Part 9

3164 Kata
Mister Chandra melompat mundur dan langsung berlari masuk ke ruangannya menutup pintu. Hanya sepersekian detik, suara buk keras dan getaran di pintu muncul, sepertinya ada sesuatu yang menyeruduk dengan kencang. Selanjutnya suara auman kesal menyusul kemudian. Mister Chandra memutus panggilannya ke handphone Asteria dan segera menekan speed number satu, Endymion. [Halo] "Tolong..ada...ada harimau di sini!" [Hah, Apa? Gimana?] "End, tolong aku!" [Kamu di mana?] "Aku di ruanganku, cepat End!" [Iya aku kesana... Tenang ya aku kesana.] jawab End dengan terburu-buru. *** Asteria hampir saja bertabrakan dengan Pak End saat akan masuk ke ruangan. Dia berhasil mengerem kakinya dan hampir limbung ke belakang. Pak End juga terkejut saat berbelok. "Oh, ada apa Pak?" "Ah, tidak. Saya duluan." Pak End membuka pintu dan langsung menutupnya, tanpa menunggu Asteria masuk. Gelagat Pak End yang terburu-buru sedikit membuat Asteria bingung. Tapi dia memilih tidak terlalu memikirkannya. "Chandra!" Asteria masih berdiri di belakang Pak End yang mengetuk pintu dengan kasar. Nada suaranya seperti orang panik. Asteria jadi ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi melihat sikap atasannya itu. Pintu ruangan Mister Chandra terbuka sedikit. Pak End masuk dengan membanting pintu. "Apa terjadi sesuatu? Rasanya aku pergi cuma sebentar." * Endymion baru saja memasukkan kaki ke dalam ruangan saat tubuhnya disergap oleh tubuh besar temannya. Sesuai insting dia memeluk tubuh itu. Pelan-pelan menjauhkannya dari pintu dan membawanya ke sofa. "Ssshhh... aku di sini, aku di sini." Endymion menepuk-nepuk punggung Chandra. Mengelus pelan sambil mengucapkan kata-kata penenang. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia melihat Chandra seperti ini. Waktu kuliah sepertinya, itu sudah beberapa tahun yang lalu. "Ada harimau... besar... Dia mau memakanku!" lirihnya dengan gemetar. "Tenang, aku di sini. Aku tidak akan membiarkannya memakanmu. Aku akan mengusirnya." Butuh beberapa menit bagi Endymion untuk menenangkan Chandra. Dia mengajaknya duduk dan memberinya air putih. Satu tangannya masih mengelus punggung Chandra untuk ketenangan. Melihat temannya mulai normal Endymion tersenyum tipis. "Kalau begitu kita pindahkan dia hari ini ya." "Eh!" Mister Chandra menatap Endymion dengan wajah bingung. Bukannya dia tidak tahu siapa 'dia' yang dimaksud End. Tapi kenapa jadi ke arah sana. "Lihat, ini belum dua puluh empat jam kita membicarakannya. Kau sudah ketakutan seperti ini. Lebih baik kita mutasi dia sekarang sebelum ada hal lain yang tidak di inginkan." "Aku tidak apa-apa. Aku tadi hanya kaget." "Harimau yang menakutimu itu ada karena dia kan? Dia..." Bunyi ketukan pintu terdengar. Wajah Chandra berubah tegang. Suara sekretarisnya terdengar meminta masuk. Chandra langsung rileks, dia menyuruhnya masuk. "Maaf Mister saya baru mengecek handphone. Tadi Mister misscall saya, apa ada sesuatu yang Mister butuhkan?" Mister Chandra berdehem. Asteria membuka pintu ruangannya cukup lebar. Dia bisa melihat makhluk putih berwujud harimau itu menatapnya dari luar. Kelihatannya tidak bisa masuk ke ruangannya. "Saya ingin kopi." Nadanya terdengar dingin. Berbeda dengan beberapa saat lalu. "Baik, gulanya dua sendok ya Mister?" "Tidak, tidak. Yang biasa kamu buat saja." "Baik. Ada lagi Mister?" "Tidak itu saja." "Pak End?" Asteria menawarkan. "Saya tidak usah." Asteria menunduk sopan. Dia hampir berbalik badan saat Pak End memanggilnya. "Mba Asteria." "Iya Pak?" "Dilarang membawa hewan apapun ke kantor." Asteria merasakan tengkuknya dingin. Ludahnya terasa sakit saat di telan. Dia bertatapan dengan Pak End yang masih