Part 7

4061 Kata
Isak tangis Asteria membuat Mister Chandra yang ingin balas berteriak marah pada sahabatnya jadi terdiam. Endymion juga terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa. Fahmi yang baru lepas dari keterkejutannya segera menghampiri Asteria. Dia ingin mencoba menenangkan. Tapi saat mendekat, Asteria semakin mundur ke pojok menjauh dari jangkauan. "Mba, tenang mba, tenang ya tenang." Asteria masih terus berucap maaf tanpa henti. Fahmi jadi panik sendiri karena dia tidak tahu bagaimana menenangkannya. "Kenapa kalian diam saja? Lakukan sesuatu!" Saking paniknya Fahmi berteriak pada dua atasannya. Asteria semakin meringkuk takut mendengar teriakkan itu. Mister Chandra dan Endymion saling berpandangan. Setelah cukup lama berkomunikasi lewat mata, Endymion melepaskan cengkeramannya pada Chandra. Mister Chandra ingin maju, tapi ditahan oleh Endymion. "Biar aku saja." Endymion mengelap tangannya ke celana panjangnya. Dia berjongkok di depan Asteria, memberi jarak yang cukup. "Mba... Mba Aster... Asteria." Nadanya begitu lembut saat memanggil. Endymion menunggu hingga Asteria mendengarnya. Pelan-pelan Asteria menampakkan wajahnya dari tempat persembunyiannya. Endymion memberikan senyum yang sangat lembut. "Maaf ya tadi saya berteriak. Bukan salah mba kok. Saya ga marah sama mba." Sambil berkata, Endymion sambil memberi kode pada Fahmi. Untung dia mengerti kode itu dan meletakkan tissue di tangan Endymion. "Saya minta maaf ya kalau sudah bikin mba takut." katanya lagi sambil mengulurkan tissue. Asteria menatap raut wajah Endymion sebentar. Wajah senyum Endymion benar-benar tulus. Dengan ragu dia mengambil tissue di tangan Endymion. Dia menatap lelaki yang tersenyum itu, lalu ke tissue di tangannya. "Te-terima kasih." Mister Chandra melihat adegan itu sambil melipat tangan di d**a. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Endymion bisa berlaku lembut pada orang lain, itu memang keahliannya. Pria kaukasian itu bahkan membantu Asteria berdiri. "Sudah tenang?" kata Mister Chandra datar. Asteria yang ditanya menunduk malu. Wajah Mister Chandra sangat tidak bersahabat. Asteria meremas tissue di tangannya. Dia mengangguk sebagai jawaban. "Pergi dan cuci wajahmu. Setelah itu kembali ke sini dan buat kopi untuk tiga orang." "Baik Mister." jawabnya dengan lemah. Asteria segera pergi dari sana. Endymion berdecak kesal mendengar nada dingin Mister Chandra. Ingin sekali dia geplak kepalanya dengan sepatu pantofel ayahnya. "Kita bicara di dalamnya." ujar Chandra dingin. Endymion sudah sangat ingin melempar bangku yang ada di dekatnya pada wajah sialan temannya itu. Sementara Fahmi merasa dirinya berada di tempat yang salah. Dia dengan tidak nyaman mengikuti Endymion yang berjalan memasuki ruangan CEO. "Apa yang kau pikir aku lakukan tadi hah?" Oh tidak, sudah dimulai, batin Fahmi. Mereka bahkan belum duduk di sofa dan Mister Chandra sudah melontarkan nada dingin. Fahmi merapat ke dinding, sejauh mungkin dengan mereka. Mungkin memang seharusnya dia tidak ikut masuk. "Yang ku pikirkan? Kau mencengkeram rahangnya begitu keras seperti kau mau mematahkannya. Dia baru dua hari di sini dan kau sudah berbuat tak senonoh pada karyawanmu." "Tak senonoh?" nada suara Mister Chandra naik. "Apa kau pikir aku memaksakan dia melakukan sesuatu yang tidak dia sukai?" "Kalau tidak lalu kenapa dia begitu ketakutan hingga menangis?" "Kau pikir aku serendah itu membuat seorang gadis menangis? Kau yang berteriak kencang hingga membuat dia ketakutan." "Kau juga berteriak lebih dulu dari aku." "Itu karena kau membanting ku lebih dulu. Bagaimana aku tidak marah!" Kedua orang ini sudah saling mencengkeram kerah baju masing-masing lawan. Wajah mereka seperti akan berubah menjadi Hulk kapan saja. Fahmi yang khawatir akan ada baku hantam berusaha menengahi. "Sudah sudah senior-seniorku yang tampan. Tenang, ini di kantor bukan ring tinju. Aku mohon jangan seperti ini. Pak End, tolong tenang dulu. Anda biasanya lebih bisa mengontrol emosi lebih baik dari ini. Biarkan Mister Chandra menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Mister Chandra juga, tolong mundur ya. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin." Endymion menarik napas beberapa kali sebelum melepaskan Mister Chandra. Fahmi bisa bernapas sedikit lega saat kedua orang ini masing-masing mundur beberapa langkah untuk membuat jarak. Mister Chandra juga mengambil napas untuk menahan diri. "Tadi wanita itu kelilipan saat berbicara dengan ku. Aku tidak sengaja menyentuh bagian meja yang berdebu dan debu itu terbang. Dia ingin mengusap matanya dengan tangan. Tapi aku larang dan ku bantu meniupnya. Kalian datang di saat seperti itu." "Kau mencengkeram rahangnya." "Dia terus bergerak menjauh. Bagaimana aku bisa membantunya." "Ah jadi itu sebabnya dia menitikkan air mata. Debunya keluar." simpul Fahmi. "Kita salah mengira kalau itu..." Fahmi langsung menutup mulutnya saat melihat ekspresi Mister Chandra. "Maafkan aku telah berprasangka buruk." kata Endymion. "Tapi aku tidak suka nadamu memerintahmu tadi. Sangat tidak berperasaan. Dia habis menangis." "Aku akan minta maaf padanya nanti." *** Asteria membasuh wajahnya di westafel. Dia melihat pantulan wajahnya di cermin. Raut kusut yang pucat. Eyeliner dan maskara yang berantakan, jelek sekali. Dia menghela napas miris sendiri. "Asteria, kau benar-benar memalukan. Kau seharusnya bisa mengontrol emosimu. Sekarang mereka akan berpikir kau aneh karena tiba-tiba seperti itu. Memalukan, sangat memalukan." Dia berbicara dengan pantulannya sendiri. "Kau sudah berjanji tidak memperlihatkan sisi burukmu. Kau sudah janji." Asteria menampar wajahnya sendiri. Satu tamparan itu meninggalkan rasa panas di pipi. "Kau bodoh, BODOH BODOH BODOH." Dia terus menampar wajahnya dengan keras hingga merah. Rasa perih di pipinya membuat dia merasa lebih baik. Telapak tangannya bahkan terasa panas. Dia meremasnya hingga kuku-kukunya hingga membekas. "Sekarang bersihkan kekacauan ini. Kau harus menjaga jarak dengan bosmu Asteria. Oh tidak, kau harus menjaga jarak dengan semua orang. Jangan lakukan kesalahan lagi atau kau yang akan sakit." Seperti sedang menghipnotis diri sendiri, Asteria mengangguk pada bayangan di cermin. Dia mulai menghapus make-upnya sebelum memasangnya lagi. Dia harus cepat karena bosnya memesan minuman tadi. *** "Saya kemarin cari kamu." "Iya, saya kemarin rapat seharian di luar. Masalah kerja sama hotel. Saya berhasil dapat hotel bintang dengan tarif yang lumayan masuk akal untuk turis yang ingin berlibur ke sini." ujar Fahmi. "Good. Sebenarnya saya memang mau bahas yang ada kaitannya dengan itu. Proyek resort kita di Jepang gimana progressnya?" "Itu...." Suara ketukan pintu memotong pembicaraan. Mister Chandra mempersilahkan masuk. Asteria masuk dengan nampan di tangan yang berisi tiga cangkir kopi. Dia meletakkannya di meja mereka. "Tambahkan gulanya dua sendok." Mister Chandra belum mencicipinya sama sekali tapi dia sudah memerintah lagi. Asteria segera menunduk dan mengambil kembali cangkir milik bosnya untuk di bawa ke pantry. "Kenapa cuma punya saya? Yang lain dibawa juga." Endymion mengernyit melihat sikap Chandra. Apa tadi dia membantingnya terlalu keras, batin Endymion. "Punya saya tidak usah mba, gak apa-apa." Fahmi buru-buru berkata. "Kopi mu itu pahit. Saya tahu karena saya sudah pernah coba kopi buatan dia." Endymion yakin otak Chandra ada yang konslet. Kenapa dia judes sekali hari ini? "Oh...uh kalau begitu tambah gulanya satu sendok saja. Tolong." ujar Fahmi. "Punya saya tidak usah." Kata Endymion kalem. "Mohon tunggu sebentar." Asteria membawa keluar dua cangkir kopi. Mister Chandra kembali melanjutkan pembicaraan setelah pintu ditutup. "Sampai mana tadi kita?" "Masalah proyek resort Mister." "Ah iya itu, gimana progressnya?" "Sejujurnya Mister kita ada kendala dengan izinnya." "Izin?" Asteria kembali datang dengan membawa kopi. Dia segera meletakkannya di meja tanpa berani melihat Mister Chandra. Baru dia ingin pergi, bosnya menghentikannya lagi. "Kamu bawa tumpukan dokumen itu. Kasih ke masing-masing PICnya." sambil menunjuk satu tumpukan di sebelah kanan meja. "Itu biar nanti saya saja." cegah Endymion. "Biarkan dia melakukannya. Biar dia kenal orang-orang di sini." Endymion tetap mau berdiri, tapi Chandra menahan tangannya. Mereka saling adu tatap lagi. Fahmi khawatir mereka tiba-tiba adu jotos. "Tapi mba-nya kan belum tahu masing-masing orang ada di unit mana." ujar Fahmi. "Ada tulisannya kan di kepala dokumen kode unitnya." Mister Chandra berkata sambil tersenyum pada Asteria. "I...iya Mister." "Nah, kamu bisa cari orangnya di mana." "Baik Mister, saya mengerti." Asteria akhirnya pergi dengan setumpuk dokumen. Endymion menghempas tangan Chandra dengan kasar. Dia mengusap tangannya yang tadi dicengkeram. "Ada apa denganmu sebenarnya?" ujar Endymion kesal. Mister Chandra mengalihkan pandangan. Dia mengangkat cangkirnya untuk menyesap kopi yang baru dibuat. Kelihatan sekali jika dia tidak ingin menjawab. "Kamu kalau masih marah sama aku, jangan lampiaskan ke orang lain!" "Aku tidak marah denganmu." "Benarkah? Raut wajahmu mengatakan hal lain. Katakan sebenarnya kau sedang ada masalah apa? Kenapa kau moody sekali hari ini?" "Apa aku terlihat seperti itu?" Mister Chandra bertanya pada Fahmi. "Um... saya pikir...ya." cicit Fahmi. Mister Chandra menghela napas panjang. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa. "Bukan hal penting. Kita lanjutkan pembicaraan tadi." "Chandra..." Endymion berujar lembut. Endymion menatap Mister Chandra dengan wajah memohon. Temannya buru-buru mengalihkan pandangan menatap Fahmi. Yang bersangkutan langsung merasa tidak nyaman. Dia seperti sedang berada di tengah-tengah perkelahian antar pasangan kekasih. Padahal keduanya adalah atasannya sendiri. "Kau bilang tadi ada masalah dalam perizinan. Kenapa tiba-tiba bisa seperti itu? Kita sudah menggarap proyek ini sejak lama." "Chandra, kau membuat kacangku terasa tidak enak. Aku akan pergi dan membantu sekretarismu." merasa diabaikan, Endymion mau pergi saja dari pada tidak dianggap di sini. "End, kau COO di sini. Ini proyek besar kita. Kau tidak bisa begitu saja pergi dalam pembahasan ini. Jika memang ada masalah, seharusnya kita bahas bersama." "Tuh, kau sendiri yang berucap jika ada masalah harus dibahas bersama. Tapi kau sendiri tidak mau bilang kenapa kau aneh hari ini." "Aku bahas masalah pekerjaan. Masalah ku dengan sikapku hari ini bukan masalah pekerjaan." "Oh benarkah. Kalau begitu aku balikan, aku COO di sini. Tugasku mengawasi para karyawan di sini agar bisa bekerja dengan baik. Termasuk menangani masalah kesehatan mental pegawai agar bisa selalu bekerja dengan optimal. Jika memang ada masalah pribadi yang sampai mempengaruhi kinerja itu akan buruk pada hasil pekerjaan. Aku tidak mau sampai ada yang tidak bisa berpikir jernih dan objektif dalam mengambil keputusan. Hal itu sangat beresiko pada kelangsungan perusahaan." "Aku jamin masalah ku tidak akan separah itu." "Masalahmu itu sudah kau tunjukkan dalam bentuk penekanan suara kepada karyawan lain yang baru bekerja di sini. Penekanan suara hasil dari bad mood-mu itu bisa berpengaruh pada suasana hati orang lain yang bekerja bersamamu. Jika seseorang sampai membawa perasaan tidak nyaman selama bekerja, hasil pekerjaannya bisa banyak salah. Dan dampaknya setelah itu kau akan marah-marah." "End, aku mengerti. Tapi bisa kita bahas ini nanti?" "Kenapa tidak kita selesaikan sekarang jadi kita tidak perlu berdebat seperti ini?" Fahmi yang melihat mereka berdua berdebat semakin yakin dia berada di tempat yang salah. Dia meminum kopinya menutupi kegugupannya. Jika saja Pak End bawa toples kacangnya, mungkin dia sudah memasukkan berbutir-butir kacang ke mulutnya untuk menghilangkan rasa tidak nyaman. "Um... Mungkin saya keluar dulu jadi kalian bisa berbicara dengan nyaman." "Tidak! / Tidak!" seru keduanya kompak. "O...oke" Fahmi membatin, mereka seperti pasangan suami istri yang sudah lama menikah tapi sedang berkelahi karena hal sepele. Ya, benar mereka seperti itu. Kalau dia mengatakan isi pikirannya bisa dicekik nanti. Seandainya saja boleh direkam, pasti lucu sekali untuk diperlihatkan kepada yang lain. "Chandra, aku memang tidak begitu lama mengenalmu. Tapi sepanjang yang ku tahu kamu bukan tipe orang yang gampang marah. Kalau memang kamu masih marah soal tadi aku minta maaf. Kalau memang masih sakit kasih tahu aku di mana yang sakit." Endymion pindah dari kursinya dan duduk di samping Mister Chandra. Tangannya mengelus bahu Chandra hingga turun ke pinggangnya. Temannya itu masih tidak mau menatap langsung wajahnya. "Chandra lihat aku." Endymion menggunakan telunjuknya untuk menolehkan kepala Chandra. Dia mengelus pipi Chandra agar temannya mau menatapnya. Wajah keduanya begitu dekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Fahmi tiba-tiba merasa pipinya panas. Dia berdoa dalam hati agar matanya tidak ternodai oleh sesuatu yang akan dilakukan kedua orang ini. "Kamu terlalu khawatir. Aku sudah tidak apa-apa, sungguh." "Kamu tahu aku tidak suka kalau kamu begini. Gak terbuka sama aku." "Aku tahu. Aku janji akan cerita nanti." "Janji." Endymion menyodorkan kelingkingnya. "Mn." Endymion tersenyum cerah saat Chandra mengait kelingkingnya. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengusap gemas hidung Chandra dengan jarinya. Dia tetap duduk di samping temannya dengan satu tangan melingkari pinggang Chandra. Padahal sofa yang mereka duduki itu untuk satu orang. Mister Chandra juga tidak merasa perlu untuk mengusirnya. Dia biarkan Endymion melakukan skinship padanya. Selain untuk menurunkan temperamennya, itu juga bertujuan untuk memberikan ketenangan bagi Endymion sendiri. "Halo Pak Dungdung. Tolong ambilkan toples kacang di meja saya. Yang tutupnya merah. Sama toples bola-bola coklat. Saya di ruang Mister Chandra. Makasih." Endymion menelpon OB. Tidak lama suara ketukan pintu terdengar. "Biar saya yang ambil." Fahmi berinisiatif. Dia pikir tidak etis jika orang lain melihat posisi kedua atasannya ini. Dia juga mau menarik napas sebentar. Setelah mengambil udara segar banyak-banyak baru dia kembali ke ruang CEO. "Jadi kita lanjutkan yang tadi. Masalah perizinan yang bagaimana? Bukankah itu seharusnya sudah diurus sejak awal." "Ya, memang kita sudah dapat izin dari pemerintah daerah untuk mengolah lahan. Tapi izin mendirikan bangunan yang bertujuan untuk kegiatan komersial ditahan karena kita perusahaan luar. Jika ingin lanjut kita harus... mencari partner dari pihak Jepang dengan background yang kuat. Itu untuk backup kita jika ada masalah di kemudian hari." "Investor kita memangnya tidak ada yang bisa?" "Aiya.... daerah yang kita ambil itu daerah potensial dengan profit besar. Saingan kita para mafia setempat. Investor yang kita pegang sekarang yang dari Jepang bukan perusahaan kelas besar walau mereka terkenal. Mereka tidak akan berani melawan mafia di sana." "Fahmi benar. Kebanyakan investor kita yang dari Jepang adalah orang-orang yang main bersih." Endymion meraup segenggam kacang ke mulutnya. "Kita harus cari investor baru yang mafia kalau tetap mau lanjut di sana." "Tidak harus mafia juga sih Mister. Tapi memang perusahaan yang backgroundnya kuat dengan hukum." "Untuk mendapatkan investor seperti itu, akan ada banyak hal yang dikorbankan. Mereka akan minta macam-macam " Gumam Mister Chandra. "Aku akan pikirkan jalan keluarnya lagi nanti." Endymion menyodorkan sebutir bola coklat ke mulut Chandra. Sedikit lelehan coklat tertinggal di jarinya. Dia meminta Chandra untuk menjilatnya. Display afeksi ini benar-benar menguji keimanan Fahmi. "Santai saja. Jika memang rezeki kita proyek itu pasti bisa dilanjutkan." "Ada lagi hal lain yang ingin dibahas?" "Ada satu Mister, ini..." Fahmi menyodorkan dokumen yang tadi dibawa. " Apa yang ingin Mister tanyakan?" Mister Chandra membaca dokumen yang ada sticky note yang disodorkan. Dokumen itu adalah salah satu yang sudah dia cek semalam. "Iya, bisa kau jelaskan kenapa nominalnya bisa sampai seperti itu? Terutama untuk perjalanan ke luar negeri, kenapa biaya kenaikannya bisa lebih dari sepuluh persen? Travel ke luar adalah salah satu pemasukan terbesar kita setelah pesawat jet pribadi. Tapi jika kenaikan biayanya sebesar ini, para pelanggan akan memilih beralih ke travel agen lain yang biayanya lebih murah." "Sebagian besar itu karena kenaikan tarif visa dari pihak ketiga kita, Mister." "Visa? Memangnya berapa mereka menaikan tarif?" "Mereka menaikan dua kali lipat dari harga biasa." "Dua kali lipat?!" "Iya... itu sebabnya kita menaikkan harga segitu jika ingin mendapatkan keuntungan." Mister Chandra meremas kertas di tangannya. Urat-urat dilehernya terlihat menonjol saat dia menarik napas. Endymion buru-buru mengelus punggung Chandra untuk menenangkan. "Apa ada opsi lain?" "Kalau biaya paket kita bisa mengakali dengan mengganti hotel yang ratenya lebih murah. Penerbangan juga bisa diganti ke kelas ekonomi." Fahmi menelan ludahnya dengan susah. Air muka Mister Chandra sangat tidak bagus. Kelihatannya malah lebih suram dari sebelumnya. Bosnya itu kini tersenyum dengan mata yang menyeramkan. "Apa kau bilang?" "Ah uh, aku akan coba diskusikan lagi dengan pihak ketiga agar mereka bisa menurunkan harganya." " Sebenarnya tidak semua dinaikkan dua kali lipat. Visa Eropa kenaikannya kurang dari sepuluh persen. Hanya Jepang saja yang benar-benar terlihat dua kali lipat. Mungkin karena pangsa pasar untuk liburan ke sana masih besar." sela Endymion. Perkataan Endymion memang benar. Visa Jepang memang nominalnya dua kali lipat dari kesepakatan beberapa bulan lalu. Dia akui permintaan untuk paket liburan ke Jepang selalu paling laku di setiap musim. Hal ini akan jadi kendala untuk perusahaannya jika dia menaikan harga terlalu tinggi. Bisa-bisa kalah saing dengan perusahaan lain. "Chandra, seingatku sekretarismu itu pernah bekerja di perusahaan visa. Apa tidak bisa kita tanya saja ke dia mengenai masalah ini?" "Kau benar. Aku akan panggil dia ke sini." *** Asteria sudah berhasil menyerahkan beberapa dokumen pada orangnya langsung. Ada beberapa yang PICnya sedang tidak ada sehingga dia bawa lagi. Sebenarnya bisa saja dia titipkan ke orang lain, tapi nanti jika Mister Chandra bertanya, dia takut kena masalah. Lebih aman untuk saat ini mengikuti instruksi bosnya saja dari pada melakukan improvisasi. "Hei, itu yang katanya karyawan baru itu?" "Iya, sekretarisnya Mister Chandra." "Jelek ya." "Hush, mulutmu. Nanti kedengeran sama orangnya." "Aku cuma bilang jujur. Sudah gemuk, jerawatan, gak modis lagi." "Gak modis apanya, bajunya bagus kayak gitu kok. Kamu pikir dia gak modis cuma karena badannya gemuk aja." "Itu dia yang dari kantor Pak Faisal kan?" "Iya, kenapa memangnya?" "Gak, cuma jauh dari ekspektasi aja. Setahu aku orang-orang di perusahaan sana cantik-cantik. Kenapa yang datang yang model begini." "Iya sih, aku juga sering dengar anak buahnya Pak Faisal itu cantik-cantik dan ganteng-ganteng." "Nah itu, sayang banget kan. Padahal aku bayangin kalau yang jadi sekretaris CEO itu yang cantik, badannya bagus, seksi gitu lah." "Kamu kebanyakan nonton drama." "Kan biar cocok sama CEO kita yang masih muda dan tampan. Masak bentukannya kayak ibu-ibu gini." Asteria mendengar jelas bisik-bisik dari karyawan lain itu. Seakan-akan mereka tidak benar-benar ingin menutupinya. Wanita itu memandang pakaiannya yang dikenakan hari ini. Celana kulot dan blouse pas badan. Segini masih kurang modis? Dia berjalan melewati deretan kaca hitam yang besar. Melihat pantulan tubuhnya di sana dia hanya bisa menatap sedih. Sosok yang berdiri di sana memang jelek, gemuk dan jerawatan. "Kenapa mba?" Seorang wanita menghampirinya. Asteria mengingat wajahnya. Dia adalah wanita yang memberinya donat lucu kemarin, Mba Monik. "Ah, tidak ada apa-apa Mba." "Habis muka mba sedih gitu, takutnya ada apa-apa.Sedang mengantar dokumen ya?" "Iya Mba, sekalian kenalan sama yang lain." "Oh." Mba Monik mengangguk. "Ngomong-ngomong lihat Pak Fahmi gak?" "Pak Fahmi? Yang mana ya Mba." "Yang orangnya tinggi, kurus, mukanya manis kayak anak boyband. Tadi pagi sih jalan sama Pak End." "Oh, iya tadi pagi Pak End datang sama seseorang yang ciri-cirinya seperti itu. Masih meeting sama Mister Chandra di ruangannya." "Iya, itu namanya Pak Fahmi. Kamu ingat-ingat wajahnya. Pak Fahmi itu bisa dibilang asistennya Mister Chandra. Dia biasanya bagian ketemu klien atau investor luar. Kalau Pak End bagian ngurusin rapat-rapat internal perusahaan." Asteria mendengarkan dengan serius. "Baik-baik saja sama dia ya. Orangnya seru kok." "Iya, Mba. Terima kasih juga informasinya." "Oh, iya. Nanti kalau ketemu Pak Fahmi, minta tolong dia buat cek handphone. Mau ada rapat soalnya." "Iya siap Mba." Mba Monik pergi setelah menoel pipinya. Asteria langsung mengusapnya setelah Mba Monik tidak terlihat. Baru dia mau berjalan untuk mengantar dokumen lain, ponselnya berdering. "Halo Mister. Ah iya baik saya akan segera ke sana." *** Berada di dalam sebuah ruangan dengan tiga laki-laki tampan di hadapanmu mungkin akan membuat sebagian orang senang. Tapi berbeda dengan Asteria, dia merasa takut. Mungkin masalah tadi pagi belum selesai. Dia memencet jari kelingkingnya dengan kukunya merasa gelisah. "Ehem." Endymion berdehem untuk memberi kode pada Mister Chandra. "Sebelumnya perkenalkan dulu ini Pak Fahmi. Dia Kepala Pemasaran di sini." "Salam kenal." Pak Fahmi mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Asteria. "Saya ingin memastikan, sebelumnya kamu kerja di perusahaan visa ya?" "Iya Mister." "Kamu ngurus visa semua negara atau tidak?" "Saya dapat penempatan di visa Jepang jadi saya cuma mengurus satu negara saja." "Kebetulan, kita mau tanya itu. Kamu tahu berapa harga visa Jepang sekarang?" "Iya tahu. Tapi tergantung visanya apa. Single entry atau multiple entry. Paspornya juga yang biasa atau waiver." "Jadi begini, menurut kamu buat visa single entry dengan harga satu koma dua juta kemahalan tidak?" "Sa-satu koma dua juta?!" Asteria melongo dengan wajah yang sangat lucu. "Biaya visa dari kedutaan itu tiga ratus sembilan puluh ribu. Biaya administrasinya seratus delapan puluh ribu. Jika di total itu hanya lima ratus tujuh puluh ribu. Tentu saja satu koma dua terlalu mahal." "Lima tujuh puluh untuk single entry?" Pak Fahmi terlihat bingung. "Iya. Bahkan multiple tidak sampai satu juta. Total harga untuk multiple entry itu sembilan ratus enam puluh ribu sudah termasuk biaya admin." "Itu sudah biaya yang baru?" Endymion bertanya. "Iya, itu biaya per-April tahun ini." "Ehem. Jadi sebenarnya pihak ketiga kita mengajukan biaya visa baru. Kami sedang membahasnya. Kau bisa melihatnya." Mister Chandra memberikan selembar kertas berisi pemberitahuan dari pihak ketiga. Asteria membacanya dengan seksama. Semakin dibaca kerutan di keningnya semakin dalam. Ketiga orang pria di sana merasa penasaran dan menunggu reaksinya. "Jadi bagaimana menurutmu?" "Ini terlalu... maafkan bahasa yang saya gunakan tapi kenaikan biaya ini keterlaluan. Bisa-bisanya mematok harga visa waiver sebesar lima ratus ribu. Padahal jika mau repot ke kedutaan, biaya registrasi visa waiver itu gratis." "GRATIS?!" "Tuan-tuan kenapa Anda semua kaget? Apa selama ini tidak ada yang mengecek harga visa seperti ini?" "Sejak awal perusahaan ini berdiri saya sudah bekerja sama dengan pihak ketiga ini. Jadi saya pikir itu harga yang wajar." Raut wajah Pak Fahmi dan Pak End berubah kecut. Tadi padahal Mister Chandra marah-marah lihat nominal yang ada di kertas itu. Sekarang di depan sekretarisnya dia bilang wajar. Dasar plin plan. "Baiklah, saya akan mengulas sesuai pengetahuan saya ya Mister. Jadi pertama, harga yang ditulis di sini terlalu mahal. Jika pakai harga di sini yang ada semua orang akan beralih untuk pergi sendiri mengurus visa. Kedua, visa Jepang itu biasanya mengikuti kebijakan dari Jepang. Jadi kalau ada perubahan kebijakan atau kenaikan harga itu pasti akan berlaku sesuai tanggal anggaran baru yaitu bulan April. Surat ini dikeluarkan perbulan Agustus, menurut saya ini tidak benar." "Fahmi, kapan kita terakhir kali menaikkan harga?" "April." "Kalau begitu aku ingin kita putuskan kontrak dengan pihak ketiga ini." "Eh!" "Kalau kita melanjutkan, dia bisa merugikan kita." "Tapi berarti kita harus cari perusahaan penggantinya dengan cepat." Endymion menambahkan. "Kenapa tidak mempekerjakan orang sendiri untuk mengurus visanya?" tanya Asteria. "Bukankah hanya agen tertentu yang bisa apply visa?" tanya Mister Chandra. "Selama travel agen yang bersangkutan tidak ada track record buruk, bisa dicoba untuk mengajukan representatif dari perusahaan. Setiap bulan pihak kedutaan akan memperbaharui data travel agen yang bisa langsung apply ke kedutaan dan ke pihak partner kedutaan. Jadi tidak terbatas hanya travel tertentu saja." jelas Asteria. "Berapa lama prosesnya?" "Kalau tidak ada kendala seharusnya lima hari kerja sudah dapat notifikasi. Setelah kirim email berisi data representasif, paling tidak coba follow up setelah lima hari jika memang tidak ada kabar dari mereka." "Hanya kirim email? Tidak perlu representatifnya datang ke sana untuk wawancara?" " Ya hanya email saja, itu peraturan saat saya masih bekerja di sana. Saya bisa konfirmasi lagi ke pihak kedutaan untuk prosesnya." Wajah Mister Chandra berubah menjadi berseri-seri. Rasanya seperti mendapatkan angin segar. Jika semua yang diucapkan Asteria benar, maka dia akan menghemat banyak sekali biaya dari pada menggunakan pihak ketiga. "Fahmi, kamu buat tim representatif untuk pegang visa. Kalau kurang orang kamu diskusi sama Endymion . Nanti kamu follow up sama Asteria masalah representatif ini untuk prosesnya. Sama tolong siapkan surat pembatalan kerjasama dengan pihak ketiga kita." "Baik." *** Keempat orang itu sudah selesai di ruang Mister Chandra. Mereka keluar bermaksud istirahat karena sudah masuk waktu makan siang. "Pak Fahmi maaf." "Ya?" "Tadi ada pesan dari Mba Monik, minta Pak Fahmi cek handphone. Mau ada rapat katanya." "Oh iya, terima kasih." Fahmi segera membuka handphonenya. Ada pemberitahuan perubahan jam rapat. "Mister Chandra, Pak End, sepertinya saya tidak bisa ikut makan siang bersama. Jadwal saya selanjutnya agak mepet." "Sayang sekali." ujar Endymion. "Mungkin lain kali." dia menepuk pundak Fahmi sambil tersenyum. "Iya, mungkin lain kali. Saya permisi duluan. Mari semuanya." Fahmi keluar dari sana. Mister Chandra menghubungi drivernya untuk standby di lobby. Endymion juga meminta kepada OB untuk menaruh kembali toples kacang dan bola-bola coklat miliknya di ruangannya. "Ayo ikut." ajak Mister Chandra ke sekretarisnya. Asteria berhenti sejenak. Dia mengerjapkan matanya khawatir pendengarannya salah. Melihat raut wajah bingung Asteria, Mister Chandra kembali berucap. "Ayo ikut makan sama kita." "Saya... saya tidak usah Mister saya.." "Ayo jangan malu-malu." Mister Chandra meraih tangan Asteria bermaksud menariknya. Tapi Asteria dengan cepat mundur beberapa langkah. Dia bahkan segera memeluk tangannya yang sempat tersentuh sedikit oleh bosnya. Hal itu tidak terlewatkan dari mata Mister Chandra. "Saya sudah bawa bekal Mister." Asteria tersenyum paksa. "Oke. Kalau begitu kami duluan." Mister Chandra tersenyum dan mengajak Endymion keluar. *** Kondisi jalan agak macet siang ini. Kelihatannya banyak yang ingin makan siang di luar. Mister Chandra menatap kosong ke luar jendela mobil. Dia sepertinya sedang berpikir. "Apa yang kau pikirkan hm?" Endymion mengelus paha Chandra meminta perhatian. "Masalah resort bisa kita cari jalan keluarnya nanti." "Aku tidak memikirkan masalah itu." Chandra memainkan tangan Endymion di pahanya. "Aku hanya memikirkan reaksi sekretaris ku tadi. Dia terlihat... takut." Endymion tersenyum. "Kau belum minta maaf padanya tadi." "Iya, aku lupa." "Kau juga belum cerita masalahmu." "Mn." Endymion terkekeh geli melihat ekspresi Chandra sekarang. Sepertinya seseorang anak kecil yang merasa bersalah. Dia menautkan jari-jari tangan mereka dan menggenggamnya. "Kita bicara sambil makan ya. Sekarang pejamkan matamu dan istirahatkan pikirkanmu sebentar." Dia mengelus kepala Chandra untuk membuatnya rileks. "Jangan khawatirkan apapun. Aku di sini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN