Langit sudah gelap dan udara dingin naik. Jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh malam saat Mister Chandra menyuruhnya untuk beres-beres. Hari ini jadwal Mister Chandra selesai lebih awal dan kelihatannya dia sedang tidak ingin lembur di kantor. Asteria baru mematikan laptopnya saat Mister Chandra keluar ruangan.
"Sudah beres?"
"Sudah Mister"
"Kalau begitu kamu pulang bareng saya saja dan Pak End."
"Tidak usah Mister. Lagian kosan saya dekat. Bisa jalan kaki."
Mister Chandra memperhatikan dengan seksama gestur tubuh sekretarisnya. Dia terlihat tidak nyaman berlama-lama dihadapannya. Terutama dari bagaimana dia menghindari tatapan matanya dan tangannya yang mencengkeram erat tali tas. Berdirinya sangat tegang dengan senyum dipaksakan.
"Mba Asteria."
Suara Mister Chandra terdengar berubah dengan tune yang lebih rendah. Dari nadanya terdengar hati-hati tapi meminta atensi. Asteria jadi mengangkat pandangannya.
"Saya minta maaf atas sikap saya hari ini. Saya sadar jika tadi saya menyuruh-nyuruh kamu dengan nada yang tidak enak tadi."
"Tidak apa-apa Mister. Saya juga minta maaf kalau pekerjaan saya masih banyak kurangnya."
"Tidak, pekerjaanmu baik. Sangat baik."
Keduanya sama-sama canggung. Rasanya tidak nyaman. Beruntung Endymion datang di saat yang tepat.
"Hm... Apa aku mengganggu kalian?"
"Tidak Pak, sama sekali tidak. Saya permisi duluan. Mari Mister, mari Pak End." Asteria buru-buru menyanggah.
Asteria pergi dari sana. Mata Mister Chandra terus mengikutinya hingga dia berbelok. Hal itu tidak lepas dari pengamatan Endymion.
"Apa perlu kita ajak dia?"
"Tidak, dia sudah menolaknya tadi."
***
"Kau jadi mau beli mobil Lamborghini?"
Mister Chandra dan Endymion baru saja masuk mobil. Endymion langsung mengecek bensin karena dia suka lupa mengisinya. Berhubung mereka akan pergi ke rumah Chandra yang letaknya agak jauh dibanding rumahnya yang di kompleks Aeropolis.
"Tidak jadi. Setelah ku pikir-pikir tidak penting juga. Kemana-mana aku pergi dengan mobil kantor. Tidak perlu pusing nyetir karena pakai supir. Lagipula mau pakai Lamborghini di daerah Cengkareng seperti ini? Kasian mobilnya nanti."
"Benar juga sih. Apalagi kalau kejebak macet, mantap sekali itu. Mobil kayak gitu bagusnya buat mejeng cari pacar. Pasti langsung pada antri cewek-cewek."
"Daripada itu aku kepikiran beli Palisade."
"Oh, mobil Korea itu ya. Yang muatannya besar. Emang kamu udah mau berkeluarga?" Goda Endymion.
"Ih, kenapa emangnya kalau punya mobil besar? Kan gak harus punya keluarga dulu. Kita jalan berdua pakai mobil itu juga bisa."
"Iya, berarti fix ya aku yang jadi pacar kamu." Endymion tertawa saat menghindari tangan Chandra yang ingin memukulnya.
Mereka jalan berputar. Endymion parkir di lantai atas jadi rada lama karena antrian.
"Eh lihat deh, itu Mba Asteria kan? Jalannya lucu banget. Tangannya digoyang-goyangin gitu kayak anak kecil." sambil menunjuk perempuan di samping kanan trotoar.
"Pelankan mobilnya!" Mister Chandra tiba-tiba berseru. Endymion jadi menginjak rem.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, pelankan saja mobilnya."
Endymion menahan pertanyaannya saat melihat ekspresi Mister Chandra yang aneh. Chandra terlihat agak khawatir. Perasaan tadi dia baik-baik saja saat mereka bercanda.
Sedangkan Mister Chandra terus-menerus menatap ke sosok perempuan yang mereka yakini sebagai Asteria. Memang itu sekretarisnya. Tapi di sampingnya ada sosok hantu anak kecil yang menggandeng tangan Asteria sambil tertawa-tawa. Bagian belakang tubuh anak itu hancur dan penuh luka. Asteria tidak terlihat jijik dan membiarkan anak itu memainkan tangannya.
Saat mereka berada di pintu keluar, hantu anak kecil itu melambaikan tangan pada Asteria dan pergi ke seberang. Di tengah jalan, Mister Chandra melihat anak itu ditabrak. Hantu anak kecil itu sedang mereka adegan dirinya sesaat sebelum kematiannya, yaitu di tabrak truk pasir besar.
Mister Chandra buru-buru mencari wajah Asteria berharap bisa melihat ekspresinya. Endymion tidak bisa memelankan mobilnya lagi karena ada antrian di belakang. Apalagi security yang membantu menyebrangkan mobil sudah memberi tanda. Tapi sebelum mereka melesat jauh, Mister Chandra bisa melihat wajah sedih gadis itu.
***
Butuh dua jam sampai ke apartemen Chandra karena jalanan yang macet. Endymion langsung meleleh di sofa panjang karena tubuhnya yang pegal.
"Jangan langsung tidur, mandi dulu sana."
"Iya sayangku. Sebentar aku lurusin pinggang dulu."
Mister Chandra hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia melepas jas kerjanya dan menggantungnya. Baru kemudian membantu Endymion melepaskan sepatu bootsnya.
"Emang enak kalau punya pacar yang perhatian kayak begini."
Chandra langsung menggeplak paha Endymion dengan keras. Kadang-kadang dia tidak habis pikir dengan candaan temannya ini. Endymion tertawa melihat reaksi temannya.
"Kau pesan makanan. Aku mandi duluan."
"Iya sayang."
Chandra mengancam untuk melempar sepatu boots tebal milik pemuda itu ke mukanya. Endymion buru-buru melompat ke belakang untuk menghindar. Chandra memilih pergi dari pada meladeni lebih lama.
Selesai bersih-bersih dan makan, mereka duduk di sofa ruang tamu. Dengan ditemani setoples kacang, potongan buah mangga dan minuman teh hangat. Endymion bertopang pipi sambil melihat temannya memasukkan potongan mangga ke mulut.
"Jadi kapan ceritanya? Keburu ngantuk nih abis makan." Endymion menggerak-gerakkan jari tidak menentu di bantal sofa sambil menggambar abstrak.
Mister Chandra meminum sedikit tehnya sebelum mengelap mulutnya dengan tissue.
"Aku... sebenarnya bingung mulai dari mana."
Endymion meraih tangan temannya. Dia mengusap punggung tangan temannya dengan ibu jarinya. Sebuah gestur yang dia yakini untuk menenangkan.
"Pelan-pelan saja. Aku akan dengarkan."
"Masalah tadi pagi, yang kalian lihat aku yang mencengkeram rahang Mba Aster, yang aku bilang kalau aku bantu dia yang kelilipan. Sebenarnya itu bohong."
"?" Endymion mungkin tidak mengungkapkan apa-apa, tapi raut wajahnya bertanya bingung.
"Kamu tahu kan aku bisa melihat makhluk halus. Tadi saat aku ingin keluar meminta tolong sesuatu, wanita itu batuk-batuk dengan berat. Dia seperti orang asma yg sesak napas. Aku tak sengaja melihat ke arah lehernya. Ada sebuah tangan pucat yang mencekiknya. Aku berusaha melepaskan tangan itu dari lehernya. Makanya aku menahan kepalanya seperti itu. Aku bohong karena ada Fahmi tadi."
"Jadi pas kami datang apa..."
"Aku berhasil melepaskannya beberapa detik sebelum kalian masuk."
"Ya ampun. Kenapa tiba-tiba bisa seperti itu? Apa dia habis menyinggung seseorang?"
Chandra menarik tangannya yang sedang dipegang oleh Endymion. Dia meminum tehnya lagi untuk membasahi tenggorokan.
"Aku khawatir ini salahku." Chandra menarik satu bantal sofa dan memeluknya. "Tadi pagi ada sebuah paket berisi kue coklat yang diantar OB. Kue itu mengingatkanku kalau aku masih ada kue di kulkas ruanganku. Jadi aku berikan kue itu ke sekretarisku, aku pikir buat sarapan dia lah ya. Terus aku masuk ke ruangan untuk ambil handphone. Pas aku keluar dia sudah batuk-batuk. Tangannya masih memegang sendok dan kuenya sudah terpotong sedikit. Jadi aku pikir mungkin... mungkin ada yang kirim sesuatu lewat kue itu."
"Kamu sudah cek pengirim kuenya?"
"Aku sudah tanya OB, dia dititipkan dari resepsionis lobby untuk antar kue ke atas. Aku tanya resepsionis siapa yang antar kue, kata dia gojek yang antar. Aku tanya ada nama pengirimnya tidak, katanya atas nama Pak Rudi untuk Diamond Chandra."
"Pak Rudi? Memang kita punya klien namanya Rudi?"
"Nah, itu masalahnya. Aku gak ingat punya klien namanya Rudi. Aku juga gak punya teman dengan nama itu. Takutnya siapapun yang ngirim paket itu pakai gojek, dia pakai akun fiktif."
"Wah, susah dong melacaknya."
"Makanya aku merasa kacau sekali hari ini." Chandra mengusap wajahnya kasar. "Aku gak habis pikir kenapa bisa ada yang mengirim hal seperti itu."
Endymion mengusap-usap punggung Chandra. Dia cukup kaget sebenarnya dan agak bingung mau komentar apa. Hal berbau mistis memang bukan ranahnya.
Sejak berteman dengan Chandra, sedikit banyak dia tahu mengenai hal-hal mistis. Umumnya hanya masalah makhluk halus yang mengganggunya dan membuat Chandra cukup kacau. Saat masih di kampus, Chandra pernah mesti dibawa balik ke kakeknya karena tidak tahan dengan gangguan makhluk halus. Keluarga Chandra memang ada beberapa yang mendalami hal seperti itu, jadi tidak aneh saat-saat tertentu Chandra akan diculik pulang untuk ditenangkan.
"Tapi aneh sih. Soalnya dulu kamu pernah cerita kalau kakekmu itu bikin pagar besar di kantor, makanya ruanganmu harus pindah dari lantai dua ke lantai lima. Aneh saja, bukannya harusnya kiriman kayak gitu mental ya pas naik ke lantai lima?"
"Nah itu juga aku mau cerita!" Chandra menggenggam kedua tangan Endymion. "Kayaknya ada yang salah sama sekretaris ku."
***
"Aku pulang."
Asteria tiba di kosannya yang gelap dan sepi. Posisi kamarnya paling pojok di lorong. Teman depan dan samping kamar itu kerjanya shift malam, jadi dia pulang tempat itu selalu sepi. Kecuali weekend, mereka akan bawa teman atau pacar bercanda di tempat duduk depan dengan suara berisik.
Dia menyalakan lampu kamar dan menjatuhkan tas di tempat tidur. Duduk di lantai meluruskan kaki setelah berjalan cukup jauh. Tangannya mengecek handphone, melihat sekilas agenda bosnya besok. Suara geraman menghentikan aktivitasnya.
"Shiro?"
Wujud harimau putih besar menggeram marah ke arah Asteria. Wujud itu hampir seperti gumpalan kabut putih yang bersinar. Kakinya terlihat samar saat menyentuh lantai, tapi wajahnya jelas harimau. Asteria bingung melihat aura marah dari makhluk itu.
"Ada apa Shiro? Kau tidak biasanya seperti ini."
Harimau itu bergerak mengibas ke arah cermin. Asteria menganggap jika Shiro ingin dia melihat cermin. Saat wajahnya terkena pantulan cermin, Asteria baru sadar jika lehernya hitam. Warna hitam itu membentuk jejak telapak tangan besar dengan jari panjang dan kurus. Terbuka lebar seperti sedang mencekik.
"Jadi ini yang membuat ku sulit bernapas hari ini."
Asteria menyentuh gambar hitam itu dengan jarinya. Hanya tinggal sisa-sisa residu dari makhluk apapun yang sempat menempel tadi. Tapi dari kepekatannya, orang yang mengirimnya pasti penuh kebencian.
"Shiro, apa kau mau bantu menghilangkan ini?"
Shiro mendengkur senang. Dia menerjang tubuh Asteria seperti menerkam mangsa, wanita itu jatuh berbaring. Taring Shiro merobek telapak tangan makhluk hitam yang menempel di leher Asteria.
***
"Kenapa memangnya sekretarismu?"
"Aku udah cerita belum soal aku ketemu orang yang tiap ketemu, makin hari makin banyak makhluk halus yang ngikutin dia?"
"Iya pernah. Itu sudah lama banget kan kamu cerita. Dia orangnya?"
"Iya, dia Asteria."
"Terus?"
"Pernah gak aku curhat sama kamu soal makhluk halus yang muncul di kantor selama ini?"
"Nggak sih, paling yang kamu temui di jalan atau kantor lain."
"Iya kan. Masalahnya sekarang tuh banyak banget yang muncul. Kamu kalau bisa lihat, di lobby lantai satu itu sudah kayak pasar Bubrah tahu. Bahkan tadi, yang kamu bilang dia jalannya kayak anak kecil, itu sebenarnya dia lagi gandengan sama hantu anak kecil. Padahal selama ini hantu anak kecil itu gak bisa masuk daerah parkiran kita. Posisi dia mati juga jauh dari kantor kita. Sejak dia masuk, baru kali ini aku lihat penampakan sebanyak itu!"
"Chandra, kamu yakin itu karena sekretarismu? Dia baru dua hari loh kerja."
Chandra menunduk sambil memilin bagian pinggir bantal sofa yang di pegangnya. Kalau boleh mungkin dia akan menggigiti kuku. Tapi Endymion sudah membuatnya menghentikan kebiasaan buruk itu.
"Aku... tidak tahu. Tapi... tapi aku merasa..."
Endymion menarik tangan Chandra untuk digenggam.
"Bagaimana kalau kita lihat dulu selama beberapa Minggu? Kalau memang kamu merasa terganggu, aku akan diskusi sama pihak HRD untuk memindahkan dia ke kantor lain."
"Jangan!"
"Chandra, aku sudah kenal kamu bukan setahun dua tahun. Aku tahu bagaimana dirimu yang berusaha keras untuk mengabaikan makhluk-makhluk itu. Kalau apa yang kamu katakan benar dan penyebab banyaknya makhluk halus adalah karena wanita itu, kita masih bisa memindahkannya ke kantor cabang."
"Tapi..."
"Kamu takut mengecewakan Pak Faisal? Aku rasa selama dia masih bekerja di perusahaan kita itu tidak akan jadi masalah."
Chandra terlihat berpikir keras. Masalah dia yang bisa melihat makhluk halus itu masalah pribadi. Rasanya akan sangat tidak profesional memindahkan seseorang hanya karena dia merasa terganggu dengan kehadiran makhluk halus di sekitarnya. Apalagi orang kompeten seperti Asteria yang kerjanya rapi. Belum tentu juga makhluk itu karena keberadaan Asteria.
Juga masalah dia orangnya Pak Faisal. Apa yang harus dia ucapkan jika Pak Faisal bertanya, sementara dia sudah mengabarkan kalau Asteria jadi sekretarisnya. Dia bisa sangat malu nanti.
"Baiklah aku akan coba memberinya waktu satu bulan. Aku juga belum yakin kalau ini karena dia."
"Aku akan membantumu, jangan khawatir."
***
Pagi hari di kantor selalu Asteria mulai dengan menyeduh air lemon. Pantry lantai lima sangat sepi dan paling nyaman untuk bersantai sebelum mulai sibuk dengan pekerjaan. Dia mengaduk oatmeal sarapannya yang hambar. Kalau bisa pulang lebih cepat hari ini dia akan beli abon atau madu untuk teman makannya. Suara derit pintu pantry yang dibuka membuat dia menoleh.
"Ohayou Asteria-chan."
"Ohayou gozaimasu."
Pak End terlihat masih seperti orang mengantuk. Rambutnya belum di style rapi seperti biasa. Dia juga masih pakai jaket. Dia membuka laci untuk mencari teh.
"Kamu pagi sekali datangnya."
"Ah, tidak juga."
"Saya biasa datang agak siang karena jadwal saya jam delapan. Tapi karena semalam menginap di tempat Chandra, jadi mau gak mau nganterin dia pagi." dia meniup tehnya sebentar sebelum menyeruputnya.
"Mister Chandra sudah datang?"
"Iya, lagi ke toilet tadi."
Asteria dengan panik menaruh sarapannya di kulkas, lalu buru-buru pergi ke luar dengan membawa gelas air lemonnya . Dia belum membereskan ruangan Mister Chandra. Endymion menatap bingung kepergiannya.
Asteria masuk ke ruang Mister Chandra. Tidak ada orang di sana, dia menutup pintu dan membereskan meja. Dia membetulkan tempat duduk yang miring juga benda-benda yang bergeser.
Ada beberapa noda makanan di meja, sepertinya OB belum mengelapnya, jadi dia lap dengan tissue. Asteria sambil melirik ke arah pintu, masih belum ada tanda-tanda Mister Chandra datang. Dia kembali fokus mengelap bagian meja yang berdebu.
"Kau serius sekali."
Asteria berjengit kaget. Mister Chandra sudah duduk di kursinya sambil bertopang dagu. Kapan dia masuk? Dia tidak mendengarnya sama sekali.
"Mi... Mister... Anda sudah tiba."
Mister Chandra tersenyum kalem. Dia bangkit dari kursinya dan memutari meja. Satu tangannya menggenggam handphone.
"Saya kirim file ke kamu. Isinya nama klien yang saya tangani. Saya ingin kamu menghafalnya. Kalau ada paket yang nama pengirimnya bukan dalam list itu, kamu buang saja jika bentuknya makanan atau minuman. Di luar itu kamu kasih Pak End untuk di tangani."
"Ba..baik Mister."
Mister Chandra tidak bisa menahan diri untuk melihat ke arah leher Asteria. Sekretarisnya memakai turtleneck tinggi yang menutupi leher. Dia jadi tidak bisa mengecek bekas kejadian kemarin. Dari leher, pandangannya naik ke arah wajah. Sorot mata Asteria masih sama seperti saat pertama kali mereka bertemu, tidak nyaman dan was-was.
Mister Chandra maju beberapa langkah ke arah Asteria. Hal ini membuat wanita itu otomatis mundur untuk membuat jarak. Tapi dia tidak bisa bergerak lebih jauh karena di belakangnya ada meja.
"Asteria..." Suaranya rendah dan dalam.
Mister Chandra semakin mengikis jarak. Sepatu mereka nyaris bersentuhan. Jarak sedekat ini Asteria bisa mencium wangi parfum bosnya. Tengkuk Asteria terasa dingin. Dia memegang erat pinggiran meja sambil menatap ke bawah.
Satu tangan Mister Chandra mengangkat dagunya. Asteria memejamkan mata. Hembusan napas pria itu begitu dekat. Asteria menahan napas saat merasakan jari dingin yang mengusap sudut bibirnya.
"Ada sisa makanan di bibirmu."
"Ah."
Asteria langsung membuka mata. Dia mengusap mulutnya dengan punggung tangan. Gerakannya yang kasar membuat Mister Chandra khawatir wanita ini akan merobek bibirnya sendiri.
"Maaf. Ka... kalau begitu saya akan membereskan dokumen ini. Permisi."
Asteria mengambil tumpukan dokumen yang sudah di periksa Mister Chandra. Dia memeluknya erat dan berlari keluar. Mister Chandra hanya tersenyum kecil.
"Padahal aku ingin minta dibuatkan kopi."
Asteria meletakkan dokumen dengan agak kasar di meja. Dia merasa asam lambungnya tiba-tiba naik. Rasa mual luar biasa datang memaksa dia untuk pergi ke toilet sambil menutup mulutnya dengan tangan. Asteria memuntahkan semua isi perutnya yang sedikit ke dalam toilet. Keringat dingin merambat di pelipis dan tengkuknya.
"Ini tidak baik... Ini tidak baik."
***
"Mba Asteria, saya butuh..."
Mister Chandra keluar ruangan untuk tolong. Tapi tidak ada sekretarisnya di meja. Hanya tumpukan dokumen dari ruangan yang ditinggalkan. Melihat itu dia memilih mendial nomor handphonenya.
"Grrr."
Mister Chandra mengernyit. Suara di handphonenya masih nada tuut menunggu sambungan. Tapi ada suara geraman lain yang terdengar dekat. Chandra melihat ke kanan dan ke kiri dengan handphone masih di telinga.
"Grrr."
Suara itu benar-benar dekat. Dari bentuk suaranya mengingatkan dia pada tayangan discovery channel tentang dunia binatang. Biasanya hewan predator yang menggeram marah. Dia yakin itu bukan anjing karena peraturan gedung ini tidak boleh bawa binatang.
'Tunggu dulu, predator!'
Mister Chandra menatap ke bawah kakinya. Seekor harimau putih besar menggeram sambil memperlihatkan gigi-giginya.
" AAAAA"