tersenyum tipis. Entah kenapa matanya terlihat mengetahui sesuatu. "I...iya Pak?" "Saya hanya ingin kamu mengingatnya. Itu peraturan perusahaan." "Baik Pak, saya mengerti." Asteria keluar dari ruangan itu. Menutup pintu dengan pelan, dia menunduk. Tangannya terangkat mengelus tengkuknya. "Hewan?" Mulutnya terasa kering. Dadanya terasa sesak. Matanya bergulir ke arah kakinya di mana seekor harimau putih besar berdiri menatapnya. "Mungkinkah..." * Setelah pintu tertutup, Mister Chandra langsung menoleh ke arah Endymion. "End, kenapa kamu mengatakan itu?" "Karena kamu tidak akan mengatakannya." Selama Asteria masuk tadi, tangan Endymion masih berada di punggung Chandra. Dia bisa merasakan betapa tegangnya punggung temannya saat melihat ke arah pintu yang terbuka. Raut wajah Chandra mungkin terlihat normal saat berbicara, tapi sebagai orang yang kenal cukup lama, Endymion tahu Chandra tidak nyaman. "Tapi nanti dia pikir kamu bisa melihat." "Kalau dia berpikir seperti itu ya sudah, biarkan saja. Lagipula yang lebih penting..." Endymion menggenggam tangan Chandra. "Kamu mau dia dimutasi sekarang atau tidak? Setelah apa yang terjadi hari ini." Chandra baru mau membuka mulut, tapi Endymion langsung menahannya. "Pikirkan baik-baik. Tidak usah terburu-buru." Endymion menepuk pundak Chandra. "Jadi sudah tenang sekarang atau kamu ingin aku menemanimu di sini hari ini?" "Aku sudah tidak apa-apa. Kau bisa pergi." "Yakin?" "Kau ingat prinsipku. Menghadapi ketakutan dengan ketakutan itu sendiri. Aku akan lebih menakutkan dari makhluk itu." Endymion tertawa mendengarnya. "Astaga, kau mengatakan hal itu seakan-akan kau tidak berteriak-teriak minta tolong tadi." "Sudah kubilang aku hanya kaget." ketus Chandra. " Dan tidak siap tadi." cicitnya. "Baiklah, aku akan menantikan bagaimana kamu membuatnya takut." Endymion beranjak dari duduknya. "Kalau begitu aku duluan." Endymion keluar di saat Asteria baru akan membuka pintu ruangannya. Dia tersenyum ramah seperti biasa yang dibalas oleh wanita itu. Dia melihat nampan berisi kopi di tangan Asteria. Endymion merogoh sakunya dan mengeluarkan dua buah soft bake cookies dalam plastik. Dia meletakkan satu di samping kopi. Satunya lagi dia berikan pada Asteria. "Jangan tegang. Kerja yang semangat." ucapnya sambil menepuk pundak Asteria kemudian berlalu. "Ah, te..terima kasih Pak." * Hari berjalan lambat. Dia sudah memberikan persyaratan pendaftaran representatif visa ke Pak Fahmi. Sudah selesai mendata dokumen untuk dikirim. Sudah membalas email yang masuk. Tinggal istirahat makan siang. Dia baru ingat kalau pagi tadi sarapannya bahkan tidak selesai. Rasanya pasti sudah tidak enak. "Mba Aster, yang ini sudah selesai?" itu Pak Dungdung, OB lantai lima. Dia menanyakan tumpukan dokumen yang sudah bisa didistribusikan. "Sudah Pak, sudah bisa dibawa. Makan siang buat Mister Chandra dan Pak End sudah kan ya Pak?" "Sudah, tinggal dibawa ke dalam nanti." Asteria mengangguk mengerti. Dia beralih kembali ke laptopnya. Tapi melihat Pak Dungdung yang belum pergi membuatnya bertanya. "Apa ada sesuatu Pak?" "Ah begini Mba. Itu... keperluan pantry sudah mau habis. Kopi dan gula gitu, sama snack-snack buat di meja Mister." "Oh, biasanya yang belanja siapa ya Pak?" "Biasanya kita barengan sama tim Pemasaran. Tapi tadi kata orang di sana, sekarang kan Mister sudah ada sekretarisnya. Jadi kalau minta duitnya ke mba saja katanya." Asteria tersenyum kikuk. Dia baru ingat kalau biasanya sekretaris memegang uang kas kecil. Dulu saat bekerja dengan Pak Faisal, yang pegang uang kas Ranti. Dia baru tiga hari di sini, belum pegang uang sama sekali. Bisa-bisanya divisi lain langsung melimpahkan sesuatu seperti ini tanpa dia tahu. Bahasanya enak banget lagi 'minta duitnya ke Mba nya'. Dikira dia ATM? "Ah begitu, maksudnya minta duitnya ke saya, terus orang sana yang belanja gitu?" "Gak gitu juga sih Mba. Kalau Mba yang belanja juga bisa. Nanti kan jadi terpisah barang kita ya barang kita, mereka ya mereka." "Nanti saya bicara dulu dengan Mister Chandra. Karena saya tidak pegang uang sekarang. Biasanya belanja apa saja selain kopi dan gula?" Pak Dungdung menjelaskan panjang lebar. Asteria sambil mencatat apa saja yang dibutuhkan. * Asteria masuk membawa nampan makanan ke ruang Mister Chandra. Di dalam bosnya sedang bercanda dengan Pak End. Lebih tepatnya Pak End yang terlihat sedang menjahili Mister Chandra karena wajah bosnya itu terlihat masam. Pak End langsung berseru saat melihat makanan. "Wah, wah. Ayo kita makan." Endymion mengusap-usap tangannya dengan wajah berbinar. Mereka pesan lunch box ala hokben. Asteria jadi tidak enak karena kedua atasannya akan makan. Dia berpikir mungkin nanti saja pas Mister Chandra sedang sendiri dia bertanya. "Ada apa? Kamu mau bilang sesuatu?" Mister Chandra sepertinya lebih jeli dengan gerak geriknya. Asteria menatap wajah bosnya. Matanya serius sekali dan terkesan dingin. Dia meremas jari-jari tangannya dengan tidak nyaman. "Em.. itu Mister. Tadi Pak Dungdung info ke saya kalau kebutuhan pantry mau habis. Jadi saya... mau minta uang buat belanja." suaranya mengecil di akhir. "Belanja?" Asteria menelan ludah dulu sebelum lanjut menjawab. "Iya, seperti kopi, gula, teh, tissue sama snack-snack." "Oh itu." Pak End mencoba bicara dengan mulut penuh. Tapi karena suaranya aneh, dia menelannya dulu sebelum kembali bicara. "Itu loh. Belanja bulanan. Biasanya aku yang belanja cemilan-cemilan kecil gitu. Kalau gak nitip Mbak Monik pemasaran." jelas Pak End. "Sama saya juga mau beli buat kotak P3K. Buat naruh obat-obatan ringan." "Ah ide bagus." sahut Pak End. "Kamu mana tahu hal seperti ini. Kamu kan terima jadi saja." sambil mengerling pada Mister Chandra. Chandra balas meliriknya dengan tajam. Endymion hanya nyengir saja. Dia langsung mengunyah satu buah ekado untuk menutup mulut. Mister Chandra menatap Asteria sambil menyangga dagunya dengan tangan yang saling bertaut. "Berapa kamu butuh? Dua puluh juta cukup?" "Tidak, tidak... Ah bukan maksud saya tidak sampai sebanyak itu." Asteria menggeleng panik. "Sa..satu juta juga cukup. Seharusnya kurang dari segitu." Mister Chandra mengangguk. Dia mulai mencari dompetnya. Endymion langsung menyenggol tangannya untuk menghentikannya "Chan, Mbaknya kasih megang duit kas saja. Kasihlah berapa juta. Nanti tiap akhir bulan bikin pertanggungjawaban ke finance. Jadi gak kamu terus yang keluarin duit pribadi." sarannya. "Aku tidak..." "Eh mau bilang apa hn? Siapa yang uangnya keluar puluhan juta gak bisa direimburse gara-gara malas simpan struk pembayaran. Hayo ngaku." "Itu..." "Mba Asteria dengar ya. Mister Chandra ini dia memang perfeksionis. Tapi kalau urusan bikin reimburse paling malas. Makanya dia loyaaaal banget ngeluarin uang dari rekeningnya sendiri. Puluhan juta loh, eh jangan-jangan malah sudah ratusan juta." "End!" Mister Chandra mencubit kedua pipi Endymion. Dia menariknya sangat lebar hingga merah. Endymion mengaduh sakit. "Sepertinya mulutmu sangat bersemangat hari ini hn." Ucapnya sambil tersenyum. Tapi matanya mengatakan 'sialan kau, kau membuatku malu' "Tidak apa-apa lagian. Biar mba Asteria yang ngatur keuangan. Jadi nanti kalau ada rapat-rapat kita gampang. Kau juga jadi tidak boros kan." Kedua orang ini berdiskusi seakan Asteria tidak berada di sana. Mereka tidak benar-benar meminta pendapatnya. Asteria hanya berdiri di sana dan menunggu mereka selesai melempar nominal dana kas puluhan juta untuk tiap bulan. Eksistensinya tidak dianggap. Hanya dijadikan sebagai alat saat dibutuhkan. "Kirimkan saya nomor rekening kamu. Nanti saya minta Pak Hao transfer ke kamu." "Baik Mister. Terima kasih." * Hari sudah malam saat Asteria pulang. Dia harus pergi ke pusat kota untuk belanja bulanan kantor. Daerah perkantoran tempatnya bekerja tidak ada supermarket yang dekat. Jadi dia harus pergi cukup jauh ke kota. Satu troli dia dorong sambil membaca catatan belanja yang dia buat. Ada banyak sekali yang mesti dibeli, sementara dia hanya sendirian. Rak-rak berisi tissue jadi pilihan pertama. Setelah itu lanjut bagian kontainer kecil yang rencananya untuk tempat P3K. "Ukuran tidak usah terlalu besar kan ya." gumamnya saat memilih kotak bening. Sampai dia tiba ke bagian makanan ringan. "Mister Chandra sepertinya sangat suka yang manis-manis." Dia mengambil beberapa biskuit cokelat. Memasukkan beberapa kripik kentang dan cemilan lainnya. "Saya tidak suka merk yang itu." Asteria berjingkat kaget. Dia menoleh ke belakang dan menemukan Mister Chandra begitu dekat dengannya. Asteria mengelus dadanya yang sakit karena kaget. "Mister. Kenapa Anda di sini?" "Kamu lupa saya ada meeting di gedung sebelah." jawabnya enteng. Gedung pusat perbelanjaan ini bersebelahan dengan beberapa hotel besar dan restoran mewah. Dia benar-benar lupa kalau Mister Chandra ada meeting daerah sini juga. "Tidak usah beli yang ini. Yang merk ini saja." Mister Chandra meletakkan kembali merk kripik kentang yang Asteria ambil dan menggantinya. Dia menambahkan beberapa jenis chiki coklat dan panganan manis lainnya. Asteria mendorong troli sambil menggigit bibir. Jika bosnya ada disini, bagaimana dia bisa belanja dengan cepat. Bosnya dari tadi memasukkan makanan manis seperti anak kecil yang baru belajar belanja di warung. "Mister, tidak perlu banyak-banyak. Kita masih harus belanja yang lain." "Oh, kalau begitu habis ini kita kemana?" "Em, tempat mie instan." Mereka berjalan berdua seperti pasangan muda. Tapi Mister Chandra lebih antusias memasukkan barang dari pada Asteria yang mendorong troli. Asteria menyelipkan sambal, kecap dan gula sebelum Mister Chandra menimbunnya dengan makanan instan yang menarik perhatiannya. "Mister, kita di lantai lima orangnya tidak begitu banyak. Jadi saya rasa mungkin dikurangi sedikit." Mister Chandra memeluk banyak sekali rasa mie instan yang sudah dibundel perlima bungkus. Sebelum pergi Pak End sudah mewanti-wanti kalau Mister Chandra itu orang yang kalap saat belanja. Makanya Pak End sarankan Asteria untuk belanja sendiri. Tidak tahunya Mister Chandra muncul di sini. Asteria jadi harus aktif menjaga Mister Chandra menahan diri. Dia mengambil masing-masing dua bungkus mie instan dari rasa yang ditunjuk oleh Mister Chandra. Selanjutnya mereka ke tempat kopi. Mister Chandra terlihat begitu asik memilih setiap jenis kopi instan yang disuguhkan di rak. Matanya berbinar melihat merk kopi yang baru dilihatnya. Tangannya langsung mengambil dua jenis merk untuk dia timbang. Asteria merasakan dingin di kakinya. Sesosok hantu anak kecil berlarian di lorong. Dia ingin mengabaikannya, tapi dia punya firasat tidak enak. Tidak lama dari sosok yang lewat itu, ada seorang anak kecil yang mungkin berusia lima tahun berlari sendirian. Anak itu mengikuti sosok hantu. Asteria jadi celingak-celinguk mencari orang dewasa lain di lorong itu selain mereka. Kemana orang tua bocah ini? Hanya ada beberapa pegawai supermarket yang posisinya cukup jauh. Asteria menengok lagi ke arah anak kecil itu dan hantu kecil di depannya. Hantu itu melompat ke sebuah susunan kotak-kotak sereal yang tinggi. Tangannya seperti orang mengajak naik. Sementara anak manusia itu mulai menggapai-gapai salah satu kotak di bagian bawah. Kotak itu ditarik kasar membuat gunungan kotak sereal runtuh. "Mbak Asteria menurutmu..." Mister Chandra berhenti bicara saat melihat Asteria berlari sekencang-kencangnya meninggalkan posisinya. Wanita itu melompat, melindungi tubuh anak kecil itu dengan tubuhnya. Seluruh kotak sereal runtuh menimbun mereka. Bunyi runtuhan yang keras membuat orang-orang yang ada di sana kaget. "Asteria!" Semua orang berkerumun. Mister Chandra langsung menyingkirkan kotak-kotak yang menumpuk itu. Para pekerja supermarket juga berdatangan untuk membantu. Asteria tidak hanya tertimbun kotak sereal, tapi juga sebuah kotak besar yang cukup berat sebagai kerangka gunungan. Suara tangisan anak kecil yang paling kencang terdengar saat mereka menyingkirkan semua itu. "Ssssttt...jangan menangis, jangan menangis." Asteria belum sepenuhnya bangun dari posisinya meringkuk. Dia malah menenangkan anak kecil itu. Dengan segala keributan yang ada, seorang bapak-bapak dengan muka masam menghampiri. Dari pakaian yang dikenakan kelihatannya dia atasannya di supermarket itu. "Bu, makanya kalau punya anak kecil itu dijagain! Bukannya ditinggal keliaran. Lihat ini barang-barang kami jadi rusak semua. Ibu mau ganti!" Dia memarahi Asteria yang masih berusaha menenangkan anak kecil itu. Karena bentakannya anak kecil itu menangis semakin keras. Ibu-ibu yang ada di sana hanya geleng-geleng kepala melihatnya. "Dia bukan..." Mister Chandra mencoba menyanggah. "Bapak juga! Keren-keren ke sini pake jas tapi gak bisa ngajarin anaknya buat jaga sikap. Kalau memang gak bisa ngurus anak ya tidak usah buat anak!" Bapak itu langsung menyemprot Mister Chandra ganas. Mister Chandra hanya bisa cengo dengan mulut terbuka. Saking terkejutnya otaknya blank tiba-tiba. Bapak ini mengira bocah laki-laki itu anaknya. Dia tidak tahu harus membalas apa. Melihat situasi yang semakin kacau, Asteria langsung berdiri sambil menggendong anak kecil itu. Dia membungkuk meminta maaf. "Saya minta maaf. Saya akan ganti semuanya." sambil menepuk-nepuk punggung anak kecil itu. "Kalau begitu Ibu ikut saya buat bayar semua ini." Asteria mengangguk setuju. Si bapak itu langsung menyuruh pekerjanya untuk membawa semua kotak sereal yang jatuh itu diantar ke kasir. Dia juga membubarkan paksa para penonton yang asik berkerumun. "Mba Asteria, kamu ngapain?" bisik Mister Chandra. "Em, maaf Mister. Saya bayar kotak-kotak sereal itu dulu sebentar. Nanti saya ke sini lagi." "Tunggu, biar saya saja yang bayar." Mister Chandra langsung merogoh kantongnya. Tapi dia tidak menemukan dompet. Hanya ada handphone dan sapu tangan. "Sepertinya dompet saya ketinggalan di mobil." ujarnya malu. " Saya akan telpon Pak Kul untuk antar kesini." "Tidak usah. Saya tidak apa-apa. Tenang saja Mister, saya tidak akan pakai uang kas kantor untuk bayar yang ini." 'Bukan itu masalahnya.' batin Chandra. "Kenapa lama?! Mau bohongi saya ya kalian!" teriak si Bapak itu lagi. "Sebentar Pak!" balas Asteria. "Maaf Mister. Tolong jaga belanjaan sebentar ya." Asteria berlalu sambil menggendong anak kecil itu. Anak itu masih sesenggukan di pundak Asteria. Mister Chandra melihat pada troli dan pada wanita sekretarisnya. Rasanya mengesalkan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Asteria membayar kotak sereal seharga satu bulan gajinya di perusahaannya dulu. Sangat menyesakkan hatinya dan membuat perih tabungannya. Dia menoleh pada anak laki-laki kecil yang masih memegangi ujung jaketnya. Wajahnya kusut sekali, anak ini benci si bapak-bapak pemarah itu. Asteria kembali ke tempat Mister Chandra sambil menggendong anak itu lagi. Wajah Mister Chandra juga terlihat kusut. "Maaf lama." "Kenapa kamu masih membawa anak itu?" "Orang tuanya belum ketemu." "Hei bocah, kemana ibumu?" Mister Chandra tersenyum ke arah anak itu. Anak mengesalkan yang dituduhkan sebagai anaknya. Senyuman Mister Chandra menakutkan sehingga anak laki-laki itu langsung menyusupkan wajahnya ke d**a Asteria. "Huwaaa" Asteria langsung menimang anak itu dengan menepuk-nepuk punggungnya. Dia bahkan bergerak agak menjauh dari Mister Chandra. "Mister. Saya rasa kita harus segera menyelesaikan belanjanya agar bisa mencari orang tua anak ini." Baru mereka berjalan beberapa langkah, seorang ibu mencegat mereka. "Kamu! Beraninya kamu culik anak saya! Wanita macam apa kamu!" Ibu itu menjambak rambut Asteria. Anak digendongnya langsung melompat turun. Asteria kesakitan berusaha melepaskan rambutnya. Tapi si ibu lebih gila menariknya. Mister Chandra dengan kesal mencoba melerai. "Berhenti!" Wanita itu berhenti bergerak walau tangannya masih nyangkut di rambut Asteria. Dia melihat wajah Mister Chandra dan tiba-tiba lupa daratan. Sepertinya dia terpesona dengan ketampanan Mister Chandra. "Ibu, mohon maaf. Tapi gadis ini yang menyelamatkan anak Anda dari kejatuhan material berat tadi. Dia bukan penculik. Dia tadi mau cari ibu buat mengembalikan anak ibu. Tolong ibu lepaskan ya." Nada suara Mister Chandra seperti seseorang yang sedang berdiplomasi. Kaku dan tegas. Kalau Pak End melihatnya dia pasti tertawa. "Ah benarkah. Ehem maafkan saya kalau begitu. Saya jadi malu." Wanita itu tidak benar-benar minta maaf. Matanya terus melihat ke Mister Chandra yang bening sambil membetulkan rambutnya sendiri. Anaknya sendiri kesal melihatnya. "Ibu pulang! Pulang!" Anak kecil itu menarik-nariknya. Dengan raut tidak rela ibu itu mengiyakan. Asteria mendekat ke anak kecil itu. Dia berjongkok untuk menyerahkan bungkusan berisi sereal tadi. "Ini buat adik ya. Nanti jangan jauh-jauh dari ibumu lagi ya." Katanya sambil mengelus kepala anak itu. "Terima kasih Kakak cantik." katanya dengan wajah cerah. "Katakan terima kasih juga pada kakak tampan itu." Ucap ibunya sambil menunjuk Mister Chandra. Raut wajah anak kecil itu langsung muram. Anak itu menatap wajah Mister Chandra lama. Dia malah memeletkan lidah mengejek kemudian berlari dari sana. Ibunya meminta maaf dan segera mengejar anaknya yang nakal. Asteria hampir tertawa, tapi langsung mengubah raut wajahnya saat Mister Chandra menoleh padanya. "Jadi, apa yang akan kamu lakukan dengan sereal sebanyak itu?" "Saya tidak mungkin memakannya sendiri. Jadi besok akan saya bagikan di kantor." Asteria kembali mendorong troli. "Mau ke mana?" "Membayar ini lalu pulang." "Kamu pulang naik apa?" "Em, saya akan pesan gocar." "Tidak perlu, kamu ikut mobil saya saja." "Ah.. tidak usah Mister." "Saya tidak terima penolakan." * Rasanya canggung sekali di dalam mobil. Asteria duduk dengan tegap. Tidak tahu harus bicara atau tidak. Mister Chandra juga mengabaikannya. "Kamu turun di mana?" "Ba.. bandara Mas." "Belanjaannya ditinggalkan saja di mobil saya. Besok sekalian dibawa ke kantor." "Baik." Mereka tiba di depan komplek perumahan Bandara Mas. Salah satu kompleks perumahan favorit tempat kosan dan kontrakan pegawai bandara. Asteria turun dari mobil setelah mengucapkan terima kasih. Mister Chandra meminta supirnya untuk berjalan agak pelan demi memastikan sekretarisnya berjalan masuk ke arah perumahan. Namun dugaannya salah, wanita itu malah naik angkutan umum lagi dari sana. 'Asteria, kenapa kamu sebenarnya?'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN