting manis." [Sip] Mister Chandra kembali melanjutkan pekerjaannya memeriksa dokumen. Matanya berkedut kesal melihat laporan finance. Kenapa masalah mereka belum selesai-selesai. Dia mengetik pesan ke kepala finance untuk menyelesaikan rekap data manual secepatnya besok. Jika tidak dia akan turun tangan langsung. Suara ketukan pintu menginterupsi. Suara laki-laki dari luar meminta masuk. Dia menjawab menyuruhnya masuk. Orang yang sebelumnya menelponnya datang dengan sekantong besar Starbucks di tangan. "おはようございます Mister Chandra" (ohayou gozaimasu Mister Chandra) "Ohayou palamu, ini sudah jam sebelas!" jawab Mister Chandra. "Eh kok marah? Perasaan tadi di telpon masih biasa saja." balas laki-laki itu. "Sorry, habis baca laporan. Rasanya pengen gigit orang. Lagipula kenapa kau baru datang jam segini, End? Tidak biasanya." Orang yang dipanggil End itu terkekeh. Dia menggeser sedikit kertas di meja Mister Chandra untuk menaruh bawaannya. Mister Chandra dengan senang hati mengobrak-abrik kantong itu untuk mengambil minuman pesanannya. Nama asli lelaki itu adalah Endymion Frostbite. Seorang lelaki seumuran Mister Chandra yang badannya lebih tinggi satu senti. Dia memakai kemeja biru ngetat dengan lengan di gulung. Wajahnya agak kaukasian karena dia blasteran Sunda-Perancis. Jabatannya sebagai COO (Chief Operating Officer) di Diamond Corp. Dia juga teman satu angkatan Mister Chandra waktu di kampus walau beda jurusan. Mister Chandra kuliah jurusan ekonomi bisnis sedangkan Endymion jurusan Manajemen. "Aku tadi pagi ketemu Pak Joko dulu. Tuh gula di bawah aku ambil banyak kalau kurang." Mister Chandra menyeruput Capuccino miliknya. Merasa kurang pas, dia menambahkan lagi dua bungkus brown sugar ke minumannya. Temannya hanya menggeleng melihatnya. "Pak Joko minta apalagi?" "Permintaan yang sama yang dia ajukan ke asistenmu itu." "Ah itu, yang masalah dia mau nambah orang dari dia buat ikut pelatihan. Aku sudah bilang kita cuma setuju yang tertulis di kontrak lima orang." "Iya itu. Dia mohon-mohon ke aku buat mempersuasimu biar bisa masukin orangnya." "Ya tapi gak gitu jugalah. Kalau cuma satu orang okelah gampang aku masukin. Ini sepuluh orang! Gimana aku gak gedek." Temannya hanya tertawa melihat wajah kesal Mister Chandra. "Sialan emang. Aku sudah dikasih tahu Fahmi sih ada yang mau nambah sepuluh orang. Tapi aku gak tahu itu Pak Joko. Tadi aku cuma ngomong ke dia... ya nanti coba saya ngobrol sama Mister Chandra dulu, boleh atau gak." "Gak, gak. Mentang-mentang kita yang biayain pelatihannya dia mau seenaknya saja." Pria itu meminum Ice Americano sambil sesekali menggigit classic tuna toastie miliknya. Mister Chandra ikut menyendok coklat cake yang dibeli. "Aku menghabiskan waktu setengah jam pagi ini hanya untuk mendengarkan betapa banyaknya bantuan yang sudah dia berikan pada kita. Kurang hebat apalagi aku, memulai hari dengan mendengarkan ceramah Pak Joko." "Yah kau sangat hebat. Aku salut." Kata Mister Chandra dengan nada mengejek. "Lagi kamu juga sih, sudah tahu orangnya gak bener masih kerjasama sama kantor dia." Mister Chandra menyedot minumannya sebelum menjawab. Kuenya nyangkut di tenggorokan. "Habis gimana. Dia punya koneksi yang banyak. Tunggu nanti kita dapat partner yang lebih hebat dari dia, baru bisa kita tendang." "Pak Faisal-mu gak bisa memangnya?" "Bapak aja kemarin mau reach penerbangan Jepang minta tolong dulu ke aku." Endymion mengelap tangannya dengan tissue. Dia mulai mengutak-atik tumpukan dokumen di meja Mister Chandra. Dia tertawa melihatnya. "Haha, ini dokumen atau skripsi. Coretannya banyak sekali. Udah kayak dicoret dosen pembimbing aja. Jangan-jangan selama ini side job kamu jadi dosbing" canda Endymion. "Itu baca dong isinya kayak gimana. Aku bukan lulusan bahasa, tapi lihat kata-kata seperti itu, pengen aku cekoki kamus kanji bahasa Jepangku biar mampus yang ngetiknya tahu. Buat apa aku susah-susah bikin pedoman penulisan laporan kalau masih kayak gitu juga." kesal Mister Chandra. "Seramnya. Pantas saja tadi aku masuk kamu marah-marah." "Itu juga kamu urusin dong kepala finance. Masa aku minta laporan nggak bener mulu. Aku minta rekap data manual gak dikasih juga. Auditnya udah lama loh. Satu bulan lebih, hampir dua bulan! Masa gak selesai!" "Kalem, bro kalem. Iya nanti aku tegur orangnya. Kalau perlu aku pantengin deh." "Aku sudah kasih dia deadline besok. Kalau gak selesai aku turun tangan." "Wah kalau kamu yang turun tangan, nanti dia keenakan dong. Kamu yang ngerjain." "Iya, abis itu aku turunin jabatannya." "Kejamnya..." kata Endymion sambil menggelengkan kepala. "Mending aku taruh Fahmi di situ. Dia lebih kompeten." gerutu Mister Chandra. "Jangan, dia udah bagus jadi kepala pemasaran. Pinter bacot soalnya." Endymion membuka bungkusan lain yang dibawanya. Kali ini toples sedang berisi kacang telur. Dia membukanya dan meraup satu genggaman tangan. Mister Chandra tidak mau kalah. Dia juga mengambil segenggam untuknya. "Btw, Bu Siska chat aku. Katanya kamu mau rekrut sekretaris?" tanya Endymion. "Iya." "Tumben. Sudah berapa lama sejak terakhir kali? Dua tahun? Tiga tahun? Aku tidak ingat." "Entah. Kayaknya hampir empat tahun." "Tahun lalu sempat kan yang gak jadi itu. Yang akhirnya jadi pramugari." "Iya." "Kenapa tiba-tiba?" "Emang Bu Siska gak cerita?" Endymion menggeleng. "Bu Siska cuma sebatas bilang Mister Chandra mau rekrut sekretaris. Sudah gitu doang." "Pak Faisal minta lowongan pekerjaan buat karyawannya yang di PHK. Aku terlanjur bilang ada. Jadi tadi pagi aku ketemu Bu Siska buat nanya. Katanya ga ada yang kosong. Kecuali kalau aku buka posisi baru. Jadi ya gitu aku minta buka lowongan sekretaris saja." Endymion mengangguk-angguk mengerti. Mister Chandra memang pernah bercerita sekilas kalau ada masalah di perusahaan Pak Faisal yang berdampak pemecatan besar-besaran. Akhirnya terjadi juga. "Tentu saja. Gak jauh-jauh dari Pak Faisal kamu tercinta. Dia Ayah kamu yang ke berapa? Kedua ? Ketiga?" canda Endymion. Mister Chandra menimpuknya dengan kacang. "Eh, jangan buang-buang makanan dong. Mubasir." sahut Endymion setelah berhasil mengelak lemparan kacang. "Kebetulan sih kamu ke sini. Sekalian ngomongin kontrak kerjanya. Bu Siska udah ngirim ke aku. Tapi belum aku lihat." "Orangnya belum masuk udah ngomongin kontrak kerjanya." Sindir Endymion. Mister Chandra tidak menanggapi. Dia membaca file email yang dikirim Bu Siska sambil membuat beberapa coretan di kertas. Endymion menunggu dengan sabar sambil makan kacangnya. Mister Chandra selesai membuat note, dia membalik laptopnya agar Endymion bisa melihat juga. "Aku ingin ubah masa percobaannya dari tiga bulan jadi enam bulan. Sama gajinya diubah." "Diubah? Itu kan standar pegawai baru di sini." Gaji yang tertulis adalah UMR di kota mereka. Mister Chandra melingkari nominal gaji yang diinginkannya di kertas coretan. Endymion bersiul melihatnya. "Ini nominal segini buat masa percobaan? Terus kalau sudah diangkat karyawan tetap?" "Aku akan memikirkannya setelah melihat kemampuan kerjanya. Sistemnya masih pakai dua kali kontrak baru kemudian tes buat jadi karyawan tetap." "Atas dasar apa kamu ngasih range gaji segini? Kamu gak takut dia sama kayak kasus sekretaris yang dulu?" Endymion semakin penasaran. Gaji masa percobaan buat karyawan baru selalu di tulis UMR untuk cari aman. Karena agak sulit menemukan karyawan yang benar-benar bagus untuk di kontrak besar. Nilai yang Mister Chandra ajukan itu hampir seharga laptop baru. Bukan perusahaan tidak mampu, hanya saja ini terlalu wah untuk masa percobaan. "Justru biar kasus yang dulu tidak terulang. Lagi pula aku tahu orangnya seperti apa. Modelnya gak sama seperti yang dulu." "Kita belum tahu. Kamu mungkin hanya lihat yang bagus-bagusnya karena kamu tamu di sana." Endymion berargumen. "End, percaya sama aku, dia beda." "Dia yang beda atau karena ini titipan Pak Faisal?" "End, aku serius! Kalau titipan Pak Faisal sekalipun, tapi orangnya buruk, aku akan bilang dari awal kalau gak ada lowongan." Mereka bertatapan beberapa detik. Endymion bisa melihat jika Mister Chandra tidak akan mundur dengan keinginannya. Kesungguhan di matanya begitu menusuk dan memaksanya mundur. "Oke, aku terima yang kamu ajukan. Aku akan bantu buat yakinin Bu Siska untuk besaran segitu. Tapi aku sudah peringatkan kamu ya soal ini. Kalau sampai siapapun itu yang jadi sekretaris kamu ternyata bermasalah, janji jangan marah-marah ke aku dan bilang aku gak coba menghentikan kamu." "Iya aku janji." Endymion memencet tombol stop di ponselnya. Mister Chandra mengerjapkan matanya sedikit bingung. Dia baru sadar apa yang baru saja Endymion lakukan. "End, kamu!" "Ini aku simpan rekaman kata-kata kamu. Takut di masa depan kamu lupa. Jadi aku punya bukti otentik kalau kamu udah janji." Mister Chandra mengusap wajahnya. Dia terkekeh menertawakan dirinya sendiri. Endymion kembali meraup kacang telur. "Lagian bagus kok kalau kamu rekrut sekretaris. Lumayan pekerjaan Fahmi berkurang. Yang harusnya fokus buat pemasaran, malah nyambi jadi asisten ngingetin rapat atau gantiin kamu ketemu orang. Kasihan dia, jadwalnya sudah padat banget ditambah jadwal kamu jadi kapan istirahatnya." "Kok dia gak pernah ngeluh ke aku." "Kamu bosnya bege, mana berani dia jujur ke kamu." Endymion mengambil tissue basah untuk mengelap tangannya. Dia menutup toples kacang dan memasukkannya kembali ke kantong. Toples kacang itu miliknya, jadi dia tidak mungkin meninggalkannya di meja Mister Chandra. Chandra masih punya setoples gabus keju di belakangnya. "Udah ah, kelamaan ngobrolnya. Nanti yang lain keenakan lagi di kira aku gak masuk. Sini mana dokumen yang udah bisa didistribusikan. Sekalian biar aku bawa." Mister Chandra menyerahkan satu tumpukan penuh dokumen. "Banyak euy. Ini coretan skripsi juga?" Endymion merujuk pada tumpukan dokumen penuh coretan revisi di dalamnya. "Iya, biar mereka revisi." Endymion keluar dari ruangan dengan tangan penuh. Mister Chandra kembali sendiri. Dia buru-buru mengetik pesan balasan untuk Bu Siska sebelum lupa. Nanti tinggal Endymion yang menjelaskan. Beberapa hari setelah, hari wawancara Asteria datang. Mister Chandra berhasil mengosongkan jadwal siang itu dengan menyuruh Endymion menggantikannya rapat. Endymion membalas pesan singkatnya dengan emot (눈‸눈). [Traktir aku makan seafood.] [Oke, deal.] Mister Chandra sebelumnya sudah mendapatkan CV dan hasil penilaian wawancara yang dikirim Bu Siska. Sesuai harapan poinnya bagus. Bu Siska memberi note kalau Asteria cepat tanggap. Mungkin Bu Siska habis memberinya pertanyaan aneh dan Asteria berhasil menjawabnya dengan cepat. Bu Siska terkenal dengan pertanyaan jebakannya. Asteria masuk ke ruangan. Mister Chandra bisa melihat wajah terkejut wanita itu saat melihatnya. Tapi itu cuma sebentar. Mister Chandra hanya bisa tersenyum melihat perubahan kecil itu. Wanita di depannya cukup ahli memainkan ekspresi. Mister Chandra menyuruhnya duduk dan mulai melakukan wawancara. Pertanyaan 'ceritakan tentang dirimu' dia keluar. Mister Chandra segera menghentikannya saat Asteria mulai bercerita pengalaman sekolahnya. "Saya tidak ingin mendengar hal itu. Saya bisa membacanya sendiri di CV. Sekarang beritahu aku apa yang tidak kau tulis di situ." Wajah blank Asteria terlihat lucu. Mister Chandra tidak bisa menahan diri. Dia ingin tertawa, tapi ingin juga terlihat serius. Sayangnya mimik wajahnya jadi terlihat aneh dan senyumnya jadi menakutkan. "Saya suka pria yang melihat saya sebagai diri saya, bukan orang lain." jawaban pertama Asteria. Mister Chandra cukup terkejut. Dia tidak terpikir akan ke situ. Mister Chandra mengatakan untuk melanjutkannya dan Asteria tetap menjawab dengan jawaban aneh yang tidak ada hubungan dengan pekerjaan. Lalu dia berubah taktik untuk menanyakan apa yang tidak Asteria sukai. "Pengkhianatan." Jawaban Asteria begitu singkat tapi tegas. Nada bicara sangat yakin saat mengucap. Tapi dari satu jawaban terakhir itu, Mister Chandra merasa bersimpati. Dia juga benci pengkhianatan. Sangat membencinya. Apakah Asteria pernah mengalami suatu pengkhianatan ekstrim hingga terpikirkan jawaban itu? Seseorang jika ditanya apa yang dia tidak sukai pasti akan menjawab yang berhubungan dengan barang atau makanan yang dibencinya seperti tidak suka makan pare atau tidak suka anjing. Tapi mengatakan gamblang benci pengkhianatan dari sekian banyak kemungkinan jawaban, wanita ini memang sesuatu. Mungkin dia tipe pemikir yang dalam. Mister Chandra memberinya selamat karena telah di terima. Jawaban terakhir memuaskan dirinya. Asteria masih bertanya kepadanya kenapa dia jadi sekretaris bukan admin? Oh, bahkan Mister Chandra lupa kalau dia asal memberi lowongan pada Pak Faisal saat itu. Tapi dengan baik Mister Chandra bisa memberi jawaban logis. Wawancara itu berakhir dengan baik. *** "Ayo" Mister Chandra menjemput Endymion di hotel tempat dia rapat. Dengan senang hati Endymion masuk mobil. "Malam Pak Kul." Sapa Endymion pada supir Mister Chandra. "Malam juga Pak." jawab Pak Kul. Mobil melaju menuju jalan raya. "Kita beli laptop dulu ya. Nanti baru ke resto seafood." ujar Mister Chandra. "Beli laptop?" "Iya. Buat sekretaris baru." "Buat sekretaris baru?!" beo Endymion. "Kok sampai kamu sendiri yang beli laptopnya?" tanya Endymion merasa aneh. "Aku tanya orang IT katanya mereka lagi kosong kalau buat laptop baru. Ada spare lagi dipakai orang lain karena laptopnya di servis. Jadi aku mau beli laptop baru." "Terus serial number-nya? Bukannya itu harus di data orang IT?" "Iya, kata kepala IT nanti didata sekalian sama mereka sekalian install program sama bikin akun kantor." "Wah, wah...gila, semua demi titipan Pak Faisal." Endymion bertepuk tangan. "Memang kamu tahu spesifikasinya gimana?" "Paling gak aku samain sama laptop punyaku. Jadi gampang ngehack-nya nanti." Endymion tertawa kencang sambil menepuk-nepuk pahanya mendengar jawaban itu. Ternyata niat temannya tidak sebaik itu. Mister Chandra masih trauma juga sepertinya. Mereka membeli laptop tidak lama. Tempat itu rekomendasi tim IT jadi tidak perlu berputar-putar melihat spesifikasi. Selesai dari sana mereka langsung ke restoran seafood langganan. " Lobster! lobster! lobster!" Endymion sangat bersemangat saat pesanannya datang. Dia bahkan bertepuk tangan riang. Mister Chandra dengan rapi mulai memakan udang saus padangnya. "Kau tidak mau?" "Jangan khawatir, aku tidak akan merusak kesenanganmu. Habiskan saja lobstermu." Kata Mister Chandra sambil melambaikan tangan. "Jadi bagaimana wawancaranya tadi?" tanya Endymion. "Haha, menyenangkan. Aku mengerjainya." "Apa kau beri pertanyaan aneh?" "Mungkin." "Kau tanya apa?" "Aku tanya apa yang tidak dia sukai." "Wah, kamu wawancara kerja apa lagi pedekate sama cewek? Terus dia jawab apa?" "Dia jawab pengkhianatan." "Oh." Endymion butuh beberapa detik untuk mencerna. "OH!" serunya sambil menunjuk Mister Chandra dengan capit lobster. "Ka-kamu....argh pantas saja kau senang sekali. Sialan! Aku ingin lihat ekspresimu saat dia mengatakan itu." "Memangnya kau pikir aku akan seperti apa?" "Entah. Tapi jawabannya ngena sekali. Hebat, hebat!" Endymion bertepuk tangan. Kenapa dia suka sekali melakukan itu? "Aku ingin bertemu dengannya." "Besok kau juga akan bertemu." Ponsel Mister Chandra berdering. Nama Pak Faisal di layar. Mister Chandra buru-buru mengelap tangannya dan menelan makanan di mulutnya. "Iya Pak selamat malam. Belum Pak, ini lagi makan di luar sama teman. Iya, Pak... Iya Pak, naik kelas lah pak masa jadi admin lagi... Gak kok Pak, gak ngerepotin... Aduh Pak, saya jadi gak enak. Saya cuma bantu sesuai kemampuan saya... Iya, Pak.... Iya Pak, siap! Selamat malam juga Pak." Endymion dari tadi menutup mulutnya agar tidak kelepasan tertawa. Dia hanya merasa lucu dengan hubungan Mister Chandra dan Pak Faisal ini. Oh atau mungkin dia hanya terlalu receh. Mister Chandra sangat halus kalau berbicara dengan Pak Faisal, itu seperti anak baik pada bapaknya. "Cieee... yang ditelpon Ayah, cieee." "Ish." Saat makanan mereka sudah hampir habis, seorang pelayan mengantar sekotak besar makanan take away. "Buat aku? Makasih." ujar Endymion. "Enak aja, buat Pak Kul itu. Ayo jangan lama-lama ah. Biar cepat pulang." hardik Mister Chandra. "Iya Misterku yang galak, iya." Mister Chandra pergi ke kasir untuk membayar. Sesuai janji dia mentraktir Endymion. Selesai dari sana mereka pulang ke rumah masing-masing dengan perut kenyang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN